Membayar bukan berarti kehilangan nurani

Kejadian ini terjadi saat saya tengah menumpang di sebuah busway. Kebetulan seluruh kursi busway telah penuh oleh penumpang sehingga penumpang yang baru masuk terpaksa untuk berdiri. Saya sendiri terpaksa berdiri karena tidak mendapat. Bus terus melaju hingga berhenti di sebuah shelter. Dari shelter itu masuklah rombongan ibu-ibu bersama anak-anak mereka yang masing berusia balita. Tentu saja ibu-ibu dan anak-anak itu terpaksa berdiri. Saat busway melaju kencang dan (terasa) ugal-ugalan, ibu-ibu dan anak-anak itu tak dapat bertahan dalam pegangannya hingga mereka terguncang di dalam bus dan hampir terjatuh. Melihat hal itu, petugas busway merasa iba dan menyarankan beberapa orang yang duduk di tempat duduk di bagian depan untuk mau memangku anak-anak yang masih kecil tersebut. Para penumpang yang disarankan oleh petugas tersebut tampak enggan walaupun seorang dari mereka lalu memangku salah seorang anak. Penumpang yang lain bersikukuh tidak mau memangku anak-anak itu. Bahkan seorang bapak yang duduk di tempat duduk itu membela diri dengan berasalan ia telah membayar dan berhak atas tempat duduk yang ada di busway. Ia bahkan membentuk angka empat menggunakan jari-jari tangannya yang melambangkan kalau ia telah membayar empat ribu (lebih lima ratus dari harga asli) untuk dapat duduk di situ. Dia tak mau tahu perihal penumpang lain dan tetep keukeuh dengan pendiriannya. ”Itu sudah resiko bagi penumpang yang datang belakangan,” tambahnya. Saya terkejut mendengar reaksinya. Padahal petugas busway hanya meminta beliau untuk memangku anak-anak balita tersebut, tidak lebih. Petugas busway sendiri yang mendengar hal itu lalu memutuskan menghentikan usahanya dan diam. Sepertinya petugas itu tidak ingin memperumit masalah.

Memang benar apa yang dikatakan oleh bapak itu, dia memang memiliki hak untuk duduk di tempat duduk di busway karena telah membayar tiket, karcis, atau apalah sebutannya. Tapi apakah dengan membayar itu beliau lalu kehilangan nurani dengan lebih mendahulukan haknya tersebut? Lupakah beliau akan kewajibannya?

Kita jelas tahu sebuah etika saat menaiki kendaraan umum yaitu mendahulukan kepentingan orang tua, ibu hamil, orang cacat, dan anak-anak dengan memberikan kursi kita bila tempat duduk telah penuh terisi. Kewajiban kita adalah bentuk kepedulian kita terhadap orang lain. Lalu apakah kita harus menggadaikan nurani kita demi memenuhi hak kita sendiri, dengan mengorbankan kebaikan orang lain karena kita telah membayar?

Satu hal yang saya pesankan, jangan sampai kita kehilangan nurani hanya karena kita telah membayar….

