Cerita Tentang Laptop

kucing-maen-mac
Beberapa hari ini aku tengah bingung memilih yang mana. Aku berniat membeli sebuah laptop, tapi bingung mau beli jenis yang mana, Notebook atau Netbook?Sebagai orang yang suka menulis, komputer atau laptop adalah kebutuhan. Aku sangat ingin memilikinya agar aku bisa langsung menuangkan ide-ide yang muncul di kepalaku ke dalam dokumen-dokumen office. Well, sebenarnya aku punya sebuah laptop pemberian tanteku ketika aku mengerjakan tugas akhir dulu. Akan tetapi laptop Toshiba sederhana yang pernah digadaikan untuk membiayai kuliahku itu sudah kuberikan kepada adikku. Adikku saat ini duduk di bangku kuliah, jadi kupikir dia lebih membutuhkannya dibandingkan diriku. Sebenarnya tanteku sudah mewanti-wanti padaku untuk tidak memberikan laptop itu pada adikku. Karena dalam pandangan tanteku, adikku itu pemalas dan tidak serius kuliah, berbeda dengan diriku, begitu kata beliau.  Meski begitu tetap saja laptop itu kuberikan kepada adikku, tentunya secara sembunyi-sembunyi karena tanteku (dan juga nenekku yang setuju dengan pemikiran tanteku) pasti akan marah bila aku ketahuan memberikan laptop itu pada adikku. Seburuk apapun sifat adikku, dia tetaplah adikku. Aku percaya kalau dia akan menggunakan laptop itu dengan benar, walaupun beberapa waktu kemudian dia menghancurkan CD Drive yang ada di laptop itu. TIDAAAKKK!!! Aku telah melakukan keputusan yang salah!!! (halah)

 

Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku memberikan laptop itu pada adikku, yaitu aku sudah bosan menggunakan laptop itu menurutku sudah sangat lemot dan ketinggalan jaman (kejamnya! Habis manis sepah dibuang! #PLAK!). Itulah kenapa saat akan pergi meninggalkan Jakarta seusai wisuda, aku menolak laptop itu saat tanteku menawarkannya padaku. Tawaran itu kemudian aku terima setelah aku berada di Kalimantan, saat aku kesepian dan butuh menuangkan ide-ideku ke dalam dokumen-dokumen word. Aku tidak menyangka kalau ternyata aku sangat membutuhkan laptop itu. Laptop itu pun dibawa oleh ibuku dari Jakarta dan rencananya akan dititipkan pada saudara yang akan pergi ke Kalimantan. Akan tetapi kemudian adikku meminta laptop itu untuk keperluannya kuliah, dan berkat bujukan ibuku, aku pun merelakan laptop itu untuk digunakan adikku dengan harapan aku dapat membeli laptop baru dengan hasil kerja kerasku sendiri. Dan rasa kesepianku pun berlanjut… 

Tidak memiliki laptop bukan berarti aku berhenti menulis. Disini, aku melakukan hobi menulisku, entah menulis cerita atau menulis blog, dengan meminjam netbook milik saudara sepupu atau menulis di komputer kantor. Akan tetapi sejak adik saudara sepupuku yang anak labil itu berseteru denganku, aku jadi tidak pernah lagi meminjam netbooknya. Satu-satunya jalan pun kini dengan menulis di komputer kantorku. Tentu saja ini masih tidak nyaman karena aku harus datang ke kantor untuk menggunakan komputer disana, mambuatku merasa tidak enak pada rekan-rekan yang lain karena sering sekali datang ke kantor di luar jam kerja. Tapi mau bagaimana lagi? Sebenarnya pernah pula aku meminjam laptop salah seorang rekanku, akan tetapi tetap saja laptop itu akan kukembalikan pula pada yang punya ditambah rasa takut kalau terjadi apa-apa dengan laptop tersebut. Jadi pada akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, yaitu aku harus memiliki laptop sendiri! Aku harus membeli laptop sendiri sesegera mungkin! 

Tekadku ini menjadi semakin kuat ketika aku berkunjung ke rumah salah seorang kawanku, seorang atlet lari kota Bontang. Aku begitu terkagum saat melihat isi kamarnya yang penuh dengan foto-foto lomba serta trophy dan piagam. Nomor dada juga tampak tergantung disana. Yang membuatku kagum adalah saat melihat piagam, medali, dan trophy yang menunjukkan bahwa dia pernah menjuarai kejuaraan atletik lari, menjadi juara satu dengan nilai hadiah yang fantastis. Ditambah pula dengan foto saat dia melewati garis finish serta fotonya di tangga juara, menginjak tangga nomor satu. Wow… fantastis sekali, decakku tak henti-hentinya terkagum. Yang menjadi perhatianku adalah garis finish yang berhasil dicapai oleh kawanku itu. Dari situ aku kembali teringat bahwa dalam hidup ini manusia harus memiliki tujuan atau garis finish yang harus dituju. Tujuan atau garis finish ini tidak ada satu, melainkan ada banyak sebagaimana banyaknya lomba lari yang diikuti oleh kawanku itu. Aku pun menyimpulkan bahwa dalam kehidupanku yang sepi dan membosankan ini aku harus membuat banyak garis finishku sendiri, yang harus kukejar dengan berlari. Aku harus memiliki tujuan-tujuan kecil yang harus aku capai demi menuju satu tujuan besar… 

