Beranda » kisahku » Mimpi Bertemu Rasul – Pertanyaan yang Tak Bisa Kujawab

Mimpi Bertemu Rasul – Pertanyaan yang Tak Bisa Kujawab

Kamis malam yang lalu saya sulit tidur. Sudah berganti hampir semua posisi namun masih belum bisa tidur. Terpaksa saya tidur di lantai karena biasanya saya mudah tertidur bila tidur di lantai tapi akan berakibat penyakit punggung saya kambuh. Akhirnya, mungkin sekitar setengah dua malam saya berhasil tertidur. Dalam tidur larut saya tersebut, saya bermimpi. Dalam mimpi saya tengah berada di dalam sebuah masjid yang besar. Saya tengah duduk rapi bersama banyak orang di dalam masjid dalam barisan shaf. Saya berada di barisan paling belakang. Saya dan orang-orang yang berpakaian rapi itu tampak tengah mendengarkan ceramah dari seorang lelaki yang memakai kopiah hitam dan mengenakan sarung bergaris. Wajahnya tak terlihat jelas, namun terlihat bahwa lelaki tersebut telah berumur tua. Entah kenapa saya merasa sangat mengenal lelaki tersebut. Dan entah mengapa pula saya mengenali lelaki tersebut sebagai seorang rasul, padahal belum sekalipun saya pernah melihat rasul, karena tentunya rasul hanya ada di masa lalu sebagai pembawa risalah dan saya belum lahir saat itu. Orang-orang di dalam masjid itu pun mengamini bahwa lelaki tersebut adalah seorang rasul Tuhan. Di dalam masjid itu saya merasakan sebuah suasana yang sangat nyaman dan menentramkan hati. Saya tidak mengetahui secara jelas lokasi di mana masjid tersebut berada. Tampaknya saya tengah berada dalam sebuah majelis. Dalam mimpi itu, saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan orang yang saya anggap rasul tersebut. Saya memperhatikan dengan sambil lalu ceramah beliau sehingga saya kurang menangkap maksud ceramah beliau. Lalu tiba-tiba beliau turun dari mimbarnya dan berjalan menghampiri barisan shaf yang ada di masjid mulai dari barisan terdepan. Lelaki tua tersebut menanyakan beberapa pertanyaan kepada setiap pendengar di barisan shaf. Begitulah orang tua yang tampak berwibawa dan bijaksan tersebut bergantian bertanya pada setiap orang yang tengah duduk mendengarkannya (mungkin lebih tepat disebut umat). Tampak masing-masing dari mereka bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. Saya pun terkejut. Saya dari tadi tak menyimak dengan baik apa yang diutarakan oleh orang tua tersebut. Saya takut tak dapat menjawab pertanyaan dari orang tua yang dalam mimpi itu saya anggap sebagai rasul. Saya pun berusaha keras mencuri dengar pertanyaan yang diajukan sang rasul tersebut tatkala lelaki tersebut telah sampai pada dua barisan shaf di depan saya. Samar-samar saya mendengar lelaki tua tersebut menanyakan pertanyaan yang sangat sederhana yaitu mengenai syahadat, rukun Islam, dan ayat-ayat suci. Beberapa pertanyaan itu terdengar sangat familiar bagi saya saat itu. Namun entah mengapa saat itu saya tak tahu menahu mengenai semua pertanyaan yang diajukan. Entah mengapa saat itu saya sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan rasul tersebut. Saya pun ketakutan. Saya takut akan membuat marah lelaki tersebut ketika lelaki tersebut telah sampai di tempat saya duduk dan bertanya pada saya. Saya bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu saya mencoba mencuri dengar jawaban dari orang-orang yang sedang ditanya. Namun entah mengapa saya tak bisa mendengar jawaban dari setiap orang yang sedang ditanya. Mereka memang tampak menjawab, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut mereka sementara sang rasul tampak mengerti dan mengangguk mendengar jawaban mereka. Lalu mengapa saya tidak bisa mendengar yang dikatakan oleh orang-orang tersebut? Apakah saya sudah tuli? Tidak, saya tidak tuli. Saya masih bisa mendengar apa yang diucapkan rasul. Tapi kenapa saya tidak bisa mendengar ucapan orang lain selain rasul tersebut? Sementara saya tengah kalut dengan berbagai pertanyaan tersebut, sang rasul telah sampai di barisan shaf yang saya tempati. Kira-kira rasul tersebut harus melewati dua puluh orang terlebih dahulu sebelum mencapai tempat duduk saya. Saya cemas dan tak tahu harus berbuat apa. Rasul tersebut semakin dekat! Saya takut akan terkena hukuman bila tak bisa menjawab pertanyaan rasul tersebut. Saya lalu menoleh pada orang yang duduk di sebelah kanan saya. Saya memanggilnya dan mencoba menanyakan jawaban atas pertanyaan rasul tersebut. Orang tersebut merespon saya. Dia menjawab pertanyaan saya, namun…. tak ada suara yang keluar dari mulut orang tersebut. Orang tersebut berbicara pada saya tanpa mengeluarkan suara! Yang ada hanya gerakan bibir dan ekspresi yang ramah. Saya semakin heran dan membalas respon orang yang saya tanya tadi dengan anggukan kecil. Lalu saya menoleh ke orang di sebelah kiri saya. Saya menanyakan hal yang sama pada orang tersebut. Namun orang tersebut tak bergeming. Orang tersebut tampak diam saja seolah tak menyadari keberadaan saya. Saya semakin bingung! Ada apa ini? Kenapa saya tak bisa mendengar suara dari orang-orang yang ada di dalam masjid itu? Kenapa saya hanya bisa mendengar suara sang rasul? Pertanyaan-pertanyaan di benak saya itu tiba-tiba berhenti berputar manakala sang rasul telah berada selisih tiga orang di samping saya. Saya memperhatikan rasul tersebut dengan seksama. Entah mengapa saya tidak dapat melihat wajahnya dengan jalas. Cahaya matahari yang redup dari luar masjid menyamarkan wajah rasul tersebut. Anehnya, kali ini saya tak bisa mendengar suara rasul tersebut. Ada apa ini? Dan lelaki di sebelah kanan saya telah selesai menjawab pertanyaan dari sang rasul. Rasul tersebut lalu berpindah ke arah saya. Saya gugup setengah mati tanpa berani menatap wajah rasul tersebut. Saat itu saya menyadari sang rasul tengah memanggil saya, namun saya tak bergeming dan tetap menunduk. Sang rasul memanggil saya untuk kedua kali, namun kali ini saya berani untuk menjawab panggilannya. Saya lalu mendongak dan mencoba menatap wajah lelaki tua tersebut. Tapi….suara yang sangat keras dan memekakkan telinga terdengar jelas dan membuat saya terbangun dari mimpi. Ternyata suara itu berasal dari alarm ponsel yang telah saya atur dengan dering maksimal. Pukul setengah lima pagi. Saya terkejut dan teringat akan mimpi yang barusan saya alami dalam tidur singkat tadi. Sejenaka saya menarik nafas sembari beristighfar. Saya mencoba menerka-nerka apa maksud dari mimpi aneh tersebut. Saya tak menyangka dengan apa yang baru saya alami di dalam mimpi tadi. Beberapa pertanyaan langsung menyambut seiring dengan mata yang masih enggan terbuka. Saya bertemu dengan rasul? Benarkah lelaki tua itu adalah seorang rasul? Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa yang telah terjadi pada saya tadi? Dimana saya saat itu? Apa yang tengah terjadi di dalam masjid itu? Lalu apa maksudnya? Kalau benar lelaki itu adalah seorang rasul, apa sebenarnya yang hendak ditanyakan kepada saya? Apa makna dari mimpi aneh tersebut?  Ataukah  mimpi  itu  hanya  sekedar  bunga  tidur  yang  tak  berarti?

