Beranda » kisahku » Tikus Rakus! (lagi-lagi tikus!!)

Tikus Rakus! (lagi-lagi tikus!!)



Pagi-pagi benar aku pergi ke dapur untuk mencuci piring-piring kotor. Saat itu kucium bau yang menyengat di dalam dapur. Aku penasaran bau apa itu. Baunya tercium seperti bau gas, sehingga aku berkesimpulan kalau kemungkinan terdapat kebocoran dari dalam tabung gas. Tapi aku tak terlalu mengerti akan urusan tabung gas. Aku pun membiarkan saja bau tersebut. Setelah selesai mencuci piring, aku berniat merebus mie goreng sebagai sarapan pagi. Saat memasuki dapur kembali, bau yang kucium saat mencuci piring itu kini lebih menyengat dan menusuk hidung. Aku penasaran dan mencoba membau tabung gas untuk memastikan asal bau tersebut. Namun bau di sekitar tabung gas tidak terlalu menyengat dan tercium seperti biasanya. Aku pun mencari sumber bau itu di tempat lain dan menemukan kemasan karbol yang terjatuh di bawah wastafel dengan cairan biru menggenang di sekitarnya. Akhirnya aku menyadari bahwa bau tersebut berasal dari cairan karbol yang tumpah. Banyak sekali cairan karbol yang tumpah sehingga tak mengherankan bila baunya sangat menyengat. Dan tak perlu lama untuk menebak siapa pelaku yang menumpahkan cairan karbol itu. Siapa lagi kalau bukan….tikus besar yang selalu menyambutku tatkala aku membuka pintu dapur dan kemudian dia menghilang di balik lemari-lemari dapur. Sial! Lagi-lagi tikus itu! Aku pun harus membersihkan cairan karbol di bawah wastafel itu. Banyak juga cairan yang tumpah sehingga bisa dipastikan tikus itu telah membuatku rugi.

Di rumah ini memang banyak sekali tikus, tapi bukan berarti penghuninya orang yang anti kebersihan. Tikus-tikus tersebut bersarang di bawah bak kamar mandi, di atas atap, dan di balik lemari-lemari rumah. Pernah suatu ketika tikus tersebut keluar dari lubang kecil yang ada di bagian bawah bak mandi dan membuatku terkejut setengah mati waktu sedang buang air kecil. Anehnya, tikus yang memiliki ukuran tubuh empat kali kepalan tangan orang dewasa tersebut bisa keluar masuk dari lubang yang cukup kecil tersebut.

Tikus di rumah ini seperti tetangga yang sangat mengesalkan. Mereka keluar masuk, menggigit apa saja, memakan apa saja, dan membawa sisa-sisa makanan mereka ke dalam kamar mandi sehingga banyak sampah bertebaran di kamar mandi karena sampah-sampah tersebut tidak dapat masuk ke dalam lubang yang kecil itu. Ditambah lagi, suara mereka sangat berisik saat menjelajahi rumah di malam hari, membuat aku sulit tidur hingga aku menyalahkan tikus atas penyakit insomnia yang kuderita. Tentunya hal ini membuat semua orang kesal. Karena itulah, aku lalu memasang perangkap tikus berupa lem tikus di daerah yang sering dilalui oleh mereka. Langkah ini cukup berhasil, namun hanya mampu menjerat tikus-tikus kecil. Cicak dan kecoa tak berdosa pun ikut masuk ke dalamnya. Sayang, tikus berukuran empat kepalan tangan orang dewasa yang kuanggap sebagai induk dari semua tikus di rumah ini belum dapat tertangkap dengan menggunakan lem yang katanya gajah pun tak bisa lepas. Pernah suatu ketika kutemukan perangkap lem tikus yang kupasang di dalam rumah telah berpindah jauh ke luar rumah dengan banyak sekali jejak di atasnya dan jejak-jejak lem yang menempel di lantai sekitarnya. Aku berpikiran tikus besar itu telah tertangkap namun berhasil berontak dan kabur.

Selain menggunakan perangkap lem tikus, sebenarnya banyak tikus yang masuk sendiri ke dalam jebakan yang tidak aku siapkan, yaitu kolam yang ada di rumah. Biasanya mereka terjatuh ke dalam kolam dan tidak dapat naik ke atas. Kubiarkan saja mereka mati kedinginan di kolam hingga aku lalu membuangnya jauh-jauh. Namun, yang masuk ke dalam kolam hanya tikus-tikus berukuran sedang, bukan tikus yang besar itu. Hal ini membuatku resah dan gelisah seperti lagu Kisah Kasih di Sekolah.

Aku tak tahu harus menggunakan jebakan apa untuk menangkap tikus besar itu. Lem tikus, jepretan tikus, dan kerangkeng tikus sudah tak mempan pada tikus besar kota yang sudah malang-melintang di dunia pertarunagn melawan manusia. Tikus itu sudah terlalu pintar untuk dapat menghindari semua jebakan yang terpasang. Maklum, tikus kota. Bahkan, saking besarnya tikus itu, kucing-kucing yang pernah mampir ke rumah untuk minta makan saja sampai ketakutan dibuatnya. Heran, kucing-kucing bertubuh lebih besar itu justru takut dengan tikus besar induk semua tikus di rumah ini yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari mereka. Tom dan Sylvester bisa malu nih… Aku curiga tikus besar itu juga ikut menonton serial Tom & Jerry sehingga membuatnya menjadi sepintar itu.

Tikus besar itu lebih dari tikus yang biasa kutemui. Dia bisa disebut sebagai bos para tikus di kavling. Dan makanannya pun kini bervariasi, hampir semua hal bisa dimakan olehnya. Bisa dibilang dia itu tikus rakus. Contohnya saat aku menjemur nasi kemarin yang sudah kering yang nantinya akan kugoreng untuk kujadikan karak. Saat sudah malam, aku memasukkan nasi-nasi karak tersebut ke dalam rumah tepatnya di atas meja dapur. Keesokan harinya, saat aku hendak menggoreng nasi-nasi tersebut, nasi-nasi kering sudah tak ada lagi di atas tempatnya. Habis sehabis-habisnya, tak ada yang tersisa sedikit pun. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan si tikus besar itu. Benar-benar tikus rakus, nasi kering pun diembat juga! Benar-benar gambaran masyarakat Indonesia saat ini….

Huu, entah mengapa hidupku selalu berurusan dengan binatang pengerat sejenis tikus. Seperti saat aku ditabrak seekor tikus (klik disini untuk membacanya) dan saat aku dituduh membunuh hamster peliharaan saudaraku (klik disini untuk membacanya). Tikus, oh Tikus…….kapan kamu berhenti mengganggu hidupku…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s