Beranda » kisahku » Sampai Jumpa Kawan PLN…

Sampai Jumpa Kawan PLN…

 Tutup 
“Aku tahu hari ini pasti akan datang, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini…”
Hari Jum’at 3 Agustus 2012 lalu adalah hari yang begitu berkesan bagiku. Jum’at itu adalah hari terakhirku bekerja di PLN Bontang sebagai petugas bank yang menghubungkan PLN Bontang dengan bank rekanan tempatku bekerja, Bukopin Samarinda. Terhitung satu tahun lebih sudah aku bekerja disana, memulai karirku sejak lulus kuliah. Karir pertamaku dimulai dengan bekerja di perusahaan instansi lain, bukan di perusahaanku sendiri, membuatku terkadang bingung bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang menempatkan diriku dalam dua kepentingan yang berbeda. Di satu sisi aku digaji oleh bank tempatku bekerja, namun di satu sisi aku harus mengutamakan kepentingan nasabahku dalam hal ini PLN Bontang. Dua kepentingan ini saling berbenturan, membuatku sulit menempatkan diri tapi pada akhirnya aku mampu menikmatinya.Sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk berhenti bekerja, akan tetapi peristiwa yang begitu cepat terjadi membuatku harus membuat pilihan antara tetap bekerja di PLN Bontang/Bukopin Samarinda atau mengambil tantangan pekerjaan baru, wartawan di media lokal kota ini. Sehari sebelum umurku genap dua puluh empat tahun, aku melihat iklan lowongan pekerjaan pada sudut halaman media tersebut. Pekerjaan yang ditawarkan adalah wartawan, sebuah profesi yang merupakan cita-citaku sejak aku masih kecil dulu. Menjadi wartawan adalah keinginanku, itulah yang menyebabkan aku mengambil prodi Ilmu Komunikasi saat kuliah dulu. Karena itulah aku pun langsung tertarik untuk mencoba melamar, walaupun awalnya hanya sekedar iseng saja dan tidak terlalu berharap banyak. Toh pekerjaanku di PLN Bontang juga sudah sangat nyaman.Tapi apa lacur? Yang terjadi berikutnya sungguh membuatku sakit kepala. Aku mendapatkan panggilan wawancara, padahal setelah aku cek ternyata kopian ijazah dan transkrip nilaiku tertinggal terlupa kumasukkan ke dalam amplop lamaran. Hal ini membuatku heran mengingat dalam keterangan lowongan tersebut tertulis bahwa hanya berkas yang lengkap sajalah yang akan mendapat panggilan. Kemudian berikutnya aku terpikir bahwa kemungkinan hal ini dikarenakan contoh tulisanku yang aku sertakan dalam lamaran tersebut. Dalam persyaratan lowongan itu tertulis untuk menyertakan contoh tulisan apabila ada, sehingga aku terpikir untuk menyertakan beberapa tulisanku yang pernah kutulis di blog Navilink47 ini. Dan yeah, ternyata itulah yang menjadi pertimbangan pihak media yang kulamar. Karena dalam wawancara tersebut, sang manajer berkata, “Bila ini benar-benar tulisanmu, maka saya menaruh harapan besar padamu.”Aku diterima bekerja di media tersebut dan Senin berikutnya sudah bisa mulai bekerja. Akan tetapi aku menjadi bimbang. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku sekarang, terlebih lokasi kantor perusahaan bankku yang terpisah kota. Maka melalui pembicaraan yang alot, aku meminta kelonggaran waktu selama satu minggu untuk mengurus proses pengunduran diriku dari bank yang selama satu tahun ini telah membayarku. Pihak media tersebut memberikan izin dengan batasan tersebut, dimana pada Senin berikutnya aku harus sudah bekerja disana atau kalau tidak aku dianggap menolak tawaran pekerjaan tersebut. Dan hitungan mundur pun dimulai… minggu terakhir di PLN Bontang.