Iklan

Kesedihan Istriku dan Rasa Sayangku Kepadanya


Suatu pagi aku tak menemukan istriku di rumah. Aku heran, kemana perginya istriku yang sedang mengandung anak pertama kami tersebut. Aku lalu menyimpulkan kalau istriku pergi ke perusahaan ayahnya untuk bekerja di sana. Padahal sudah berkali-kali ayah mertuaku melarangnya untuk bekerja selama ia mengandung. Ayah mertuaku sangat khawatir mengenai keselamatan calon anak kami tersebut. Kekhawatiran ayah istriku itu beralasan, mengingat di hari terakhir istriku bekerja, ia mengalami pendarahan karena terjatuh.
Aku tahu pasti alasan kenapa istriku pergi dari rumah. Kemarin kami bertengkar. Sebenarnya sih masalah sepele, tapi mungkin karena pengaruh hormon sehingga istriku menjadi lebih emosional dari biasanya. Biasanya kalau sedang ada masalah, ia selalu pergi menemui kakak perempuannya yang juga bekerja di perusahaan mertuaku. Tapi itu dulu, setahun yang lalu sebelum musibah itu terjadi.
Aku sendiri baru kena PHK beberapa waktu yang lalu. Karena itulah aku bekerja serabutan dan seadanya untuk keperluan istriku melahirkan nantinya. Sudah berkali-kali ayah mertuaku menawariku untuk bekerja di perusahaannya. Namun aku menolaknya dengan halus. Bukannnya apa-apa sih, hanya saja aku merasa harus mandiri dan mencari kerja sendiri. Aku ingin bekerja karena kemampuan diriku seutuhnya, bukan karena bantuan ayah mertua. Alasan inilah yang terkadang membuat aku dan istriku bersitegang. Istriku kecewa karena menganggapku tidak mau menolongnya perusahaan orang tuanya. Tapi ayah mertuaku sendiri mau mengerti dengan alasanku. Beliau menghargai usahaku tersebut. Ya, walaupun sampai saat ini aku belum juga mendapat pekerjaan yang tepat. Terkadang aku memikirkan kembali tawaran ayah mertuaku tersebut.
Aku segera mandi dan berganti pakaian. Tanpa sempat sarapan, mengingat hal ini sudah menjadi kebiasaanku semenjak kecil, aku langsung berangkat ke gedung perusahaan milik ayah mertuaku. Aku sendiri kurang begitu paham dengan bidang yang digeluti oleh perusahaan mertuaku tersebut. Yang aku tahu, perusahaan tersebut bergerak di bidang teknologi menengah.
Sesampainya di gedung perusahaan tersebut, aku langsung masuk dan mendapati beberapa karyawan menegurku ramah. Hampir semua karyawan di perusahaan ini mengenalku sebagai suami putri pemilik perusahaan. Aku sendiri tak tahu pasti jabatan ayah mertuaku, apakah itu direktur, atau presiden direktur, aku kurang tahu dan tidak mempermasalahkannya. Bukankah aku hanya menikah dengan putrinya?
Sesampainya di lantai dimana ruangan kantor istriku berada, aku melihat dua orang paman istriku tengah duduk berbincang di sofa santai yang ada di depan lift. Kedua paman istriku juga bekerja di sini, sehingga bisa dibilang perusahaan ini adalah sebuah perusahaan keluarga. Kedua lelaki tersebut lalu menyapaku ramah. Mereka lalu menanyakan kepadaku mengenai kesehatan istriku apakah sudah membaik, mengingat tiba-tiba saja istriku kembali bekerja. Aku hanya menjawab dengan senyuman karena aku sendiri kurang begitu yakin dengan kondisi istriku. Suami macam apa aku ini? Batinku karena aku tidak dapat mengetahui keadaan istriku secara pasti. Dari pertanyaan kedua paman istriku itu aku langsung tahu kalau istriku memang ada di perusahaan ini. Mereka lalu menunjukkan dimana istriku, walaupun aku pasti sudah tahu dimana ruangan tempat istriku bekerja. Mereka berpesan kepadaku agar aku merawat istriku dengan baik demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya. Kedua paman istriku memang baik. Itulah yang membuat aku senang berada dalam keluarga ini. Mereka semua baik hati.
Saat aku memasuki ruangan istriku, tampak dia sedang terduduk merenung di sofa yang ada di salah satu sudut ruangan. Ia menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali merenung. Aku lalu duduk di sampingnya. Kubelai rambutnya perlahan sembari memanggil namanya lembut. Istriku diam saja dan masih dalam keadaan merenung dengan tatapan kosong. Aku sedih melihat keadaan istriku. Aku lalu meminta maaf kepadanya karena kasalahanku. Istriku tetap tak bergeming. Lama ia mendiamkanku. Aku pun menghentikan usahaku dan ikut duduk dalam keadaan yang sama seperti istriku. Tak lama, istriku mengeluarkan suara. Ia menyebut nama kakak perempuanya. Dalam perkataannya ia mengandaikan bila kakaknya tersebut masih hidup. Ia mengandaikan bila kakaknya itu masih hidup, ia pasti sangat senang. Kulihat perlahan air mata menetes di lesung pipitnya. Aku bisa merasakan kesedihan seperti yang dirasakan olehnya.
Kakak perempuan istriku atau kakak iparku itu adalah seorang janda beranak satu. Semenjak kematian suaminya, ia menjadi orang tua tunggal untuk anak laki-laki semata wayangnya yang saat ini berumur enam tahun. Setelah kematian suaminya tersebut, kakak iparku lebih sering terlihat murung. Ia sering sekali melamun. Entah mungkin sedih merasa kehilangan lelaki yang sangat dicintainya, atau mungkin memendam perasaan lain. Kami sekeluarga merasa sedih bila melihat keadaannya dan tak henti-hentinya memberikannya semangat hidup. Bagaimanapun ia masih memiliki seorang buah hati yang harus ia sayangi dan ia rawat.
Kesedihan kami bertambah tatkala dokter memvonis kakak iparku mengidap penyakit parah yang telah memasuki stadium akhir. Kami semua merasa sedih dengan berbagai cobaan yang menimpa kakak iparku yang baik hati itu.
Suatu hari, satu tahun yang lalu, terjadi sebuah kebakaran di perusahaan. Diduga penyebab kebakaran berasal dari demo mahasiswa berjaket kuning yang saat itu sedang mengadakan unjuk rasa di depan perusahaan. Semua orang berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran tersebut. Namun sayang kakak iparku belum sempat keluar dari ruangan tempatnya bekerja. Entah tidak sempat, terjebak atau memang sengaja tidak keluar dari ruangannya sehingga ia kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Sebelum kematiannya, ia sempat menelepon istriku dan berpesan agar istriku mau merawat anaknya. Beberapa dari kami lalu menduga kalau kakak iparku sengaja tidak keluar dari perusahaan yang sedang terbakar dan memang berniat bunuh diri saat itu. Namun istriku membantah semua hal itu. Baginya, kakaknya tak mungkin melakukan hal itu.
Setahun telah berlalu semenjak kematian kakak iparku, tetapi kesedihan di hati istriku belum juga pudar. Ia dan kakak iparku begitu dekat, begitu akrab. Aku dapat memahami bagaiman kesedihan istriku tersebut. Dan kini, aku telah membuatnya teringat kembali pada almarhumah kakaknya. Aku benar-benar bodoh. Tak sepantasnya aku bertengkar dengan istriku hingga membuatnya kembali teringat akan almarhumah kakaknya. Suami macam apa aku ini?
Tiba-tiba istriku menangis. Dalam isak tangisnya, ia menyesalkan kenapa kakaknya pergi secepat itu. Aku lalu memeluknya, berusaha menenangkannya. Aku memintanya untuk dapat mengikhlaskan kepergian kakaknya agar sang kakak dapat tenang di sana. Aku pun mengatakan kalau kakaknya pasti akan sangat sedih bila istriku terus menerus menyesali kematiannya. Mendangar itu, istriku mulai berhenti menyesali kepergian kakaknya, namun ia terus menangis. Ia terus menangis tersedu-sedu dan aku membiarkannya menangis begitu saja. Adakalanya wanita memang harus menangis untuk meredakan segala kegundahan hatinya. Karena itulah kubiarkan ia menangis sepuas-puasnya dalam dekapanku. Perlahan istriku mulai berhenti menangis. Ia melepaskan dekapanku lembut. Ia berterima kasih kepadaku karena telah membiarkannya menangis. Ia lalu meminta maaf karena membuatku khawatir. Aku menggeleng. Kukatakan padanya kalau akulah yang salah karena telah membuatnya teringat kepada kakak yang amat dicintainya tersebut. Aku lalu berjanji takkan membuatnya kesal dan marah lagi demi kebaikan bersama. Aku pun mengatakan kalau aku akan mulai kembali memikirkan tawaran ayahnya. Istriku lalu tersenyum kecil di antara sisa-sisa air matanya. Ia lalu memelukku mesra. Akupun membalas pelukannya dengan mesra pula. Saat itu aku merasa begitu menyayanginya. Aku merasa tak ingin kehilangan diriku. Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh jiwaku. Tak hanya dia, melainkan juga calon anak kami yang menanti untuk dapat melihat kedua orang tuanya. Tak terasa air mata menetes pula di pipiku. Aku terharu, aku terharu dengan semua hal dan kenyataan yang telah terjadi di antara kami. Kenyataan menegnai betapa aku mencintai belahan jiwaku itu. Aku lalu menciumnya lembut. Kami lalu berciuman mesra. Lama kami berciuman hingga kemudian…. aku terbangun karena gigitan nyamuk yang sangat nakal. Oh, rupanya aku kembali bermimpi. Benar-benar mimpi yang sangat aneh. Bagaimana mungkin aku dapat memimpikan mengenai seorang istri? Terpikir sekalipun tidak pernah, kenapa aku bisa memimpikannya. Mimpiku memang ada-ada saja. Namun yang membuatku heran, kenapa mimpiku terasa seperti kenyataan? Apakah itu adalah gambaran mengenai masa depanku? Atau mungkin aku sudah tidak dapat membedakan lagi antara dunia mimpi dan dunia nyata? Entahlah, bunga tidur selalu membuatku penasaran….