Paginya saya mencoba memahami mimpi tersebut. Saya menggunakan asumsi bahwa saya memang benar-benar bertemu dengan rasul. Tidak semua orang bisa bermimpi bertemu dengan rasul. Hanya orang-orang pilihan dan terkadang membutuhkan amalan-amalan untuk dapat menemuinya di dalam mimpi. Lalu kenapa rasul mendatangi saya di alam mimpi? Apakah ada yang hendak disampaikannya? Saya lalu mencoba introspeksi diri. Apa yang telah saya lakukan di hari-hari sebelumnya yang membuat saya mendapat mimpi seperti ini. Apakah ibadah saya kurang baik? Atau saya telah berbuat dosa? Atau ada kebaikan yang akan menyertai saya? Atau mungkin saya telah berlaku angkuh terhadap agama? Yang membuat saya heran adalah kejadian di mana di dalam mimpi tersebut saya tak mengerti sama sekali mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh rasul itu. Padahal, dalam kenyataannya, hal-hal seperti sudah menjadi bagian tersendiri dari hidup saya dan telah menjadi sebuah manifestasi ibadah. Saya tentunya langsung mengerti atau paling tidak takkan mendapatkan kesulitan berarti mengenai hal-hal tersebut. Namun anehnya di dalam mimpi itu saya tak tahu sama sekali sehingga membuat saya amat ketakutan di hadapan rasul. Apakah ada yang salah dari apa yang telah saya pelajari selama ini? Apakah ada kesalahan dan dosa yang membuat saya tak dapat mengingat mater-materi keagamaan tersebu? Dan anehnya lagi, saya tak dapat mendengar suara orang-orang yang ada masjid kecuali suara sang rasul. Kenapa? Kenapa saya tak bisa mencuri dengar jawaban dari mereka? Kenapa orang di sebelah kanan yang saya tanya menjawab namun tak mengeluarkan suara? Kenapa pula orang di sebelah kiri saya diam saja saat saya bertanya padanya? Dan yang lebih penting dari itu semua, kenapa saya berada di dalam masjid itu bersama seorang rasul yang tengah berkhotbah pada umatnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih belum bisa terjawab. Meskipun begitu, saya memutuskan untuk tak menanggapinya terlalu serius. Saya mencoba mengambil sisi positif dari mimpi itu. Mungkin selama ini saya telah melupakan rasul yang menjadi panutan saya sehingga beliau mendatangi saya di dalam mimpi. Mungkin selama ini saya telah jauh dari teladan-teladan beliau, telah meninggalkan cara hidup beliau, dan melupakan perintah beliau. Mungkin juga saya harus lebih baik dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ya, saat ini pesan yang baru dapat saya tangkap adalah bahwa saya harus lebih baik dalam beribadah. Saya harus bisa meninggalkan perbuatan dosa, dan berusaha keras mengikuti jalan hidup Rasullullah. Ya, saya akui akhir-akhir saya teledor dalam beribadah. Saya terlena oleh kehidupan dunia dan lupa akan perintah Rasulullah. Saya mengakui kalau telah lama saya tak menyebut nama rasul terakhir tersebut. Muhammad SAW sang Uswatun Hassanah, teladan yang paling baik.

