Detroit Metal City

Detroit Metal City adalah sebuah film drama komedi Jepang yang mengangkat tema musik cadas death metal. Film ini diangkat dari manga populer berjudul sama. Adalah Negishi (Kenichi Matsuyama – L Death Note), seorang penggemar musik pop ceria yang bercita-cita menjadi penyanyi pop terkenal. Ironisnya, saat pergi mengadu nasib ke Tokyo dia justru menjadi vokalis dari Detroit Metal City atau DMC, sebuah band musik keras bergenre death metal yang memiliki banyak penggemar setia. Di dalam band itu Negishi tidak menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi Krauser, alter ego Negishi dalam kostum dan riasan setan. Secara tidak langsung Negishi kemudian memiliki kepribadian ganda yaitu kepribadian asli Negishi yang ceria dan kepribadian Krausser yang kasar saat menjadi vokalis DMC. Sebenarnya Negishi tidak ingin menjadi Krauser dan menyanyikan genre lagu death metal yang tidak disukainya (yang lucunya dibuat sendiri olehnya), namun dia terpaksa melakukannya karena paksaan bosnya, seorang wanita yang berambisi mengalahkan Jack, legenda musik Death Metal dunia. Boslah yang pertama kali menyadari bakat terpendam Negishi dalam musik cadas, walaupun dia tahu Negishi tidak menyukai musik itu.
Suatu ketika Negishi bertemu dengan Yuri, teman lamanya dulu di sekolah yang tak lain adalah perempuan yang ditaksirnya. Saat membicarakan tentang DMC, Yuri mengatakan kalau dia tidak menyukai musik DMC yang disebutnya sebagai musik buruk. Negishi yang menyukai Yuri pun tidak bisa berterus terang bahwa dirinya adalah vokalis DMC karena apabila Yuri mengetahui hal itu pastilah Negishi akan langsung dibenci dan dicap lelaki aneh. Dalam kesibukannya sebagai vokalis DMC, Negishi berusaha keras untuk bisa menemui Yuri dengan pribadinya yang ceria dan menyukai musik trendi, bukan sebagai Krauser. Sayangnya, DMC membuatnya menjadi kelabakan karena selain harus menyembunyikan rahasianya, Negishi juga harus mengatur kepribadiannya yang saling bertentangan. Semuanya menjadi semakin kacau saat musik ceria yang ditawarkan Negishi ditolak dan dihina oleh produser idola Negishi yang ternyata adalah teman Yuri. Hal ini diperburuk dengan munculnya adik kelas Negishi yang telah sukses sebagai vokalis band indie bergenre pop ceria. Negishi menjadi semakin sedih, putus asa dan merasa impiannya untuk menjadi penyanyi pop ceria tidak akan pernah terwujud. Dia lalu melampiaskan kekesalannya dengan bernyanyi untuk DMC, menjadikan DMC sebagai band musik cadas paling populer di Jepang hingga menarik perhatian Jack sang legenda Death Metal yang berniat menantang DMC dalam konser duel. Tapi Negishi tiba-tiba memutuskan berhenti dan pulang ke desanya karena merasa telah gagal dalam meraih mimpinya. Apakah yang kemudian terjadi? Sanggupkah DMC mengalahkan Jack? Dan bagaimanakah kelanjutan perjuangan Negishi dalam meraih impiannya? Mampukah dia mewujudkan impiannya itu?
Detroit Metal City adalah sebuah film yang berhasil dalam segala aspek. Ceritanya bagus, begitu juga dengan akting para pemerannya. Sosok Negishi begitu berkarakter dimana Kenichi Matsuyama dengan sangat apik menampilkan dua kepribadiannya yang bertentangan. Komedi yang dihadirkan begitu realistis dan mengundang tawa hampir di seluruh bagian film. Porsi dramanya pun tepat, menjadi bagian penting yang membalik situasi tokoh utamanya. Sebuah amanat tersirat dengan sangat baik pada inti film ini, yaitu mengajak kita untuk tidak berhenti bermimpi karena semua pencapaian dalam hidup ini berawal dari sebuah impian. Secara pribadi, saya merasa sangat terhibur saat menyaksikan film ini. Begitu kompleks namun tidak membingungkan. Terlebih bisa melihat kembali akting luar biasa dari Kenichi Matsuyama, pemeran L dalam Death Note. Bagian yang saya suka dari film ini adalah saat Negishi terpaksa menjadi Krauser demi menasehati adiknya yang ternyata seorang fans berat DMC. Secara keseluruhan film ini sangatlah bagus dan sangat saya sarankan untuk ditonton, terlebih bagi kalian yang sedang putus asa. Sebuah pelajaran dari film ini untuk terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya menjadi kenyataan.

