Contoh Orang yang Membohongi Diri Sendiri

truthlies

Motivasi Tembak Langsung
CONTOH ORANG YANG MEMBOHONGI DIRI SENDIRI

1. Wanita yang meninggalkan kekasih yang dicintainya untuk laki-laki buruk sifat yang kaya, karena menurutnya jaminan ekonomi lebih penting daripada kebahagiaan.

2. Orang yang sebetulnya baik dan jujur, tapi menyuap untuk mendapatkan pekerjaan yang ada pensiunnya.

3. Membenci kekayaan karena tidak melihat kemungkinan dirinya bisa keluar dari kemiskinan.

4. Orang yang tahu dirinya malas dan tidak jujur, tapi menyalahkan Tuhan karena tidak memudahkan hidupnya.

5. Orang yang malas belajar dan suka menghindari pekerjaan, tapi ikut seminar motivasi untuk membangun harapan besar untuk menjadi orang kaya.

6. Orang yang jujur dan taat beribadah, tapi bekerja di perusahaan dengan tugas menghibur dan menyuap pejabat yang korup.

7. Memaksakan diri untuk setia kepada orang yang tidak setia, karena meyakini bahwa cinta adalah pengorbanan.

8. Menangis meraung-raung saat dikhianati oleh kekasih palsunya, tapi tetap meyakini bahwa cinta tidak harus memiliki. Cinta harus memiliki, titik!

9. Merasa iri dan mencibir kesejahteraan hidup orang lain, sambil menasihati diri yang kekurangan, bahwa kekayaan dunia tidak penting.

10. Meneruskan kebiasaan buruk, karena meyakini hidup mati di tangan Tuhan. Padahal, kesehatan baik bagi yang memelihara kesehatan, dan kesehatan buruk bagi yang mendustakan nikmat Tuhan yang satu itu – yang namanya kesehatan.

Iklan

Sampai Jumpa Kawan PLN…

 Tutup 
“Aku tahu hari ini pasti akan datang, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini…”
Hari Jum’at 3 Agustus 2012 lalu adalah hari yang begitu berkesan bagiku. Jum’at itu adalah hari terakhirku bekerja di PLN Bontang sebagai petugas bank yang menghubungkan PLN Bontang dengan bank rekanan tempatku bekerja, Bukopin Samarinda. Terhitung satu tahun lebih sudah aku bekerja disana, memulai karirku sejak lulus kuliah. Karir pertamaku dimulai dengan bekerja di perusahaan instansi lain, bukan di perusahaanku sendiri, membuatku terkadang bingung bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang menempatkan diriku dalam dua kepentingan yang berbeda. Di satu sisi aku digaji oleh bank tempatku bekerja, namun di satu sisi aku harus mengutamakan kepentingan nasabahku dalam hal ini PLN Bontang. Dua kepentingan ini saling berbenturan, membuatku sulit menempatkan diri tapi pada akhirnya aku mampu menikmatinya.Sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk berhenti bekerja, akan tetapi peristiwa yang begitu cepat terjadi membuatku harus membuat pilihan antara tetap bekerja di PLN Bontang/Bukopin Samarinda atau mengambil tantangan pekerjaan baru, wartawan di media lokal kota ini. Sehari sebelum umurku genap dua puluh empat tahun, aku melihat iklan lowongan pekerjaan pada sudut halaman media tersebut. Pekerjaan yang ditawarkan adalah wartawan, sebuah profesi yang merupakan cita-citaku sejak aku masih kecil dulu. Menjadi wartawan adalah keinginanku, itulah yang menyebabkan aku mengambil prodi Ilmu Komunikasi saat kuliah dulu. Karena itulah aku pun langsung tertarik untuk mencoba melamar, walaupun awalnya hanya sekedar iseng saja dan tidak terlalu berharap banyak. Toh pekerjaanku di PLN Bontang juga sudah sangat nyaman.Tapi apa lacur? Yang terjadi berikutnya sungguh membuatku sakit kepala. Aku mendapatkan panggilan wawancara, padahal setelah aku cek ternyata kopian ijazah dan transkrip nilaiku tertinggal terlupa kumasukkan ke dalam amplop lamaran. Hal ini membuatku heran mengingat dalam keterangan lowongan tersebut tertulis bahwa hanya berkas yang lengkap sajalah yang akan mendapat panggilan. Kemudian berikutnya aku terpikir bahwa kemungkinan hal ini dikarenakan contoh tulisanku yang aku sertakan dalam lamaran tersebut. Dalam persyaratan lowongan itu tertulis untuk menyertakan contoh tulisan apabila ada, sehingga aku terpikir untuk menyertakan beberapa tulisanku yang pernah kutulis di blog Navilink47 ini. Dan yeah, ternyata itulah yang menjadi pertimbangan pihak media yang kulamar. Karena dalam wawancara tersebut, sang manajer berkata, “Bila ini benar-benar tulisanmu, maka saya menaruh harapan besar padamu.”Aku diterima bekerja di media tersebut dan Senin berikutnya sudah bisa mulai bekerja. Akan tetapi aku menjadi bimbang. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku sekarang, terlebih lokasi kantor perusahaan bankku yang terpisah kota. Maka melalui pembicaraan yang alot, aku meminta kelonggaran waktu selama satu minggu untuk mengurus proses pengunduran diriku dari bank yang selama satu tahun ini telah membayarku. Pihak media tersebut memberikan izin dengan batasan tersebut, dimana pada Senin berikutnya aku harus sudah bekerja disana atau kalau tidak aku dianggap menolak tawaran pekerjaan tersebut. Dan hitungan mundur pun dimulai… minggu terakhir di PLN Bontang.

Jum’at itu, di pagi harinya setelah pembacaan do’a pagi, aku berpamitan pada para pegawai PLN Bontang. Kalimat-kalimat perpisahanku terdengar begitu emosional, dimana kurasakan tubuhku bergetar. Pada akhirnya hari ini pun tiba, hari dimana aku mengucapkan kata-kata perpisahan. Beberapa pegawai PLN Bontang tampak sedih, beberapa tampak biasa saja, sementara beberapa yang lain termasuk manajer PLN Bontang yang baru memberikan semangat kepadaku. Sungguh berat sebenarnya berpisah dengan kawan PLN Bontang yang sudah menemaniku selama satu tahun pertamaku di kota Bontang. Sudah banyak kenangan yang terjadi di tempat ini, membuatku merasakan perasaan sedih tak ingin berpisah. Walaupun banyak sentimen yang kuhadapi selama bekerja di tempat ini terutama yang berhubungan dengan perusahaan tempatku bekerja, namun banyak juga momen indah yang terukir. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama bekerja sebagai perpanjangan tangan Bank Bukopin di PLN Bontang, yang tak kupungkiri itu membentuk karakterku. Itulah yang membuatku merasa bangga dan bersyukur pernah bekerja di dalam ruang kerja PLN. Aku bisa melihat jelas bagaimana para pegawai PLN yang seringkali dicaci karena pemadaman listrik itu bekerja, sebuah kesempatan yang sangat langka. Aku ingat bagaimana pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini, seminggu sebelum ulang tahunku yang keduapuluh tiga. Keberadaanku saat itu sulit untuk diterima, mengingat PLN Bontang tidak menyambut baik kerjasama mereka dengan Bank Bukopin yang ditentukan oleh PLN pusat. Wajar saja bila mereka berkeberatan dengan kerjasama ini mengingat belum ada kantor cabang atau capem Bank Bukopin di kota Bontang. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku ditempatkan di PLN Bontang, sebagai “bank mini”, perpanjangan tangan dengan Bukopin Samarinda. Jabatanku adalah petugas Sistem Administrasi Satu Atap yang kalau disingkat menjadi… SAMSAT

tempat kerja
Tempat kerjaku di PLN Bontang sebelum OPI

Pada semester awal, pekerjaanku bisa dibilang cukup berat. Aku menanggung resiko yang cukup besar dengan membawa uang tunai puluhan juta Rupiah tanpa dukungan keamanan sedikit pun. Syukurlah pada semester berikutnya pekerjaanku menjadi lebih ringan setelah muncul kebijakan di pihak PLN yang melarang penarikan secara tunai. Seluruh transaksi yang dilakukan oleh PLN diharapkan untuk dilakukan secara sistematik melalui aplikasi keuangan yang meminimalkan peredaran uang secara kasat mata. Rutinitas berikutnya menjadi semakin membosankan dari hari ke hari, membuatku mulai terpikir untuk mencari tantangan baru. Memang ada kalanya aku menjadi sangat sibuk dan sangat pusing dengan pekerjaanku, namun seringkali aku begitu santai karena sama sekali tidak ada pekerjaan selama beberapa hari. Meski begitu aku tak hanya menangani transaksi PLN pada rekanan mereka saja, namun aku juga melayani nasabah yang terdiri dari pegawai PLN Bontang yang menanyakan tentang produk perbankan kami, atau yang mengurus hal-hal terkait produk kami tersebut. Hal ini membuatku sering berhubungan dengan banyak orang, bertemu dan menghadapi karakter nasabah yang berbeda-beda. Disinilah aku merasakan peranku sebagai petugas bank dan perlahan menikmatinya, berikut setiap permasalahan yang terjadi yang membuat kepalaku terasa pening.

Karena itulah aku sempat bingung untuk memutuskan, apakah tetap bertahan bekerja di PLN Bontang sebagai petugas Bank Bukopin, atau menerima tawaran pekerjaan di media lokal kota Bontang, Bontang Post. Aku menimbang baik dan buruknya, serta tidak segan pula menerima saran dari kerabat maupun sahabat walaupun keputusan pada akhirnya tetaplah ada di tanganku. Di satu sisi aku sudah merasa sangat nyaman berada di PLN Bontang dengan segala problematikanya, namun di satu sisi kenyamanan itu membuatku merasa bosan dan merasakan tidak ada perkembangan yang berarti dalam hidupku selama satu tahun ini. Bosan, stagnan, tidak ada tantangan, tidak ada progress. Sementara apabila aku bekerja di harian lokal itu, maka hari-hariku akan dipenuhi oleh kesibukan dan akan menjadi tidak senyaman dulu lagi. Bila dibandingkan dengan pekerjaan di bank, tentunya materi sebagai petugas bank jauh lebih menjanjikan. Namun pertimbangan pengalaman dan perwujudan keinginan membuatku condong memilih tawaran ini. Kesempatan ini sendiri mungkin hanya akan datang satu kali saja. Pada akhirnya kutetapkan untuk keluar dari zona nyaman, mencari pengalaman baru, menghadapi tantangan baru, mewujudkan impianku.

