Punk in Love

Sebulan yang lalu di hari Sabtu saat sedang suntuk dengan materi ujian, saya tidak sengaja menemukan sebuah DVD di atas meja kerja kakak ipar saya. Rupanya DVD itu adalah DVD original film Punk in Love. Daripada suntuk, saya lalu menyalakan DVD player dan mulai menonton film yang ternyata sangat bagus itu.
Punk in Love adalah sebuah road movie atau film perjalanan yang dibuat oleh rumah produksi MVP Pictures, dengan besutan sutradara Ody C. Harahap. Film ini mengangkat kisah anak-anak punk yang sedang jatuh cinta, dan siapapun pasti bisa menebak hal itu dari judulnya.
Cerita berawal dari percobaan bunuh diri yang menghebohkan kota Malang, Arok (Vino G. Bastian) yang frustasi setelah Maya, gadis yang dicintainya mengirimkan undangan pernikahan kepadanya. Beruntung tiga teman Arok yaitu Yoji (Andhika Pratama), Mojo (Yogi Finanda), dan Almira (Aulia Sarah) berhasil menghentikan ulah nekat tersebut. Keempat anak punk bersahabat itu pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta demi menyatakan cinta Arok pada Maya yang tinggal di kota tersebut sebelum pernikahan terjadi. Selama perjalanan dari Malang ke Jakarta tanpa modal itu mereka mengalami banyak kejadian konyol dan kisah-kisah seru, mulai dari salah naik truk yang kemudian membawa mereka ke Bromo, berantem dengan tukang sate, kebanjiran di Semarang, hingga menculik seorang dokter demi mengobati Mojo yang sekarat. Bagaimanakah akhir perjalanan mereka? Apakah Arok sempat menyatakan cintanya pada Maya sebelum pernikahan itu terjadi?
Punk in Love menawarkan sebuah kisah cinta sederhana yang membawa pada sebuah petualangan besar. Sebuah road movie yang sarat dengan pemandangan menawan sepanjang pulau Jawa, penuh amanat dan bumbu persahabatan, serta tentu saja unsur komedi konyol yang kocak dan dijamin mampu membuat terpingkal-pingkal, paling tidak itulah yang terjadi pada saya. Ceritanya menarik, banyak kejutan tak terduga terjadi sepanjang durasi film, dan alur yang berjalan cepat, membuat perhatian penonton akan terfokus sepanjang film. Akting para pemerannya pun sudah baik, masing-masing mampu menjiwai dan menghidupkan karakter yang dimainkan, terutama Vino G. Bastian yang aktingnya benar-benar menawan dalam film ini. Menurut saya kekurangan dari film ini adalah tidak adanya teks terjemahan untuk penggunaan bahasa Jawa yang muncul sepanjang film, membuat penonton dari daerah luar Jawa akan kebingungan dengan bahasa yang ditampilkan. Saya sendiri sebagai orang Jawa merasa sangat terhibur dengan penggunaan bahasa Jawa kasar dan slang yang ditampilkan, rasanya sangat menyenangkan mendengarkan umpatan-umpatan yang dulu sering saya dengar sewaktu masih sekolah itu. So, buat anak-anak Punk Jawa, film ini adalah film yang wajib untuk ditonton! Yeah, hidup Punk!

Waktu Terus Berjalan

Saat kakakku pulang dan tidak membawa lauk untuk makan malam serta belum masak nasi di rumah, kakak menyuruhku untuk makan di luar. Aku pun keluar dari rumah walaupun cuaca di luar agak gerimis tapi itu bukan masalah berarti bagiku. Aku melangkah menyusuri jalan dan rencananya mau makan di warteg, tapi berhubung banyak orang nongkrong di depannya sambil merokok dan ngobrol gak jelas, aku pun mengurungkan niatku makan disana. Akhirnya langkahku membawa pada tukang ketoprak Cirebon yang biasa mangkal di atas got setiap malam. Setahun yang lalu aku pernah makan disitu dan aku tergoda untuk makan disitu lagi malam itu.
Aku pun mendekati warung ketoprak dan sang penjual yang masih muda mempersilakan aku duduk. Si penjual ketoprak tampaknya mencoba ramah padaku dengan mengajakku mengobrol sambil mempersiapkan ketoprak yang aku pesan. Aku sendiri duduk santai menunggu ketoprak dihidangkan sambil sesekali menggaruk kepalaku, menampilkan wajah seperti orang susah. Lalu terjadilah percakapan antara aku dan tukang ketoprak…
“Kok sendirian Pak, istrinya gak diajak?” tanya tukang ketoprak mencoba ramah.
“Belum punya istri kok. Memangnya kelihatan kayak sudah punya istri ya?” jawabku kaget dengan pertanyaan itu.
“Nggak, tapi kelihatannya dewasa banget… Tapi pasti sudah pacar kan? Pacarnya kok gak diajak?” tanya tukang ketoprak lagi, berharap kali ini tebakannya tepat.
“Belum punya pacar juga kok…” jawabku jujur.
“Kalau begitu dicari dong…”
Ketoprak dihidangkan dan si tukang ketoprak berhenti mengajakku ngobrol. Aku mulai menyantap ketoprak yang kuakui rasanya lebih enak dibandingkan ketoprak lainnya. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah pertanyaan dari tukang ketoprak yang mengganggu pikiranku. Tukang ketoprak mengira aku sudah punya istri? Setua itukah aku?
Setelah selesai makan ketoprak, aku pun langsung pulang ke rumah. Di rumah aku bertanya pada kakakku apakah aku kelihatan seperti lelaki yang sudah beristri dan kakakku mengiyakannya, “Ya, kamu sudah seperti Bapak-Bapak”. Aku lalu bercermin dan….Oh tidak! Aku sudah tua! (bahkan pamanku mengklaim lebih muda dariku)
Pertanyaan dari tukang ketoprak itu menyadarkanku bahwa waktu terus berjalan sementara aku terlena dalam tidur panjangku. Masa mudaku sudah habis dan aku tidak melakukan apa-apa? Oh….
Well, waktu memang terus berjalan, terkadang kita bisa begitu meremehkannya dan saat kita menyadarinya… semuanya sudah terlambat. Ya, aku memang sering tidak percaya kalau aku sudah berumur dan masih saja bersikap seperti anak kecil yang manja. Oh, Tuhan… apa yang telah aku lakukan? Aku telah melewatkan begitu banyak kesempatan…. Bagaimanapun aku tidak boleh terus seperti ini… aku harus berubah dan menemukan jati diriku yang sebenarnya! Tahun ini harus jadi tahun terakhirku di kampus, dan kemudian… aku akan pergi berkelana sejauh kaki melangkah! 

Marilah kita mulai menghargai waktu dengan jangan menunda hingga besok apa yang bisa kita lakukan hari ini….

“Kekayaan yang hilang bisa dikembalikan dengan ketekunan dan kerja keras. Kesehatan yang hilang bisa dikembalikan dengan obat-obatan. Akan tetapi waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan lagi”