Iklan

Pengkhianatan G 30 S PKI

Setiap akhir September aku selalu teringat akan sebuah film yang dulu selalu diputar di seluruh stasiun televisi negeri ini… Pengkhianatan G 30 S…. Film yang mengisahkan proses terjadinya penculikan dan pembantaian para jenderal ini adalah film yang sangat aku takuti dulu. Aku menyaksikan film ini saat masih duduk di bangku sekolah dasar dan film ini benar-benar membuatku ketakutan setengah mati. Film ini sangat menyeramkan bagi anak kecil seusiaku waktu itu. Aku ingat aku sampai menangis ketakutan saat film ini diputar. Film ini benar-benar tragedi… Masih terbayang kekerasan-kekerasan yang terjadi di sepanjang film, walaupun aku tidak ingat secara jelas karena aku masih kecil. Bagian yang membekas di benakku dan beberapa kali membuatku bermimpi buruk adalah saat mereka menyilet wajah jenderal, menembakki jenderal dengan brutal, menyeret tubuh mereka, dan memasukkannya ke dalam lubang yang dalam. Seolah belum puas dengan itu, mereka bahkan menembakinya di dalam lubang. Tapi yang bagiku sangat memilukan adalah pembantaian di waktu Subuh, saat orang-orang baru saja selesai menunaikan sholat berjamah dan kemudian datang gerombolan yang menyerang masjid, membantai mereka satu persatu dengan keji. Film ini benar-benar mimpi buruk… Aku ingat film ini adalah film wajib bagi para pelajar SMP waktu itu, dimana guru sejarah menyuruh murid-muridnya untuk menonton film ini dan mencatat hal-hal penting dari film ini yang katanya merupakan reka ulang sejarah. Waktu itu kakakku dan teman-temannya begadang menyaksikan film ini untuk mengerjakan tugas sejarah mereka sementara aku mendekam di kamarku ketakutan. Beruntung film ini kemudian dilarang ditayangkan semenjak reformasi dan keruntuhan Orde Baru sehingga guruku tidak pernah menyuruhku menonton film ini. Film ini benar-benar mengerikan… Tapi entah kenapa saat ini aku ingin menonton film ini, seolah ingin kembali ke masa kecilku menonton film yang membuatku bermimpi buruk berkali-kali, yang membuat aku memeluk pamanku erat sambil terus-menerus menangis. Kenangan kelam film ini begitu membekas di kepalaku, dan kupikir inilah alasan kenapa anak kecil tidak boleh menyaksikan adegan kekerasan, karena ingatan mereka sangat tajam akan hal ini, bisa membekas bahkan hingga dewasa. Aku berharap bisa menyaksikan film ini kembali, walaupun kuakui aku masih menyimpan ketakutan setiap kali mengingatnya….

Summer Wars

Summer Wars adalah sebuah film animasi Jepang produksi MadHouse (The Girl who Leapt Through Time) yang dirilis tahun 2009 dan berhasil meraih penghargaan sebagai animasi terbaik tahun 2010 di Jepang. Film ini mengisahkan tentang perjuangan pelajar SMA berbakat bersama dengan sebuah keluarga yang berusaha keras menyelamatkan dunia dari bencana nuklir yang diakibatkan oleh peretas internet.

Kenji adalah pelajar SMA yang pintar matematika. Pada liburan musim panas, teman wanitanya yang bernama Natsuki mengundangnya datang ke ulang tahun neneknya yang kesembilan puluh di desa Ueda. Kenji yang awalnya ikut serta untuk bekerja justru dipaksa bersandiwara oleh Natsuki agar mau mengaku sebagai kekasihnya. Semuanya berjalan lancar hingga sebuah email misterius datang pada Kenji, meminta untuk dipecahkan. Kenji berhasil memecahkan email berisi kode angka-angka tersebut namun tanpa dia duga, keesokan harinya terjadi kekacauan di OZ, sebuah sistem jaringan sosial di internet yang telah terintegrasi dengan kehidupan nyata. Rupanya email tersebut adalah kunci keamanan OZ dan dengan cepat Kenji pun menjadi tersangka pembobolan sistem keamanan OZ yang mengakibatkan kekacauan di dunia nyata. Setelah diselidiki, rupanya pelaku utama kejahatan tersebut adalah peretas buatan bernama Love Machine yang memiliki rasa haus akan informasi dan perlahan-lahan mencuri akun-akun di OZ. Awalnya Kenji tidak terlalu peduli hingga kemudian kekacauan tersebut membuat nenek Natsuki meninggal dunia. Kenji pun berusaha keras menghentikan usaha Love Machine dengan dibantu oleh King Kazma dan keluarga Jinnouchi yang memiliki riwayat sejarah perjuangan di masa lalu, demi menyelamatkan dunia dan juga demi membalaskan kematian sang nenek yang telah memberikan banyak inspirasi.

