Beranda » kisahku » Kesedihan Istriku dan Rasa Sayangku Kepadanya

Kesedihan Istriku dan Rasa Sayangku Kepadanya


Suatu pagi aku tak menemukan istriku di rumah. Aku heran, kemana perginya istriku yang sedang mengandung anak pertama kami tersebut. Aku lalu menyimpulkan kalau istriku pergi ke perusahaan ayahnya untuk bekerja di sana. Padahal sudah berkali-kali ayah mertuaku melarangnya untuk bekerja selama ia mengandung. Ayah mertuaku sangat khawatir mengenai keselamatan calon anak kami tersebut. Kekhawatiran ayah istriku itu beralasan, mengingat di hari terakhir istriku bekerja, ia mengalami pendarahan karena terjatuh.
Aku tahu pasti alasan kenapa istriku pergi dari rumah. Kemarin kami bertengkar. Sebenarnya sih masalah sepele, tapi mungkin karena pengaruh hormon sehingga istriku menjadi lebih emosional dari biasanya. Biasanya kalau sedang ada masalah, ia selalu pergi menemui kakak perempuannya yang juga bekerja di perusahaan mertuaku. Tapi itu dulu, setahun yang lalu sebelum musibah itu terjadi.
Aku sendiri baru kena PHK beberapa waktu yang lalu. Karena itulah aku bekerja serabutan dan seadanya untuk keperluan istriku melahirkan nantinya. Sudah berkali-kali ayah mertuaku menawariku untuk bekerja di perusahaannya. Namun aku menolaknya dengan halus. Bukannnya apa-apa sih, hanya saja aku merasa harus mandiri dan mencari kerja sendiri. Aku ingin bekerja karena kemampuan diriku seutuhnya, bukan karena bantuan ayah mertua. Alasan inilah yang terkadang membuat aku dan istriku bersitegang. Istriku kecewa karena menganggapku tidak mau menolongnya perusahaan orang tuanya. Tapi ayah mertuaku sendiri mau mengerti dengan alasanku. Beliau menghargai usahaku tersebut. Ya, walaupun sampai saat ini aku belum juga mendapat pekerjaan yang tepat. Terkadang aku memikirkan kembali tawaran ayah mertuaku tersebut.
Aku segera mandi dan berganti pakaian. Tanpa sempat sarapan, mengingat hal ini sudah menjadi kebiasaanku semenjak kecil, aku langsung berangkat ke gedung perusahaan milik ayah mertuaku. Aku sendiri kurang begitu paham dengan bidang yang digeluti oleh perusahaan mertuaku tersebut. Yang aku tahu, perusahaan tersebut bergerak di bidang teknologi menengah.
Sesampainya di gedung perusahaan tersebut, aku langsung masuk dan mendapati beberapa karyawan menegurku ramah. Hampir semua karyawan di perusahaan ini mengenalku sebagai suami putri pemilik perusahaan. Aku sendiri tak tahu pasti jabatan ayah mertuaku, apakah itu direktur, atau presiden direktur, aku kurang tahu dan tidak mempermasalahkannya. Bukankah aku hanya menikah dengan putrinya?
Sesampainya di lantai dimana ruangan kantor istriku berada, aku melihat dua orang paman istriku tengah duduk berbincang di sofa santai yang ada di depan lift. Kedua paman istriku juga bekerja di sini, sehingga bisa dibilang perusahaan ini adalah sebuah perusahaan keluarga. Kedua lelaki tersebut lalu menyapaku ramah. Mereka lalu menanyakan kepadaku mengenai kesehatan istriku apakah sudah membaik, mengingat tiba-tiba saja istriku kembali bekerja. Aku hanya menjawab dengan senyuman karena aku sendiri kurang begitu yakin dengan kondisi istriku. Suami macam apa aku ini? Batinku karena aku tidak dapat mengetahui keadaan istriku secara pasti. Dari pertanyaan kedua paman istriku itu aku langsung tahu kalau istriku memang ada di perusahaan ini. Mereka lalu menunjukkan dimana istriku, walaupun aku pasti sudah tahu dimana ruangan tempat istriku bekerja. Mereka berpesan kepadaku agar aku merawat istriku dengan baik demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya. Kedua paman istriku memang baik. Itulah yang membuat aku senang berada dalam keluarga ini. Mereka semua baik hati.
Saat aku memasuki ruangan istriku, tampak dia sedang terduduk merenung di sofa yang ada di salah satu sudut ruangan. Ia menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali merenung. Aku lalu duduk di sampingnya. Kubelai rambutnya perlahan sembari memanggil namanya lembut. Istriku diam saja dan masih dalam keadaan merenung dengan tatapan kosong. Aku sedih melihat keadaan istriku. Aku lalu meminta maaf kepadanya karena kasalahanku. Istriku tetap tak bergeming. Lama ia mendiamkanku. Aku pun menghentikan usahaku dan ikut duduk dalam keadaan yang sama seperti istriku. Tak lama, istriku mengeluarkan suara. Ia menyebut nama kakak perempuanya. Dalam perkataannya ia mengandaikan bila kakaknya tersebut masih hidup. Ia mengandaikan bila kakaknya itu masih hidup, ia pasti sangat senang. Kulihat perlahan air mata menetes di lesung pipitnya. Aku bisa merasakan kesedihan seperti yang dirasakan olehnya.