Baca juga mimpi-mimpi anehku yang lain di sini: mimpi

Pelajaran Berharga dari Seorang Gadis Sasak

225px-sasak1

Ketika sedang membuka-buka buku Undang-Undang Dasar 1945 yang kumiliki sejak SD, dimana presidennya masih Pak Soeharto, aku menemukan secarik kertas terselip di antara halaman buku kecil tersebut. Kuambil secarik kertas tersebut. Rupanya itu adalah kertas berisi pelajaran bahasa suku Sasak yang ditulis oleh seorang teman wanitaku saat aku duduk di bangku SMA. Memang, buku UUD 1945 tersebut masih aku gunakan hingga ke bangku kuliah, tentunya telah aku tambahkan dengan halaman amandemen.
Saat kubaca kertas itu, bayanganku langsung kembali ke masa SMA, saat aku tengah asyik berbincang dengan gadis manis bernama Baiq Febriana Lilia Faradisa atau sering dipanggil dengan sebutan Baiq. Tak kusangka kertas yang bertuliskan tulisan tangannya itu masih ada dan tersimpan dengan rapi sampai sekarang di dalam buku tuaku itu. Saat itu aku sedang tertarik untuk mengetahui kata ”Apa kabar?” dalam berbagai bahasa daerah. Kebetulan temanku Lily adalah keturunan asli suku Sasak, Nusa Tenggara Barat. Aku pun tak menyia-nyiakan bertanya apa bahasa Sasaknya ”Apa kabar?”. Di luar dugaan, Lily dengan antusias mengajariku. Dia merobek selembar kertas catatan lalu menuliskan berbagai kata dan kalimat yang umum dipakai dalam bahasa Sasak sehari-hari. Dengan perlahan dia pun mengajarkanku bagaimana melafalkannya. Berikut sedikit yang dia tulis pada kertas itu:

• bagaimana kabar kamu: berembe kabar side
• bagus: solah
• seperti biasa: marak biase
• seperti kemarin: marak kelemak (e-nya dibaca seperti e pada kata lempar)
• tidak bagus: nde’ solah

• terlalu: lalo’
• makanan: kakenan (e seperti pada kata kemana)
• sama: pade doang
• rumah: bale
• dimana: mbe / embe
• ada: arak
• ya: ao’ / inggih
• tidak: nde’
• pendek: dendek (e seperti pada kata dendeng)
• di: lek
• cewek: dende (e pertama seperti pada kata dendeng, e kedua seperti pada kata dengan)
• suka: mele
• yang disuka: ke mele’ (dibaca kemele’k / ke – mele – ek)
• kaki: naen
• tangan: ime
• kamu : side, bahasa halunya pelinggih
• seperti: marak
• sendiri:mesak
• jadi: jari
• baju/pakaian: kelambi
• pakai: kawih (memakai: ngawih)
• tidur: tedem
• siang: kelemak
• nanti: bareh
• mandi (bahasa halus) siram (mesiram)
• harga: aji
• ayam: manuk
• burung : kedit
• cengeng: melak (e seperti pada kata mentok)
• jelek : lengek (e pertama seperti pada kata lembu)
• uang: kepeng
• sudah: uwah
• semua: selapu’

Aku tersenyum sendiri bila mengingat saat itu. Aku tak pernah menyangka kalau sebuah kata ”Apa kabar?” bisa menghasilkan begitu banyak kata. Aku sangat berterima kasih kepada Lily. Dia adalah gadis yang baik hati, ramah, dan suka menolong. Selain itu dia adalah gadis yang manis dan cantik, dengan tubuh yang agak besar. Sayang, dia gagal saat ujian nasional dulu. Entah mengapa dia bisa gagal, padahal dia adalah anak yang pandai.
Aku penasaran, bagaimana kabarnya yang sekarang? Dimana dia tinggal sekarang? Apakah dia kembali ke pulau Lombok? Lalu apa pekerjaannya?
Mungkin suatu hari nanti rasa penasaranku akan terjawab. Dan saat itu, aku pasti sudah hafal dan fasih melafalkan semua kata-kata yang pernah dia ajarkan. Bahasa daerah yang dia ajarkan adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Sama berharganya dengan kebudayaan negeri ini yang begtitu beraneka ragam mulai dari Sabang sampai Merauke. Dan suatu hari nanti bila aku bertemu dengannya, ada satu kalimat yang ingin aku katakan padanya……

”Lily, berembe kabar side?”

