Ketika Jembatan Penyeberangan Tak Lagi Menjadi Pilihan

14

Ketika Jembatan Penyeberangan Tak Lagi Menjadi Pilihan Jembatan Penyeberangan adalah fasilitas umum yang diperuntukkan bagi pejalan kaki agar dapat menyeberang ke seberang jalan. Tentu jembatan penyeberangan sangat berguna karena dapat mengurangi kemacetan dan juga kecelakaan yang diakibatkan pejalan kaki menyeberang jalan. Khususnya di ibukota Jakarta, keberadaan jembatan penyeberangan menjadi objek vital bagi kelancaran transportasi. Padatnya jalan raya dengan berbagai macam kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan penuh membuat akan sulit bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Nah, disinilah jembatan penyeberangan menjadi sangat membantu. Namun, ternyata jembatan penyeberangan belum sepenuhnya menjadi pilihan bagi para pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Masih banyak pejalan kaki di ibukota yang lebih memilih menyeberang jalan tanpa menggunakan jembatan penyeberangan. Mereka lebih memilih berhadapan langsung dengan kendaraan-kendaraan yang melaju di jalanan. Alasan mereka untuk tidak menyeberang melalui jembatan penyeberangan cukup masuk akal. Mereka beralasan kalau meyeberang melalui jembatan penyeberangan lebih melelahkan dan juga memakan waktu yang lama. Kebanyakan mereka malas atau terlalu lelah untuk menaiki tangga demi tangga yang ada pada jembatan penyeberangan. Memang kebanyakan jembatan penyeberangan memiliki banyak tangga dikarenakan tingginya dari jembatan tersebut. Bahkan untuk jembatan penyeberangan halte Busway, ada yang memiliki panjang yang lumayan melelahkan. Selain itu, keadaan jembatan penyeberangan yang tampak kotor, penuh sampah, jalan yang berlubang, banyak pedagang dan pengemis menjadikan pejalan kaki enggan melewatinya. Tapi, tahukah Anda bahwa menyeberangi jalan melewati jembatan penyeberangan memiliki banyak kebaikan? Mari kita urai satu persatu. Pertama, tentu saja mengurangi kemacetan lalu lintas. Jakarta sudah cukup macet oleh banyaknya kendaraan bermotor. Akan semakin parah macetnya bila kendaraan-kendaraan harus berhenti untuk penyeberang jalan. Kedua, Anda lebih sehat karena banyak berjalan menaiki tangga jembatan penyeberangan. Lebihnya sih mungkin sedikit, tapi bukankah lebih baik? Ketiga, mempercepat Anda. Bayangkan bila Anda harus menunggu cukup lama agar jalanan menjadi sepi. Dan terakhir, yang keempat, menyelamatkan nyawa Anda. Saya serius dengan alasan terakhir ini. Saya mendapatkan alasan ini sedang menunggu bus di halte Universitas Negeri Jakarta tanggal 26 Februari lalu. Dari seberang jalan, saya melihat banyak orang yang menyeberang jalan tidak melalui jembatan penyeberangan, padahal jelas sekali di sana ada jembatan penyeberangan halte busway. Tak jarang para penyeberang itu berkelompok saat menyeberangi jalan. