Contoh Orang yang Membohongi Diri Sendiri

truthlies

Motivasi Tembak Langsung
CONTOH ORANG YANG MEMBOHONGI DIRI SENDIRI

1. Wanita yang meninggalkan kekasih yang dicintainya untuk laki-laki buruk sifat yang kaya, karena menurutnya jaminan ekonomi lebih penting daripada kebahagiaan.

2. Orang yang sebetulnya baik dan jujur, tapi menyuap untuk mendapatkan pekerjaan yang ada pensiunnya.

3. Membenci kekayaan karena tidak melihat kemungkinan dirinya bisa keluar dari kemiskinan.

4. Orang yang tahu dirinya malas dan tidak jujur, tapi menyalahkan Tuhan karena tidak memudahkan hidupnya.

5. Orang yang malas belajar dan suka menghindari pekerjaan, tapi ikut seminar motivasi untuk membangun harapan besar untuk menjadi orang kaya.

6. Orang yang jujur dan taat beribadah, tapi bekerja di perusahaan dengan tugas menghibur dan menyuap pejabat yang korup.

7. Memaksakan diri untuk setia kepada orang yang tidak setia, karena meyakini bahwa cinta adalah pengorbanan.

8. Menangis meraung-raung saat dikhianati oleh kekasih palsunya, tapi tetap meyakini bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta harus memiliki, titik!

9. Merasa iri dan mencibir kesejahteraan hidup orang lain, sambil menasihati diri yang kekurangan, bahwa kekayaan dunia tidak penting.

10. Meneruskan kebiasaan buruk, karena meyakini hidup mati di tangan Tuhan. Padahal, kesehatan baik bagi yang memelihara kesehatan, dan kesehatan buruk bagi yang mendustakan nikmat Tuhan yang satu itu – yang namanya kesehatan.

Sampai Jumpa Kawan PLN…

 Tutup 
“Aku tahu hari ini pasti akan datang, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini…”
Hari Jum’at 3 Agustus 2012 lalu adalah hari yang begitu berkesan bagiku. Jum’at itu adalah hari terakhirku bekerja di PLN Bontang sebagai petugas bank yang menghubungkan PLN Bontang dengan bank rekanan tempatku bekerja, Bukopin Samarinda. Terhitung satu tahun lebih sudah aku bekerja disana, memulai karirku sejak lulus kuliah. Karir pertamaku dimulai dengan bekerja di perusahaan instansi lain, bukan di perusahaanku sendiri, membuatku terkadang bingung bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang menempatkan diriku dalam dua kepentingan yang berbeda. Di satu sisi aku digaji oleh bank tempatku bekerja, namun di satu sisi aku harus mengutamakan kepentingan nasabahku dalam hal ini PLN Bontang. Dua kepentingan ini saling berbenturan, membuatku sulit menempatkan diri tapi pada akhirnya aku mampu menikmatinya.Sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk berhenti bekerja, akan tetapi peristiwa yang begitu cepat terjadi membuatku harus membuat pilihan antara tetap bekerja di PLN Bontang/Bukopin Samarinda atau mengambil tantangan pekerjaan baru, wartawan di media lokal kota ini. Sehari sebelum umurku genap dua puluh empat tahun, aku melihat iklan lowongan pekerjaan pada sudut halaman media tersebut. Pekerjaan yang ditawarkan adalah wartawan, sebuah profesi yang merupakan cita-citaku sejak aku masih kecil dulu. Menjadi wartawan adalah keinginanku, itulah yang menyebabkan aku mengambil prodi Ilmu Komunikasi saat kuliah dulu. Karena itulah aku pun langsung tertarik untuk mencoba melamar, walaupun awalnya hanya sekedar iseng saja dan tidak terlalu berharap banyak. Toh pekerjaanku di PLN Bontang juga sudah sangat nyaman.Tapi apa lacur? Yang terjadi berikutnya sungguh membuatku sakit kepala. Aku mendapatkan panggilan wawancara, padahal setelah aku cek ternyata kopian ijazah dan transkrip nilaiku tertinggal terlupa kumasukkan ke dalam amplop lamaran. Hal ini membuatku heran mengingat dalam keterangan lowongan tersebut tertulis bahwa hanya berkas yang lengkap sajalah yang akan mendapat panggilan. Kemudian berikutnya aku terpikir bahwa kemungkinan hal ini dikarenakan contoh tulisanku yang aku sertakan dalam lamaran tersebut. Dalam persyaratan lowongan itu tertulis untuk menyertakan contoh tulisan apabila ada, sehingga aku terpikir untuk menyertakan beberapa tulisanku yang pernah kutulis di blog Navilink47 ini. Dan yeah, ternyata itulah yang menjadi pertimbangan pihak media yang kulamar. Karena dalam wawancara tersebut, sang manajer berkata, “Bila ini benar-benar tulisanmu, maka saya menaruh harapan besar padamu.”Aku diterima bekerja di media tersebut dan Senin berikutnya sudah bisa mulai bekerja. Akan tetapi aku menjadi bimbang. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku sekarang, terlebih lokasi kantor perusahaan bankku yang terpisah kota. Maka melalui pembicaraan yang alot, aku meminta kelonggaran waktu selama satu minggu untuk mengurus proses pengunduran diriku dari bank yang selama satu tahun ini telah membayarku. Pihak media tersebut memberikan izin dengan batasan tersebut, dimana pada Senin berikutnya aku harus sudah bekerja disana atau kalau tidak aku dianggap menolak tawaran pekerjaan tersebut. Dan hitungan mundur pun dimulai… minggu terakhir di PLN Bontang.