Setelah berhasil membeli sepeda motor dengan hasil jerih payah kerjaku sendiri –ya walaupun motor itu motor bekas tapi tetap harus disyukuri–, kini aku merancang hal-hal duniawi lainnya yang ingin aku dapatkan. Rencana jangka pendekku untuk saat ini adalah membeli laptop, tinggal menetap sendiri, membeli sepeda, belajar menyetir mobil dan membeli kebun. Saat ini aku memang menetap menumpang di rumah pamanku sejak awal kedatanganku kembali ke Kalimantan, dan kupikir setelah satu tahun berada di kota ini dan setelah hampir satu tahun bekerja, aku harus menciptakan sebuah peningkatan yaitu lepas dari menumpang alias ngontrak atau ngekost sendiri. Karena jujur saja aku sudah sangat bosan hidup menumpang di rumah saudara atau keluarga lain. Sejak masih kecil aku sudah hidup menumpang di kediaman beberapa saudara atau sanak keluarga, sehingga aku telah merasakan betapa tidak enaknya hidup menumpang bagai parasit, walaupun sebenarnya aku berusaha menjadikannya mutualisme. Apalagi aku merasa tidak nyaman tinggal menumpang di rumah pamanku kali ini. Selain karena seringkali terjadi pertengkaran di dalam rumah, sepupuku yang ABG labil itu juga sangat membenciku dan berkali-kali menyindirku, seolah mengusirku secara halus. Bagaimanapun aku harus segera keluar dari rumah ini dan menetap sendiri dengan bebas. Bagaimana mungkin aku bisa nyaman bila setiap hari harus mendengar teriakan-teriakan atau pertengkaran atau berbagai macam keluhan, gerutu, sindiran yang ada di rumah itu? 

Akan tetapi sepertinya keinginan untuk menetap sendiri akan lama tercapai, mengingat setelah berhasil membeli laptop nanti aku akan kembali menabung untuk membeli kebun di Sumatra. Rencana pembelian kebun kopi ini sebenarnya sangatlah mendadak, tapi aku menyetujuinya. Kupikir perlu bagiku untuk memiliki semacam investasi demi masa depan kelak, selain tentunya memenuhi cita-citaku sejak kecil yaitu memiliki kebun pertanianku sendiri. Maka disinilah terjadi pengorbanan, dimana aku harus merelakan bertahan menetap di rumah pamanku demi bisa mendapatkan kebun masa depan yang kuinginkan tersebut. Karena bila aku memaksakan mengontrak rumah atau indekost, pastinya penghasilanku tidaklah cukup untuk membeli kebun dalam waktu dekat ini. Inilah biaya pengorbanan yang harus kuambil, makan hati demi masa depan. Semoga Tuhan memberikanku kekuatan untuk menahan emosiku agar aku tidak gelap mata dan bertindak nekat. Karena terus terang saja aku sudah sangat menahan kesabaran selama tinggal di rumah pamanku, tapi aku juga belum menemukan cara bagaimana caranya untuk keluar darisana. Ibuku bilang, “Kuat-kuat… Anggap saja sebagai nyanyian…” 

Tapi sebelum itu, aku harus sudah memiliki laptop sendiri karena aku pastinya akan bosan bila tidak ada hiburan nanti selama bertahan di rumah pamanku yang begitu emosional, sebagaimana yang disarankan oleh ibuku. Karena itulah membeli laptop adalah tujuan terdekatku saat ini. Hanya saja kemudian aku jadi bingung harus membeli yang mana mengingat laptop terdiri dari dua jenis saat ini, yaitu Notebook dan Netbook. Keduanya sama-sama memiliki nilai lebih dan juga nilai minus. Notebook, yang layarnya 14 inch itu memiliki CD Drive, keyboard yang luas dan kemampuan sistem yang lebih baik, akan tetapi ukurannya tidaklah praktis serta harganya kebanyakan mahal. Sementara Netbook, walaupun harganya relatif lebih murah dari Notebook serta berukuran kecil yang membuatnya mudah dibawa-bawa, memiliki kekurangan keyboard yang sempit, tidak memiliki CD Drive, serta tidak bisa memasang Desktop Wallpaper (untuk netbook merk HP). Hal inilah yang membuatku bingung saat ini. Di satu sisi aku mengharapkan benda yang lebih kecil dan fleksibel, lebih murah namun di satu sisi aku juga mengharapkan kemampuan yang dimilikinya. Jadi bingung nih… 