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang akan menuju ke UNJ. Saya heran, kenapa para mahasiswa yang katanya terpelajar itu lebih memilih menyeberang secara langsung di jalan. Seharusnya mereka dapat memberi contoh kepada yang lain agar selalu menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang jalan, kecuali tak ada jembatan penyeberangan tentunya. Karena tak sabar menunggu bus yang menuju ke Lebak Bulus, saya pun berniat mencoba rute baru busway TransJakarta. Saya segera naik jembatan penyeberangan menuju halte busway. Saat itu saya melihat sekelompok ibu-ibu berada di dekat halte busway dan berniat menyeberang ke arah UNJ. Saat tengah mengambil uang untuk membeli tiket busway, saya dikejutkan oleh suara benda jatuh yang sangat keras diikuti suara jeritan yang juga keras tepat di samping saya. Saya langsung menoleh. Rupanya seseorang dari kelompok ibu-ibu yang akan menyeberang tadi tengah terjatuh di tepi jalan dan seorang pengendara motor tengah bangkit dari tengah jalan. Tampak sepeda motor pengendara tersebut tergeletak di tengah jalan. Rupanya pengendara motor tersebut tak dapat mengendalikan motornya saat si Ibu tersebut baru mulai menyeberang jalan. Tampaknya pengendara tersebut terkejut dengan langkah si ibu yang menyeberang secara tiba-tiba. Pengendara tersebut pun menyerempet si Ibu dan kemudian terjatuh di tengah jalan. Sandal si ibu bahkan terlempar cukup jauh. Ibu-ibu yang lain segera saja menolong si ibu yang mengalami kecelakaan tersebut sementara pengendara motor tersebut mencoba mendirikan sepeda motor. Dengan kesal si pengendara motor memaki si ibu. Sepeda motor itu terlihat mengalami kerusakan yang parah. Sepertinya sepeda motor itu jatuh dengan cukup keras mengingat aspal jalan terkelupas dengan kasar. Untuk beberapa lama terjadi kemacetan. Pengendara sepeda motor itu berhasil mendirikan sepeda motornya dan setelah memastikan keadaan dirinya dan sepeda motornya, dia segera saja meluncur pergi. Sementara itu si ibu segera mendapat pertolongan dari warga. Untunglah si ibu dan pengendara tersebut tidak mendapat luka yang serius. Untung pula saat kecelakaan tidak ada kendaraan yang melaju cepat di belakang pengendara tersebut. Benar-benar sebuah kejadian yang menegangkan. Peristiwa tadi harusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk menaati peraturan yang berlaku. Menyeberang melalui jembatan penyeberangan termasuk di dalamnya. Marilah kita jaga keselamatan di jalan dengan menyeberang melalui jembatan penyeberangan. Biarlah kita sedikit lelah menaiki tangga jembatan, daripada kita mengalami kecelakaan nantinya. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Mulai sekarang, marilah kita hidup berdisiplin. Pemerintah telah membangun jembatan penyeberangan demi kepentingan kita. Maka, sudah seharusnya kita mendukung pemerintah dengan menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan. Masa kalah sama sapi dan kebo? (ingat tragedi Idul Qurban tahun kemarin?).Pemerintah pun harus mendukung usaha kita dengan membenahi jembatan sehingga menjadi baik dan aman. Mari bersama sukseskan gerakan disiplin nasional. Kita pasti bisa!