Jum’at itu, di pagi harinya setelah pembacaan do’a pagi, aku berpamitan pada para pegawai PLN Bontang. Kalimat-kalimat perpisahanku terdengar begitu emosional, dimana kurasakan tubuhku bergetar. Pada akhirnya hari ini pun tiba, hari dimana aku mengucapkan kata-kata perpisahan. Beberapa pegawai PLN Bontang tampak sedih, beberapa tampak biasa saja, sementara beberapa yang lain termasuk manajer PLN Bontang yang baru memberikan semangat kepadaku. Sungguh berat sebenarnya berpisah dengan kawan PLN Bontang yang sudah menemaniku selama satu tahun pertamaku di kota Bontang. Sudah banyak kenangan yang terjadi di tempat ini, membuatku merasakan perasaan sedih tak ingin berpisah. Walaupun banyak sentimen yang kuhadapi selama bekerja di tempat ini terutama yang berhubungan dengan perusahaan tempatku bekerja, namun banyak juga momen indah yang terukir. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama bekerja sebagai perpanjangan tangan Bank Bukopin di PLN Bontang, yang tak kupungkiri itu membentuk karakterku. Itulah yang membuatku merasa bangga dan bersyukur pernah bekerja di dalam ruang kerja PLN. Aku bisa melihat jelas bagaimana para pegawai PLN yang seringkali dicaci karena pemadaman listrik itu bekerja, sebuah kesempatan yang sangat langka. Aku ingat bagaimana pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini, seminggu sebelum ulang tahunku yang keduapuluh tiga. Keberadaanku saat itu sulit untuk diterima, mengingat PLN Bontang tidak menyambut baik kerjasama mereka dengan Bank Bukopin yang ditentukan oleh PLN pusat. Wajar saja bila mereka berkeberatan dengan kerjasama ini mengingat belum ada kantor cabang atau capem Bank Bukopin di kota Bontang. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku ditempatkan di PLN Bontang, sebagai “bank mini”, perpanjangan tangan dengan Bukopin Samarinda. Jabatanku adalah petugas Sistem Administrasi Satu Atap yang kalau disingkat menjadi… SAMSAT