Pedabon
Saat sosialisasi OPI PLN Bontang
(nomor dua dari kanan)

Keputusanku ini sembat mendapat respon keras dari pihak bank tempatku bekerja, dari bagian marketing yang posisinya hampir sama denganku. Dia berkata, “Orang itu kalau ganti sandal mestinya dapat sandal baru yang lebih bagus, bukannya malah dapat sandal buluk.” Kata-kata itu sempat membuatku memikirkannya kembali dengan begitu keras, membuatku sakit kepala. Belum lagi omongan dari bibi dan sepupuku yang begitu tajam menghujam jantungku. Tapi tidak melulu respon seperti itu yang kudapatkan dalam minggu terakhirku bekerja di PLN Bontang, respon positif juga kudapatkan di antaranya dari pejabat SDM PLN Bontang yang ingin melihatku berkembang dengan potensiku serta dari manajer baru PLN Bontang sekalipun yang begitu menerima keberadaanku, sangat berbeda dengan manajer lama yang begitu tidak menghargaiku. Ayah tiriku sendiri mendukung keputusanku ini, sementara kakak iparku yang sebelumnya menyarankan untuk menolak pekerjaan baru justru berbalik memberikan dukungan. Yeah, bagaimanapun ini adalah kehidupanku, akulah yang menentukannya sendiri. Karena keputusan akulah yang menentukannya sendiri, maka aku tidak akan lagi menyalahkan orang lain siapapun itu.

Malam harinya teman-teman PLN mengajakku untuk makan-makan di tempat tongkrongan kami biasanya di Bontang Kuala yang didedikasikan sebagai malam perpisahan denganku. Disana aku mengenang saat-saat pertemuan pertamaku dengan mereka, serta kenangan-kenangan yang telah kami alami bersama. Berat dan sedih rasanya berpisah dengan mereka, namun setiap pertemuan pastinya akan berujung perpisahan pula. Yang pasti kenangan bersama mereka tidak akan pernah terlupakan. Saat-saat itu akan selalu terkenang, walaupun mungkin aku mengatakan lupa. Aku pastinya akan merindukan mereka. Sebuah pengalaman berkesan bersama kawan-kawan PLN… yang handal dan kompeten dalam bidang mereka masing-masing. Aku yakin di bawah kepemimpinan manajer yang baru, PLN Bontang akan sanggup menjadi yang lebih baik lagi ke depannya, menjadi yang terbaik. Aku pun berharap penggantiku kelak, siapapun dia akan bisa bekerja lebih baik lagi dari yang selama ini aku kerjakan, akan bisa melanjutkan bentuk kerjasama emosional yang terjalin antara PLN Bontang dengan Bukopin Samarinda.

teman
Kawan-kawan Bukopin Samarinda yang gokil-gokil…

Dan hari Jum’at itu aku resmi meninggalkan PLN Bontang diantarkan kalimat perpisahan dari manajer baru PLN Bontang, resmi pula meninggalkan Bank Bukopin Samarinda setelah sehari sebelumnya sempat bertemu dan berbicara dengan manajer Bukopin Samarinda yang datang ke Bontang. Tak lupa pula aku berpamitan dengan Mbak Kiki dan Mbak Rita yang selama ini membantuku melalui telepon. Meskipun aku tidak bekerja di tempat yang sama dengan Mbak Kiki dan rekan-rekan Bank Bukopin Samarinda lainnya, namun aku bangga bisa bekerja mewakili mereka disini, di PLN Bontang. Mereka orang-orang yang baik, dimana mereka memperlakukanku dengan baik walaupun mereka tidak mengenalku secara langsung, sebagaimana yang terlihat jelas saat aku menghadiri family day waktu itu. Aku juga pastinya akan merindukan mendengar suara mereka yang begitu ramah walaupun tengah mendapat omelan dari nasabah sekalipun… Salut untuk mereka semua, pegawai Bank Bukopin Samarinda.

Aku akan menghadapi dunia baru, pekerjaan baru yang pastinya akan penuh tantangan. Aku tidak tahu secara pasti apa yang telah menungguku di depan sana, di hari esok yang penuh ketidakpastian. Aku tidak tahu bagaimana dan tidak memiliki gambaran pasti bagaimana nantinya pekerjaanku yang baru sebagai kuli tinta. Bisa dibilang aku sedang bertaruh, bisa dibilang aku mempertaruhkan banyak hal untuk ini, untuk sekedar mewujudkan keinginan masa kecil selagi aku mampu dan mendapatkan kesempatan untuk itu. Tak hanya materi yang kupertaruhkan, namun juga perasaanku dan juga kepercayaan. Aku telah banyak mengambil resiko untuk ini dan aku berani gagal untuk hal ini pula. Aku bertaruh pada nasib demi idealisme. Aku tidak bisa hanya berdiam di satu titik, aku harus terus bergerak. Karena bagiku… hidup tidak akan pernah sama…

Sampai jumpa lagi kawan PLN…. Sukses selalu untuk kalian…


“Lukman, cita-cita kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Aku… Aku ingin menjadi wartawan…”
“Kenapa?”
“Karena wartawan bisa bertemu dengan banyak orang…”
“Bisa ketemu orang mati dong?”
“…………………..”

Nabi Muhammad di Mata Para Tokoh Dunia

muhammad

1. Mahatma Gandhi (komentar mengenai karakter Muhammad di Young India)

“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia. Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.

2. Sir George Bernard Shaw, dalam bukunya “The Genuine Islam”

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa, beberapa ratus tahun dari sekarang, Islamlah agama tersebut.

Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sebagai sosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil “sang penyelamat kemanusiaan”.

“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan yang sedemikian rupa hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia. Menurutku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.

Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.

Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 Masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 tahun dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan menuju keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal transformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit, hanya dua dekade.”

3. Michael H. Hart, dalam bukunya “The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History”

“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama (hal. 33). Lamar Tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: ‘Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.’

Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa. Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan keghaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filosof yang juga seorang orator, prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pengembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”

4. Lamar Tine, dalam bukunya “Histoire De La Turquie”

“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang-orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.

Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya. Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu.

Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut. Hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”

5. K. S. Ramakrishna Rao, dalam bookletnya “Muhammad, The Prophet of Islam”

“Kepribadian Muhammad, sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad sang Nabi, Muhammad sang pejuang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu, Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.

Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.”

6. Profesor (Snouck) Hurgronje

“Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.

Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan; menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.”

7. Thomas Carlyle, dalam bukunya “His Heroes And Heroworship”

“Betapa menakjubkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Badui) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade.

Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa masih ada saja orang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.

Saudaraku, apakah kalian pernah menyaksikan, dalam sejarah, seorang pendusta yang mampu menyampaikan sebuah agama yang sedemikian kokoh dan menyebarkannya ke seluruh dunia? Saya yakin bahwa manusia harus bergerak sesuai dengan UU dan logika. Jika tidak maka ia tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Mustahil bahwa manusia besar ini adalah seorang pembohong. Karena pada kenyataannya, kebenaran dan kejujuran adalah dasar semua kerjanya dan pondasi semua sifat utamanya.

Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya. Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selainnya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas.

Hati manusia mulia putra padang pasir ini penuh dengan kebaikan dan kasih sayang. Ajaran-ajarannya terjauh dari semangat egoisme, dan pandangan-pandangannya bersih dari ketamakan kepada pangkat kedudukan duniawi. Saya mencintai Muhammad dengan segenap wujud, karena seluruh wataknya sangat jauh dari tipu muslihat dan basa-basi.”

8. Gustav Lebon, cendekiawan Perancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”

Seperti yang ditulisnya, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

9. Will Durant, sejarawan AS, dalam dua buku sejarahnya, juga memuji Muhammad Rasul Allah.

Ia menulis, “Kita harus katakan bahwa Muhammad adalah tokoh sejarah terbesar. Ketika memulai dakwahnya, negeri Arab adalah sebentang padang pasir kering dan kosong, yang di beberapa kawasannya dihuni oleh sejumlah kaum Arab penyembah berhala. Jumlah mereka kecil tapi perselisihan diantara mereka sangat banyak.

Akan tetapi ketika beliau wafat, penduduk Arab ini pula telah muncul sebagai umat yang bersatu dan kompak. Beliau menghapus segala macam khurafat dan fanatisme dan menyuguhkan sebuah agama dyang sederhana tapi kokoh dan terang benderang yang dibangun di atas dasar keberanian dan kemuliaan. Kitab beliau adalah Al-Quran dan tak ada kitab lain yang mampu menandinginya dari segi kekuatan pengaruh dan daya tariknya.”

10. John Diven Port, cendekiawan Inggris.

Ia menyatakan penyesalannya terhadap sikap tendensius terhadap Nabi Islam. Dalam bukunya yang ia tulis berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW, dengan segala kejujuran dan kecintaan yang mendalam kepada Nabi, ia berusaha membersihkan segala macam kedustaan dan tuduhan negatif dari kehidupan Nabi Muhammad, dan mengajak orang-orang sesat ini untuk merenung dan berpikir dengan benar.

Diven Port menulis, “Dari segi keindahan dan kebaikan watak dan perilaku, Muhammad memiliki keistimewaan yang sangat tinggi. Mereka yang tidak memiliki watak-watak seperti inilah yang memandang beliau sebagai sesuatu yang tak bernilai.

Sebelum memulai ucapannya, beliau telah menarik para pendengar beliau, baik satu orang atau banyak, dengan akhlak dan peringainya yang sangat mulia. Wajah beliau memancarkan kewibawaan sekaligus daya tarik yang amat kuat. Senyumnya yang indah takpernah lepas dari bibir beliau. Pada akhirnya, hal-hal lembut dan menarik selalu beliau masukkan dalam tutur kata beliau, memaksa setiap orang memujinya. Oleh sebab itulah beliau dikenal sebagai tokoh agama yang paling langka di dunia.”