Iklan

Perjalanan ke Kelud (bag.3)

santai1

Bagian 3

Ternyata usaha Huda berhasil. Dia berhasil menaiki tanjakan tersebut! Dari atas sana, dia melambaikan tangannya. Nurul lalu tergerak untuk mencoba. Dia memacu motornya dan bergerak ke menyusul Huda. Aku dan Ria cemas menanti apakah Nurul dapat mengikuti jejak Huda. Dan Nurul pun berhasil! Aku pun mengajak Ria untuk segera menyusul mereka dengan berjalan kaki. Jalan menanjak itu mungkin sulit dilewati motor, namun pastinya mudah bila berjalan kaki. Saat itu Huda turun kembali dari ujung tanjakan untuk menjemput Ria sementara aku masih terus berjalan. Aku menaiki tanjakan itu dengan susah payah. Maklum, sudah lama aku tak naik gunung. Sebuah mobil melewatiku dan dari jendela mobil itu tampak seorang ibu memberikan semangat padaku. Aku pun tergerak untuk terus naik. Huda dan Ria mulai menyusulku. Iseng aku menengok ke bawah. Tampak seorang bapak dan ibu bersepeda motor ikut mencoba menaiki tanjakan itu. Mereka saling bercanda dan bergurau saat menaiki tanjakan. Tanpa diduga, tiba-tiba bapak itu tak bisa mengendalikan motornya dan dengan cepat keduanya jatuh ke dalam selokan yang ada di tepi tanjakan. Motor itu kemudian menindih mereka berdua di dalam selokan. Aku terkejut. Secara reflek aku membuang helm yang aku bawa dan berlari ke bawah untuk menolong bapak dan ibu tersebut. Aku lupa kalau aku tengah berada di tanjakan sehingga aku kesulitan menghentikan langkahku. Segera aku tarik motor bapak itu dengan susah payah sementara ibu itu merintih kesakitan karena kepalanya terbentur selokan. Beberapa pengendara yang melintas pun berhenti dan ikut membantu. Setelah berhasil mengeluarkan motor dan kedua orang tersebut dari selokan dan memastikan bahwa kedua orang tersebut selamat, aku segera kembali menaiki jalan itu. Aku mencari helm yang tadi kubuang begitu saja. Untunglah helm pemberian kakekku itu bersangkut di dalam selokan, karena kalau sampai terjatuh dan menggelinding ke bawah, aku bakalan lelah sekali untuk mengambilnya. Huda, Nurul, dan Ria yang menunggu di atas dan melihat kecelakaan itu langsung bertanya mengenai keselamatan bapak dan ibu pengendara motor itu. Dan setelah aku menjawab bahwa keduanya baik-baik saja, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata, menurut Huda dan Nurul, jalan menanjak itu tak terlalu sulit. Kalau terlihat dari bawah memang mengerikan, namun ternyata hampir sama dengan tanjakan yang sudah dilewati tadi.

Di balik bukit itu kini jalannya berbalik menurun drastis. Tanpa kami sadari, sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Untung kami dapat menghentikan laju motor dan menghindari mobil tersebut. Dan setelah beberapa tanjakan dan turunan, sampailah kami di objek wisata gunung Kelud.

Ternyata begitu banyak orang yang datang berwisata ke gunung Kelud hari itu (ya iyalah! secara hari Minggu gitu lho…). Tampak banyak sekali sepeda motor dan mobil berjejer di area parkir. Di samping kiri tempat parkir tampak warung-warung kecil penjual makanan sementara di samping kanan wahana flying fox. Kami pun ikut memarkir motor dan selanjutnya, ada tempat wisata yang harus kami datangi…..

Bersambung ke bagian 4

Perjalanan ke Kelud (bag.2)

kawah

Aku melirik ke Huda. Aku tak yakin Huda membawa uang cukup, mengingat dia hanyalah seorang petani serabutan. Tak dinyana, Hudalah yang kemudian membayar semua tiket masuknya (yang kalau dijumlahkan semuanya mencapai 24.000 rupiah). Syukurlah, perjalanan ini nggak jadi batal. Untung Huda membawa uang lebih. Aku berterima kasih padanya dan mengatakan kalau akan menggantinya nanti. Tapi Huda menolaknya dengan halus. Ya udah, mau bagaimana lagi. Jadi perjalanan kali ini Hudalah yang mentraktir, setelah dalam perjalanan sebelumnya Andri yang mentraktir.

Ternyata jarak pintu gerbang kawasan wisata gunung Kelud dengan puncak wisata Kelud itu masih sangat jauh. Masih harus melewati jalan pegunungan yang menanjak dan menurun dengan bukit, pepohonan, dan jurang di kanan-kirinya. Tanjakannya cukup tinggi, sehingga gear motor hampir selalu konstan di angka dua. Shougun biruku yang telah memiliki tahun penyusutan enam tahun pun ketar-ketir dibuatnya. Kami tak sendiri menyusuri jalanan yang sudah beraspal itu. Riders beberapa klub motor dengan gilanya melintasi kami dan bahkan hampir menabrak kami.