tempat kerja
Tempat kerjaku di PLN Bontang sebelum OPI

Pada semester awal, pekerjaanku bisa dibilang cukup berat. Aku menanggung resiko yang cukup besar dengan membawa uang tunai puluhan juta Rupiah tanpa dukungan keamanan sedikit pun. Syukurlah pada semester berikutnya pekerjaanku menjadi lebih ringan setelah muncul kebijakan di pihak PLN yang melarang penarikan secara tunai. Seluruh transaksi yang dilakukan oleh PLN diharapkan untuk dilakukan secara sistematik melalui aplikasi keuangan yang meminimalkan peredaran uang secara kasat mata. Rutinitas berikutnya menjadi semakin membosankan dari hari ke hari, membuatku mulai terpikir untuk mencari tantangan baru. Memang ada kalanya aku menjadi sangat sibuk dan sangat pusing dengan pekerjaanku, namun seringkali aku begitu santai karena sama sekali tidak ada pekerjaan selama beberapa hari. Meski begitu aku tak hanya menangani transaksi PLN pada rekanan mereka saja, namun aku juga melayani nasabah yang terdiri dari pegawai PLN Bontang yang menanyakan tentang produk perbankan kami, atau yang mengurus hal-hal terkait produk kami tersebut. Hal ini membuatku sering berhubungan dengan banyak orang, bertemu dan menghadapi karakter nasabah yang berbeda-beda. Disinilah aku merasakan peranku sebagai petugas bank dan perlahan menikmatinya, berikut setiap permasalahan yang terjadi yang membuat kepalaku terasa pening.

Karena itulah aku sempat bingung untuk memutuskan, apakah tetap bertahan bekerja di PLN Bontang sebagai petugas Bank Bukopin, atau menerima tawaran pekerjaan di media lokal kota Bontang, Bontang Post. Aku menimbang baik dan buruknya, serta tidak segan pula menerima saran dari kerabat maupun sahabat walaupun keputusan pada akhirnya tetaplah ada di tanganku. Di satu sisi aku sudah merasa sangat nyaman berada di PLN Bontang dengan segala problematikanya, namun di satu sisi kenyamanan itu membuatku merasa bosan dan merasakan tidak ada perkembangan yang berarti dalam hidupku selama satu tahun ini. Bosan, stagnan, tidak ada tantangan, tidak ada progress. Sementara apabila aku bekerja di harian lokal itu, maka hari-hariku akan dipenuhi oleh kesibukan dan akan menjadi tidak senyaman dulu lagi. Bila dibandingkan dengan pekerjaan di bank, tentunya materi sebagai petugas bank jauh lebih menjanjikan. Namun pertimbangan pengalaman dan perwujudan keinginan membuatku condong memilih tawaran ini. Kesempatan ini sendiri mungkin hanya akan datang satu kali saja. Pada akhirnya kutetapkan untuk keluar dari zona nyaman, mencari pengalaman baru, menghadapi tantangan baru, mewujudkan impianku.

Pedabon
Saat sosialisasi OPI PLN Bontang
(nomor dua dari kanan)

Keputusanku ini sembat mendapat respon keras dari pihak bank tempatku bekerja, dari bagian marketing yang posisinya hampir sama denganku. Dia berkata, “Orang itu kalau ganti sandal mestinya dapat sandal baru yang lebih bagus, bukannya malah dapat sandal buluk.” Kata-kata itu sempat membuatku memikirkannya kembali dengan begitu keras, membuatku sakit kepala. Belum lagi omongan dari bibi dan sepupuku yang begitu tajam menghujam jantungku. Tapi tidak melulu respon seperti itu yang kudapatkan dalam minggu terakhirku bekerja di PLN Bontang, respon positif juga kudapatkan di antaranya dari pejabat SDM PLN Bontang yang ingin melihatku berkembang dengan potensiku serta dari manajer baru PLN Bontang sekalipun yang begitu menerima keberadaanku, sangat berbeda dengan manajer lama yang begitu tidak menghargaiku. Ayah tiriku sendiri mendukung keputusanku ini, sementara kakak iparku yang sebelumnya menyarankan untuk menolak pekerjaan baru justru berbalik memberikan dukungan. Yeah, bagaimanapun ini adalah kehidupanku, akulah yang menentukannya sendiri. Karena keputusan akulah yang menentukannya sendiri, maka aku tidak akan lagi menyalahkan orang lain siapapun itu.