11. Dosun, penulis Perancis, dalam bukunya “Muhammad dan Islam”

“Pada umumnya, warga Perancis tidak menaruh minat kepada pembahasan masalah-masalah keagamaan. Akan tetapi, mereka yang taat beragama dan pemikir Perancis, memiliki pandangan lain kepada Islam. Hakekatnya ialah bahwa kemunculan Islam dan penyebarannya termasuk diantara hasil karya besar dan amat penting sejarah manusia. Di akhir abad ketujuh Islam mampu merambah ke Suriah, Iran, Mesir dan dunia Arab, dan menyebar di seluruh Afrika Utara, serta menguasai seluruh pulau-pulau di laut Mediterania, kemudian masuk pula ke India dan Cina. Saat ini Islam telah memberikan pengarunya yang luas dalam peradaban dunia serta dalam politik kontemporer. Keberhasilan perjuangan Muhammad saaw, dalam menggeser UU yang berlaku di negara-negara Asia, padahal mereka termasuk diantara negara terkuno di dunia, serta ketahanan UU Islam ini selama berabad-abad, merupakan bukti terbaik yang menunjukkan kebenaran tokoh ini dan keistimewaannya yang langka.”

12. Edward Gibbon dalam pidatonya yang bertajuk “Profession of Islam”

“Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama.”

13. Simon Ockley dalam bukunya “History Of The Saracen Empires”

“Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan dan demikianlah juga setiap tindakannya.”

14. Sarojini Naidu, penyair terkenal India (S. Naidu, Ideals of Islam)

“Inilah agama pertama yang mengajarkan dan mempraktekkan demokrasi; di setiap masjid, ketika adzan dikumandangkan dan jamaah telah berkumpul, demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut berdampingan dan mengakui; Allah Maha Besar. Saya terpukau lagi dan lagi oleh kebersamaan Islam yang secara naluriah membuat manusia menjadi bersaudara.”

15. James A. Michener dalam bukunya “Islam: The Misunderstood Religion”

“Muhammad, seorang inspirator yang mendirikan Islam, dilahirkan pada tahun 570 masehi dalam masyarakat Arab penyembah berhala. Yatim semenjak kecil, dia secara khusus memberikan perhatian kepada fakir miskin, yatim piatu dan janda, serta hamba sahaya dan kaum lemah. Di usia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses, dan menjadi pengelola bisnis seorang janda kaya. Ketika mencapai usia 25, sang majikan melamarnya. Meski usia perempuan tersebut 15 tahun lebih tua Muhammad menikahinya dan tetap setia kepadanya sepanjang hayat sang istri.

Seperti halnya para nabi lain, Muhammad memulai tugas kenabiannya dengan sembunyi-sembunyi dan ragu-ragu karena menyadari kelemahannya. Tapi “membaca” adalah perintah yang diperolehnya, dan keluarlah dari mulutnya satu kalimat yang akan segera mengubah dunia: Tiada tuhan selain Allah.

Dalam setiap hal, Muhammad adalah seorang yang mengedepankan akal. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal disertai gerhana dan menimbulkan anggapan ummatnya bahwa hal tersebut adalah wujud rasa belasungkawa Tuhan kepadanya, Muhammad berkata: ‘Gerhana adalah sebuah kejadian alam biasa, adalah suatu kebodohan mengkaitkannya dengan kematian atau kelahiran seorang manusia.’

Sesaat setelah ia meninggal, sebagian pengikutnya hendak memujanya sebagaimana Tuhan dipuja, akan tetapi penerus kepemimpinannya (Abu Bakar -red) menepis keingingan ummatnya itu dengan salah satu pidato relijius terindah sepanjang masa; ‘Jika ada diatara kalian yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal. Tapi jika Allah yang hendak kalian sembah, ketahuilah bahwa Ia hidup selamanya.’”

16. W. Montgomery Watt dalam bukunya “Mohammad At Mecca”

“Kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur hebat yang digambarkan begitu buruk di Barat selain Muhammad.”

17. Annie Besant, dalam bukunya “The Life And Teachings Of Muhammad”

“Sangat mustahil bagi seseorang yang memperlajari karakter Nabi Bangsa Arab, yang mengetahui bagaimana ajarannya dan bagaimana hidupnya untuk merasa kan selain hormat terhadap beliau, salah satu utusan-Nya. Dan meskipun dalam semua yang saya gambarkan banyak hal-hal yang terasa biasa, namun setiap kali saya membaca ulang kisah-kisahnya, setiap kali pula saya mersakan kekaguman dan penghormatan kepada sang Guru Bangsa Arab tersebut.”

18. Bosworth Smith, dalam bukunya Mohammad And Mohammadanism

“Dia adalah perpaduan Caesar dan Paus; tapi dia adalah sang Paus tanpa pretensinya dan seorang caesar tanpa Legionnaire-nya: tanpa tentara, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pengahasilan tetap; jika ada seorang manusia yang pantas untuk berkata bahwa dia-lah wakil Tuhan penguasa dunia, Muhammad lah orang itu, karena dia memiliki kekuatan meski ia tak memiliki segala instrumen atau penyokongnya.”

19. John Austin, dalam bukunya “Muhammad the Prophet of Allah”

“Dalam kurun waktu hanya sedikit lebih dari satu tahun, ia telah menjadi pemimpin di Madinah. Kedua tangannya memegang sebuah tuas yang siap mengguncang dunia.”

20. Professor Jules Masserman

“Pasteur dan Salk adalah pemimpin dalam satu hal. Gandhi dan Konfusius pada hal lain serta Alexander, Caesar dan Hitler mungkin pemimpin pada kategori kedua dan ketiga (reliji dan militer -red). Jesus dan Buddha mungkin hanya pada kategori kedua. Mungkin pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, yang sukses pada semua kategori tersebut. Dalam skala yang lebih kecil Musa juga melakukan hal yang sama.”

———————————–

Sumber: Fimadani

Dua Puluh empat

Gambar ucapan ulang tahun dari salah seorang penggemarku… #PLAK!

(Artikel bulan Juli yang kupindah dari blog utamaku yang akan segera digusur)

Hari ini, 18 Juli 2012 adalah hari yang istimewa… well, tidak terlalu istimewa sih, malah justru biasa-biasa aja karena aku bukan lagi anak kecil yang menganggap hari ini adalah hari yang istimewa…. Hari ulang tahun.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada ulang tahun kali ini aku sama tidak berkumpul bersama keluargaku, sendirian di hari dimana umurku kini dua puluh empat tahun. Aku benar-benar tidak menyangka bila kini usiaku sudah sebanyak itu… menyiratkan aku sudah semakin tua dan kesempatanku semakin berkurang. Meski begitu aku bersyukur masih diberi nafas oleh Tuhan untuk menjejak pagi, menghirup panas matahari hingga hari sekarang.

Satu tahun yang lalu tepat di tanggal ini mungkin meninggalkan kesan sendiri, karena hari itu adalah hari pertamaku bekerja di tempatku saat ini seorang diri setelah sebelumnya ditemani selama satu minggu oleh rekanku. Bila mengingat hal itu membuatku tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Aku memulai episode baru dalam kehidupanku di dunia kerja tepat di hari ulang tahunku! Seakan aku terlahir kembali, sesuai dengan tanggal lahirku. Kini satu tahun terlewati sejak hari itu, menambahkan satu angka, menggenapkan umurku menjadi 24.

Sebenarnya tahun kemarin aku tidak melewati ulang tahunku sendirian, karena aku ingat kakak sepupuku mengajakku pergi ke Bontang Kuala. Malam itu kami duduk bersama di tepian laut, memandang rembulan malam sambil bercerita panjang lebar mengenai kehidupan kami berdua. Bagiku itu sudah cukup menjadi hiburan, mengingatkanku kembali pada suatu tempat yang dulu selalu kukunjungi bersama almarhum ayahku. Sungguh, rasanya saat duduk di tepian desa atas laut itu benar-benar mengembalikan memoriku perlahan, walaupun gambarannya tidak terlalu jelas. Yeah, aku masih sangat kecil saat meninggalkan kota kelahiranku ini dulu.

Kini, satu tahun telah berlalu dan kembali aku menjalani kehidupan baru, seminggu sebelum hari ini tiba. Untuk kali pertama selama bekerja, aku tinggal menetap sendiri, tanpa bergantung pada orang lain. Tujuh Juli kemarin, melalui tekad yang kuat disertai tindakan nekat, aku memutuskan keluar dari rumah Pamanku, memutuskan untuk idekost, belajar hidup mandiri. Aku memiliki prinsip untuk terus bergerak, sebagaimana yang tertuang dalam slogan blogku ini, “Life will Never be the Same”, hidup tidak akan pernah sama. Aku tidak mau berada dalam kondisi stagnan tanpa perkembangan. Satu tahun telah berlalu sejak pertama kali aku bekerja, maka aku ingin ada perubahan dalam hidupku. Bila selama satu tahun sebelumnya aku hidup menumpang, maka pada tahun kedua ini aku ingin hidup mandiri. Yeah, sebenarnya sih masih tetap menumpang, yaitu menumpang di kostan orang, tapi paling tidak aku tidak lagi merepotkan orang lain. Jujur aku sudah jengah hidup menumpang, aku harus hidup mandiri, dan bila aku tidak bisa melakukannya sekaligus, maka aku akan melakukannya secara bertahap. Tahun kemarin aku menumpang, tahun ini aku indekost, tahun depan pasti ada rencana lain untukku. Dalam hidup harus ada perkembangan!