Dalam perjalanan, sepeda motor Nurul yang terkenal borosnya mulai kehabisan bensin. Untung masih ada penjual bensin di atas gunung seperti itu. Setelah berhenti menunggu Nurul mengisi bensin, kulihat sebuah batu di tengah jalan yang menanjak. Menyadari bahaya tersebut, aku segera menyuruh Huda menghentikan motor. Aku langsung turun dan membuang batu sebesar kepalan tangan itu jauh-jauh. Namun motorku tak mau kompromi. Di tengah jalan yang menanjak itu Huda terpaksa menarik gas dan meninggalkanku di jalan. Aku pun terengah-engah mengejarnya hingga sampai di jalan yang cukup landai untuk Huda berhenti.

Namun jalan menanjak yang sulit tadi masih lumayan dibandingkan dengan jalan menanjak yang kami temui di wilayah terbuka dimana begitu banyak pengendara motor yang berkumpul di awal jalan itu. Ya, jalannya sangat menanjak dan menjulang ke atas dengan perkiraan bersudut tujuh puluh derajat. Ditambah lagi, jalan di atas sana berbelok menukik dan hilang di balik bukit. Kami pun berhenti melihat betapa susahnya medan yang akan kami tempuh tersebut. Raut wajah kami seketika berubah sama seperti wajah orang-orang yang berkumpul di situ. Wajah penuh tanya dengan keraguan sanggupkah sepeda motor kami dengan melewati jalan mendaki lagi sukar tersebut? Sedangkan di tanjakan sebelumnya motor kami sudah ketar-ketir?

Kulihat beberapa pengendara yang mencoba melewati jalan itu. Rata-rata yang berhasil melewati jalan itu adalah pengendara dengan sepeda motor yang ”bagus”. Sementara beberapa pengendara memilih berhenti sambil terus berpikir kemungkinan keberhasilan melewati jalan itu. Lha wong tingginya seperti itu, bagaimana kalau di tengah jalan motor tiba-tiba berhenti karena tak sanggup menahan beban ketinggian? Kan bisa jatuh bebas dan mengundang maut?

(PERHATIAN! Bila Anda memutuskan pergi ke gunung Kelud dengan bersepeda motor, pastikan sepeda motor Anda dalam kondisi baik dan siap untuk jalan menanjak)

Lama tak bisa memutuskan, kami pun terdiam. Aku sudah mulai menyerah dan berpikir untuk pulang. Nurul dan Ria sepertinya sependapat denganku sedangkan Huda hanya diam yang membuatku tak bisa menebak apakah dia sependapat denganku. Aku pun mengajak Huda untuk kembali pulang. Saat itulah Huda tersenyum misterius dan berkata, ”Tak ada salahnya mencoba….” Dan Huda lalu memacu gas motor dan bergerak ke depan, meninggalkanku yang masih berdiri terpaku. ”HUDA!!!” teriakku keras. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Huda. Dia terus memacu Shogun biruku menaiki jalan itu. Aku pun hanya bisa memandanginya dari jauh dan berharap dia baik-baik saja……

Bersambung ke bagian 3


Tuhan, Sembuhkanlah Yasuko….

1_858120245l

Tuhan, sembuhkanlah Yasuko….

Yasuko adalah adik sepupuku yang berdarah campuran Jepang. Dia adalah anak yang pintar, rajin belajar, baik hati, dan suka menolong serta gemar menabung. Tak jarang dia mengorbankan kepentingannya demi kepentingan orang lain. Dia adalah kakak yang baik dan selalu menjaga adik-adikknya. Tapi kini dia sedang terbaring lemah tak berdaya di ruang ICU. Dokter belum berhasil mendeteksi penyakit yang menyerangnya. Awalnya, dokter mengira penyakit itu adalah demam berdarah. Gejala awal yang tampak yaitu susah bernafas, menggigil, demam tinggi, dan tubuh sangat lemas. Namun, ternyata bukan demam berdarah. Ada sebuah virus yang menyerang tubuhnya. Virus itu mulai merusak struktur darahnya dan juga menutupi paru-parunya. Perkiraan sementara, Yasuko terkena virus yang disebarkan melalui binatang. Yasuko adalah penyayang binatang. Dia memiliki peliharaan seekor kelinci yang ia letakkan di kamarnya. Tak hanya dia, adik-adiknya punya masing-masing punya satu. Orang-orang mengira kedekatannya dengan kelinci itulah yang menyebabkan Yasuko jatuh sakit. Aku pun mengira demikian karena di hari dia sakit, kelincinya meninggal secara misterius dengan bola mata yang hilang. Ibu Yasuko kemudian segera memerintahkan untuk menyingkirkan binatang-binatang peliharaan yang ada di dalam rumah.