Malam harinya teman-teman PLN mengajakku untuk makan-makan di tempat tongkrongan kami biasanya di Bontang Kuala yang didedikasikan sebagai malam perpisahan denganku. Disana aku mengenang saat-saat pertemuan pertamaku dengan mereka, serta kenangan-kenangan yang telah kami alami bersama. Berat dan sedih rasanya berpisah dengan mereka, namun setiap pertemuan pastinya akan berujung perpisahan pula. Yang pasti kenangan bersama mereka tidak akan pernah terlupakan. Saat-saat itu akan selalu terkenang, walaupun mungkin aku mengatakan lupa. Aku pastinya akan merindukan mereka. Sebuah pengalaman berkesan bersama kawan-kawan PLN… yang handal dan kompeten dalam bidang mereka masing-masing. Aku yakin di bawah kepemimpinan manajer yang baru, PLN Bontang akan sanggup menjadi yang lebih baik lagi ke depannya, menjadi yang terbaik. Aku pun berharap penggantiku kelak, siapapun dia akan bisa bekerja lebih baik lagi dari yang selama ini aku kerjakan, akan bisa melanjutkan bentuk kerjasama emosional yang terjalin antara PLN Bontang dengan Bukopin Samarinda.

teman
Kawan-kawan Bukopin Samarinda yang gokil-gokil…

Dan hari Jum’at itu aku resmi meninggalkan PLN Bontang diantarkan kalimat perpisahan dari manajer baru PLN Bontang, resmi pula meninggalkan Bank Bukopin Samarinda setelah sehari sebelumnya sempat bertemu dan berbicara dengan manajer Bukopin Samarinda yang datang ke Bontang. Tak lupa pula aku berpamitan dengan Mbak Kiki dan Mbak Rita yang selama ini membantuku melalui telepon. Meskipun aku tidak bekerja di tempat yang sama dengan Mbak Kiki dan rekan-rekan Bank Bukopin Samarinda lainnya, namun aku bangga bisa bekerja mewakili mereka disini, di PLN Bontang. Mereka orang-orang yang baik, dimana mereka memperlakukanku dengan baik walaupun mereka tidak mengenalku secara langsung, sebagaimana yang terlihat jelas saat aku menghadiri family day waktu itu. Aku juga pastinya akan merindukan mendengar suara mereka yang begitu ramah walaupun tengah mendapat omelan dari nasabah sekalipun… Salut untuk mereka semua, pegawai Bank Bukopin Samarinda.

Aku akan menghadapi dunia baru, pekerjaan baru yang pastinya akan penuh tantangan. Aku tidak tahu secara pasti apa yang telah menungguku di depan sana, di hari esok yang penuh ketidakpastian. Aku tidak tahu bagaimana dan tidak memiliki gambaran pasti bagaimana nantinya pekerjaanku yang baru sebagai kuli tinta. Bisa dibilang aku sedang bertaruh, bisa dibilang aku mempertaruhkan banyak hal untuk ini, untuk sekedar mewujudkan keinginan masa kecil selagi aku mampu dan mendapatkan kesempatan untuk itu. Tak hanya materi yang kupertaruhkan, namun juga perasaanku dan juga kepercayaan. Aku telah banyak mengambil resiko untuk ini dan aku berani gagal untuk hal ini pula. Aku bertaruh pada nasib demi idealisme. Aku tidak bisa hanya berdiam di satu titik, aku harus terus bergerak. Karena bagiku… hidup tidak akan pernah sama…

Sampai jumpa lagi kawan PLN…. Sukses selalu untuk kalian…


“Lukman, cita-cita kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Aku… Aku ingin menjadi wartawan…”
“Kenapa?”
“Karena wartawan bisa bertemu dengan banyak orang…”
“Bisa ketemu orang mati dong?”
“…………………..”

Nabi Muhammad di Mata Para Tokoh Dunia

muhammad

1. Mahatma Gandhi (komentar mengenai karakter Muhammad di Young India)

“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.

2. Sir George Bernard Shaw, dalam bukunya “The Genuine Islam”

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut.

Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sebagai sosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil “sang penyelamat kemanusiaan”.

“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan yang sedemikian rupa hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia. Menurutku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.

Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.

Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 Masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 tahun dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan menuju keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal transformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit, hanya dua dekade.”

3. Michael H. Hart, dalam bukunya “The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History”

“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama (hal. 33). Lamar Tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: ‘Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.’

Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa. Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan keghaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filosof yang juga seorang orator, prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pengembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”

4. Lamar Tine, dalam bukunya “Histoire De La Turquie”

“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang-orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.

Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya. Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu.

Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut. Hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”

5. K. S. Ramakrishna Rao, dalam bookletnya “Muhammad, The Prophet of Islam”

“Kepribadian Muhammad, sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.

Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.”

6. Profesor (Snouck) Hurgronje

“Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.

Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan; menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.”