Sebenarnya aku masih ingin tinggal menumpang di rumah Pamanku agar aku bisa menabung untuk membeli barang-barang yang kuinginkan. Akan tetapi situasinya seakan tidak mengizinkanku bertahan di rumah itu. Aku tidak bisa tenang tinggal di rumah tersebut, membuatku sering keluar rumah berjalan kaki tak tentu arah. Selain sinisme kebencian, pertengkaran yang kerap kali terjadi membuatku jengah. Aku hampir tidak mendapatkan ketenangan, khususnya apabila aku lelah bekerja. Memang aku tidak terlibat dalam pertengkaran itu, tapi mendengarkan teriakan-teriakan yang seakan selalu terjadi setiap hari membuat kepalaku sakit. Secara tidak langsung aku terkena efek dari pertengkaran mereka. Keluhan-keluhan yang juga hampir setiap hari terlontar membuatku semakin tidak tenang, memberikan efek pesimis yang membahayakan bagiku. Yeah, hidupku terasa begitu pesimis saat tinggal menetap disana. Kini aku telah tinggal seorang diri, tidak lagi menumpang seperti sebelum-sebelumnya, membuatku merasa sedikit optimis. Hidup memang harus dijalani dengan optimisme, bukan dengan pesimisme yang membuat kita menjadi menyedihkan. Tentu ada harga tersendiri yang harus dibayar untuk keputusanku ini, yaitu aku akan kesulitan menabung karena biaya kost dan biaya hidup harus membuatku bisa berpikir keras demi berhemat. Meski begitu biaya pengorbanan itu kuanggap pantas untuk mendapatkan yang kuinginkan, yaitu ketenangan. Setiap keputusan penting yang berhubungan dengan perbaikan pasti perlu pengorbanan, dan aku paham mengenai hal itu. Ini adalah keputusanku, aku harus bangga dan menjalani apapun yang terjadi.

Jadi tahun kedua di kota Bontang, di umurku yang ke-24 ini aku akan menjalaninya kehidupan baru yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam kesendirianku ini aku belajar untuk hidup mandiri, belajar bagaimana menjalani kehidupan seorang diri demi suatu masa di depan yang pastinya telah menungguku. Suatu hari kelak aku pasti akan menikah, entah dengan siapa itu. Karena itulah sebelum aku bisa mengurus orang lain, mengurus anak manusia yang akan mengabdikan dirinya kepadaku, aku harus terlebih dahulu bisa mengurus diriku sendiri. Kini aku tidak akan bergantung pada orang lain, aku akan melangkah dalam keinginanku sendiri karena inilah kehidupanku! Akulah yang menjalaninya!

Dalam hitungan mundur, sebenarnya aku sedang berada dalam detik-detik menuju tahun berikutnya dimana umurku menjadi lengkap seperempat abad. Yeah, di umurku tersebut telah ada sebuah keinginan yang menungguku, menunggu untuk dapat terwujud. Menikah. Itulah yang telah sangat diharapkan oleh ibuku, oleh nenekku, dan oleh saudara-saudaraku. Sebagaimana yang dilakukan oleh ayahku dulu. Umur 25. Sayangnya, calon pengantinku telah pergi meninggalkanku… bidadari itu telah pergi meninggalkanku, tidak sanggup menungguku terlalu lama. Aku sangat sedih atas kepergiannya, namun tentunya aku harus tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana bagi makhluk-Nya. Dia mungkin bukan jodohku, Tuhan mungkin telah menyiapkan yang lebih baik untukku kelak, yang harus kuperjuangkan agar bisa kudapatkan. Semua pasti akan indah pada waktunya.

Dua puluh empat tahun ya… benar-benar tidak terasa. Tidak, maksudku aku merasakannya. Aku merasakan perubahan yang terjadi berangsur-angsur dalam hidupku yang fana ini. Aku mengalaminya sendiri, bagaimana seorang Lukman Maulana, seorang lelaki yang egois, kesepian, namun tampan ini melewati hari-hari penuh lika-liku yang sedikit demi sedikit membentuk karakternya. Ibarat seekor Komodo yang langka dan beracun… yang kurasa sangat tepat mewakili karakterku. Yeah, walaupun awalnya nama Komodo bukan aku ambil dari nama binatang itu melainkan kuambil dari nama busway.
Ulang tahun sendiri bagiku adalah sebuah tahapan, yang akan selalu berubah, tidak akan pernah sama dari tahun ke tahun. Aku ingat benar bagaimana aku melewati hari ini beberapa tahun yang lalu. Aku ingat saat ayahku mengajakku makan besar di Bontang Kuring saat aku masih sangat kecil; aku ingat saat aku menangis merengek meminta dibelikan hadiah pada ibuku; aku ingat saat kakak dan adikku bersama sepupu yang lain menghajarku dengan tepung, air, telur, dan minuman ringan; aku ingat saat timnas Indonesia mengalahkan Qatar di Piala Asia; aku ingat saat tanteku menghadiahiku lembaran kertas merah; aku ingat saat aku bersama keluargaku membakar ikan di halaman belakang; aku ingat saat berlari penuh kemenangan saat membaca pengumuman kelulusan…. Aku ingat itu semua… aku ingat…

Ulang tahun baiknya dijadikan sebagai bahan renungan, sebagai bahan introspeksi diri atas apa yang telah berlalu. Mengingat kembali masa lalu bukanlah kesalahan, namun menjadi pembelajaran bagi masa depan… bagi masa yang serba tidak pasti, agar kita tidak kembali melakukan kesalahan, agar kita dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya. Bagiku ulang tahun bukanlah perayaan, bagiku ulang tahun adalah peringatan. Peringatan bahwa kita semakin tua, peringatan bahwa kesempatan kita sebenarnya semakin berkurang, peringatan bahwa kita mestinya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberi. Tidak banyak manusia yang seberuntung kita bila kita masih bernafas hari ini. Hidup adalah anugerah.

Untuk tahun ini ulang tahunku hampir bertepatan dengan kedatangan bulan suci umat Islam, bulan Ramadhan yang penuh berkah. Semoga di bulan Ramadhan kali ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih menghargai kehidupan. Bulan Ramadhan kali ini harus meninggalkan kesan dan harus bisa kujalani dengan sebaik-baiknya. Karena bulan ini adalah sebaik-baiknya bulan yang tidak semua orang beruntung bertemu dengannya. Bersyukurlah kaum Muslimin yang berkesempatan kembali bertemu dengan bulan ini, berbahagialah karena kebahagiaan kita menyambut bulan Ramadhan adalah bernilai pahala. Mari kita tingkatkan iman dan taqwa, jadikan hidup kita lebih berarti, dimulai dari Ramadhan kali ini. Semoga Tuhan selalu menyertai dan meridhoi niat-niat baik… Amin.

Selamat ulang tahun… diriku sendiri… 😉
Terima kasih untuk semua kawan yang telah menemaniku selama ini…
Marhaban ya Ramadhan…

Iseng kubuka surat kabar di meja salah seorang pegawai, sekedar ingin membaca berita hari ini. Saat membalik halamannya, mataku tertarik melihat kolom yang ada di bagian kanan bawah. Disana tertulis lowongan kerja untuk posisi…. Wartawan.