p1010315

Kemungkinan yang menyebabkan Yasuko sakit adalah daya tahan tubuhnya yang semakin lama semakin menurun. Menjelang ujian akhir nasional SMA, Yasuko belajar dengan tekun. Dia bahkan ikut bimbingan intensif. Kesibukannya inilah yang membuat ketahanan tubuhnya melemah ditambah lagi Yasuko sendiri yang jarang makan. Sebenarnya sudah dari jauh hari Yasuko merasakan penyakitnya itu. Namun, karena ketekunannya dalam menuntut ilmu, dia tetap saja memaksakan masuk sekolah dan bimbingan dengan menyembunyikan penyakit tersebut. Bagi Yasuko, sangat disayangkan bila harus tidak masuk sekolah barang sehari saja. Hingga akhirnya dia tak memiliki ketahan tubuh lagi menahan penyakitnya itu.Dan virus itu pun menyerang Yasuko dengan mudah. Dia langsung jatuh dan dibawa ke rumah sakit. Ibunya yang berada di luar kota pun pulang dan menemaninya hingga kini. Sampai sekarang telah satu minggu dia dirawat di rumah sakit. Kondisinya kritis dan koma. Dia tak sadarkan diri dan jarum infus menempel di tubuhnya. Hasil sinar X menunjukkan bahwa paru-parunya terselubung zat berwarna putih, dan zat itu terus bergerak ke lambung dan seluruh tubuhnya. Sementara kini dia membutuhkan tranfusi darah karena darahnya telah rusak dan tak dapat lagi mengikat oksigen. Ada perkiraan dia terkena flu burung. Tapi semoga saja tidak.

Medengar kabar keadaan Yasuko yang kritis dan koma, sanak saudara datang membesuk. Teman-teman hingga guru sekolah tak luput ikut menjenguk. Sahabatnya bahkan datang jauh-jauh dari luar provinsi demi menjenguk Yasuko. Mereka merasa memiliki Yasuko yang terkenal akan kebaikannya. Semuanya berdoa semoga Yasuko segera sadar dan sembuh dari sakitnya dan dapat berkumpul kembali dengan mereka. Aku sendiri tak tega melihat keadaannya. Dia tampak terbaring lunglai dengan selang infus di wajah dan tangannya. Sangat menyedihkan.

Yasuko yang ceria dan selalu tersenyum, kini terbaring di tempat tidur rumah sakit. Yasuko tengah berjuang melawan virus mematikan yang tengah menggerogotinya. Kami semua terus berdoa untuk kesembuhannya. Kami ingin dia segera berkumpul kembali bersama kami.

1_616484685l

Sebelum jatuh sakit, Yasuko pernah bercerita bahwa dia sangat merindukan ibunya yang tengah bekerja di luar kota. Dan kini ibunya telah datang, dan menemaninya dari pagi hingga malam, hingga malam kembali berganti pagi. Seolah ingin menjadi orang pertama yang melihat Yasuko sadar. Dan ketika Yasuko nanti tersadar, ingin rasanya mengatakan, ”Ini Mama nak….Mama akan selalu ada di samping kamu…Maafin Mama ya……” Apakah ini jawaban dari kerinduan Yasuko?

Ya Tuhan, Kau Maha Penyembuh, maka sembuhkanlah dia….