Age of Mythology

age_of_mythology_liner

Age of Mythology adalah terobosan baru yang membawa mitos dan legenda ke dalam dunia game RTS. Game buatan Ensemble Studio ini menyajikan pertempuran yang lain daripada kebanyakan game RTS lain karena membawa unsur pemujaan dewa ke dalamnya. Game tahun 2002 ini mengambil setting zaman peradaban kuno dimana masyarakatnya masih sangat kuat memegang kepercayaan Polytheisme. Ada tiga peradaban yang dapat dimainkan pemain, yaitu peradaban Yunani, Mesir dan Skandinavia. Setiap peradaban memiliki mitos, legenda, dan dewa tersendiri. Dalam permainan, pemain akan memilih salah satu peradaban dengan salah satu dewa utama (major god) yang akan menuntun arah peradaban. Mereka di antaranya yaitu dewa-dewa yang sudah kita kenal, yaitu Zeus, Ra, Poseidon, dan Thor. Untuk dapat berkembang pada zaman yang lebih baik, pemain harus memenuhi persyaratan yang ada dan memilih dewa rendah (minor god) yang akan membantu peradaban berjalan lebih baik. Ada dua pilihan minor god dalam tiap peralihan zaman, namun pemain hanya boleh memilih satu saja di antara mereka. Masing-masing minor god yang dipilih akan memunculkan kekuatan dewa, improvement, dan makhluk mitos yang berbeda-beda. Ada beragam variasi kekuatan dewa yang dapat digunakan seperti tornado, meteor, badai salju, bahkan tsunami. Makhluk mitos dan dongeng yang dihadirkan pun banyak seperti yang kita kenal, seperti Phoenik, Cyclops, Troll, hingga Leviathan. Yang pasti, hampir semua unsur dalam mitologi Yunani, Mesir dan Skandinavia ada dalam game ini.
Untuk pilihan Campaign, hanya tersedia satu jenis campaign yang linier dimulai dari peradaban Atlantis. Kisah dalam misi campaign diambil dari dongeng dan legenda yang berkembang. Dalam campaign, kita akan menelusuri kisah-kisah mitos dan legenda dari tiap-tiap peradaban yang ada. Uniknya, pilihan campaign edisi emas dapat diunduh secara gratis dari situs resmi game ini.
Kualitas gambar dan suara dari game ini terbilang baik, kualitasnya setara dengan kualitas gambar game Empire Earth (atau bahkan lebih). Untuk urusan gameplay, Ensemble studio telah menyempurnakan setiap gameplay yang ada pada Age of Empires II pada game ini, sehingga jangan heran bila pola permainannya hampir sama.
Secara garis besar, Age of Mythology adalah game yang bagus dan berkualitas karena telah membawa sebuah terobosan baru dalam dunia game RTS yang sebelumnya dikuasai oleh jenis-jenis pertempuran tradisional dan modern. Sebuah ide yang sangat baik menghadirkan kisah legenda rakyat ke dalam sebuah permainan RTS. Mungkin hanya ada satu kelemahan dalam game ini yaitu hanya melibatkan tiga peradaban saja, padahal masih ada peradaban lain yang memiliki kisah dan mitologi yang komplek seperti India dan China. Berbeda dengan Age of Empire II yang menghadirkan hampir semua peradaban di dunia.

Tikus Rakus! (lagi-lagi tikus!!)



Pagi-pagi benar aku pergi ke dapur untuk mencuci piring-piring kotor. Saat itu kucium bau yang menyengat di dalam dapur. Aku penasaran bau apa itu. Baunya tercium seperti bau gas, sehingga aku berkesimpulan kalau kemungkinan terdapat kebocoran dari dalam tabung gas. Tapi aku tak terlalu mengerti akan urusan tabung gas. Aku pun membiarkan saja bau tersebut. Setelah selesai mencuci piring, aku berniat merebus mie goreng sebagai sarapan pagi. Saat memasuki dapur kembali, bau yang kucium saat mencuci piring itu kini lebih menyengat dan menusuk hidung. Aku penasaran dan mencoba membau tabung gas untuk memastikan asal bau tersebut. Namun bau di sekitar tabung gas tidak terlalu menyengat dan tercium seperti biasanya. Aku pun mencari sumber bau itu di tempat lain dan menemukan kemasan karbol yang terjatuh di bawah wastafel dengan cairan biru menggenang di sekitarnya. Akhirnya aku menyadari bahwa bau tersebut berasal dari cairan karbol yang tumpah. Banyak sekali cairan karbol yang tumpah sehingga tak mengherankan bila baunya sangat menyengat. Dan tak perlu lama untuk menebak siapa pelaku yang menumpahkan cairan karbol itu. Siapa lagi kalau bukan….tikus besar yang selalu menyambutku tatkala aku membuka pintu dapur dan kemudian dia menghilang di balik lemari-lemari dapur. Sial! Lagi-lagi tikus itu! Aku pun harus membersihkan cairan karbol di bawah wastafel itu. Banyak juga cairan yang tumpah sehingga bisa dipastikan tikus itu telah membuatku rugi.

Di rumah ini memang banyak sekali tikus, tapi bukan berarti penghuninya orang yang anti kebersihan. Tikus-tikus tersebut bersarang di bawah bak kamar mandi, di atas atap, dan di balik lemari-lemari rumah. Pernah suatu ketika tikus tersebut keluar dari lubang kecil yang ada di bagian bawah bak mandi dan membuatku terkejut setengah mati waktu sedang buang air kecil. Anehnya, tikus yang memiliki ukuran tubuh empat kali kepalan tangan orang dewasa tersebut bisa keluar masuk dari lubang yang cukup kecil tersebut.

Tikus di rumah ini seperti tetangga yang sangat mengesalkan. Mereka keluar masuk, menggigit apa saja, memakan apa saja, dan membawa sisa-sisa makanan mereka ke dalam kamar mandi sehingga banyak sampah bertebaran di kamar mandi karena sampah-sampah tersebut tidak dapat masuk ke dalam lubang yang kecil itu. Ditambah lagi, suara mereka sangat berisik saat menjelajahi rumah di malam hari, membuat aku sulit tidur hingga aku menyalahkan tikus atas penyakit insomnia yang kuderita. Tentunya hal ini membuat semua orang kesal. Karena itulah, aku lalu memasang perangkap tikus berupa lem tikus di daerah yang sering dilalui oleh mereka. Langkah ini cukup berhasil, namun hanya mampu menjerat tikus-tikus kecil. Cicak dan kecoa tak berdosa pun ikut masuk ke dalamnya. Sayang, tikus berukuran empat kepalan tangan orang dewasa yang kuanggap sebagai induk dari semua tikus di rumah ini belum dapat tertangkap dengan menggunakan lem yang katanya gajah pun tak bisa lepas. Pernah suatu ketika kutemukan perangkap lem tikus yang kupasang di dalam rumah telah berpindah jauh ke luar rumah dengan banyak sekali jejak di atasnya dan jejak-jejak lem yang menempel di lantai sekitarnya. Aku berpikiran tikus besar itu telah tertangkap namun berhasil berontak dan kabur.