Kemudian tiga hari yang lalu, ketika aku sedang berjalan-jalan malam menyusuri kota kelahiranku seperti biasanya, aku melihat sebuah toko komputer yang sepertinya baru dibuka dan iseng-iseng aku mampir untuk melihat-lihat. Aku pun berbincang-bincang dengan penjaga toko, menanyakan hal-hal yang ingin kuketahui sebagai bahan pertimbangan untuk membeli laptop. Aku melihat banyak laptop notebook yang merek terkenal yang keren-keren dan harganya juga keren alias mahal! Kebanyakan di atas empat jutaan yang… yeah, sulit bagiku untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Meski begitu kemudian aku melihat sebuah notebook yang menjadi incaranku. Harganya berkisar tiga jutaan namun mereknya tidak populer serta OSnya DOS, bukan Win 7. Akan tetapi sang penjaga toko bilang kalau nantinya bisa diinstalkan OS yang disuka walaupun hanya trial saja. Hmm… aku pun jadi berpikir-pikir… kupikir aku tertarik untuk memilikinya. Tiga jutaan… bisalah! 😀 

Yeah, aku akan membeli laptop itu walaupun mereknya tidak terkenal karena yang terpenting aku bisa kembali mengetik dan menuangkan ide-ideku dengan nyaman dalam menulis cerita atau blog. Maka kuputuskan sejak bulan Mei kemarin aku akan mulai menabung minimal satu juta setiap bulannya, sehingga diharapkan maksimal bulan Agustus aku sudah mampu membelinya, tepat satu tahun aku bekerja secara resmi di perusahaanku. Semoga saja tidak ada pengeluaran mendadak atau semoga saja sifat borosku tidak muncul dalam kurun waktu itu. Aku pasti bisa… aku pasti bisa membelinya secara tunai. Sebenarnya aku bisa saja mengambil kredit, akan tetapi persyaratan kredit membuatku urung mengambil keputusanku itu. Selain itu toko komputer tadi belum melayani fasilitas kredit, membuatku bisa saja beralih pada toko komputer lainnya yang memiliki opsi kredit. Entahlah, aku lebih sreg membeli secara tunai daripada secara kredit, seolah tidak punya tanggungan lagi. 

Jadi inilah garis finish terdekatku, bisa disebut juga sebagai checkpoint kalau di dunia game. Apabila aku berhasil menggapainya, maka aku akan mulai memilikirkan garis finish atau checkpoint berikutnya. Entah kenapa aku merasakan hal ini sebagai suatu tantangan, ibarat seorang atlet lari yang berlatih keras dan berusaha untuk bisa mencapai garis finish demi mendapatkan gelar juara. Ya, hidup memang harus memiliki tujuan apabila tidak ingin berjalan berantakan. Semuanya saja, tidak terbatas dalam hidup manusia, bisa juga pada kehidupan perusahaan yang pastinya memiliki beragam objective atau sasaran-sasaran yang ingin dituju apavila tidak ingin menjadi bangkrut. Dengan memiliki tujuan, kita bisa melihat masa depan secara lebih baik, memiliki sebuah visi atau pandangan dalam menjalaninya. Tentunya tujuan-tujuan itu adalah tujuan yang real atau yang memiliki kemungkinan bisa dicapai. Tapi kalau ingin tujuan yang tidak masuk akal juga tidak apa-apa, karena bagaimanapun keteguhan hati dan semangat serta niat tinggi dipadu dengan usaha terus-menerus tanpa kenal lelah mampu menembus batas keniscayaan yang ada dalam pikiran manusia. Meski begitu bagaimanapun Tuhan yang paling berkehendak, kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa merencanakan dan berusaha sebaik yang bisa kita lakukan. Bila kita mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan tersebut, percayalah bahwa Tuhan selalu memiliki skenario yang terbaik bagi umat-Nya. Entahlah, aku jadi semakin bingung saja. Yang pasti kita semua pasti memiliki satu tujuan besar yang harus dicapai, dimana dibutuhkan tujuan-tujuan kecil dalam perjalanan menggapai tujuan besar tersebut. Well, daripada bingung dengan bahasa gak karuan barusan, lebih baik bantu aku memilih deh… bagusnya beli notebook atau netbook ya? Bagaimana menurut kalian?
*Gambar kucing random dari Google.