Korupsi itu Dekat

Gambar

Korupsi itu dekat? Yeah, ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Korupsi adalah kata yang lekat kita dengar di Negara tercinta kita ini, Indonesia. Kata ini sangat-sangat populer di negeri ini, hampir setiap hari bisa kita baca atau kita saksikan di media massa. Sebuah kata yang begitu berbahaya namun mendarah daging di Indonesia, sampai-sampai ada lembaga yang oleh ketua DPR disebut “Super Body”, yaitu KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Tidak bisa dipungkiri bahwa korupsi telah menjadi episode utama dalam drama kehidupan di Indonesia, yang karena kepopulerannya itu saya pikir saya tidak perlu menjelaskan lagi definisi dari kata tersebut. Korupsi memang tidak sebatas materi, namun yang akan saya bahas pada tulisan saya ini berkaitan dengan korupsi materi yang seolah sudah menjadi budaya bangsa dan menyapa kehidupan kita sehari-hari.
Kadang saya tidak habis pikir kenapa banyak pejabat kita yang tergoda untuk melakukan korupsi, yang kemudian membawa mereka ke meja hijau. Seharusnya sebagai aparat pemerintah yang bekerja untuk rakyat, mereka bisa berpikir bahwa korupsi membuat rakyat menderita, sehingga apabila kondisi ini terjadi akan terjadi pergolakan yang membahayakan negeri. Itu efek secara luas, belum lagi efek-efek lainnya yang saling berhubungan. Dalam segi agama, korupsi sama saja dengan mencuri, mengambil sesuatu baik sedikit ataupun banyak yang bukan merupakan bagian milik dari pelaku korupsi. Mencuri adalah dosa, sudah semestinya para pejabat yang katanya pandai dan beragama itu menyadarinya. Dengan nalar dan logika mereka pun seharusnya sudah bisa menahbiskan bahwa korupsi adalah kejahatan. Apakah mereka sudah begitu pandainya hingga berani menentang Tuhan dengan jelas-jelas melanggar perintah-Nya? Terlebih lagi jabatan adalah amanah, yang sudah semestinya tidak disalahgunakan dengan cara korupsi. Tidak menjalankan amanah adalah dosa, artinya pelaku korupsi memiliki dosa lainnya selain mencuri itu sendiri yaitu khianat, yang justru lebih menyedihkan dari korupsi. Lucunya, mereka yang lantang bicara anti-korupsi rupa-rupanya justru terjerat kasus korupsi, seperti salah seorang mantan menteri yang pernah menuliskan pembukaan untuk buku anti korupsi yang ditulis oleh tante saya, hingga yang terbaru dan begitu populer beberapa waktu ini, mantan Putri Indonesia yang terjerat korupsi wisma atlet.
Tapi sebenarnya bila bicara korupsi, itu tidak melulu terjadi di kalangan birokrasi pemerintahan, karena korupsi itu dekat dengan kehidupan masyarakat bahkan hingga tingkatan paling bawah seperti keluarga sekalipun. Korupsi bisa terjadi hampir di seluruh lembaga yang ada di Indonesia tanpa terkecuali. Tidak harus intansi pemerintah namun berlaku pula bagi perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan lembaga pendidikan dan agama yang mestinya terpercaya dengan intelijensia mereka juga bisa terjerat kasus korupsi. Contoh termutakhir adalah korupsi di departemen agama mengenai pengadaan Al-Qur’an. Padahal sebagai sebuah departemen yang menangani perihal agama, mereka adalah orang-orang yang lebih faham mengenai dosa bila dibandingkan masyarakat awam pada umumnya.
Pada akhirnya saya mengerti dan memahami kenapa orang Indonesia bisa tergoda untuk melakukan korupsi setelah mengalaminya sendiri secara langsung. Sabtu kemarin saya diminta untuk datang ke Samarinda, menghadiri acara perusahaan. Perusahaan saya mengatakan akan menanggung semua biaya perjalanan dan penginapan selama saya mengikuti acara tersebut, namun saya harus melampirkan pula bukti-bukti pembayarannya. Maka hari Jum’at malam saya berangkat dari Bontang ke Samarinda dengan menumpang bus tujuan Balikpapan. Tempat duduk telah habis terjual dan tempat telah penuh, namun kondektur bus mengizinkan saya naik dengan membayar setengah harga saja (umm… ini korupsi bukan ya? Hehehe… #PLAK!). Karena bus tersebut adalah bus terakhir malam itu, saya tidak punya pilihan selain menumpang pada bus tersebut. Praktis saya tidak mendapatkan tiket perjalanan untuk saya tunjukkan sebagai reimburse pada perusahaan saya. Tapi tidak apa-apa, anggap saja jalan-jalan biasa, toh sudah lama juga saya tidak pergi ke Samarinda, tidak memusingkan apakah nantinya biaya yang saya keluarkan akan diganti perusahaan saya atau tidak.
Setelah menempuh perjalanan yang memuakkan karena berkali-kali ingin muntah (dan akhirnya muntah juga saat busnya berhenti untuk istirahat sejenak di Perangat), saya pun tiba juga di Samarinda. Dari sana saya berjalan kaki menuju kantor perusahaan saya, mengupayakan bisa menginap disana malam itu untuk menghemat biaya. Akan tetapi kantor saya tertutup, terkunci rapat, membuat saya berpikir untuk mencari hotel terdekat untuk menginap malam itu. Pihak perusahaan sendiri sebelumnya telah mencarikan tempat penginapan di sekitar kantor perusahaan, namun rupanya hari itu semuanya penuh sehingga saya pun disuruh untuk mencarinya sendiri dengan syarat tarifnya tidak terlalu mahal dan tidak macam-macam. Biaya penginapannya sendiri nantinya akan digantikan oleh perusahaan saya sesuai bukti pembayaran. Awalnya saya berpikir untuk tidak menginap di hotel demi mengurangi pengeluaran perusahaan. Alternatifnya, saya merencanakan menginap di masjid terdekat. Namun karena tidak enak pada penduduk setempat serta demi kemudahan juga bagi saya nantinya, maka saya kemudian mulai berjalan menyusuri jalanan Samarinda mencari hotel atau penginapan dengan tarif murah di sekitar kantor perusahaan. Lagipula saya kan pegawai bank, tidak elit dong kalau tidak menginap di hotel! (PLAK!)
Saya beberapa kali masuk ke dalam hotel-hotel yang ada disana, namun kebanyakan kamarnya telah terisi penuh dan kamar yang tersisa memiliki tarif yang mahal sehingga membuat saya kembali berjalan mencari hotel yang sesuai. Saat beristirahat di sebuah langgar, saya bertemu dengan seorang warga yang memberikan informasi hotel bertarif murah. Maka saya pun berjalan kembali ke tempat yang dimaksud. Setibanya disana memang ada yang bertarif murah, namun fasilitasnya tidak mendukung ditambah penjaganya malah asyik tertidur, membuat saya meragukan kualitas hotel tersebut. Saya kembali lagi berjalan, bertanya pada pedagang jalanan di tengah malam buta, dimana waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Sang pedagang memberitahukan lokasi beberapa hotel murah di sekitar Pasar Pagi, yang langsung saja saya datangi. Namun sayang setibanya saya di hotel-hotel yang disarankan tersebut, pintu hotel-hotel itu telah terkunci, menandakan bahwa mereka tidak lagi menerima tamu. Saya mulai putus asa dan kembali memikirkan untuk menginap di masjid saja hingga kemudian saya melihat hotel lain di samping hotel-hotel tersebut. Berharap keberuntungan, saya pun masuk kesana. Rupanya penjaganya dan resepsionistnya tengah tertidur, namun mereka langsung terbangun saat saya masuk. Lagi-lagi kamar yang murah telah habis terisi, menyisakan kamar-kamar dengan tarif yang mahal. Saya pun putus asa dan mengatakan saya akan mencari hotel lain dengan getir pada penjaga hotel tersebut. Namun sang penjaga lalu menawarkan tarif murah sebagai pengecualian, mengenakan potongan dua puluh lima persen namun waktu check-out saya jadi lebih pendek, pukul enam pagi. Karena tidak punya pilihan dan menganggapnya sesuai, saya pun menerima tawaran itu dan menginap di hotel tersebut, langsung membayarnya di muka sesuai tarif yang ditawarkan. Saat saya menanyakan tentang bukti pembayaran, resepsionist menawarkan bon kosong, namun saya menolaknya dan meminta bukti pembayaran yang sesuai dengan tarif. Resepsionist mengatakan akan memberikannya saat check-out dan saya lalu diantarkan ke kamar. Praktis saya hanya beristirahat selama tiga jam saja di hotel tersebut, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Saya tidur begitu nyenyak dan terbangun dengan menyegarkan, merasakan tenaga saya kembali pulih terutama setelah mandi. Pukul enam lebih sedikit saya keluar dari kamar hotel untuk check-out sekaligus meminta bukti pembayaran. Sang resepsionist pun mengetikkan bukti pembayarannya dan memberikan kepada saya. Akan tetapi saya tercengang saat saya melihat nominal yang tertera pada bukti pembayaran itu tertulis sesuai dengan tarif asli, meskipun saya sudah membayarnya di muka dengan tarif yang mendapatkan potongan harga. Artinya, bila saya memberikan tanda bukti pembayaran tersebut kepada perusahaan, maka perusahaan akan menggantinya sesuai dengan tarif normal yang dikenakan atas kamar tersebut, bukan sesuai dengan tarif yang telah saya bayar, yang lebih murah dari tarif normalnya. Langsung saja saya tergiur jumlah yang akan saya terima bila saya memberikan bukti pembayaran tersebut. Saya akan bisa mendapat keuntungan senilai seperempat persen dari tarif normal!
Saya terdiam memandangi kertas bukti pembayaran itu. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengembalikan kertas itu dan meminta bukti pembayaran baru yang sesuai dengan tarif yang telah saya bayar. Sebagai seorang muslim yang dilatih dan terlatih untuk berbuat jujur, saya merasa tidak berhak menerima uang tersebut walaupun ada kesempatan besar di depan mata. Seperempat bagian itu mungkin jumlah yang kecil, namun sesungguhnya artinya sama besarnya dengan jumlah yang telah dikorupsi oleh para pejabat di negeri ini. Kecil atau besar, korupsi tetaplah korupsi, tidak pernah bisa dibenarkan sekalipun itu dilakukan secara berjamaah. Kalau sholat berjamaah memang sangat dianjurkan, tapi korupsi berjamaah jelas sangat salah. Ada-ada saja memang orang Indonesia, sukanya kok berjamaah untuk hal-hal yang jelek. Weleh-weleh…
Jadi kesimpulannya sama persis seperti yang diucapkan oleh Bang Napi bahwa kejahatan bisa terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! (PLAK!). Ya, kesempatan itulah yang membuat orang menjadi gelap mata dan tergoda untuk melakukan korupsi. Saat melihat sebuah celah yang bisa dimanfaatkan sebagai ladang untuk mengeruk materi, mata akan menjadi hijau oleh kilau dunia. Saat itu setan akan dengan senang membisikkan kata-kata manis demi menggoda manusia melakukan kesalahan, sebagaimana yang dilakukannya pada Adam dan Hawa. Disinilah pentingnya iman, sebagai penyaring atau gatekeeper untuk bisikan-bisikan sesat yang mampu membahayakan kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat kelak. Itulah kenapa ilmu dan kepandaian saja tidak cukup bila tidak dibekali oleh iman dan ketaqwaan kepada Sang Maha Hidup.
Itulah pengalaman pertama saya menemukan sebuah kesempatan emas untuk melakukan korupsi yang nyata tidak dapat dilacak kebenarannya. Pengalaman seperti ini sebelumnya hanya saya saksikan saja di media massa, dimana disana diberitakan mengenai para pejabat atau PNS nakal yang suka memalsukan laporan perjalanan dinas mereka, menjadikan korupsi semakin tumbuh subur di negeri nan kaya ini. Di hari yang sama pula saya menemukan sebuah fakta menarik mengenai korupsi, yang kemungkinan telah terjadi di perusahaan negara dimana saya ditempatkan bekerja saat ini. Hal ini saya ketahui berdasar perbincangan saya dengan rekan saya di perusahaan yang bekerja di bagian teknologi informasi. Sebelumnya perusahaan kami menawarkan semacam program pengelolaan keuangan yang cepat dan transparan kepada perusahaan rekanan dimana saya ditempatkan. Aplikasi tersebut awalnya ditolak oleh pemegang kekuasaan di perusahaan rekanan tersebut, yang kemudian terpaksa mengiyakannya karena perintah dari tingkatan perusahaan yang lebih tinggi. Padahal bila dipikirkan dengan baik, teknologi yang kami tawarkan adalah teknologi terstruktur yang akan memudahkan pengelolaan keuangan dan meningkatkan transparansi, mencegah korupsi. Dari situ tersirat bahwa masyarakat Indonesia sendiri belum siap untuk menerima dunia anti korupsi, masih suka dengan cara-cara lama yang sebenarnya merugikan bangsa, membuka celah korupsi. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Negara dan bangsa dirugikan karena korupsi, tapi sang pelakulah yang sebenarnya paling dirugikan bila kita bisa memahaminya secara baik. Jadi bila kita tidak mau merugi, janganlah sekali-kali melakukan korupsi. Say NO to KORUPSI, say YES to SEDEKAH!

