Beranda » Uncategorized » Membayar bukan berarti kehilangan nurani

Membayar bukan berarti kehilangan nurani

Kejadian ini terjadi saat saya tengah menumpang di sebuah busway. Kebetulan seluruh kursi busway telah penuh oleh penumpang sehingga penumpang yang baru masuk terpaksa untuk berdiri. Saya sendiri terpaksa berdiri karena tidak mendapat. Bus terus melaju hingga berhenti di sebuah shelter. Dari shelter itu masuklah rombongan ibu-ibu bersama anak-anak mereka yang masing berusia balita. Tentu saja ibu-ibu dan anak-anak itu terpaksa berdiri. Saat busway melaju kencang dan (terasa) ugal-ugalan, ibu-ibu dan anak-anak itu tak dapat bertahan dalam pegangannya hingga mereka terguncang di dalam bus dan hampir terjatuh. Melihat hal itu, petugas busway merasa iba dan menyarankan beberapa orang yang duduk di tempat duduk di bagian depan untuk mau memangku anak-anak yang masih kecil tersebut. Para penumpang yang disarankan oleh petugas tersebut tampak enggan walaupun seorang dari mereka lalu memangku salah seorang anak. Penumpang yang lain bersikukuh tidak mau memangku anak-anak itu. Bahkan seorang bapak yang duduk di tempat duduk itu membela diri dengan berasalan ia telah membayar dan berhak atas tempat duduk yang ada di busway. Ia bahkan membentuk angka empat menggunakan jari-jari tangannya yang melambangkan kalau ia telah membayar empat ribu (lebih lima ratus dari harga asli) untuk dapat duduk di situ. Dia tak mau tahu perihal penumpang lain dan tetep keukeuh dengan pendiriannya. ”Itu sudah resiko bagi penumpang yang datang belakangan,” tambahnya. Saya terkejut mendengar reaksinya. Padahal petugas busway hanya meminta beliau untuk memangku anak-anak balita tersebut, tidak lebih. Petugas busway sendiri yang mendengar hal itu lalu memutuskan menghentikan usahanya dan diam. Sepertinya petugas itu tidak ingin memperumit masalah.

Memang benar apa yang dikatakan oleh bapak itu, dia memang memiliki hak untuk duduk di tempat duduk di busway karena telah membayar tiket, karcis, atau apalah sebutannya. Tapi apakah dengan membayar itu beliau lalu kehilangan nurani dengan lebih mendahulukan haknya tersebut? Lupakah beliau akan kewajibannya?

Kita jelas tahu sebuah etika saat menaiki kendaraan umum yaitu mendahulukan kepentingan orang tua, ibu hamil, orang cacat, dan anak-anak dengan memberikan kursi kita bila tempat duduk telah penuh terisi. Kewajiban kita adalah bentuk kepedulian kita terhadap orang lain. Lalu apakah kita harus menggadaikan nurani kita demi memenuhi hak kita sendiri, dengan mengorbankan kebaikan orang lain karena kita telah membayar?

Satu hal yang saya pesankan, jangan sampai kita kehilangan nurani hanya karena kita telah membayar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s