Beranda » game » Ayahku Seorang Gamer: Sebuah Kenangan

Ayahku Seorang Gamer: Sebuah Kenangan

 Play 
Malam itu Aku sedang asyik bermain game di komputer kantor saat Firman, satpam yang sedang berkeliling datang menghampiri untuk sekedar menyapaku. Dia lalu tertarik melihatku memainkan game online dan duduk di sampingku untuk melihatku memainkannya. Aku sedikit menjelaskan permainan itu kepadanya, menciptakan sebuah obrolan ringan di antara kami. Melihat keasyikanku memainkan game, Firman lalu berkomentar, “Memang ya kalau sudah asyik main game jadi suka lupa waktu… jam segini aja masih di kantor.” Aku hanya tersenyum sekilas mendengar komentarnya itu. Dia lalu melanjutkan komentarnya dengan berkata, “Kalau sudah punya istri pasti bisa bikin berantem… istri ngajakin tidur tapi si suaminya masih asyik main game di komputer… bisa berabe urusannya. Saudaraku seperti itu. Dia punya komputer di rumahnya dan terkadang bertengkar dengan istrinya gara-gara main game.”
“Oh ya?” sahutku tertarik.
Firman mengangguk. “Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.”
“Ya, semakin dewasa seseorang, mereka pasti akan memikirkan hal yang lebih penting dari sekedar bermain game. Inikan hanya sekedar hiburan,” kataku kemudian.
Komentar dari satpam itu mengingatkanku pada ayahku. Meskipun ingatanku agak buram mengenai beliau, tapi aku ingat sebuah kejadian di malam itu saat aku masih kecil. Sekilas sama dengan kisah saudara si Firman itu, tentang suami istri yang bertengkar karena video game. Aku ingat ibu menyuruhku dan kakakku untuk tidur, tapi kami tidak bisa (atau tepatnya tidak tidur) karena melihat ayahku bermain game di kamar. Ibuku pun marah-marah pada ayah dan memintanya untuk mematikan game, tapi ayahku tetap asyik memainkan Mario menginjak pasukan kura-kura Koopa. Televisi kecil 14 inchi kami memang diletakkan di dalam kamar, sehingga aku dan kakakku bisa melihat ayah bermain game. Melihat ayah bermain game, tentu saja kami menjadi tertarik dan sulit untuk memejamkan mata. Ya, ayahku adalah seorang gamer.
Mesin NES alias Nintendo

Ayah adalah seorang polisi dengan jadwal kerja yang ketat seperti family man lainnya, berangkat pagi pulang malam. Dengan beban pekerjaan yang dipikulnya sebagai penegak hukum, tentunya pekerjaannya begitu melelahkan sehingga sudah sewajarnya bila beliau akan langsung beristirahat sepulang kerja. Tapi yang dilakukan ayahku bukannya beristirahat, melainkan justru menyalakan mesin Nintendo Entertainment System (NES) atau yang sering disebut Nintendo milik kami. Langsung saja ayah tenggelam dalam permainan Super Mario Bros. atau Tetris, dua judul game yang kemudian menjadi judul favoritku itu. Dan bila ayah sudah asyik bermain, perhatiannya akan terfokus penuh pada layar televisi, tidak bisa diganggu. Tak hanya mesin game rumahan, ayah juga pemain Game Watch (biasa disebut gimbot/Brick Game) yang hebat. Aku ingat saat ayah pergi ke Samarinda dulu dan pulangnya membawa dua buah Game Watch untuk kami mainkan. Aku ingat betapa senangnya aku keluar rumah menyambut kedatangan ayah sore itu. Aku bahkan sangat antusias saat menerima Game Watch dari ayah hingga aku bernyanyi-nyanyi senang, sebagaimana yang dikatakan oleh pamanku yang mengingat kejadian itu.
Meski seorang gamer, namun ayah sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya. Beliau memang mengizinkan aku dan kakakku bermain game pada waktu-waktu bermain. Sebaliknya, beliau akan melarang keras kami berdua bermain game bila tiba waktu belajar. Ayahku sangat keras mengenai hal ini, dan itu meninggalkan bekas yang dalam pada diri kakakku dan juga diriku. Aku ingat jelas bagaimana ayahku dulu membekap mulutku keras hingga aku menangis meronta-ronta dulu. Aku tahu, ayahku hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah, yang baru bisa kami pahami saat kami dewasa.
Ada kalanya kami bermain game bersama, menciptakan kenangan indah di dalam keluarga. Super Mario Bros. dan Battle City (Tank 1990) adalah game yang sering kami mainkan bersama, karena memiliki fitur multiplayer. Kami bahkan memainkan Battle City dengan sangat serius, saling bekerjasama antara ayah dan anak untuk menghancurkan setiap tank lawan sekaligus mencegah mereka menghancurkan markas kami yang kami sebut Garuda karena bentuknya seperti burung Garuda. Setiap kali aku dan kakakku memainkan dua game ini, kami akan selalu teringat kenangan saat memainkannya bersama ayah. Selain bermain video game bersama, kami juga seringkali bermain game papan seperti monopoli bersama-sama. Itulah kenapa video game dan monopoli begitu dekat dengan kami.