Cerita Tentang Laptop

kucing-maen-mac
Beberapa hari ini aku tengah bingung memilih yang mana. Aku berniat membeli sebuah laptop, tapi bingung mau beli jenis yang mana, Notebook atau Netbook?Sebagai orang yang suka menulis, komputer atau laptop adalah kebutuhan. Aku sangat ingin memilikinya agar aku bisa langsung menuangkan ide-ide yang muncul di kepalaku ke dalam dokumen-dokumen office. Well, sebenarnya aku punya sebuah laptop pemberian tanteku ketika aku mengerjakan tugas akhir dulu. Akan tetapi laptop Toshiba sederhana yang pernah digadaikan untuk membiayai kuliahku itu sudah kuberikan kepada adikku. Adikku saat ini duduk di bangku kuliah, jadi kupikir dia lebih membutuhkannya dibandingkan diriku. Sebenarnya tanteku sudah mewanti-wanti padaku untuk tidak memberikan laptop itu pada adikku. Karena dalam pandangan tanteku, adikku itu pemalas dan tidak serius kuliah, berbeda dengan diriku, begitu kata beliau.  Meski begitu tetap saja laptop itu kuberikan kepada adikku, tentunya secara sembunyi-sembunyi karena tanteku (dan juga nenekku yang setuju dengan pemikiran tanteku) pasti akan marah bila aku ketahuan memberikan laptop itu pada adikku. Seburuk apapun sifat adikku, dia tetaplah adikku. Aku percaya kalau dia akan menggunakan laptop itu dengan benar, walaupun beberapa waktu kemudian dia menghancurkan CD Drive yang ada di laptop itu. TIDAAAKKK!!! Aku telah melakukan keputusan yang salah!!! (halah)

 

Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku memberikan laptop itu pada adikku, yaitu aku sudah bosan menggunakan laptop itu menurutku sudah sangat lemot dan ketinggalan jaman (kejamnya! Habis manis sepah dibuang! #PLAK!). Itulah kenapa saat akan pergi meninggalkan Jakarta seusai wisuda, aku menolak laptop itu saat tanteku menawarkannya padaku. Tawaran itu kemudian aku terima setelah aku berada di Kalimantan, saat aku kesepian dan butuh menuangkan ide-ideku ke dalam dokumen-dokumen word. Aku tidak menyangka kalau ternyata aku sangat membutuhkan laptop itu. Laptop itu pun dibawa oleh ibuku dari Jakarta dan rencananya akan dititipkan pada saudara yang akan pergi ke Kalimantan. Akan tetapi kemudian adikku meminta laptop itu untuk keperluannya kuliah, dan berkat bujukan ibuku, aku pun merelakan laptop itu untuk digunakan adikku dengan harapan aku dapat membeli laptop baru dengan hasil kerja kerasku sendiri. Dan rasa kesepianku pun berlanjut… 

Tidak memiliki laptop bukan berarti aku berhenti menulis. Disini, aku melakukan hobi menulisku, entah menulis cerita atau menulis blog, dengan meminjam netbook milik saudara sepupu atau menulis di komputer kantor. Akan tetapi sejak adik saudara sepupuku yang anak labil itu berseteru denganku, aku jadi tidak pernah lagi meminjam netbooknya. Satu-satunya jalan pun kini dengan menulis di komputer kantorku. Tentu saja ini masih tidak nyaman karena aku harus datang ke kantor untuk menggunakan komputer disana, mambuatku merasa tidak enak pada rekan-rekan yang lain karena sering sekali datang ke kantor di luar jam kerja. Tapi mau bagaimana lagi? Sebenarnya pernah pula aku meminjam laptop salah seorang rekanku, akan tetapi tetap saja laptop itu akan kukembalikan pula pada yang punya ditambah rasa takut kalau terjadi apa-apa dengan laptop tersebut. Jadi pada akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, yaitu aku harus memiliki laptop sendiri! Aku harus membeli laptop sendiri sesegera mungkin! 

Tekadku ini menjadi semakin kuat ketika aku berkunjung ke rumah salah seorang kawanku, seorang atlet lari kota Bontang. Aku begitu terkagum saat melihat isi kamarnya yang penuh dengan foto-foto lomba serta trophy dan piagam. Nomor dada juga tampak tergantung disana. Yang membuatku kagum adalah saat melihat piagam, medali, dan trophy yang menunjukkan bahwa dia pernah menjuarai kejuaraan atletik lari, menjadi juara satu dengan nilai hadiah yang fantastis. Ditambah pula dengan foto saat dia melewati garis finish serta fotonya di tangga juara, menginjak tangga nomor satu. Wow… fantastis sekali, decakku tak henti-hentinya terkagum. Yang menjadi perhatianku adalah garis finish yang berhasil dicapai oleh kawanku itu. Dari situ aku kembali teringat bahwa dalam hidup ini manusia harus memiliki tujuan atau garis finish yang harus dituju. Tujuan atau garis finish ini tidak ada satu, melainkan ada banyak sebagaimana banyaknya lomba lari yang diikuti oleh kawanku itu. Aku pun menyimpulkan bahwa dalam kehidupanku yang sepi dan membosankan ini aku harus membuat banyak garis finishku sendiri, yang harus kukejar dengan berlari. Aku harus memiliki tujuan-tujuan kecil yang harus aku capai demi menuju satu tujuan besar… 

Setelah berhasil membeli sepeda motor dengan hasil jerih payah kerjaku sendiri –ya walaupun motor itu motor bekas tapi tetap harus disyukuri–, kini aku merancang hal-hal duniawi lainnya yang ingin aku dapatkan. Rencana jangka pendekku untuk saat ini adalah membeli laptop, tinggal menetap sendiri, membeli sepeda, belajar menyetir mobil dan membeli kebun. Saat ini aku memang menetap menumpang di rumah pamanku sejak awal kedatanganku kembali ke Kalimantan, dan kupikir setelah satu tahun berada di kota ini dan setelah hampir satu tahun bekerja, aku harus menciptakan sebuah peningkatan yaitu lepas dari menumpang alias ngontrak atau ngekost sendiri. Karena jujur saja aku sudah sangat bosan hidup menumpang di rumah saudara atau keluarga lain. Sejak masih kecil aku sudah hidup menumpang di kediaman beberapa saudara atau sanak keluarga, sehingga aku telah merasakan betapa tidak enaknya hidup menumpang bagai parasit, walaupun sebenarnya aku berusaha menjadikannya mutualisme. Apalagi aku merasa tidak nyaman tinggal menumpang di rumah pamanku kali ini. Selain karena seringkali terjadi pertengkaran di dalam rumah, sepupuku yang ABG labil itu juga sangat membenciku dan berkali-kali menyindirku, seolah mengusirku secara halus. Bagaimanapun aku harus segera keluar dari rumah ini dan menetap sendiri dengan bebas. Bagaimana mungkin aku bisa nyaman bila setiap hari harus mendengar teriakan-teriakan atau pertengkaran atau berbagai macam keluhan, gerutu, sindiran yang ada di rumah itu? 

Akan tetapi sepertinya keinginan untuk menetap sendiri akan lama tercapai, mengingat setelah berhasil membeli laptop nanti aku akan kembali menabung untuk membeli kebun di Sumatra. Rencana pembelian kebun kopi ini sebenarnya sangatlah mendadak, tapi aku menyetujuinya. Kupikir perlu bagiku untuk memiliki semacam investasi demi masa depan kelak, selain tentunya memenuhi cita-citaku sejak kecil yaitu memiliki kebun pertanianku sendiri. Maka disinilah terjadi pengorbanan, dimana aku harus merelakan bertahan menetap di rumah pamanku demi bisa mendapatkan kebun masa depan yang kuinginkan tersebut. Karena bila aku memaksakan mengontrak rumah atau indekost, pastinya penghasilanku tidaklah cukup untuk membeli kebun dalam waktu dekat ini. Inilah biaya pengorbanan yang harus kuambil, makan hati demi masa depan. Semoga Tuhan memberikanku kekuatan untuk menahan emosiku agar aku tidak gelap mata dan bertindak nekat. Karena terus terang saja aku sudah sangat menahan kesabaran selama tinggal di rumah pamanku, tapi aku juga belum menemukan cara bagaimana caranya untuk keluar darisana. Ibuku bilang, “Kuat-kuat… Anggap saja sebagai nyanyian…” 

Tapi sebelum itu, aku harus sudah memiliki laptop sendiri karena aku pastinya akan bosan bila tidak ada hiburan nanti selama bertahan di rumah pamanku yang begitu emosional, sebagaimana yang disarankan oleh ibuku. Karena itulah membeli laptop adalah tujuan terdekatku saat ini. Hanya saja kemudian aku jadi bingung harus membeli yang mana mengingat laptop terdiri dari dua jenis saat ini, yaitu Notebook dan Netbook. Keduanya sama-sama memiliki nilai lebih dan juga nilai minus. Notebook, yang layarnya 14 inch itu memiliki CD Drive, keyboard yang luas dan kemampuan sistem yang lebih baik, akan tetapi ukurannya tidaklah praktis serta harganya kebanyakan mahal. Sementara Netbook, walaupun harganya relatif lebih murah dari Notebook serta berukuran kecil yang membuatnya mudah dibawa-bawa, memiliki kekurangan keyboard yang sempit, tidak memiliki CD Drive, serta tidak bisa memasang Desktop Wallpaper (untuk netbook merk HP). Hal inilah yang membuatku bingung saat ini. Di satu sisi aku mengharapkan benda yang lebih kecil dan fleksibel, lebih murah namun di satu sisi aku juga mengharapkan kemampuan yang dimilikinya. Jadi bingung nih… 

Kemudian tiga hari yang lalu, ketika aku sedang berjalan-jalan malam menyusuri kota kelahiranku seperti biasanya, aku melihat sebuah toko komputer yang sepertinya baru dibuka dan iseng-iseng aku mampir untuk melihat-lihat. Aku pun berbincang-bincang dengan penjaga toko, menanyakan hal-hal yang ingin kuketahui sebagai bahan pertimbangan untuk membeli laptop. Aku melihat banyak laptop notebook yang merek terkenal yang keren-keren dan harganya juga keren alias mahal! Kebanyakan di atas empat jutaan yang… yeah, sulit bagiku untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Meski begitu kemudian aku melihat sebuah notebook yang menjadi incaranku. Harganya berkisar tiga jutaan namun mereknya tidak populer serta OSnya DOS, bukan Win 7. Akan tetapi sang penjaga toko bilang kalau nantinya bisa diinstalkan OS yang disuka walaupun hanya trial saja. Hmm… aku pun jadi berpikir-pikir… kupikir aku tertarik untuk memilikinya. Tiga jutaan… bisalah! 😀 

Yeah, aku akan membeli laptop itu walaupun mereknya tidak terkenal karena yang terpenting aku bisa kembali mengetik dan menuangkan ide-ideku dengan nyaman dalam menulis cerita atau blog. Maka kuputuskan sejak bulan Mei kemarin aku akan mulai menabung minimal satu juta setiap bulannya, sehingga diharapkan maksimal bulan Agustus aku sudah mampu membelinya, tepat satu tahun aku bekerja secara resmi di perusahaanku. Semoga saja tidak ada pengeluaran mendadak atau semoga saja sifat borosku tidak muncul dalam kurun waktu itu. Aku pasti bisa… aku pasti bisa membelinya secara tunai. Sebenarnya aku bisa saja mengambil kredit, akan tetapi persyaratan kredit membuatku urung mengambil keputusanku itu. Selain itu toko komputer tadi belum melayani fasilitas kredit, membuatku bisa saja beralih pada toko komputer lainnya yang memiliki opsi kredit. Entahlah, aku lebih sreg membeli secara tunai daripada secara kredit, seolah tidak punya tanggungan lagi. 