7. Thomas Carlyle, dalam bukunya “His Heroes And Heroworship”

“Betapa menakjubkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Badui) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade.

Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa masih ada saja orang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.

Saudaraku, apakah kalian pernah menyaksikan, dalam sejarah, seorang pendusta yang mampu menyampaikan sebuah agama yang sedemikian kokoh dan menyebarkannya ke seluruh dunia? Saya yakin bahwa manusia harus bergerak sesuai dengan UU dan logika. Jika tidak maka ia tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Mustahil bahwa manusia besar ini adalah seorang pembohong. Karena pada kenyataannya, kebenaran dan kejujuran adalah dasar semua kerjanya dan pondasi semua sifat utamanya.

Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya. Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selainnya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas.

Hati manusia mulia putra padang pasir ini penuh dengan kebaikan dan kasih sayang. Ajaran-ajarannya terjauh dari semangat egoisme, dan pandangan-pandangannya bersih dari ketamakan kepada pangkat kedudukan duniawi. Saya mencintai Muhammad dengan segenap wujud, karena seluruh wataknya sangat jauh dari tipu muslihat dan basa-basi.”

8. Gustav Lebon, cendekiawan Perancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”

Seperti yang ditulisnya, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

9. Will Durant, sejarawan AS, dalam dua buku sejarahnya, juga memuji Muhammad Rasul Allah.

Ia menulis, “Kita harus katakan bahwa Muhammad adalah tokoh sejarah terbesar. Ketika memulai dakwahnya, negeri Arab adalah sebentang padang pasir kering dan kosong, yang di beberapa kawasannya dihuni oleh sejumlah kaum Arab penyembah berhala. Jumlah mereka kecil tapi perselisihan diantara mereka sangat banyak.

Akan tetapi ketika beliau wafat, penduduk Arab ini pula telah muncul sebagai umat yang bersatu dan kompak. Beliau menghapus segala macam khurafat dan fanatisme dan menyuguhkan sebuah agama dyang sederhana tapi kokoh dan terang benderang yang dibangun di atas dasar keberanian dan kemuliaan. Kitab beliau adalah Al-Quran dan tak ada kitab lain yang mampu menandinginya dari segi kekuatan pengaruh dan daya tariknya.”

10. John Diven Port, cendekiawan Inggris.

Ia menyatakan penyesalannya terhadap sikap tendensius terhadap Nabi Islam. Dalam bukunya yang ia tulis berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW, dengan segala kejujuran dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi, ia berusaha membersihkan segala macam kedustaan dan tuduhan negatif dari kehidupan Nabi Muhammad, dan mengajak orang-orang sesat ini untuk merenung dan berpikir dengan benar.

Diven Port menulis, “Dari segi keindahan dan kebaikan watak dan perilaku, Muhammad memiliki keistimewaan yang sangat tinggi. Mereka yang tidak memiliki watak-watak seperti inilah yang memandang beliau sebagai sesuatu yang tak bernilai.

Sebelum memulai ucapannya, beliau telah menarik para pendengar beliau, baik satu orang atau banyak, dengan akhlak dan peringainya yang sangat mulia. Wajah beliau memancarkan kewibawaan sekaligus daya tarik yang amat kuat. Senyumnya yang indah takpernah lepas dari bibir beliau. Pada akhirnya, hal-hal lembut dan menarik selalu beliau masukkan dalam tutur kata beliau, memaksa setiap orang memujinya. Oleh sebab itulah beliau dikenal sebagai tokoh agama yang paling langka di dunia.”

11. Dosun, penulis Perancis, dalam bukunya “Muhammad dan Islam”

“Pada umumnya, warga Perancis tidak menaruh minat kepada pembahasan masalah-masalah keagamaan. Akan tetapi, mereka yang taat beragama dan pemikir Perancis, memiliki pandangan lain kepada Islam. Hakekatnya ialah bahwa kemunculan Islam dan penyebarannya termasuk diantara hasil karya besar dan amat penting sejarah manusia. Di akhir abad ketujuh Islam mampu merambah ke Suriah, Iran, Mesir dan dunia Arab, dan menyebar di seluruh Afrika Utara, serta menguasai seluruh pulau-pulau di laut Mediterania, kemudian masuk pula ke India dan Cina. Saat ini Islam telah memberikan pengarunya yang luas dalam peradaban dunia serta dalam politik kontemporer. Keberhasilan perjuangan Muhammad saaw, dalam menggeser UU yang berlaku di negara-negara Asia, padahal mereka termasuk diantara negara terkuno di dunia, serta ketahanan UU Islam ini selama berabad-abad, merupakan bukti terbaik yang menunjukkan kebenaran tokoh ini dan keistimewaannya yang langka.”