Buatlah dia kembali bersama kami seperti sedia kala. Berikanlah dia kekuatan untuk menghadapi penyakitnya. Berikanlah kami ketenangan dalam menunggunya. Berikanlah dia kebaikan sebagaimana dia telah berbuat baik untuk kami semua. Kami bahkan bersedia menukarkan kebahagiaan kami demi kesembuhannya. Semua demi gadis baik hati yang telah mengukir kenangan indah di hati kami semua. Tuhan, dengarkanlah doa kami ini….

Yasuko, aku sedih melihatmu seperti ini…..

Bangkitlah Yasuko….

Jangan kalah oleh penyakit itu….

Aku yakin kau memiliki kekuatan untuk mengalahkannya….

Jangan membuatku cemas dan juga bersedih…..

Di sini terasa sepi tanpa kehadiranmu…..

Yasuko, cepatlah sembuh….

Kakakmu ini rindu membuatkan cerpen untukmu….

Kakakmu ini rindu untuk bermain tebakan denganmu….

Kakakmu ini rindu untuk membantu mengerjakan tugasmu….

Kakakmu ini rindu untuk mengetikkan setiap pekerjaanmu….

Kakakmu ini rindu berpetualang bersamamu….

Kakakmu ini rindu membelikanmu sebuah film…..

Kakakmu ini rindu membelikanmu gorengan…..

Kakakmu ini rindu meminjam uang padamu…..

Kakakmu ini rindu untuk mengganggumu…..

Kakakmu ini rindu padamu……

Pada senyummu, tawamu, dan keberadaanmu….

Tak hanya kakak yang rindu….

Tapi kami semua….kami semua yang pernah mengenalmu……

Ayah ibumu rindu keberhasilanmu meraih nilai tertinggi di kelas….

Saudaramu rindu bermain denganmu….

Sahabatmu rindu berbagi denganmu…..

Teman-teman dan guru-gurumu rindu belajar bersama denganmu….

Kami semua rindu padamu…..

Dan kami semua berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa….

Ya Tuhan, sembuhkanlah Yasuko……

10 Februari 2009

Perjalanan ke Kelud (bag.1)

Perjalanan ke Kelud

asse-gank-plus

Usai tahun baru, ASSE Gank yang terdiri dari aku, Huda dan Andri merencanakan untuk pergi berwisata ke gunung Kelud. Kami bertiga pun menentukan harinya. Akhirnya disepakati kalau kami bertiga akan berangkat tanggal 25 Januari tepat hari Minggu. Namun, sehari sebelum berangkat, Andri menyatakan ketidaksertaannya dalam wisata kali ini. Katanya dia sedang sibuk hari Minggu itu. Huda pun bertanya padaku apakah ASSE Gank akan terus melanjutkan rencana perjalanan ke Kelud mengingat Andri tak bisa ikut. Karena sangat ingin mengetahui bagaimana gunung Kelud itu sebenarnya, dan karena pikiran lagi sumpek dan butuh refreshing, akhirnya aku memutuskan untuk tetap meneruskan pergi ke Gunung Kelud walaupun tanpa Andri. Andri sendiri sudah sering pergi ke Kelud sementara aku belum pernah sama sekali. Tapi ada satu masalah lagi. Kurang lengkap kalau berwisata tanpa membawa kamera. Masalahnya, aku lagi gak ada kamera. Aku pun meminjam ponsel adikku, Nurul yang ada kameranya. Tapi dengan syarat, adikku boleh ikut ke Kelud. Dengan berat hati aku pun menuruti keinginannya asalkan boleh meminjam ponselnya. Padahal, awalnya aku merencanakan perjalanan ini hanya untuk ASSE Gank saja. Ketika kukatakan pada Huda bahwa Nurul akan ikut, Huda menyuruh Nurul untuk membawa serta seorang teman agar tak kesepian nantinya.