Mario
Super Mario Bros., Favorit Kami Sepanjang Masa

Saat-saat indah itu memang telah hilang begitu saja, berbekas kenangan di dalam memoriku. Kematian memisahkan kami selamanya, menghentikan saat-saat indah bermain game bersama ayah. Ayah meninggal di tahun 1995, saat aku masih berumur tujuh tahun. Sejak itu kami tidak pernah bermain bersama lagi. Tapi memang benar, bahwa orang yang kita cintai selalu hidup di hati kita biarpun raga mereka telah mati. Kenangan indah akan kehadiran merekalah yang menjadikannya senantiasa hidup abadi. Dalam hal ini, video game yang mengingatkanku pada kenangan indah bersama ayah itu.
Beberapa tahun setelah kematian ayah, terkadang aku dan kakakku memainkan kembali game Super Mario Bros. dan Battle City secara bersama-sama. Kami bermain bersama dengan asyiknya, sebagaimana yang dulu kami lakukan bersama ayah. Dalam sela-sela permainan itu, kakak biasanya bercerita betapa dia sangat menikmati permainan bersama ayah dulu. Kami berdua pun akan selalu terkenang pada masa-masa itu apabila kami memainkan dua game itu bersama-sama. Entah mengapa kami seperti merasakan kebaradaan ayah di antara kami berdua saat kami memainkan dua game itu kembali. Seolah ayah ingin mendampingi kami berdua memainkan game favorit kami… seolah ayah ingin melihat keceriaan anak-anaknya yang seharusnya hidup tanpa beban…. Ayah…
(aku benar-benar menangis saat menulis bagian ini…)

Battle City, Game Tempur Penuh Kenangan

Like father like son, mungkin pepatah itu tepat diberikan untukku. Ayahku seorang gamer, dan darah gamer itu juga mengalir dalam darahku. Saat aku beranjak dewasa, video game mewarnai hidupku dan menjadi salah satu kegemaranku. Meski begitu aku bukanlah maniak game seperti anak-anak zaman sekarang. Aku bermain game pada waktu-waktu senggang, menjadikannya benar-benar sebagai hiburan yang melepaskan kepenatan. Meski begitu pernah kalanya aku keranjingan bermain game saat di bangku kelas satu SMP dulu, ketika PlayStation sedang berjaya. Seringnya bermain di game di rental terdekat membuat nilaiku jatuh sehingga mendapatkan murka dari ibuku. Saat itu aku sangat menyesal dan kemudian memutuskan untuk tidak bermain game lagi. Itu bekerja cukup baik di masa-masa SMP hingga kemudian aku duduk di bangku SMA. Di SMA, tepatnya di awal kelas dua, aku mendapat hadiah komputer dari tanteku yang kaya raya. Awalnya sama sekali tidak ada game di komputerku, kecuali game-game standar macam Solitaire atau Minesweeper, karena tujuan utama komputer itu adalah untuk belajar atau mengerjakan tugas sekolah. Well, tujuan untuk belajar itu tidak sepenuhnya benar karena pada kenyataannya aku mulai melakukan hobi terbesarku dengan komputer itu, yaitu menulis cerita. Kemampuan mengetikku yang banyak dikagumi orang pun bermula dari sana. Hingga kemudian tukang servis komputer yang kupanggil untuk memperbaiki komputer menawarkan menginstallkan game di komputerku. Tukang servis itu bahkan mengkopikan lagu-lagu Dangdut kesukaan ibuku di komputer. Dan kisahku dengan video game pun berlanjut tatkala dua game yang diinstalkan oleh tukang servis itu, yaitu Counter-Strike dan Red Alert 2 menjadi game favoritku yang hampir selalu aku mainkan setiap harinya sepulang sekolah. Kedua judul game ini benar-benar pelepas stres yang mujarab. Game menembak Counter-Strike melampiaskan emosiku sementara game strategi Red Alert 2 membuat kepalaku terus bergerak untuk berpikir. Aku tidak punya masalah dengan memainkan dua game ini yang menurutku sama sekali tidak mengganggu waktu belajarku ataupun waktu tidurku. Sebaliknya, aku justru merasa terbantu dengan dua game itu yang menurutku sangat mendukung kegiatan belajarku. Aku merasa lebih terstimulasi untuk belajar setelah memainkan dua game itu di siang atau sore harinya. Hasilnya, aku meraih puncak prestasiku di SMA. Sejak saat itu petualanganku di dunia game bermula. Perburuanku terhadap game-game genre tertentu ataupun game-game klasik pun dimulai hingga kini. Ya, seperti ayahku… aku juga adalah seorang gamer.