12. Edward Gibbon dalam pidatonya yang bertajuk “Profession of Islam”

“Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama.”

13. Simon Ockley dalam bukunya “History Of The Saracen Empires”

“Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan dan demikianlah juga setiap tindakannya.”

14. Sarojini Naidu, penyair terkenal India (S. Naidu, Ideals of Islam)

“Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jamaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui; Allah Maha Besar. Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.”

15. James A. Michener dalam bukunya “Islam: The Misunderstood Religion”

“Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil, dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.

Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi-sembunyi dan ragu-ragu karena menyadari kelemahannya. Tapi “membaca” adalah perintah yang diperolehnya, dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: Tiada tuhan selain Allah.

Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: ‘Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia.’

Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar -red) menepis keingingan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa; ‘Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Allah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya.’”

16. W. Montgomery Watt dalam bukunya “Mohammad At Mecca”

“Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad.”

17. Annie Besant, dalam bukunya “The Life And Teachings Of Muhammad”

“Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasa kan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya mersakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.”

18. Bosworth Smith, dalam bukunya Mohammad And Mohammadanism

“Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrumen atau penyokongnya.”

19. John Austin, dalam bukunya “Muhammad the Prophet of Allah”

“Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.”

20. Professor Jules Masserman

“Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal. Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer -red). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada semua kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa juga melakukan hal yang sama.”

———————————–

Sumber: Fimadani

Dua Puluh empat

Gambar ucapan ulang tahun dari salah seorang penggemarku… #PLAK!

(Artikel bulan Juli yang kupindah dari blog utamaku yang akan segera digusur)

Hari ini, 18 Juli 2012 adalah hari yang istimewa… well, tidak terlalu istimewa sih, malah justru biasa-biasa aja karena aku bukan lagi anak kecil yang menganggap hari ini adalah hari yang istimewa…. Hari ulang tahun.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada ulang tahun kali ini aku sama tidak berkumpul bersama keluargaku, sendirian di hari dimana umurku kini dua puluh empat tahun. Aku benar-benar tidak menyangka bila kini usiaku sudah sebanyak itu… menyiratkan aku sudah semakin tua dan kesempatanku semakin berkurang. Meski begitu aku bersyukur masih diberi nafas oleh Tuhan untuk menjejak pagi, menghirup panas matahari hingga hari sekarang.

Satu tahun yang lalu tepat di tanggal ini mungkin meninggalkan kesan sendiri, karena hari itu adalah hari pertamaku bekerja di tempatku saat ini seorang diri setelah sebelumnya ditemani selama satu minggu oleh rekanku. Bila mengingat hal itu membuatku tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Aku memulai episode baru dalam kehidupanku di dunia kerja tepat di hari ulang tahunku! Seakan aku terlahir kembali, sesuai dengan tanggal lahirku. Kini satu tahun terlewati sejak hari itu, menambahkan satu angka, menggenapkan umurku menjadi 24.

Sebenarnya tahun kemarin aku tidak melewati ulang tahunku sendirian, karena aku ingat kakak sepupuku mengajakku pergi ke Bontang Kuala. Malam itu kami duduk bersama di tepian laut, memandang rembulan malam sambil bercerita panjang lebar mengenai kehidupan kami berdua. Bagiku itu sudah cukup menjadi hiburan, mengingatkanku kembali pada suatu tempat yang dulu selalu kukunjungi bersama almarhum ayahku. Sungguh, rasanya saat duduk di tepian desa atas laut itu benar-benar mengembalikan memoriku perlahan, walaupun gambarannya tidak terlalu jelas. Yeah, aku masih sangat kecil saat meninggalkan kota kelahiranku ini dulu.