Hari minggu yang dinanti pun tiba. Setelah menonton Pokemon di Indosiar, aku segera berangkat ke rumah Huda dengan shogun biruku yang sebenarnya sudah waktunya diservis sedangkan adikku berangkat lebih dulu dengan motornya untuk menjemput temannya yang akan ikut. Setelah menjemput temannya yang bernama Ria, Aku dan Nurul meluncur ke rumah Huda setelah sebelumnya bertemu di suatu tempat karena Nurul tak tahu arah ke rumah Huda. Sesampainya di rumah Huda yang letaknya di pelosok desa, kami beristirahat sebentar. Tanpa membuang waktu, kami berempat berangkat ke gunung Kelud di perbatasan kabupaten Kediri dan Blitar. Huda mengambil alih kemudi motor karena dia yang tahu jalan ke gunung Kelud sementara Nurul yang membonceng Ria mengikuti dari belakang. Namun ternyata Huda tak terbiasa dengan motorku. Berkali-kali ia kesulitan memindah gear motor.

Setelah melalui perjalanan berkelok-kelok melewati pemandangan sejuk nan indah di mata, kami pun sampai di pintu gerbang kawasan wisata gunung Kelud dimana telah banyak berkumpul wisatawan yang juga akan pergi ke sana. Ketika akan masuk ke gerbang, aku terkejut bukan main. Ternyata biaya masuknya per-orang lima ribu rupiah dan bila membawa motor tambah dua ribu per-motor, sementara aku hanya membawa uang dua puluh ribu rupiah (maklum lagi bokek), itu pun telah terpotong uang bensin motorku dan motor adikku. Sisanya tinggal….

Aku pun bingung. Aku kira ke Kelud takkan memakan biaya yang mahal, sehingga aku dengan pedenya melenggang meski hanya membawa selembar uang kertas bergambar Otto Iskandar Dinata sementara Nurul dan temannya hanya ikut saja tanpa membawa uang sedikitpun. Bagaimana ini? Apakah perjalanan kami akan berhenti begitu saja tanpa sempat dimulai?

Bersambung ke bagian 2

Membuang Waktu yang Percuma….

antri

Membuang Waktu yang Percuma Selasa kemarin, aku pergi ke bank BRI unit Ciracas untuk mengirimkan sejumlah uang kepada seseorang yang berada nun jauh di Lubuk Linggau. Aku tiba di bank pukul sepuluh pagi. Ternyata saat itu telah banyak antrian yang menunggu giliran. Memang bank tersebut selalu ramai mulai pagi hari. Aku pun mengambil nomor antrian dan dapat nomor 235 sementara nomor antrian yang sedang dilayani menunjukkan angka 173. Melihat hanya ada dua teller yang bertugas dan selisih nomor antrian yang berada sekitar enam puluh angka serta tidak ada tempat duduk yang kosong, aku lalu keluar dari bank. Untuk menghabiskan waktu, aku lalu pergi ke sebuah warnet yang ada di dekat bank tersebut dan berencana online selama satu jam dengan asumsi setelah satu jam, akan tiba giliran nomor antrianku. Satu jam terasa cepat di dalam warnet dan aku pun kembali ke dalam bank. Betapa terkejutnya aku saat melihat nomor antrian yang sedang dilayani adalah 245. Bearti nomorku telah terlewat! Aku pun kembali mengambil nomor antrian dan kali ini menunjukkan angka 302!! Berarti sama aja bohong dong usahaku menghabiskan waktu di warnet tadi? Aku pun memutuskan untuk menunggu saja di dalam bank karena takut terlewat lagi. Kebetulan ada kursi kosong. Tapi ironisnya, kali ini hanya ada satu teller yang bertugas sementara yang lainnya tengah istirahat. Wah, bakal lama nih! Terpaksa deh aku menunggu dengan penuh rasa bosan selama dua jam di dalam bank hingga akhirnya transaksiku dilayani. Lain kali kalau mengantri di bank, lebih baik aku menunggu saja daripada pergi menghabiskan waktu….takut malah semakin lama menunggu……

Negeri Para Perokok

Negeri para perokok

perokok

Sebutan itu mungkin sangat pantas bagi negara ini. Pabrik rokok terbesar di Asia Tenggara telah membuktikannya. Manusia yang merokok pun dengan sangat mudah ditemukan sejauh mata memandang layaknya iklan rokok terselubung yang dapat ditemukan dimana-mana di berbagai media. Rokok pun merasuk ke segala bidang kehidupan. Kegiatan olahraga, keuangan negara, hingga masalah tenaga kerja, dikuasai oleh rokok. Pastinya, tak ada hari tanpa asap rokok.