Jadi inilah garis finish terdekatku, bisa disebut juga sebagai checkpoint kalau di dunia game. Apabila aku berhasil menggapainya, maka aku akan mulai memilikirkan garis finish atau checkpoint berikutnya. Entah kenapa aku merasakan hal ini sebagai suatu tantangan, ibarat seorang atlet lari yang berlatih keras dan berusaha untuk bisa mencapai garis finish demi mendapatkan gelar juara. Ya, hidup memang harus memiliki tujuan apabila tidak ingin berjalan berantakan. Semuanya saja, tidak terbatas dalam hidup manusia, bisa juga pada kehidupan perusahaan yang pastinya memiliki beragam objective atau sasaran-sasaran yang ingin dituju apavila tidak ingin menjadi bangkrut. Dengan memiliki tujuan, kita bisa melihat masa depan secara lebih baik, memiliki sebuah visi atau pandangan dalam menjalaninya. Tentunya tujuan-tujuan itu adalah tujuan yang real atau yang memiliki kemungkinan bisa dicapai. Tapi kalau ingin tujuan yang tidak masuk akal juga tidak apa-apa, karena bagaimanapun keteguhan hati dan semangat serta niat tinggi dipadu dengan usaha terus-menerus tanpa kenal lelah mampu menembus batas keniscayaan yang ada dalam pikiran manusia. Meski begitu bagaimanapun Tuhan yang paling berkehendak, kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa merencanakan dan berusaha sebaik yang bisa kita lakukan. Bila kita mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan tersebut, percayalah bahwa Tuhan selalu memiliki skenario yang terbaik bagi umat-Nya. Entahlah, aku jadi semakin bingung saja. Yang pasti kita semua pasti memiliki satu tujuan besar yang harus dicapai, dimana dibutuhkan tujuan-tujuan kecil dalam perjalanan menggapai tujuan besar tersebut. Well, daripada bingung dengan bahasa gak karuan barusan, lebih baik bantu aku memilih deh… bagusnya beli notebook atau netbook ya? Bagaimana menurut kalian?
*Gambar kucing random dari Google.

Ayahku Seorang Gamer: Sebuah Kenangan

 Play 
Malam itu Aku sedang asyik bermain game di komputer kantor saat Firman, satpam yang sedang berkeliling datang menghampiri untuk sekedar menyapaku. Dia lalu tertarik melihatku memainkan game online dan duduk di sampingku untuk melihatku memainkannya. Aku sedikit menjelaskan permainan itu kepadanya, menciptakan sebuah obrolan ringan di antara kami. Melihat keasyikanku memainkan game, Firman lalu berkomentar, “Memang ya kalau sudah asyik main game jadi suka lupa waktu… jam segini aja masih di kantor.” Aku hanya tersenyum sekilas mendengar komentarnya itu. Dia lalu melanjutkan komentarnya dengan berkata, “Kalau sudah punya istri pasti bisa bikin berantem… istri ngajakin tidur tapi si suaminya masih asyik main game di komputer… bisa berabe urusannya. Saudaraku seperti itu. Dia punya komputer di rumahnya dan terkadang bertengkar dengan istrinya gara-gara main game.”
“Oh ya?” sahutku tertarik.
Firman mengangguk. “Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.”
“Ya, semakin dewasa seseorang, mereka pasti akan memikirkan hal yang lebih penting dari sekedar bermain game. Inikan hanya sekedar hiburan,” kataku kemudian.
Komentar dari satpam itu mengingatkanku pada ayahku. Meskipun ingatanku agak buram mengenai beliau, tapi aku ingat sebuah kejadian di malam itu saat aku masih kecil. Sekilas sama dengan kisah saudara si Firman itu, tentang suami istri yang bertengkar karena video game. Aku ingat ibu menyuruhku dan kakakku untuk tidur, tapi kami tidak bisa (atau tepatnya tidak tidur) karena melihat ayahku bermain game di kamar. Ibuku pun marah-marah pada ayah dan memintanya untuk mematikan game, tapi ayahku tetap asyik memainkan Mario menginjak pasukan kura-kura Koopa. Televisi kecil 14 inchi kami memang diletakkan di dalam kamar, sehingga aku dan kakakku bisa melihat ayah bermain game. Melihat ayah bermain game, tentu saja kami menjadi tertarik dan sulit untuk memejamkan mata. Ya, ayahku adalah seorang gamer.
Mesin NES alias Nintendo

Ayah adalah seorang polisi dengan jadwal kerja yang ketat seperti family man lainnya, berangkat pagi pulang malam. Dengan beban pekerjaan yang dipikulnya sebagai penegak hukum, tentunya pekerjaannya begitu melelahkan sehingga sudah sewajarnya bila beliau akan langsung beristirahat sepulang kerja. Tapi yang dilakukan ayahku bukannya beristirahat, melainkan justru menyalakan mesin Nintendo Entertainment System (NES) atau yang sering disebut Nintendo milik kami. Langsung saja ayah tenggelam dalam permainan Super Mario Bros. atau Tetris, dua judul game yang kemudian menjadi judul favoritku itu. Dan bila ayah sudah asyik bermain, perhatiannya akan terfokus penuh pada layar televisi, tidak bisa diganggu. Tak hanya mesin game rumahan, ayah juga pemain Game Watch (biasa disebut gimbot/Brick Game) yang hebat. Aku ingat saat ayah pergi ke Samarinda dulu dan pulangnya membawa dua buah Game Watch untuk kami mainkan. Aku ingat betapa senangnya aku keluar rumah menyambut kedatangan ayah sore itu. Aku bahkan sangat antusias saat menerima Game Watch dari ayah hingga aku bernyanyi-nyanyi senang, sebagaimana yang dikatakan oleh pamanku yang mengingat kejadian itu.
Meski seorang gamer, namun ayah sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya. Beliau memang mengizinkan aku dan kakakku bermain game pada waktu-waktu bermain. Sebaliknya, beliau akan melarang keras kami berdua bermain game bila tiba waktu belajar. Ayahku sangat keras mengenai hal ini, dan itu meninggalkan bekas yang dalam pada diri kakakku dan juga diriku. Aku ingat jelas bagaimana ayahku dulu membekap mulutku keras hingga aku menangis meronta-ronta dulu. Aku tahu, ayahku hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah, yang baru bisa kami pahami saat kami dewasa.
Ada kalanya kami bermain game bersama, menciptakan kenangan indah di dalam keluarga. Super Mario Bros. dan Battle City (Tank 1990) adalah game yang sering kami mainkan bersama, karena memiliki fitur multiplayer. Kami bahkan memainkan Battle City dengan sangat serius, saling bekerjasama antara ayah dan anak untuk menghancurkan setiap tank lawan sekaligus mencegah mereka menghancurkan markas kami yang kami sebut Garuda karena bentuknya seperti burung Garuda. Setiap kali aku dan kakakku memainkan dua game ini, kami akan selalu teringat kenangan saat memainkannya bersama ayah. Selain bermain video game bersama, kami juga seringkali bermain game papan seperti monopoli bersama-sama. Itulah kenapa video game dan monopoli begitu dekat dengan kami.

Mario
Super Mario Bros., Favorit Kami Sepanjang Masa

Saat-saat indah itu memang telah hilang begitu saja, berbekas kenangan di dalam memoriku. Kematian memisahkan kami selamanya, menghentikan saat-saat indah bermain game bersama ayah. Ayah meninggal di tahun 1995, saat aku masih berumur tujuh tahun. Sejak itu kami tidak pernah bermain bersama lagi. Tapi memang benar, bahwa orang yang kita cintai selalu hidup di hati kita biarpun raga mereka telah mati. Kenangan indah akan kehadiran merekalah yang menjadikannya senantiasa hidup abadi. Dalam hal ini, video game yang mengingatkanku pada kenangan indah bersama ayah itu.
Beberapa tahun setelah kematian ayah, terkadang aku dan kakakku memainkan kembali game Super Mario Bros. dan Battle City secara bersama-sama. Kami bermain bersama dengan asyiknya, sebagaimana yang dulu kami lakukan bersama ayah. Dalam sela-sela permainan itu, kakak biasanya bercerita betapa dia sangat menikmati permainan bersama ayah dulu. Kami berdua pun akan selalu terkenang pada masa-masa itu apabila kami memainkan dua game itu bersama-sama. Entah mengapa kami seperti merasakan kebaradaan ayah di antara kami berdua saat kami memainkan dua game itu kembali. Seolah ayah ingin mendampingi kami berdua memainkan game favorit kami… seolah ayah ingin melihat keceriaan anak-anaknya yang seharusnya hidup tanpa beban…. Ayah…
(aku benar-benar menangis saat menulis bagian ini…)