Kini, satu tahun telah berlalu dan kembali aku menjalani kehidupan baru, seminggu sebelum hari ini tiba. Untuk kali pertama selama bekerja, aku tinggal menetap sendiri, tanpa bergantung pada orang lain. Tujuh Juli kemarin, melalui tekad yang kuat disertai tindakan nekat, aku memutuskan keluar dari rumah Pamanku, memutuskan untuk idekost, belajar hidup mandiri. Aku memiliki prinsip untuk terus bergerak, sebagaimana yang tertuang dalam slogan blogku ini, “Life will Never be the Same”, hidup tidak akan pernah sama. Aku tidak mau berada dalam kondisi stagnan tanpa perkembangan. Satu tahun telah berlalu sejak pertama kali aku bekerja, maka aku ingin ada perubahan dalam hidupku. Bila selama satu tahun sebelumnya aku hidup menumpang, maka pada tahun kedua ini aku ingin hidup mandiri. Yeah, sebenarnya sih masih tetap menumpang, yaitu menumpang di kostan orang, tapi paling tidak aku tidak lagi merepotkan orang lain. Jujur aku sudah jengah hidup menumpang, aku harus hidup mandiri, dan bila aku tidak bisa melakukannya sekaligus, maka aku akan melakukannya secara bertahap. Tahun kemarin aku menumpang, tahun ini aku indekost, tahun depan pasti ada rencana lain untukku. Dalam hidup harus ada perkembangan!

Sebenarnya aku masih ingin tinggal menumpang di rumah Pamanku agar aku bisa menabung untuk membeli barang-barang yang kuinginkan. Akan tetapi situasinya seakan tidak mengizinkanku bertahan di rumah itu. Aku tidak bisa tenang tinggal di rumah tersebut, membuatku sering keluar rumah berjalan kaki tak tentu arah. Selain sinisme kebencian, pertengkaran yang kerap kali terjadi membuatku jengah. Aku hampir tidak mendapatkan ketenangan, khususnya apabila aku lelah bekerja. Memang aku tidak terlibat dalam pertengkaran itu, tapi mendengarkan teriakan-teriakan yang seakan selalu terjadi setiap hari membuat kepalaku sakit. Secara tidak langsung aku terkena efek dari pertengkaran mereka. Keluhan-keluhan yang juga hampir setiap hari terlontar membuatku semakin tidak tenang, memberikan efek pesimis yang membahayakan bagiku. Yeah, hidupku terasa begitu pesimis saat tinggal menetap disana. Kini aku telah tinggal seorang diri, tidak lagi menumpang seperti sebelum-sebelumnya, membuatku merasa sedikit optimis. Hidup memang harus dijalani dengan optimisme, bukan dengan pesimisme yang membuat kita menjadi menyedihkan. Tentu ada harga tersendiri yang harus dibayar untuk keputusanku ini, yaitu aku akan kesulitan menabung karena biaya kost dan biaya hidup harus membuatku bisa berpikir keras demi berhemat. Meski begitu biaya pengorbanan itu kuanggap pantas untuk mendapatkan yang kuinginkan, yaitu ketenangan. Setiap keputusan penting yang berhubungan dengan perbaikan pasti perlu pengorbanan, dan aku paham mengenai hal itu. Ini adalah keputusanku, aku harus bangga dan menjalani apapun yang terjadi.

Jadi tahun kedua di kota Bontang, di umurku yang ke-24 ini aku akan menjalaninya kehidupan baru yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam kesendirianku ini aku belajar untuk hidup mandiri, belajar bagaimana menjalani kehidupan seorang diri demi suatu masa di depan yang pastinya telah menungguku. Suatu hari kelak aku pasti akan menikah, entah dengan siapa itu. Karena itulah sebelum aku bisa mengurus orang lain, mengurus anak manusia yang akan mengabdikan dirinya kepadaku, aku harus terlebih dahulu bisa mengurus diriku sendiri. Kini aku tidak akan bergantung pada orang lain, aku akan melangkah dalam keinginanku sendiri karena inilah kehidupanku! Akulah yang menjalaninya!