Jum’at itu, di pagi harinya setelah pembacaan do’a pagi, aku berpamitan pada para pegawai PLN Bontang. Kalimat-kalimat perpisahanku terdengar begitu emosional, dimana kurasakan tubuhku bergetar. Pada akhirnya hari ini pun tiba, hari dimana aku mengucapkan kata-kata perpisahan. Beberapa pegawai PLN Bontang tampak sedih, beberapa tampak biasa saja, sementara beberapa yang lain termasuk manajer PLN Bontang yang baru memberikan semangat kepadaku. Sungguh berat sebenarnya berpisah dengan kawan PLN Bontang yang sudah menemaniku selama satu tahun pertamaku di kota Bontang. Sudah banyak kenangan yang terjadi di tempat ini, membuatku merasakan perasaan sedih tak ingin berpisah. Walaupun banyak sentimen yang kuhadapi selama bekerja di tempat ini terutama yang berhubungan dengan perusahaan tempatku bekerja, namun banyak juga momen indah yang terukir. Banyak pengalaman yang kudapatkan selama bekerja sebagai perpanjangan tangan Bank Bukopin di PLN Bontang, yang tak kupungkiri itu membentuk karakterku. Itulah yang membuatku merasa bangga dan bersyukur pernah bekerja di dalam ruang kerja PLN. Aku bisa melihat jelas bagaimana para pegawai PLN yang seringkali dicaci karena pemadaman listrik itu bekerja, sebuah kesempatan yang sangat langka. Aku ingat bagaimana pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini, seminggu sebelum ulang tahunku yang keduapuluh tiga. Keberadaanku saat itu sulit untuk diterima, mengingat PLN Bontang tidak menyambut baik kerjasama mereka dengan Bank Bukopin yang ditentukan oleh PLN pusat. Wajar saja bila mereka berkeberatan dengan kerjasama ini mengingat belum ada kantor cabang atau capem Bank Bukopin di kota Bontang. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku ditempatkan di PLN Bontang, sebagai “bank mini”, perpanjangan tangan dengan Bukopin Samarinda. Jabatanku adalah petugas Sistem Administrasi Satu Atap yang kalau disingkat menjadi… SAMSAT

tempat kerja
Tempat kerjaku di PLN Bontang sebelum OPI

Pada semester awal, pekerjaanku bisa dibilang cukup berat. Aku menanggung resiko yang cukup besar dengan membawa uang tunai puluhan juta Rupiah tanpa dukungan keamanan sedikit pun. Syukurlah pada semester berikutnya pekerjaanku menjadi lebih ringan setelah muncul kebijakan di pihak PLN yang melarang penarikan secara tunai. Seluruh transaksi yang dilakukan oleh PLN diharapkan untuk dilakukan secara sistematik melalui aplikasi keuangan yang meminimalkan peredaran uang secara kasat mata. Rutinitas berikutnya menjadi semakin membosankan dari hari ke hari, membuatku mulai terpikir untuk mencari tantangan baru. Memang ada kalanya aku menjadi sangat sibuk dan sangat pusing dengan pekerjaanku, namun seringkali aku begitu santai karena sama sekali tidak ada pekerjaan selama beberapa hari. Meski begitu aku tak hanya menangani transaksi PLN pada rekanan mereka saja, namun aku juga melayani nasabah yang terdiri dari pegawai PLN Bontang yang menanyakan tentang produk perbankan kami, atau yang mengurus hal-hal terkait produk kami tersebut. Hal ini membuatku sering berhubungan dengan banyak orang, bertemu dan menghadapi karakter nasabah yang berbeda-beda. Disinilah aku merasakan peranku sebagai petugas bank dan perlahan menikmatinya, berikut setiap permasalahan yang terjadi yang membuat kepalaku terasa pening.

Karena itulah aku sempat bingung untuk memutuskan, apakah tetap bertahan bekerja di PLN Bontang sebagai petugas Bank Bukopin, atau menerima tawaran pekerjaan di media lokal kota Bontang, Bontang Post. Aku menimbang baik dan buruknya, serta tidak segan pula menerima saran dari kerabat maupun sahabat walaupun keputusan pada akhirnya tetaplah ada di tanganku. Di satu sisi aku sudah merasa sangat nyaman berada di PLN Bontang dengan segala problematikanya, namun di satu sisi kenyamanan itu membuatku merasa bosan dan merasakan tidak ada perkembangan yang berarti dalam hidupku selama satu tahun ini. Bosan, stagnan, tidak ada tantangan, tidak ada progress. Sementara apabila aku bekerja di harian lokal itu, maka hari-hariku akan dipenuhi oleh kesibukan dan akan menjadi tidak senyaman dulu lagi. Bila dibandingkan dengan pekerjaan di bank, tentunya materi sebagai petugas bank jauh lebih menjanjikan. Namun pertimbangan pengalaman dan perwujudan keinginan membuatku condong memilih tawaran ini. Kesempatan ini sendiri mungkin hanya akan datang satu kali saja. Pada akhirnya kutetapkan untuk keluar dari zona nyaman, mencari pengalaman baru, menghadapi tantangan baru, mewujudkan impianku.

