Beranda » kisahku » Pelajaran Berharga dari Seorang Gadis Sasak

Pelajaran Berharga dari Seorang Gadis Sasak

225px-sasak1

Ketika sedang membuka-buka buku Undang-Undang Dasar 1945 yang kumiliki sejak SD, dimana presidennya masih Pak Soeharto, aku menemukan secarik kertas terselip di antara halaman buku kecil tersebut. Kuambil secarik kertas tersebut. Rupanya itu adalah kertas berisi pelajaran bahasa suku Sasak yang ditulis oleh seorang teman wanitaku saat aku duduk di bangku SMA. Memang, buku UUD 1945 tersebut masih aku gunakan hingga ke bangku kuliah, tentunya telah aku tambahkan dengan halaman amandemen.
Saat kubaca kertas itu, bayanganku langsung kembali ke masa SMA, saat aku tengah asyik berbincang dengan gadis manis bernama Baiq Febriana Lilia Faradisa atau sering dipanggil dengan sebutan Baiq. Tak kusangka kertas yang bertuliskan tulisan tangannya itu masih ada dan tersimpan dengan rapi sampai sekarang di dalam buku tuaku itu. Saat itu aku sedang tertarik untuk mengetahui kata ”Apa kabar?” dalam berbagai bahasa daerah. Kebetulan temanku Lily adalah keturunan asli suku Sasak, Nusa Tenggara Barat. Aku pun tak menyia-nyiakan bertanya apa bahasa Sasaknya ”Apa kabar?”. Di luar dugaan, Lily dengan antusias mengajariku. Dia merobek selembar kertas catatan lalu menuliskan berbagai kata dan kalimat yang umum dipakai dalam bahasa Sasak sehari-hari. Dengan perlahan dia pun mengajarkanku bagaimana melafalkannya. Berikut sedikit yang dia tulis pada kertas itu:

• bagaimana kabar kamu: berembe kabar side
• bagus: solah
• seperti biasa: marak biase
• seperti kemarin: marak kelemak (e-nya dibaca seperti e pada kata lempar)
• tidak bagus: nde’ solah

• terlalu: lalo’
• makanan: kakenan (e seperti pada kata kemana)
• sama: pade doang
• rumah: bale
• dimana: mbe / embe
• ada: arak
• ya: ao’ / inggih
• tidak: nde’
• pendek: dendek (e seperti pada kata dendeng)
• di: lek
• cewek: dende (e pertama seperti pada kata dendeng, e kedua seperti pada kata dengan)
• suka: mele
• yang disuka: ke mele’ (dibaca kemele’k / ke – mele – ek)
• kaki: naen
• tangan: ime
• kamu : side, bahasa halunya pelinggih
• seperti: marak
• sendiri:mesak
• jadi: jari
• baju/pakaian: kelambi
• pakai: kawih (memakai: ngawih)
• tidur: tedem
• siang: kelemak
• nanti: bareh
• mandi (bahasa halus) siram (mesiram)
• harga: aji
• ayam: manuk
• burung : kedit
• cengeng: melak (e seperti pada kata mentok)
• jelek : lengek (e pertama seperti pada kata lembu)
• uang: kepeng
• sudah: uwah
• semua: selapu’

Aku tersenyum sendiri bila mengingat saat itu. Aku tak pernah menyangka kalau sebuah kata ”Apa kabar?” bisa menghasilkan begitu banyak kata. Aku sangat berterima kasih kepada Lily. Dia adalah gadis yang baik hati, ramah, dan suka menolong. Selain itu dia adalah gadis yang manis dan cantik, dengan tubuh yang agak besar. Sayang, dia gagal saat ujian nasional dulu. Entah mengapa dia bisa gagal, padahal dia adalah anak yang pandai.
Aku penasaran, bagaimana kabarnya yang sekarang? Dimana dia tinggal sekarang? Apakah dia kembali ke pulau Lombok? Lalu apa pekerjaannya?
Mungkin suatu hari nanti rasa penasaranku akan terjawab. Dan saat itu, aku pasti sudah hafal dan fasih melafalkan semua kata-kata yang pernah dia ajarkan. Bahasa daerah yang dia ajarkan adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Sama berharganya dengan kebudayaan negeri ini yang begtitu beraneka ragam mulai dari Sabang sampai Merauke. Dan suatu hari nanti bila aku bertemu dengannya, ada satu kalimat yang ingin aku katakan padanya……

”Lily, berembe kabar side?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s