Dalam hitungan mundur, sebenarnya aku sedang berada dalam detik-detik menuju tahun berikutnya dimana umurku menjadi lengkap seperempat abad. Yeah, di umurku tersebut telah ada sebuah keinginan yang menungguku, menunggu untuk dapat terwujud. Menikah. Itulah yang telah sangat diharapkan oleh ibuku, oleh nenekku, dan oleh saudara-saudaraku. Sebagaimana yang dilakukan oleh ayahku dulu. Umur 25. Sayangnya, calon pengantinku telah pergi meninggalkanku… bidadari itu telah pergi meninggalkanku, tidak sanggup menungguku terlalu lama. Aku sangat sedih atas kepergiannya, namun tentunya aku harus tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana bagi makhluk-Nya. Dia mungkin bukan jodohku, Tuhan mungkin telah menyiapkan yang lebih baik untukku kelak, yang harus kuperjuangkan agar bisa kudapatkan. Semua pasti akan indah pada waktunya.

Dua puluh empat tahun ya… benar-benar tidak terasa. Tidak, maksudku aku merasakannya. Aku merasakan perubahan yang terjadi berangsur-angsur dalam hidupku yang fana ini. Aku mengalaminya sendiri, bagaimana seorang Lukman Maulana, seorang lelaki yang egois, kesepian, namun tampan ini melewati hari-hari penuh lika-liku yang sedikit demi sedikit membentuk karakternya. Ibarat seekor Komodo yang langka dan beracun… yang kurasa sangat tepat mewakili karakterku. Yeah, walaupun awalnya nama Komodo bukan aku ambil dari nama binatang itu melainkan kuambil dari nama busway.
Ulang tahun sendiri bagiku adalah sebuah tahapan, yang akan selalu berubah, tidak akan pernah sama dari tahun ke tahun. Aku ingat benar bagaimana aku melewati hari ini beberapa tahun yang lalu. Aku ingat saat ayahku mengajakku makan besar di Bontang Kuring saat aku masih sangat kecil; aku ingat saat aku menangis merengek meminta dibelikan hadiah pada ibuku; aku ingat saat kakak dan adikku bersama sepupu yang lain menghajarku dengan tepung, air, telur, dan minuman ringan; aku ingat saat timnas Indonesia mengalahkan Qatar di Piala Asia; aku ingat saat tanteku menghadiahiku lembaran kertas merah; aku ingat saat aku bersama keluargaku membakar ikan di halaman belakang; aku ingat saat berlari penuh kemenangan saat membaca pengumuman kelulusan…. Aku ingat itu semua… aku ingat…

Ulang tahun baiknya dijadikan sebagai bahan renungan, sebagai bahan introspeksi diri atas apa yang telah berlalu. Mengingat kembali masa lalu bukanlah kesalahan, namun menjadi pembelajaran bagi masa depan… bagi masa yang serba tidak pasti, agar kita tidak kembali melakukan kesalahan, agar kita dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya. Bagiku ulang tahun bukanlah perayaan, bagiku ulang tahun adalah peringatan. Peringatan bahwa kita semakin tua, peringatan bahwa kesempatan kita sebenarnya semakin berkurang, peringatan bahwa kita mestinya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberi. Tidak banyak manusia yang seberuntung kita bila kita masih bernafas hari ini. Hidup adalah anugerah.

Untuk tahun ini ulang tahunku hampir bertepatan dengan kedatangan bulan suci umat Islam, bulan Ramadhan yang penuh berkah. Semoga di bulan Ramadhan kali ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih menghargai kehidupan. Bulan Ramadhan kali ini harus meninggalkan kesan dan harus bisa kujalani dengan sebaik-baiknya. Karena bulan ini adalah sebaik-baiknya bulan yang tidak semua orang beruntung bertemu dengannya. Bersyukurlah kaum Muslimin yang berkesempatan kembali bertemu dengan bulan ini, berbahagialah karena kebahagiaan kita menyambut bulan Ramadhan adalah bernilai pahala. Mari kita tingkatkan iman dan taqwa, jadikan hidup kita lebih berarti, dimulai dari Ramadhan kali ini. Semoga Tuhan selalu menyertai dan meridhoi niat-niat baik… Amin.

Selamat ulang tahun… diriku sendiri… 😉
Terima kasih untuk semua kawan yang telah menemaniku selama ini…
Marhaban ya Ramadhan…

Iseng kubuka surat kabar di meja salah seorang pegawai, sekedar ingin membaca berita hari ini. Saat membalik halamannya, mataku tertarik melihat kolom yang ada di bagian kanan bawah. Disana tertulis lowongan kerja untuk posisi…. Wartawan.