Kakak perempuan istriku atau kakak iparku itu adalah seorang janda beranak satu. Semenjak kematian suaminya, ia menjadi orang tua tunggal untuk anak laki-laki semata wayangnya yang saat ini berumur enam tahun. Setelah kematian suaminya tersebut, kakak iparku lebih sering terlihat murung. Ia sering sekali melamun. Entah mungkin sedih merasa kehilangan lelaki yang sangat dicintainya, atau mungkin memendam perasaan lain. Kami sekeluarga merasa sedih bila melihat keadaannya dan tak henti-hentinya memberikannya semangat hidup. Bagaimanapun ia masih memiliki seorang buah hati yang harus ia sayangi dan ia rawat.
Kesedihan kami bertambah tatkala dokter memvonis kakak iparku mengidap penyakit parah yang telah memasuki stadium akhir. Kami semua merasa sedih dengan berbagai cobaan yang menimpa kakak iparku yang baik hati itu.
Suatu hari, satu tahun yang lalu, terjadi sebuah kebakaran di perusahaan. Diduga penyebab kebakaran berasal dari demo mahasiswa berjaket kuning yang saat itu sedang mengadakan unjuk rasa di depan perusahaan. Semua orang berusaha menyelamatkan diri dari kebakaran tersebut. Namun sayang kakak iparku belum sempat keluar dari ruangan tempatnya bekerja. Entah tidak sempat, terjebak atau memang sengaja tidak keluar dari ruangannya sehingga ia kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Sebelum kematiannya, ia sempat menelepon istriku dan berpesan agar istriku mau merawat anaknya. Beberapa dari kami lalu menduga kalau kakak iparku sengaja tidak keluar dari perusahaan yang sedang terbakar dan memang berniat bunuh diri saat itu. Namun istriku membantah semua hal itu. Baginya, kakaknya tak mungkin melakukan hal itu.
Setahun telah berlalu semenjak kematian kakak iparku, tetapi kesedihan di hati istriku belum juga pudar. Ia dan kakak iparku begitu dekat, begitu akrab. Aku dapat memahami bagaiman kesedihan istriku tersebut. Dan kini, aku telah membuatnya teringat kembali pada almarhumah kakaknya. Aku benar-benar bodoh. Tak sepantasnya aku bertengkar dengan istriku hingga membuatnya kembali teringat akan almarhumah kakaknya. Suami macam apa aku ini?
Tiba-tiba istriku menangis. Dalam isak tangisnya, ia menyesalkan kenapa kakaknya pergi secepat itu. Aku lalu memeluknya, berusaha menenangkannya. Aku memintanya untuk dapat mengikhlaskan kepergian kakaknya agar sang kakak dapat tenang di sana. Aku pun mengatakan kalau kakaknya pasti akan sangat sedih bila istriku terus menerus menyesali kematiannya. Mendangar itu, istriku mulai berhenti menyesali kepergian kakaknya, namun ia terus menangis. Ia terus menangis tersedu-sedu dan aku membiarkannya menangis begitu saja. Adakalanya wanita memang harus menangis untuk meredakan segala kegundahan hatinya. Karena itulah kubiarkan ia menangis sepuas-puasnya dalam dekapanku. Perlahan istriku mulai berhenti menangis. Ia melepaskan dekapanku lembut. Ia berterima kasih kepadaku karena telah membiarkannya menangis. Ia lalu meminta maaf karena membuatku khawatir. Aku menggeleng. Kukatakan padanya kalau akulah yang salah karena telah membuatnya teringat kepada kakak yang amat dicintainya tersebut. Aku lalu berjanji takkan membuatnya kesal dan marah lagi demi kebaikan bersama. Aku pun mengatakan kalau aku akan mulai kembali memikirkan tawaran ayahnya. Istriku lalu tersenyum kecil di antara sisa-sisa air matanya. Ia lalu memelukku mesra. Akupun membalas pelukannya dengan mesra pula. Saat itu aku merasa begitu menyayanginya. Aku merasa tak ingin kehilangan diriku. Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh jiwaku. Tak hanya dia, melainkan juga calon anak kami yang menanti untuk dapat melihat kedua orang tuanya. Tak terasa air mata menetes pula di pipiku. Aku terharu, aku terharu dengan semua hal dan kenyataan yang telah terjadi di antara kami. Kenyataan menegnai betapa aku mencintai belahan jiwaku itu. Aku lalu menciumnya lembut. Kami lalu berciuman mesra. Lama kami berciuman hingga kemudian…. aku terbangun karena gigitan nyamuk yang sangat nakal. Oh, rupanya aku kembali bermimpi. Benar-benar mimpi yang sangat aneh. Bagaimana mungkin aku dapat memimpikan mengenai seorang istri? Terpikir sekalipun tidak pernah, kenapa aku bisa memimpikannya. Mimpiku memang ada-ada saja. Namun yang membuatku heran, kenapa mimpiku terasa seperti kenyataan? Apakah itu adalah gambaran mengenai masa depanku? Atau mungkin aku sudah tidak dapat membedakan lagi antara dunia mimpi dan dunia nyata? Entahlah, bunga tidur selalu membuatku penasaran….

Baca juga mimpi-mimpi anehku yang lain di sini: mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s