Selain menggunakan perangkap lem tikus, sebenarnya banyak tikus yang masuk sendiri ke dalam jebakan yang tidak aku siapkan, yaitu kolam yang ada di rumah. Biasanya mereka terjatuh ke dalam kolam dan tidak dapat naik ke atas. Kubiarkan saja mereka mati kedinginan di kolam hingga aku lalu membuangnya jauh-jauh. Namun, yang masuk ke dalam kolam hanya tikus-tikus berukuran sedang, bukan tikus yang besar itu. Hal ini membuatku resah dan gelisah seperti lagu Kisah Kasih di Sekolah.

Aku tak tahu harus menggunakan jebakan apa untuk menangkap tikus besar itu. Lem tikus, jepretan tikus, dan kerangkeng tikus sudah tak mempan pada tikus besar kota yang sudah malang-melintang di dunia pertarunagn melawan manusia. Tikus itu sudah terlalu pintar untuk dapat menghindari semua jebakan yang terpasang. Maklum, tikus kota. Bahkan, saking besarnya tikus itu, kucing-kucing yang pernah mampir ke rumah untuk minta makan saja sampai ketakutan dibuatnya. Heran, kucing-kucing bertubuh lebih besar itu justru takut dengan tikus besar induk semua tikus di rumah ini yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari mereka. Tom dan Sylvester bisa malu nih… Aku curiga tikus besar itu juga ikut menonton serial Tom & Jerry sehingga membuatnya menjadi sepintar itu.

Tikus besar itu lebih dari tikus yang biasa kutemui. Dia bisa disebut sebagai bos para tikus di kavling. Dan makanannya pun kini bervariasi, hampir semua hal bisa dimakan olehnya. Bisa dibilang dia itu tikus rakus. Contohnya saat aku menjemur nasi kemarin yang sudah kering yang nantinya akan kugoreng untuk kujadikan karak. Saat sudah malam, aku memasukkan nasi-nasi karak tersebut ke dalam rumah tepatnya di atas meja dapur. Keesokan harinya, saat aku hendak menggoreng nasi-nasi tersebut, nasi-nasi kering sudah tak ada lagi di atas tempatnya. Habis sehabis-habisnya, tak ada yang tersisa sedikit pun. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan si tikus besar itu. Benar-benar tikus rakus, nasi kering pun diembat juga! Benar-benar gambaran masyarakat Indonesia saat ini….

Huu, entah mengapa hidupku selalu berurusan dengan binatang pengerat sejenis tikus. Seperti saat aku ditabrak seekor tikus (klik disini untuk membacanya) dan saat aku dituduh membunuh hamster peliharaan saudaraku (klik disini untuk membacanya). Tikus, oh Tikus…….kapan kamu berhenti mengganggu hidupku…..