Ya Tuhan, apapun makna mimpi yang kau berikan, segala puji syukur kupanjatkan untuk-Mu karena Kau masih peduli dan cinta kepada-Ku, sementara aku terus-menerus melupakanmu. Apakah ini jawaban dari pertanyaanku dalam keputus-asaanku waktu itu. “Tuhan, apakah kau benar-benar ada?” Sungguh Tuhanku, maafkanlah aku bila aku telah lancang mempertanyakan keberadaan-Mu, padahal telah jelas bagiku nikmat-nikmat yang Engkau limpahkan padaku, yang dengan kufurnya aku tak menggunakan nikmat-nikmat itu dengan sebaik-baiknya.

Dengan nama-Mu dan juga ilmu-Mu yang agung, Kau yang Maha Pengasih dan Penyayang, ampunilah dosaku ya Allah, Kaulah Maha Memiliki, Kaulah Maha Mengetahui dan Mengampuni, ampunilah dosaku, dan jauhkanlah aku dari segala tipu daya setan yang terkutuk. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhanku, pemilik semesta alam, termasuk hidupku.

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Al-Qur’an surat Al-Rahmaan ayat 31 & 32)

One thought on “Mimpi Bertemu Rasul – Pertanyaan yang Tak Bisa Kujawab

  1. Ping-balik: Sehari Bersama Presiden Sukarno – Presiden yang Hobi Ngebut « Sang Kucing Pengetik!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s