RA2
Red Alert 2, Game Strategi Favoritku

Tapi tentunya tidak selamanya aku akan bermain game. Aku menyadari bahwa usiaku semakin bertambah dan kini aku bukanlah remaja atau anak-anak lagi. Kawan-kawan sebayaku bahkan sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Seperti yang kukatakan sebelumnya, semakin dewasa seseorang, mereka pasti akan memikirkan hal yang lebih penting dari sekedar bermain game. Inikan hanya sekedar hiburan, bagi mereka yang mampu memahaminya dengan baik. Well, meski begitu bagaimanapun aku adalah seorang gamer. Bagiku, gamer sejati adalah mereka yang menikmati waktu bermainnya, yang dapat berlaku bijak pada waktu kehidupannya. Kembali pada kisahku di bagian awal tulisan ini, aku membayangkan nantinya apabila aku sudah menikah dan memiliki anak. Anakku pastilah nantinya menyadari bahwa ayahnya adalah seorang gamer. Mungkin aku akan mengajaknya bermain game bersama sebagaimana yang dilakukan ayahku dulu padaku. Tapi aku tidak bisa menjamin bahwa anakku kelak juga akan menjadi seorang gamer seperti ayah dan kakeknya, mewarisi darah gamer dari kami berdua. Mungkin pula dia tidak akan bangga karena ayahnya seorang gamer dikarenakan tudingan negatif kebanyakan orang pada para gamer. Entahlah, masa depan serba tidak terduga, dimana kehidupan seorang anak bergantung pada bagaimana cara orang tua mendidiknya. Yang pasti aku akan selalu berharap bahwa anakku kelak akan menjadi anak yang baik, yang soleh, berbakti pada orang tua, agama, dan negara. Cuma itu saja, tidak lebih.

Terkadang aku teringat pada ayahku apabila melihat seorang ayah asyik bermain dengan anaknya laki-laki. Kenangan masa kecilku yang kabur muncul begitu saja di kepalaku. Terkadang aku menganggap ayah-ayah itu adalah ayah-ayah yang luar biasa, yang menyempatkan waktunya bermain atau menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Inilah yang diperlukan anak-anak di masa sekarang ini dan seterusnya, kehangatan seorang ayah. Karena masa kecil adalah masa emas yang membentuk karakter seorang anak. Orang tua yang bijak tahu bagaimana memaksimalkan kesempatan itu untuk menciptakan kenangan berarti bagi anak-anak mereka, yang akan selalu mereka kenang sebagai bekal kehidupan mereka kelak. Berbahagialah mereka, anak-anak yang memiliki waktu bersama ayah mereka… sementara sedihlah mereka, ayah-ayah yang melupakan anak-anak mereka…
Mungkin inilah titik awal dari dekadensi moral remaja zaman sekarang. Ayah mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing hingga melupakan kewajiban mereka sebagai orang tua. Jadinya tak heran bila kemudian aku menemukan anak-anak kecil usia sekolah masih nongkrong di warnet atau di rental game hingga larut malam untuk bermain game online. Bahkan aku menemukan ada anak yang tertidur di warnet karena menunggu giliran main. Tidak ada filter, tidak ada pengendali, anak-anak itu bergerak begitu saja menjadi anak-anak yang malas yang bisa berbuat seenaknya. Berbeda jauh dengan masa kecilku, terutama saat ayah mendampingiku bermain game. Tapi zaman sekarang susah sih, teknologi semakin maju dan jenis game pun menjadi semakin canggih serta beragam saja, tidak seperti dulu. Lihat aja betapa banyaknya game-game bertema kekerasan dengan grafik wah yang bisa didapatkan dengan mudah dan bisa dimainkan siapa saja tanpa ada kendali yang ketat. Tengok game Point Blank yang dengan jujurnya menampilkan cipratan darah. Tengok pula bagaimana ucapan anak-anak itu saat memainkannya: “ccd”, “anjing”, “bangsat”. Benar-benar sangat menyedihkan. Bandingkan dengan masa dulu saat video game hanya berupa perpaduan piksel kasar ala Tetris atau Super Mario., dua judul yang benar-benar menampilkan dunia game secara apa adanya, begitu sederhana namun menyenangkan…. tidak seperti game-game sekarang yang kebanyakan menampilkan grafik menawan yang begitu realistis seperti aslinya di dunia nyata tapi mengundang caci-maki. Esensi awal video game pun berubah dari sekedar permainan hiburan menjadi sebuah gaya hidup yang tidak produktif. Ayahku pasti akan sangat sedih bila beliau masih hidup dan melihat betapa absurdnya dunia game saat ini….