Mimpi Bertemu Rasul – Pertanyaan yang Tak Bisa Kujawab

Kamis malam yang lalu saya sulit tidur. Sudah berganti hampir semua posisi namun masih belum bisa tidur. Terpaksa saya tidur di lantai karena biasanya saya mudah tertidur bila tidur di lantai tapi akan berakibat penyakit punggung saya kambuh. Akhirnya, mungkin sekitar setengah dua malam saya berhasil tertidur. Dalam tidur larut saya tersebut, saya bermimpi. Dalam mimpi saya tengah berada di dalam sebuah masjid yang besar. Saya tengah duduk rapi bersama banyak orang di dalam masjid dalam barisan shaf. Saya berada di barisan paling belakang. Saya dan orang-orang yang berpakaian rapi itu tampak tengah mendengarkan ceramah dari seorang lelaki yang memakai kopiah hitam dan mengenakan sarung bergaris. Wajahnya tak terlihat jelas, namun terlihat bahwa lelaki tersebut telah berumur tua. Entah kenapa saya merasa sangat mengenal lelaki tersebut. Dan entah mengapa pula saya mengenali lelaki tersebut sebagai seorang rasul, padahal belum sekalipun saya pernah melihat rasul, karena tentunya rasul hanya ada di masa lalu sebagai pembawa risalah dan saya belum lahir saat itu. Orang-orang di dalam masjid itu pun mengamini bahwa lelaki tersebut adalah seorang rasul Tuhan. Di dalam masjid itu saya merasakan sebuah suasana yang sangat nyaman dan menentramkan hati. Saya tidak mengetahui secara jelas lokasi di mana masjid tersebut berada. Tampaknya saya tengah berada dalam sebuah majelis. Dalam mimpi itu, saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan orang yang saya anggap rasul tersebut. Saya memperhatikan dengan sambil lalu ceramah beliau sehingga saya kurang menangkap maksud ceramah beliau. Lalu tiba-tiba beliau turun dari mimbarnya dan berjalan menghampiri barisan shaf yang ada di masjid mulai dari barisan terdepan. Lelaki tua tersebut menanyakan beberapa pertanyaan kepada setiap pendengar di barisan shaf. Begitulah orang tua yang tampak berwibawa dan bijaksan tersebut bergantian bertanya pada setiap orang yang tengah duduk mendengarkannya (mungkin lebih tepat disebut umat). Tampak masing-masing dari mereka bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. Saya pun terkejut. Saya dari tadi tak menyimak dengan baik apa yang diutarakan oleh orang tua tersebut. Saya takut tak dapat menjawab pertanyaan dari orang tua yang dalam mimpi itu saya anggap sebagai rasul. Saya pun berusaha keras mencuri dengar pertanyaan yang diajukan sang rasul tersebut tatkala lelaki tersebut telah sampai pada dua barisan shaf di depan saya. Samar-samar saya mendengar lelaki tua tersebut menanyakan pertanyaan yang sangat sederhana yaitu mengenai syahadat, rukun Islam, dan ayat-ayat suci. Beberapa pertanyaan itu terdengar sangat familiar bagi saya saat itu. Namun entah mengapa saat itu saya tak tahu menahu mengenai semua pertanyaan yang diajukan. Entah mengapa saat itu saya sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan rasul tersebut. Saya pun ketakutan. Saya takut akan membuat marah lelaki tersebut ketika lelaki tersebut telah sampai di tempat saya duduk dan bertanya pada saya. Saya bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu saya mencoba mencuri dengar jawaban dari orang-orang yang sedang ditanya. Namun entah mengapa saya tak bisa mendengar jawaban dari setiap orang yang sedang ditanya. Mereka memang tampak menjawab, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut mereka sementara sang rasul tampak mengerti dan mengangguk mendengar jawaban mereka. Lalu mengapa saya tidak bisa mendengar yang dikatakan oleh orang-orang tersebut? Apakah saya sudah tuli? Tidak, saya tidak tuli. Saya masih bisa mendengar apa yang diucapkan rasul. Tapi kenapa saya tidak bisa mendengar ucapan orang lain selain rasul tersebut? Sementara saya tengah kalut dengan berbagai pertanyaan tersebut, sang rasul telah sampai di barisan shaf yang saya tempati. Kira-kira rasul tersebut harus melewati dua puluh orang terlebih dahulu sebelum mencapai tempat duduk saya. Saya cemas dan tak tahu harus berbuat apa. Rasul tersebut semakin dekat! Saya takut akan terkena hukuman bila tak bisa menjawab pertanyaan rasul tersebut. Saya lalu menoleh pada orang yang duduk di sebelah kanan saya. Saya memanggilnya dan mencoba menanyakan jawaban atas pertanyaan rasul tersebut. Orang tersebut merespon saya. Dia menjawab pertanyaan saya, namun…. tak ada suara yang keluar dari mulut orang tersebut. Orang tersebut berbicara pada saya tanpa mengeluarkan suara! Yang ada hanya gerakan bibir dan ekspresi yang ramah. Saya semakin heran dan membalas respon orang yang saya tanya tadi dengan anggukan kecil. Lalu saya menoleh ke orang di sebelah kiri saya. Saya menanyakan hal yang sama pada orang tersebut. Namun orang tersebut tak bergeming. Orang tersebut tampak diam saja seolah tak menyadari keberadaan saya. Saya semakin bingung! Ada apa ini? Kenapa saya tak bisa mendengar suara dari orang-orang yang ada di dalam masjid itu? Kenapa saya hanya bisa mendengar suara sang rasul? Pertanyaan-pertanyaan di benak saya itu tiba-tiba berhenti berputar manakala sang rasul telah berada selisih tiga orang di samping saya. Saya memperhatikan rasul tersebut dengan seksama. Entah mengapa saya tidak dapat melihat wajahnya dengan jalas. Cahaya matahari yang redup dari luar masjid menyamarkan wajah rasul tersebut. Anehnya, kali ini saya tak bisa mendengar suara rasul tersebut. Ada apa ini? Dan lelaki di sebelah kanan saya telah selesai menjawab pertanyaan dari sang rasul. Rasul tersebut lalu berpindah ke arah saya. Saya gugup setengah mati tanpa berani menatap wajah rasul tersebut. Saat itu saya menyadari sang rasul tengah memanggil saya, namun saya tak bergeming dan tetap menunduk. Sang rasul memanggil saya untuk kedua kali, namun kali ini saya berani untuk menjawab panggilannya. Saya lalu mendongak dan mencoba menatap wajah lelaki tua tersebut. Tapi….suara yang sangat keras dan memekakkan telinga terdengar jelas dan membuat saya terbangun dari mimpi. Ternyata suara itu berasal dari alarm ponsel yang telah saya atur dengan dering maksimal. Pukul setengah lima pagi. Saya terkejut dan teringat akan mimpi yang barusan saya alami dalam tidur singkat tadi. Sejenaka saya menarik nafas sembari beristighfar. Saya mencoba menerka-nerka apa maksud dari mimpi aneh tersebut. Saya tak menyangka dengan apa yang baru saya alami di dalam mimpi tadi. Beberapa pertanyaan langsung menyambut seiring dengan mata yang masih enggan terbuka. Saya bertemu dengan rasul? Benarkah lelaki tua itu adalah seorang rasul? Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang telah terjadi pada saya tadi? Dimana saya saat itu? Apa yang tengah terjadi di dalam masjid itu? Lalu apa maksudnya? Kalau benar lelaki itu adalah seorang rasul, apa sebenarnya yang hendak ditanyakan kepada saya? Apa makna dari mimpi aneh tersebut?  Ataukah  mimpi  itu  hanya  sekedar  bunga  tidur  yang  tak  berarti?

Paginya saya mencoba memahami mimpi tersebut. Saya menggunakan asumsi bahwa saya memang benar-benar bertemu dengan rasul. Tidak semua orang bisa bermimpi bertemu dengan rasul. Hanya orang-orang pilihan dan terkadang membutuhkan amalan-amalan untuk dapat menemuinya di dalam mimpi. Lalu kenapa rasul mendatangi saya di alam mimpi? Apakah ada yang hendak disampaikannya? Saya lalu mencoba introspeksi diri. Apa yang telah saya lakukan di hari-hari sebelumnya yang membuat saya mendapat mimpi seperti ini. Apakah ibadah saya kurang baik? Atau saya telah berbuat dosa? Atau ada kebaikan yang akan menyertai saya? Atau mungkin saya telah berlaku angkuh terhadap agama? Yang membuat saya heran adalah kejadian di mana di dalam mimpi tersebut saya tak mengerti sama sekali mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh rasul itu. Padahal, dalam kenyataannya, hal-hal seperti sudah menjadi bagian tersendiri dari hidup saya dan telah menjadi sebuah manifestasi ibadah. Saya tentunya langsung mengerti atau paling tidak takkan mendapatkan kesulitan berarti mengenai hal-hal tersebut. Namun anehnya di dalam mimpi itu saya tak tahu sama sekali sehingga membuat saya amat ketakutan di hadapan rasul. Apakah ada yang salah dari apa yang telah saya pelajari selama ini? Apakah ada kesalahan dan dosa yang membuat saya tak dapat mengingat mater-materi keagamaan tersebu? Dan anehnya lagi, saya tak dapat mendengar suara orang-orang yang ada masjid kecuali suara sang rasul. Kenapa? Kenapa saya tak bisa mencuri dengar jawaban dari mereka? Kenapa orang di sebelah kanan yang saya tanya menjawab namun tak mengeluarkan suara? Kenapa pula orang di sebelah kiri saya diam saja saat saya bertanya padanya? Dan yang lebih penting dari itu semua, kenapa saya berada di dalam masjid itu bersama seorang rasul yang tengah berkhotbah pada umatnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih belum bisa terjawab. Meskipun begitu, saya memutuskan untuk tak menanggapinya terlalu serius. Saya mencoba mengambil sisi positif dari mimpi itu. Mungkin selama ini saya telah melupakan rasul yang menjadi panutan saya sehingga beliau mendatangi saya di dalam mimpi. Mungkin selama ini saya telah jauh dari teladan-teladan beliau, telah meninggalkan cara hidup beliau, dan melupakan perintah beliau. Mungkin juga saya harus lebih baik dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ya, saat ini pesan yang baru dapat saya tangkap adalah bahwa saya harus lebih baik dalam beribadah. Saya harus bisa meninggalkan perbuatan dosa, dan berusaha keras mengikuti jalan hidup Rasullullah. Ya, saya akui akhir-akhir saya teledor dalam beribadah. Saya terlena oleh kehidupan dunia dan lupa akan perintah Rasulullah. Saya mengakui kalau telah lama saya tak menyebut nama rasul terakhir tersebut. Muhammad SAW sang Uswatun Hassanah, teladan yang paling baik.