Summer Wars adalah sebuah film animasi yang menarik dengan ide yang orisinal, mengangkat tema keamanan dunia internet yang bisa membahayakan dunia nyata. Ada banyak karakter yang diperkenalkan dalam film ini namun hebatnya, semua karakter itu memiliki peran tersendiri dan signifikan di dalam film, menjadikan setiap karakter berarti. Drama dalam film ini tersaji begitu apik dan mengalir begitu saja di sepanjang film, terutama drama tentang keluarga besar Natsuki. Penggambaran keluarga besar Natsuki terlihat begitu nyata seperti kehidupan sehari-hari sehingga membuatku teringat pada keluarga besarku di kampung. Terlihat apa-adanya seperti tidak dibuat-dibuat. Konflik yang ada pun tampak alami seperti pada konflik yang terjadi di antara Wabisuke dan nenek Natsuki serta di antara Kenji dan Natsuki yang walaupun ringan tapi menarik. Ada banyak amanat dan pesan yang bisa dipetik dari film ini, di antaranya yaitu tentang persatuan keluarga, dimana sebagai bagian dari keluarga, kita harus saling mendukung dan bekerjasama tak peduli betapa sulit masalah yang dihadapi. Disini pun tergambar bahwa kita harus mengutamakan kepentingan keluarga dari kepentingan pribadi. Amanat lainnya yaitu mengenai keamanan internet, dimana secanggih apapun teknologinya, tetap saja masih ada kekurangan dan celah kerusakan sehingga kita harus lebih berhati-hati dalam penerapannya, khususnya yang berhubungan dengan dunia internet.

Secara keseluruhan Summer Wars adalah film menarik dari awal sampai akhir. Cerita yang orisinil, kualitas gambar dan suara yang bagus, serta sajian genre yang beragam dari drama, tragedi, aksi hingga komedi membuat film ini layak disaksikan bersama keluarga. Well, menonton film pada bagian pertarungan di dunia OZ membuatku teringat pada Digimon the Movie, tepatnya pada bagian dimana orang-orang di seluruh dunia memberikan dukungan pada Natsuki saat bertarung melawan Love Machine. Aku pun jadi mengenal permainan kartu Hanafuda dari Jepang. Intinya, menyaksikan film ini akan membawa kita masuk ke dalam dunia OZ yang menegangkan dari awal hingga akhir. Sangat disarankan!

Champions

Champions (2008) adalah sebuah film Hongkong yang dibintangi oleh Dicky Cheung, aktor yang memerankan Sun Go Kong dalam serial Journey to the West favorit kita semua. Dalam film yang menampilkan banyak atraksi kungfu ini Dicky Cheung berperan sebagai Zhang Feng, seorang atlet wushu underdog yang berusaha untuk memenangkan kejuaran kungfu agar bisa mewakili Cina dalam olimpiade 1930 dan juga mendapatkan cinta dari Yan Ling (diperankan Priscilla Wong), seorang sprinter wanita yang disukainya. Meski begitu ternyata rencana keberangkatan kontingen atlet Cina menjadi terganjal tatkala mereka kekurangan biaya untuk berangkat ke olimpiade. Akan tetapi muncul masalah saat dibutuhkan 600.000 dollar untuk bisa berangkat ke olimpiade, sedangkan pemerintah hanya membiayai setengahnya saja. Demi mewujudkan impian para atlet Cina berlaga di olimpiade, Zhang Feng dan atlet lainnya pun melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara di antaranya melalui pertunjukan jalanan. Mampukah Zhang mewakili China dalam dmonstrasi wushu di olimpiade serta memenangkan cintanya?

Champion menampilkan kisah heroik yang luar biasa, tentang bagaimana nasionalisme warga negara dalam mendukung perdamaian. Film action ini menyajikan banyak adegan pertarungan bela diri kungfu yang tersaji dari berbagai macam aliran seperti kungfu belalang sembah dan cakar elang. Banyak tema diangkat dalam film ini seperti tema persatuan yang dituangkan melalui hubungan antar atlet untuk tidak bersikap individual. Penuh konflik baik konflik antar pribadi maupun konflik antar golongan. Contoh konflik antar pribadi terjadi pada Yan Ling dengan sprinter berbakat Li Sen. Yan Lin berusaha meyakinkan Li Sen mengenai persatuan walaupun usahanya itu berakhir kematian (ups! SPOILER!). Sementara itu konflik antar golongan terjadi di antara perguruan kungfu yang ikut serta dalam turnamen seleksi. Konfliknya sangat seru, membuat penonton akan terbawa dalam suasana film yang menegangkan dari awal sampai akhir. Semua karakter dalam film ini ditampilkan begitu relaistis sesuai kenyataan, sehingga penonton tidak akan menemukan tipikal film-film heroik yang menyuguhkan kepahlawanan terpusat yang sering ada sebelumnya. Dramanya pun mengena dan menurut saya sangat orisinal. Bagian yang saya suka saat kematian Yan Ling, dimana Zhang Feng menjadikan korek api sebagai obor olimpiade untuk menyenangkan Yan Lin.