Battle City, Game Tempur Penuh Kenangan

Like father like son, mungkin pepatah itu tepat diberikan untukku. Ayahku seorang gamer, dan darah gamer itu juga mengalir dalam darahku. Saat aku beranjak dewasa, video game mewarnai hidupku dan menjadi salah satu kegemaranku. Meski begitu aku bukanlah maniak game seperti anak-anak zaman sekarang. Aku bermain game pada waktu-waktu senggang, menjadikannya benar-benar sebagai hiburan yang melepaskan kepenatan. Meski begitu pernah kalanya aku keranjingan bermain game saat di bangku kelas satu SMP dulu, ketika PlayStation sedang berjaya. Seringnya bermain di game di rental terdekat membuat nilaiku jatuh sehingga mendapatkan murka dari ibuku. Saat itu aku sangat menyesal dan kemudian memutuskan untuk tidak bermain game lagi. Itu bekerja cukup baik di masa-masa SMP hingga kemudian aku duduk di bangku SMA. Di SMA, tepatnya di awal kelas dua, aku mendapat hadiah komputer dari tanteku yang kaya raya. Awalnya sama sekali tidak ada game di komputerku, kecuali game-game standar macam Solitaire atau Minesweeper, karena tujuan utama komputer itu adalah untuk belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Well, tujuan untuk belajar itu tidak sepenuhnya benar karena pada kenyataannya aku mulai melakukan hobi terbesarku dengan komputer itu, yaitu menulis cerita. Kemampuan mengetikku yang banyak dikagumi orang pun bermula dari sana. Hingga kemudian tukang servis komputer yang kupanggil untuk memperbaiki komputer menawarkan menginstallkan game di komputerku. Tukang servis itu bahkan mengkopikan lagu-lagu Dangdut kesukaan ibuku di komputer. Dan kisahku dengan video game pun berlanjut tatkala dua game yang diinstalkan oleh tukang servis itu, yaitu Counter-Strike dan Red Alert 2 menjadi game favoritku yang hampir selalu aku mainkan setiap harinya sepulang sekolah. Kedua judul game ini benar-benar pelepas stres yang mujarab. Game menembak Counter-Strike melampiaskan emosiku sementara game strategi Red Alert 2 membuat kepalaku terus bergerak untuk berpikir. Aku tidak punya masalah dengan memainkan dua game ini yang menurutku sama sekali tidak mengganggu waktu belajarku ataupun waktu tidurku. Sebaliknya, aku justru merasa terbantu dengan dua game itu yang menurutku sangat mendukung kegiatan belajarku. Aku merasa lebih terstimulasi untuk belajar setelah memainkan dua game itu di siang atau sore harinya. Hasilnya, aku meraih puncak prestasiku di SMA. Sejak saat itu petualanganku di dunia game bermula. Perburuanku terhadap game-game genre tertentu ataupun game-game klasik pun dimulai hingga kini. Ya, seperti ayahku… aku juga adalah seorang gamer.

RA2
Red Alert 2, Game Strategi Favoritku

Tapi tentunya tidak selamanya aku akan bermain game. Aku menyadari bahwa usiaku semakin bertambah dan kini aku bukanlah remaja atau anak-anak lagi. Kawan-kawan sebayaku bahkan sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Seperti yang kukatakan sebelumnya, semakin dewasa seseorang, mereka pasti akan memikirkan hal yang lebih penting dari sekedar bermain game. Inikan hanya sekedar hiburan, bagi mereka yang mampu memahaminya dengan baik. Well, meski begitu bagaimanapun aku adalah seorang gamer. Bagiku, gamer sejati adalah mereka yang menikmati waktu bermainnya, yang dapat berlaku bijak pada waktu kehidupannya. Kembali pada kisahku di bagian awal tulisan ini, aku membayangkan nantinya apabila aku sudah menikah dan memiliki anak. Anakku pastilah nantinya menyadari bahwa ayahnya adalah seorang gamer. Mungkin aku akan mengajaknya bermain game bersama sebagaimana yang dilakukan ayahku dulu padaku. Tapi aku tidak bisa menjamin bahwa anakku kelak juga akan menjadi seorang gamer seperti ayah dan kakeknya, mewarisi darah gamer dari kami berdua. Mungkin pula dia tidak akan bangga karena ayahnya seorang gamer dikarenakan tudingan negatif kebanyakan orang pada para gamer. Entahlah, masa depan serba tidak terduga, dimana kehidupan seorang anak bergantung pada bagaimana cara orang tua mendidiknya. Yang pasti aku akan selalu berharap bahwa anakku kelak akan menjadi anak yang baik, yang soleh, berbakti pada orang tua, agama, dan negara. Cuma itu saja, tidak lebih.

Terkadang aku teringat pada ayahku apabila melihat seorang ayah asyik bermain dengan anaknya laki-laki. Kenangan masa kecilku yang kabur muncul begitu saja di kepalaku. Terkadang aku menganggap ayah-ayah itu adalah ayah-ayah yang luar biasa, yang menyempatkan waktunya bermain atau menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Inilah yang diperlukan anak-anak di masa sekarang ini dan seterusnya, kehangatan seorang ayah. Karena masa kecil adalah masa emas yang membentuk karakter seorang anak. Orang tua yang bijak tahu bagaimana memaksimalkan kesempatan itu untuk menciptakan kenangan berarti bagi anak-anak mereka, yang akan selalu mereka kenang sebagai bekal kehidupan mereka kelak. Berbahagialah mereka, anak-anak yang memiliki waktu bersama ayah mereka… sementara sedihlah mereka, ayah-ayah yang melupakan anak-anak mereka…
Mungkin inilah titik awal dari dekadensi moral remaja zaman sekarang. Ayah mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing hingga melupakan kewajiban mereka sebagai orang tua. Jadinya tak heran bila kemudian aku menemukan anak-anak kecil usia sekolah masih nongkrong di warnet atau di rental game hingga larut malam untuk bermain game online. Bahkan aku menemukan ada anak yang tertidur di warnet karena menunggu giliran main. Tidak ada filter, tidak ada pengendali, anak-anak itu bergerak begitu saja menjadi anak-anak yang malas yang bisa berbuat seenaknya. Berbeda jauh dengan masa kecilku, terutama saat ayah mendampingiku bermain game. Tapi zaman sekarang susah sih, teknologi semakin maju dan jenis game pun menjadi semakin canggih serta beragam saja, tidak seperti dulu. Lihat aja betapa banyaknya game-game bertema kekerasan dengan grafik wah yang bisa didapatkan dengan mudah dan bisa dimainkan siapa saja tanpa ada kendali yang ketat. Tengok game Point Blank yang dengan jujurnya menampilkan cipratan darah. Tengok pula bagaimana ucapan anak-anak itu saat memainkannya: “ccd”, “anjing”, “bangsat”. Benar-benar sangat menyedihkan. Bandingkan dengan masa dulu saat video game hanya berupa perpaduan piksel kasar ala Tetris atau Super Mario., dua judul yang benar-benar menampilkan dunia game secara apa adanya, begitu sederhana namun menyenangkan…. tidak seperti game-game sekarang yang kebanyakan menampilkan grafik menawan yang begitu realistis seperti aslinya di dunia nyata tapi mengundang caci-maki. Esensi awal video game pun berubah dari sekedar permainan hiburan menjadi sebuah gaya hidup yang tidak produktif. Ayahku pasti akan sangat sedih bila beliau masih hidup dan melihat betapa absurdnya dunia game saat ini….

violent-video-games2
Video Game sekarang: Semakin realistis, semakin berbahaya

Untuk ayahku, terima kasih atas kenangan indah yang kau ciptakan dalam waktu singkatmu bersama kami. Aku sama sekali tidak pernah ingin berpisah denganmu, tidak ingin kehilanganmu karena saat itu aku benar-benar masih membutuhkanmu… membutuhkan seorang ayah. Tapi Tuhan punya cerita yang lebih baik. Tuhan pastilah punya jalan yang lebih baik dengan mengambilmu kembali dari kami begitu cepat saat kami masih sangat membutuhkanmu. Kau tahu ayah, aku sering iri bila melihat anak-anak lain pergi bersama ayah mereka. Aku sering iri saat melihat kawan-kawanku dibelikan sepeda motor oleh ayah mereka. Aku iri saat ayah-ayah itu mendampingi anak-anak mereka di waktu wisuda. Aku begitu iri saat para ayah dan anak laki-lakinya berjalan bersama untuk ibadah Jum’at. Aku iri… aku iri sekali…
Karena itulah aku tidak habis pikir bila ada anak yang meninggalkan atau melantarkan ayah mereka… Karena itulah aku tidak habis pikir bila ada ayah yang melupakan anak-anak mereka. Anak adalah titipan Tuhan, yang mesti dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Sementara orang tua dan keluarga adalah nikmat dari Tuhan, yang mesti disyukuri dengan penghargaan dan perlakuan terbaik. Demi Tuhan… cintailah keluargamu…
Ayah, semoga engkau bahagia di alam sana… Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untukmu di surga-Nya. Aku tahu betapa engkau mencintaiku ayah… Aku tahu betapa ayah selalu menyayangi kami semua… keluargamu. Ayah mungkin pernah berlaku keras pada kami, tapi kami tahu bahwa itu adalah tanda cinta Ayah pada kami. Kami sebagai anak-anak mungkin tidak dapat memahaminya, tapi kami sebagai orang dewasa paham betul akan hal itu. Ayah akan selalu menyayangi kami bagaimanapun keadaannya, sebagaimana kami yang selalu menyayangi ayah walaupun ayah telah lama pergi meninggalkan kami dan takkan pernah kembali. Karena bagi kami ayah tidak pernah mati… bagi kami ayah selalu hidup dalam hati kami…
Like father, like son… seperti ayah, demikian pula putranya… Dengan berbekal kenangan indah dalam waktu singkat kita… aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk membuatmu bangga, Ayah… Sebagaimana kebanggaanku padamu… karena bagiku hidup adalah sebuah permainan… Life is a game…

Ya, ayah… aku juga seorang gamer…

***

Family

I hope you grow up to become that everything you can be
That’s all I wanted for you young’n, like Father, like Son

But in the end I hope you only turn out better than me
I hope you know I love you young’n, like Father, like Son

My little man, your day is coming, coming, your day is coming, I tell you
And when it comes, just keep it running, running, just keep it running, I tell you
The Game – Like Father Like Son