Ya Tuhan, apapun makna mimpi yang kau berikan, segala puji syukur kupanjatkan untuk-Mu karena Kau masih peduli dan cinta kepada-Ku, sementara aku terus-menerus melupakanmu. Apakah ini jawaban dari pertanyaanku dalam keputus-asaanku waktu itu. “Tuhan, apakah kau benar-benar ada?” Sungguh Tuhanku, maafkanlah aku bila aku telah lancang mempertanyakan keberadaan-Mu, padahal telah jelas bagiku nikmat-nikmat yang Engkau limpahkan padaku, yang dengan kufurnya aku tak menggunakan nikmat-nikmat itu dengan sebaik-baiknya.

Dengan nama-Mu dan juga ilmu-Mu yang agung, Kau yang Maha Pengasih dan Penyayang, ampunilah dosaku ya Allah, Kaulah Maha Memiliki, Kaulah Maha Mengetahui dan Mengampuni, ampunilah dosaku, dan jauhkanlah aku dari segala tipu daya setan yang terkutuk. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhanku, pemilik semesta alam, termasuk hidupku.

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Al-Qur’an surat Al-Rahmaan ayat 31 & 32)

Sehari Bersama Presiden Sukarno – Presiden yang Hobi Ngebut



Siapa di antara kita yang tak kenal Presiden Sukarno? Dia adalah presiden pertama sekaligus bapak bangsa pendiri negara kita tercinta. Presiden pertama ini memang sangat fenomenal. Banyak sensasi yang telah dibuatnya, mulai dari keterikatan dengan komunis, sifatnya yang playboy, dan konon punya ilmu sakti yang tinggi (maaf untuk para pengagum Sukarno, kalau sifat yang disebutin hanya yang buruk saja). Dari sekian banyak sensasi yang pernah ditoreh perancang Pancasila ini, tahukah Anda kalau beliau gemar mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi alias ngebut?

Kalau belum tahu, maka saya akan bercerita. Suatu hari, bapak Presiden datang menemui saya yang baru saja tiba di ibukota Jakarta. Beliau datang dengan sebuah mobil klasik bersama ajudannya yang menyetir mobil. Beliau turun dari mobil dan menghampiri saya. Kata beliau, saya akan diajak berjalan-jalan mengelilingi kota Jakarta yang begitu luas agar saya dapat lebih mengenal ibukota negara yang dibangunnya bersama bapak Hatta ini. Beliau mengatakan sangat tersanjung karena seorang dari kampung mau datang ke ibukota. Tentu saja saya sangat terkejut dengan ajakan ayah Megawati tersebut. Saya tak menyangka bila seorang presiden sekaliber Sukarno mau menyempatkan waktunya di tengah konflik dengan Malaysia hanya untuk menemani saya berkeliling kota yang dahulu bernama Sunda Kelapa ini. Betapa senang perasaan saya. Baru datang dari kampung dan langsung bertemu Presiden negara dunia ketiga yang paling berpengaruh ini, tentunya suatu keberuntungan yang sangat besar. Ditambah lagi, sang proklamator tersebut yang menawarkan diri menemani berkeliling ibukota. Rasanya seperti menjadi raja sehari, padahal saya ini kan bukan siapa-siapa, alias hanya orang kampung biasa.

Saya tak ingin membuat sang Presiden menunggu. Saya mengiyakan ajakan beliau dengan perasaan gembira. Beliau tampaknya senang dengan penerimaan saya. Beliau lalu membuka pintu depan mobil dan menyilakan saya untuk masuk. Saya langsung masuk dengan perlahan dan duduk di kursi depan dengan hati-hati, takut salah tingkah. Malu dong sama Bapak Presiden. Mobil klasik milik presiden Sukarno terasa sangat nyaman dan bersih, jelas menandakan bahwa mobil tersebut dirawat dengan sangat baik (ya iyalah…dia kan Presiden). Saya lalu memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati saat-saat langka bersama sang proklamator legendaris tersebut. Perlahan tapi pasti, mobil klasik tersebut mulai berjalan. Awalnya berjalan pelan dan aman. Namun tiba-tiba mobil menghentak dengan keras dan melaju dengan cepat. Saya terkejut dan membuka mata. Saya mendapati presiden Sukarno tengah memegang kemudi mobil sementara ajudannya tampak istirahat di kursi belakang. Saya kaget dan bertanya mengapa bapak presiden yang menyetir dan bukannya ajudan beliau. Beliau menjawab dengan santai, ”Kasihan ajudan saya, sekali-kali biar dia istirahat. Saya juga sudah lama tidak menyetir, rindu zaman perjuangan dulu.”

