Beranda » kisahku » Dua Puluh empat

Dua Puluh empat

Gambar ucapan ulang tahun dari salah seorang penggemarku… #PLAK!

(Artikel bulan Juli yang kupindah dari blog utamaku yang akan segera digusur)

Hari ini, 18 Juli 2012 adalah hari yang istimewa… well, tidak terlalu istimewa sih, malah justru biasa-biasa aja karena aku bukan lagi anak kecil yang menganggap hari ini adalah hari yang istimewa…. Hari ulang tahun.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pada ulang tahun kali ini aku sama tidak berkumpul bersama keluargaku, sendirian di hari dimana umurku kini dua puluh empat tahun. Aku benar-benar tidak menyangka bila kini usiaku sudah sebanyak itu… menyiratkan aku sudah semakin tua dan kesempatanku semakin berkurang. Meski begitu aku bersyukur masih diberi nafas oleh Tuhan untuk menjejak pagi, menghirup panas matahari hingga hari sekarang.

Satu tahun yang lalu tepat di tanggal ini mungkin meninggalkan kesan sendiri, karena hari itu adalah hari pertamaku bekerja di tempatku saat ini seorang diri setelah sebelumnya ditemani selama satu minggu oleh rekanku. Bila mengingat hal itu membuatku tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Aku memulai episode baru dalam kehidupanku di dunia kerja tepat di hari ulang tahunku! Seakan aku terlahir kembali, sesuai dengan tanggal lahirku. Kini satu tahun terlewati sejak hari itu, menambahkan satu angka, menggenapkan umurku menjadi 24.

Sebenarnya tahun kemarin aku tidak melewati ulang tahunku sendirian, karena aku ingat kakak sepupuku mengajakku pergi ke Bontang Kuala. Malam itu kami duduk bersama di tepian laut, memandang rembulan malam sambil bercerita panjang lebar mengenai kehidupan kami berdua. Bagiku itu sudah cukup menjadi hiburan, mengingatkanku kembali pada suatu tempat yang dulu selalu kukunjungi bersama almarhum ayahku. Sungguh, rasanya saat duduk di tepian desa atas laut itu benar-benar mengembalikan memoriku perlahan, walaupun gambarannya tidak terlalu jelas. Yeah, aku masih sangat kecil saat meninggalkan kota kelahiranku ini dulu.

Kini, satu tahun telah berlalu dan kembali aku menjalani kehidupan baru, seminggu sebelum hari ini tiba. Untuk kali pertama selama bekerja, aku tinggal menetap sendiri, tanpa bergantung pada orang lain. Tujuh Juli kemarin, melalui tekad yang kuat disertai tindakan nekat, aku memutuskan keluar dari rumah Pamanku, memutuskan untuk idekost, belajar hidup mandiri. Aku memiliki prinsip untuk terus bergerak, sebagaimana yang tertuang dalam slogan blogku ini, “Life will Never be the Same”, hidup tidak akan pernah sama. Aku tidak mau berada dalam kondisi stagnan tanpa perkembangan. Satu tahun telah berlalu sejak pertama kali aku bekerja, maka aku ingin ada perubahan dalam hidupku. Bila selama satu tahun sebelumnya aku hidup menumpang, maka pada tahun kedua ini aku ingin hidup mandiri. Yeah, sebenarnya sih masih tetap menumpang, yaitu menumpang di kostan orang, tapi paling tidak aku tidak lagi merepotkan orang lain. Jujur aku sudah jengah hidup menumpang, aku harus hidup mandiri, dan bila aku tidak bisa melakukannya sekaligus, maka aku akan melakukannya secara bertahap. Tahun kemarin aku menumpang, tahun ini aku indekost, tahun depan pasti ada rencana lain untukku. Dalam hidup harus ada perkembangan!

Sebenarnya aku masih ingin tinggal menumpang di rumah Pamanku agar aku bisa menabung untuk membeli barang-barang yang kuinginkan. Akan tetapi situasinya seakan tidak mengizinkanku bertahan di rumah itu. Aku tidak bisa tenang tinggal di rumah tersebut, membuatku sering keluar rumah berjalan kaki tak tentu arah. Selain sinisme kebencian, pertengkaran yang kerap kali terjadi membuatku jengah. Aku hampir tidak mendapatkan ketenangan, khususnya apabila aku lelah bekerja. Memang aku tidak terlibat dalam pertengkaran itu, tapi mendengarkan teriakan-teriakan yang seakan selalu terjadi setiap hari membuat kepalaku sakit. Secara tidak langsung aku terkena efek dari pertengkaran mereka. Keluhan-keluhan yang juga hampir setiap hari terlontar membuatku semakin tidak tenang, memberikan efek pesimis yang membahayakan bagiku. Yeah, hidupku terasa begitu pesimis saat tinggal menetap disana. Kini aku telah tinggal seorang diri, tidak lagi menumpang seperti sebelum-sebelumnya, membuatku merasa sedikit optimis. Hidup memang harus dijalani dengan optimisme, bukan dengan pesimisme yang membuat kita menjadi menyedihkan. Tentu ada harga tersendiri yang harus dibayar untuk keputusanku ini, yaitu aku akan kesulitan menabung karena biaya kost dan biaya hidup harus membuatku bisa berpikir keras demi berhemat. Meski begitu biaya pengorbanan itu kuanggap pantas untuk mendapatkan yang kuinginkan, yaitu ketenangan. Setiap keputusan penting yang berhubungan dengan perbaikan pasti perlu pengorbanan, dan aku paham mengenai hal itu. Ini adalah keputusanku, aku harus bangga dan menjalani apapun yang terjadi.