Pedabon
Saat sosialisasi OPI PLN Bontang
(nomor dua dari kanan)

Keputusanku ini sembat mendapat respon keras dari pihak bank tempatku bekerja, dari bagian marketing yang posisinya hampir sama denganku. Dia berkata, “Orang itu kalau ganti sandal mestinya dapat sandal baru yang lebih bagus, bukannya malah dapat sandal buluk.” Kata-kata itu sempat membuatku memikirkannya kembali dengan begitu keras, membuatku sakit kepala. Belum lagi omongan dari bibi dan sepupuku yang begitu tajam menghujam jantungku. Tapi tidak melulu respon seperti itu yang kudapatkan dalam minggu terakhirku bekerja di PLN Bontang, respon positif juga kudapatkan di antaranya dari pejabat SDM PLN Bontang yang ingin melihatku berkembang dengan potensiku serta dari manajer baru PLN Bontang sekalipun yang begitu menerima keberadaanku, sangat berbeda dengan manajer lama yang begitu tidak menghargaiku. Ayah tiriku sendiri mendukung keputusanku ini, sementara kakak iparku yang sebelumnya menyarankan untuk menolak pekerjaan baru justru berbalik memberikan dukungan. Yeah, bagaimanapun ini adalah kehidupanku, akulah yang menentukannya sendiri. Karena keputusan akulah yang menentukannya sendiri, maka aku tidak akan lagi menyalahkan orang lain siapapun itu.

Malam harinya teman-teman PLN mengajakku untuk makan-makan di tempat tongkrongan kami biasanya di Bontang Kuala yang didedikasikan sebagai malam perpisahan denganku. Disana aku mengenang saat-saat pertemuan pertamaku dengan mereka, serta kenangan-kenangan yang telah kami alami bersama. Berat dan sedih rasanya berpisah dengan mereka, namun setiap pertemuan pastinya akan berujung perpisahan pula. Yang pasti kenangan bersama mereka tidak akan pernah terlupakan. Saat-saat itu akan selalu terkenang, walaupun mungkin aku mengatakan lupa. Aku pastinya akan merindukan mereka. Sebuah pengalaman berkesan bersama kawan-kawan PLN… yang handal dan kompeten dalam bidang mereka masing-masing. Aku yakin di bawah kepemimpinan manajer yang baru, PLN Bontang akan sanggup menjadi yang lebih baik lagi ke depannya, menjadi yang terbaik. Aku pun berharap penggantiku kelak, siapapun dia akan bisa bekerja lebih baik lagi dari yang selama ini aku kerjakan, akan bisa melanjutkan bentuk kerjasama emosional yang terjalin antara PLN Bontang dengan Bukopin Samarinda.

teman
Kawan-kawan Bukopin Samarinda yang gokil-gokil…

Dan hari Jum’at itu aku resmi meninggalkan PLN Bontang diantarkan kalimat perpisahan dari manajer baru PLN Bontang, resmi pula meninggalkan Bank Bukopin Samarinda setelah sehari sebelumnya sempat bertemu dan berbicara dengan manajer Bukopin Samarinda yang datang ke Bontang. Tak lupa pula aku berpamitan dengan Mbak Kiki dan Mbak Rita yang selama ini membantuku melalui telepon. Meskipun aku tidak bekerja di tempat yang sama dengan Mbak Kiki dan rekan-rekan Bank Bukopin Samarinda lainnya, namun aku bangga bisa bekerja mewakili mereka disini, di PLN Bontang. Mereka orang-orang yang baik, dimana mereka memperlakukanku dengan baik walaupun mereka tidak mengenalku secara langsung, sebagaimana yang terlihat jelas saat aku menghadiri family day waktu itu. Aku juga pastinya akan merindukan mendengar suara mereka yang begitu ramah walaupun tengah mendapat omelan dari nasabah sekalipun… Salut untuk mereka semua, pegawai Bank Bukopin Samarinda.

Aku akan menghadapi dunia baru, pekerjaan baru yang pastinya akan penuh tantangan. Aku tidak tahu secara pasti apa yang telah menungguku di depan sana, di hari esok yang penuh ketidakpastian. Aku tidak tahu bagaimana dan tidak memiliki gambaran pasti bagaimana nantinya pekerjaanku yang baru sebagai kuli tinta. Bisa dibilang aku sedang bertaruh, bisa dibilang aku mempertaruhkan banyak hal untuk ini, untuk sekedar mewujudkan keinginan masa kecil selagi aku mampu dan mendapatkan kesempatan untuk itu. Tak hanya materi yang kupertaruhkan, namun juga perasaanku dan juga kepercayaan. Aku telah banyak mengambil resiko untuk ini dan aku berani gagal untuk hal ini pula. Aku bertaruh pada nasib demi idealisme. Aku tidak bisa hanya berdiam di satu titik, aku harus terus bergerak. Karena bagiku… hidup tidak akan pernah sama…

Sampai jumpa lagi kawan PLN…. Sukses selalu untuk kalian…


“Lukman, cita-cita kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Aku… Aku ingin menjadi wartawan…”
“Kenapa?”
“Karena wartawan bisa bertemu dengan banyak orang…”
“Bisa ketemu orang mati dong?”
“…………………..”

One thought on “Sampai Jumpa Kawan PLN…

  1. Ping-balik: Bahaya Berada di Zona Nyaman | inspirasi.me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s