Saya berusaha mencerna jawaban Pak Presiden. Namun laju mobil yang kencang dan tampak ugal-ugalan dan berkali-kali hampir menabrak membuat saya ketakutan. Saya paling tidak suka berada dalam kendaraan yang melaju cepat dan ugal-ugalan. Tapi hari itu saya hanya pasrah karena yang menyetir presiden. Saya heran, bagaimana mungkin seorang presiden suka mengendarai mobil secara kebut-kebutan? Karena penasaran, saya pun bertanya kepada sang Presiden. Beliau menjawab lagi-lagi dengan santai, ”Dulu, saat masa perjuangan, saya yang menyetir mobil, menghindari kejaran tentara penjajah. Agar tidak tertangkap, menyetir mobil harus cepat. Dan karena seringnya kejar-kejaran dengan penjajah, saya jadi terbiasa dan akhirnya menikmatinya. Itu sudah lama sekali sebelum saya didaulat menjadi presiden.” Waduh, ternyata ada juga kisah presiden seperti itu. Iseng-iseng saya bertanya lagi, ”Selama ngebut, Bapak pernah menabrak belum?” Sang Presiden tersenyum. Beliau sepertinya tahu akan ketakutan saya. ”Pernah, berkali-kali malah, tapi yang saya tabrak itu hanya kucing. Masalahnya kucing itu milik nona Belanda. Makanya saya lalu dikejar-kejar tentara Belanda sampai kemudian tertangkap dan dipenjara di Sukamiskin. Saya sendiri heran, kenapa kucing milik nona tersebut suka sekali saya tbrak,” jawab presiden dengan santai, padahal mobilnya barus saja berhenti mendadak. Ternyata bapak Presiden punya selera humor juga ya, pikir saya mendengar jawaban ini. ”Sebenarnya saya tidak pernah berminat untuk emnjadi presiden. Saya paling senang mengendarai mobil, apalagi balapan mobil dan kebut-kebutan. Cita-cita saya dulu ingin menjadi pembalap mobil profesional. Tapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, saya pun terpilih menjadi presiden,” kisah Presiden Sukarno lagi. Saya tersenyum simpul mendengarnya. Saya sebenanrnya ingin tertawa lepas, namun saya tahan, maklum takut malu sama Presiden.

Seharian itu saya bersama bapak Presiden menyusuri kota Jakarta yang masih sepi, tidak seperti saat ini yang pasti macet. Presiden Sukarno menunjukkan kepada saya tempat-tempat bersejarah dan tempat-tempat wisata yang ada di Jakarta. Dan tak lupa pula mobil yang kami tumpangi mampir di Monumen Nasional atau disingkat Monas. Wah, cita-cita saya untuk bisa melihat Monas secara langsung akhirnya terwujud! Sudah dari dulu saya ingin sekali pergi ke Monas, tapi tak pernah kesampaian. Sekarang keinginan itu terwujud. Dan hebatnya lagi, yang membawa saya ke sana adalah sang Panglima Revolusi, Presiden Sukarno! Presiden melihat kegembiraan dalam raut wajah saya. Tampaknya beliau senang telah membuat saya gembira. ”Bagaimana, kamu senang?” tanyanya. ”Jelas, Pak! Saya sangat gembira!”

Entah kenapa hari itu berjalan begitu cepat, matahari tampak mulai mengantuk dan akan kembali tidur di cakrawala. Sudah saatnya Presiden mengantar saya pulang dan kembali bertugas menyusun rencana untuk ”mengganyang Malaysia”. Atas hari terindah yang telah diberikan, saya pun mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus kepada bapak Presiden. Saya mengatakan kalau saya takkan pernah melupakan hari indah bersama sang Presiden, meskipun perut saya mual-mual karena Presiden menyetir layaknya pembalap mobil formula. Presiden tersenyum mendengar ucapan terima kasih saya. Beliau lalu memberikan sebuah jas berwarna merah kepada saya sebagai kenang-kenangan. Saya menerimanya dengan senang hati. Jas Merah yang diberikan oleh bapak Presiden sepertinya adalah sebuah simbol, tapi apa artinya ya? Saya lupa.

Setelah memberikan jas berwarna merah tersebut, kami kembali mengendarai mobil klasik kesukaan Bung Karno tersebut. Kali ini bapak Presiden akan mengantarkan saya pulang. Tapi, kali ini bapak Presiden menyetir mobil lebih kencang dari sebelumnya. Kata beliau, beliau harus buru-buru kembali ke istana untuk menari lenso dengan tamu penting dari Ambon. Beliau pun harus segera mendengar perkembangan terbaru mengenai Malaysia dari menteri luar negeri Subandrio. Memang, presiden adalah orang yang paling sibuk di negara ini. Kecepatan mobilnya saja kini kira-kira sama seperti kecepatan mobil Kimi Raikonnen. Saya kembali ketakutan. Adrenalin saya memuncak. Tangan saya berpegang dengan sangat erat pada tepi kursi. ”Pegangan yang erat!” ujar bapak Presiden samar-samar. Suaranya tertelan dengan suara deru kendaraan yang begitu kencang. Saya semakin takut dan khawatir. Seumur-umur, saya belum pernah bepergian dengan kecepatan seperti ini. Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Tiba-tiba seorang nenek-nenek menyeberang jalan. Sudah terlambat bagi bapak Presiden untuk menginjak rem. Saya berteriak sangat keras saat mobil akan menabrak sang nenek. Orang-orang yang ada di sana pun berteriak sangat keras. Lalu terdengarlah suara yang sangat keras. Begitu kerasnya hingga saya pun terbangun. Oh, ternyata alarm ponsel. Dan ternyata, saya hanya bermimpi! Pertemuan saya dengan bapak Presiden ternyata hanya mimpi!

Entah kenapa akhir-akhir ini mimpi saya suka yang aneh-aneh. Waktu itu saya mimpi bertemu Rasul (baca kisahnya di sini), sekarang malah bermimpi bertemu presiden Sukarno. Padahal saya bukanlah pengagum presiden Sukarno. Kenapa saya bisa bertemu dengannya dalam mimpi ya? Oh, mungkin ini karena akhir-akhir ini saya tengah menyelidiki perihal konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia terkait Kalimantan Utara tahun 1963. Kok bisa ya? Kenapa bapak Presiden menemui saya di dalam mimpi? Saya lalu berpikir mencari alasan yang logis. Saya lalu teringat hadiah yang diberikan sang Presiden kepada saya. Sebuah jas berwarna merah, dan saya ingat apa arti dari jas merah tersebut. Jas merah adalah akronim terkenal ciptaan sang Proklamator. Kepanjangannya adalah ”Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Mungkin sang Presiden tidak ingin aku melupakan sejarah. Mungkin nggak ya? Siapa tahu?