Jadi tahun kedua di kota Bontang, di umurku yang ke-24 ini aku akan menjalaninya kehidupan baru yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam kesendirianku ini aku belajar untuk hidup mandiri, belajar bagaimana menjalani kehidupan seorang diri demi suatu masa di depan yang pastinya telah menungguku. Suatu hari kelak aku pasti akan menikah, entah dengan siapa itu. Karena itulah sebelum aku bisa mengurus orang lain, mengurus anak manusia yang akan mengabdikan dirinya kepadaku, aku harus terlebih dahulu bisa mengurus diriku sendiri. Kini aku tidak akan bergantung pada orang lain, aku akan melangkah dalam keinginanku sendiri karena inilah kehidupanku! Akulah yang menjalaninya!

Dalam hitungan mundur, sebenarnya aku sedang berada dalam detik-detik menuju tahun berikutnya dimana umurku menjadi lengkap seperempat abad. Yeah, di umurku tersebut telah ada sebuah keinginan yang menungguku, menunggu untuk dapat terwujud. Menikah. Itulah yang telah sangat diharapkan oleh ibuku, oleh nenekku, dan oleh saudara-saudaraku. Sebagaimana yang dilakukan oleh ayahku dulu. Umur 25. Sayangnya, calon pengantinku telah pergi meninggalkanku… bidadari itu telah pergi meninggalkanku, tidak sanggup menungguku terlalu lama. Aku sangat sedih atas kepergiannya, namun tentunya aku harus tahu bahwa Tuhan selalu punya rencana bagi makhluk-Nya. Dia mungkin bukan jodohku, Tuhan mungkin telah menyiapkan yang lebih baik untukku kelak, yang harus kuperjuangkan agar bisa kudapatkan. Semua pasti akan indah pada waktunya.

Dua puluh empat tahun ya… benar-benar tidak terasa. Tidak, maksudku aku merasakannya. Aku merasakan perubahan yang terjadi berangsur-angsur dalam hidupku yang fana ini. Aku mengalaminya sendiri, bagaimana seorang Lukman Maulana, seorang lelaki yang egois, kesepian, namun tampan ini melewati hari-hari penuh lika-liku yang sedikit demi sedikit membentuk karakternya. Ibarat seekor Komodo yang langka dan beracun… yang kurasa sangat tepat mewakili karakterku. Yeah, walaupun awalnya nama Komodo bukan aku ambil dari nama binatang itu melainkan kuambil dari nama busway.
Ulang tahun sendiri bagiku adalah sebuah tahapan, yang akan selalu berubah, tidak akan pernah sama dari tahun ke tahun. Aku ingat benar bagaimana aku melewati hari ini beberapa tahun yang lalu. Aku ingat saat ayahku mengajakku makan besar di Bontang Kuring saat aku masih sangat kecil; aku ingat saat aku menangis merengek meminta dibelikan hadiah pada ibuku; aku ingat saat kakak dan adikku bersama sepupu yang lain menghajarku dengan tepung, air, telur, dan minuman ringan; aku ingat saat timnas Indonesia mengalahkan Qatar di Piala Asia; aku ingat saat tanteku menghadiahiku lembaran kertas merah; aku ingat saat aku bersama keluargaku membakar ikan di halaman belakang; aku ingat saat berlari penuh kemenangan saat membaca pengumuman kelulusan…. Aku ingat itu semua… aku ingat…

Ulang tahun baiknya dijadikan sebagai bahan renungan, sebagai bahan introspeksi diri atas apa yang telah berlalu. Mengingat kembali masa lalu bukanlah kesalahan, namun menjadi pembelajaran bagi masa depan… bagi masa yang serba tidak pasti, agar kita tidak kembali melakukan kesalahan, agar kita dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya. Bagiku ulang tahun bukanlah perayaan, bagiku ulang tahun adalah peringatan. Peringatan bahwa kita semakin tua, peringatan bahwa kesempatan kita sebenarnya semakin berkurang, peringatan bahwa kita mestinya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberi. Tidak banyak manusia yang seberuntung kita bila kita masih bernafas hari ini. Hidup adalah anugerah.

Untuk tahun ini ulang tahunku hampir bertepatan dengan kedatangan bulan suci umat Islam, bulan Ramadhan yang penuh berkah. Semoga di bulan Ramadhan kali ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih menghargai kehidupan. Bulan Ramadhan kali ini harus meninggalkan kesan dan harus bisa kujalani dengan sebaik-baiknya. Karena bulan ini adalah sebaik-baiknya bulan yang tidak semua orang beruntung bertemu dengannya. Bersyukurlah kaum Muslimin yang berkesempatan kembali bertemu dengan bulan ini, berbahagialah karena kebahagiaan kita menyambut bulan Ramadhan adalah bernilai pahala. Mari kita tingkatkan iman dan taqwa, jadikan hidup kita lebih berarti, dimulai dari Ramadhan kali ini. Semoga Tuhan selalu menyertai dan meridhoi niat-niat baik… Amin.

Selamat ulang tahun… diriku sendiri…😉
Terima kasih untuk semua kawan yang telah menemaniku selama ini…
Marhaban ya Ramadhan…

Iseng kubuka surat kabar di meja salah seorang pegawai, sekedar ingin membaca berita hari ini. Saat membalik halamannya, mataku tertarik melihat kolom yang ada di bagian kanan bawah. Disana tertulis lowongan kerja untuk posisi…. Wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s