violent-video-games2
Video Game sekarang: Semakin realistis, semakin berbahaya

Untuk ayahku, terima kasih atas kenangan indah yang kau ciptakan dalam waktu singkatmu bersama kami. Aku sama sekali tidak pernah ingin berpisah denganmu, tidak ingin kehilanganmu karena saat itu aku benar-benar masih membutuhkanmu… membutuhkan seorang ayah. Tapi Tuhan punya cerita yang lebih baik. Tuhan pastilah punya jalan yang lebih baik dengan mengambilmu kembali dari kami begitu cepat saat kami masih sangat membutuhkanmu. Kau tahu ayah, aku sering iri bila melihat anak-anak lain pergi bersama ayah mereka. Aku sering iri saat melihat kawan-kawanku dibelikan sepeda motor oleh ayah mereka. Aku iri saat ayah-ayah itu mendampingi anak-anak mereka di waktu wisuda. Aku begitu iri saat para ayah dan anak laki-lakinya berjalan bersama untuk ibadah Jum’at. Aku iri… aku iri sekali…
Karena itulah aku tidak habis pikir bila ada anak yang meninggalkan atau melantarkan ayah mereka… Karena itulah aku tidak habis pikir bila ada ayah yang melupakan anak-anak mereka. Anak adalah titipan Tuhan, yang mesti dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Sementara orang tua dan keluarga adalah nikmat dari Tuhan, yang mesti disyukuri dengan penghargaan dan perlakuan terbaik. Demi Tuhan… cintailah keluargamu…
Ayah, semoga engkau bahagia di alam sana… Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untukmu di surga-Nya. Aku tahu betapa engkau mencintaiku ayah… Aku tahu betapa ayah selalu menyayangi kami semua… keluargamu. Ayah mungkin pernah berlaku keras pada kami, tapi kami tahu bahwa itu adalah tanda cinta Ayah pada kami. Kami sebagai anak-anak mungkin tidak dapat memahaminya, tapi kami sebagai orang dewasa paham betul akan hal itu. Ayah akan selalu menyayangi kami bagaimanapun keadaannya, sebagaimana kami yang selalu menyayangi ayah walaupun ayah telah lama pergi meninggalkan kami dan takkan pernah kembali. Karena bagi kami ayah tidak pernah mati… bagi kami ayah selalu hidup dalam hati kami…
Like father, like son… seperti ayah, demikian pula putranya… Dengan berbekal kenangan indah dalam waktu singkat kita… aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk membuatmu bangga, Ayah… Sebagaimana kebanggaanku padamu… karena bagiku hidup adalah sebuah permainan… Life is a game…

Ya, ayah… aku juga seorang gamer…

***

Family

I hope you grow up to become that everything you can be
That’s all I wanted for you young’n, like Father, like Son

But in the end I hope you only turn out better than me
I hope you know I love you young’n, like Father, like Son

My little man, your day is coming, coming, your day is coming, I tell you
And when it comes, just keep it running, running, just keep it running, I tell you
The Game – Like Father Like Son
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s