Rokok memiliki efek buruk bagi kesehatan. Efek-efek itu bahkan tertulis jelas dalam setiap kemasan rokok itu sendiri. Meski begitu, tetap saja rokok laris dihisap. Adalah hak setiap orang untuk merokok. Namun, hak setiap orang juga untuk tidak merokok atau menghisap asap rokok. Setiap perokok pasti telah sadar akan efek buruk rokok. Mereka tahu betapa bahayanya rokok bagi diri mereka. Tapi, tahukah mereka betapa bahayanya rokok bagi diri orang lain? Kebanyakan tidak. Perokok pasif adalah julukan bagi mereka bukan perokok namun terkena efek buruk rokok. Mereka banyak ditemukan di tempat-tempat umum, dimana perokok bisa merokok seenaknya. Betapa malangnya nasib para perokok pasif itu. Mereka (perokok pasif) sadar akan bahaya rokok sehingga memilih untuk tidak merokok. Namun, mereka tatap saja terkena dampak mematikan dari rokok. Mereka tetap berpotensi terkena kanker, padahal gaya hidup mereka terbilang sehat.

Melihat hal ini, wadah berkumpulnya ulama alias MUI ikut bicara. Mereka pun mengeluarkan fatwa haramnya di antaranya rokok dalam keadaan rokok haram bila merokok di tempat umum dan rokok haram bagi anak-anak dan perempuan. Dasar penetapan fatwa ini sangat masuk akal dan bersumber pada niat baik, namun fatwa ini dikecam oleh banyak pihak, terutama dari perokok. Tapi tahukah mereka betapa baiknya fatwa ini?

Pertama, rokok haram bila merokok di tempat umum. MUI ingin melindungi umat dari bahaya gangguan kesehatan parah akibat rokok. Biarlah para perokok mati akibat ulahnya sendiri, tapi MUI tak membiarkan orang lain ikut mati akibat ulah perokok tak tahu adat. MUI tak ingin umatnya memiliki dosa akibat kematian saudaranya. Salahkah? Apa jadinya bila seluruh umat memiliki tabungan kanker di hari tuanya?

Kedua, rokok haram bagi anak-anak dan perempuan. Pertimbangannya sih masalah kesehatan, yang sebenarnya tak ada bedanya bagi laki-laki dewasa. MUI melihat kecenderungan merokok bagi anak-anak dan perempuan yang cukup tinggi. Apa jadinya bila generasi muda kita sudah sejak dini terkena gangguan kesehatan di paru-paru akibat paru-parunya tak lagi penuh dengan oksigen? Apa jadinya bila para penerus bangsa kita banyak yang mati muda sehingga tak ada lagi yang memegang amanat bangsa dan negara? Apalagi survey dari sebuah organisasi mengatakan kalau rokok di kalangan anak-anak adalh jembatan emas menuju narkoba. Hayo! Apa jadinya penerus bangsa bila terburu mati muda karena narkoba?

Efek rokok sangat mematikan bagi bayi, bahkan yang masih dalam kandungan dan masih berupa sel telur. Rokok dapat menyebabkan lahirnya anak cacat bahkan keguguran. Sedangkan anak lahir lewat rahim seorang ibu yang notabene adalah seorang perempuan. Apa jadinya bila generasi penerus bangsa terlahir tidak sehat dengan cacat akibat ulah sang ibu? Bukankah kitab suci berkata jelas bahwa kita tidak boleh meninggalkan generasi penerus yang lemah?