Secara keseluruhan Champions adalah sebuah film yang bagus ditonton, film laga bertema olimpiade yang menarik. Kelemahan film ini ada pada alurnya yang terasa begitu cepat karena begitu banyak karakter yang ditampilkannya. Well, satu amanat dalam film ini yang bisa ditiru oleh orang Indonesia adalah semangat nasionalisme persatuan yang tinggi guna mengangkat nama baik bangsa dan juga menciptakan perdamaian melalui olahraga. Mereka memiliki mimpi dan berusaha mewujudkannya, seperti kata-kata Zhang Feng yang mengatakan bahwa suatu saat obor olimpiade akan menyala di China, dan hal itu terjadi di tahun 2008 dimana negara itu menjadi tuan rumah olimpiade 2008 yang diklaim sebagai olimpiade tersukses. Itu yang bisa saya simpulkan dari film ini setelah sepupu saya memberikan komentarnya di akhir film. Komentarnya, “Kapan ya Indonesia bisa begini?”

Professor Layton and the Eternal Diva

Diadaptasi dari game laris Nintendo DS, Professor Layton and the Eternal Diva mengisahkan petualangan arkeolog Inggris yang selalu menyebut dirinya “Lelaki Inggris Sejati” bersama dengan muridnya yang juga asistennya, Luke Triton untuk memecahkan teka-teki kehidupan abadi dari Ambrosia, tanah yang hilang.
Mengambil setting setelah event di the Last Specter, alkisah Profesor Layton menerima surat dari mantan muridnya, Janice Quatlane. Surat inilah yang menjadi titik awal perjalanan investigasi misterius. Teka-teki baru muncul saat Janice Quatlane, seorang penyanyi opera muda mengatakan bahwa dia melihat hantu dari sahabat terbaiknya. Bagi lelaki bangsawan seperti Profesor Layton, tidak mungkin membiarkan seorang wanita muda larut dalam kesedihan. Untuk memecahkan misteri, dia bersama dengan Luke datang ke Crown Petone, sebuah kapal opera terkenal di dunia dimana komposer jenius Oswald Whsitler akan menampilkan mahakarya terakhirnya. Tapi ketika mereka berada disana, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang dibayangkan. Opera itu berubah menjadi sebuah permainan teka-teki yang menakutkan dimana pemenang dari teka-teki itu akan mendapatkan kehidupan abadi. Kunci dari misteri ini terletak dalam kehidupan abadi, dimana rival berat sang profesor berada dibalik misteri tersebut. Mampukah Profesor Layton memecahkan teka-teki tersebut dan menyelamatkan nyawa rekan-rekannya, termasuk nyawa Janice yang di luar dugaan menyimpan banyak rahasia?
Professor Layton and the Eternal Diva merupakan adaptasi sebuah game yang berhasil. Unsur-unsur dalam game terbawa baik ke dalam alur cerita film, membuat sosok Profesor Layton menjadi lebih hidup. Teka-teki yang dihadirkan mungkin tidak sebanyak dalam movie Detective Conan, akan tetapi mampu merasuk di sepanjang film, menjadi sebuah esensi yang lekat dengan film secara keseluruhan. Ceritanya terbilang baru, sangat orisinil dengan banyaknya unsur drama yang membuat film ini menjadi sebuah animasi drama yang sangat menyentuh. Hal ini semakin menjadi lengkap dengan musik latar yang begitu klasik menggambarkan setiap suasana yang ditampilkan. Tak hanya drama, film ini juga menyajikan adegan aksi yang keren dan menegangkan, sebagaimana tergambar dalam duel antara Profesor Layton melawan Descole. Kualitas gambarnya pun sangat bagus, dengan gaya penggambaran yang baru sehingga memiliki ciri khas tersendiri dibanding film-film animasi lainnya. Penggambaran karakternya unik, khususnya pada tokoh-tokoh wanita yang terlihat cantik, imut, serta elegan walaupun penggambaran tokoh prianya berbanding terbalik dan lebih banyak ditemui karakter pria dengan hidung panjang dan badan yang tidak proporsional.
Jalan ceritanya yang penuh teka-tekinya akan membawa para penontonnya menjadi penasaran dari awal hingga akhir, dengan jalinan kisah yang sulit ditebak. Bagi penggemar serial game Professor Layton atau penggemar film animasi Jepang, film ini sangatlah sayang untuk dilewatkan…