Beranda » kisahku » Pemuja Rahasia Itu Ada: Bagian Kedua

Pemuja Rahasia Itu Ada: Bagian Kedua

secret-admirer
Aku sedang duduk mengerjakan transaksi di meja kerjaku saat sebuah SMS masuk ke ponselku. Rupanya dari D.

D: Lukman, kamu sibuk gak?
Aku: Iya, emang kenapa?
D: Iya gimana? Sibuk? Nanti malam aja kalau begitu…
Aku: Iya lagi sibuk. Apanya yang nanti malam?
D: Ada yang mau aku tanya. Kalau sekarang sibuk, nanti malam aja.Malamnya, D mengirimkan SMS lagi. Kebetulan aku belum pulang dari kantor untuk melakukan hobiku, menggambar. Aku memang suka sekali menggambar atau menulis cerita di komputer kantor, kadang bisa hingga larut malam, sendirian di kantor.D: Lukman, udah pulang kantor?
Aku: Aku masih di kantor, tapi nyantai sih.
D: Aku mau nanya.
Aku: Tanya aja
D: Kalau aku minta balikan, kamu mau gak?Aku kaget saat dia bertanya seperti itu. Sebenarnya tidak terlalu kaget sih, mengingat dari perlakuannya padaku menunjukkan bahwa dia masih menaruh harapan padaku. Meski begitu saat ditanya seperti itu, aku tidak tahu harus menjawab apa. Jujur kuakui aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, hanya sekedar teman. Dan berkaca pada hubungan singkat kami sebelumnya, kupikir tidak ada gunanya bila kami menjalin hubungan kembali. Saat itu dia mengatakan bahwa dia tidak pernah berhasil dalam hubungan jarak jauh, sementara saat ini keberadaan kami terpisah oleh jarak dan waktu sehingga pertemuan sangatlah tidak memungkinan. Kupikir aku akan menolaknya, tapi aku bingung harus menjawab bagaimana. Aku takut jawabanku nantinya akan menyakiti hatinya. Setelah menimbang beberapa menit, akhirnya aku memberikan jawaban.

Aku: Maaf D, saat ini aku belum mau jalin hubungan sama cewek. Lagipula aku tinggal jauh dari kamu. Aku belajar dari hubungan sebelumnya, kayaknya kita gak cocok. Sebelumnya aku minta maaf, kuharap kamu bisa menerimanya. Masih banyak kok cowok yang lebih baik dari aku.
D: Aku tahu kamu bakalan bilang gitu. Aku tahu waktu itu aku memang keterlaluan. Aku yang harusnya minta maaf. Waktu itu aku gak tahu apa yang sebenarnya aku mau. Sekarang saat aku sadar, ternyata semuanya sudah berbeda. Terima kasih sudah baik sama aku.
Aku: Sama-sama D, aku senang kalau kamu mau mengerti… Kita lebih baik berteman saja, seperti dulu…

Sampai disini aku merasa lega karena dia bisa menerima keputusanku. Lebih dari itu, dia mengakui kesalahan yang diperbuatnya dulu, yang membuatku memutuskannya. Bisa dibilang aku adalah tipe lelaki serius yang tidak suka dipermainkan, dan aku tidak suka hal-hal yang menguji perasaanku sebagaimana yang pernah dilakukannya padaku. Bagiku sebuah hubungan haruslah berjalan apa adanya, mengalir begitu saja seperti air karena aku percaya itu. Tak lama, dia mengirimkan SMS lain padaku.

D: Aku boleh nanya satu lagi?
Aku: Tanya aja.
D: Kamu pernah gak punya perasaan suka ke aku, walaupun cuma sedikit?

Ditanya seperti itu membuatku berpikir. Sudah kukatakan di atas tadi kalau aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, hanya sekedar teman lama. Akan tetapi dalam kesendirianku disini, terkadang aku suka tersenyum sendiri bila memikirkannya. Terkadang aku ingin bertemu dengannya, atau dia hadir di dekatku. Tapi kemudian kusadari bahwa perasaan itu hanya dikarenakan kesendirianku yang merindukan teman wanita, tidak lebih. Meski begitu aku tidak mau memungkirinya.

Aku: Pernah, kadang-kadang.
D: Karena perasaan yang aku rasain ini milik aku sendiri, aku boleh kan nunggu kamu?

Aku kembali terkejut saat membaca SMS balasannya. Disini aku merasa sangat heran, sebegitukah dia menyukaiku hingga dia menggatakan akan menungguku? Aku heran. Benar-benar heran. Kami saling mengenal saat masih kecil dulu, saat duduk di sekolah dasar. Pertemanan kami berlanjut hingga sekolah menengah pertama, akan tetapi sejak itu kami hampir tidak pernah bertemu ataupun berbicara. Bahkan kenangan yang kuingat jelas darinya adalah saat-saat sekolah dasar dulu, dimana kami duduk satu bangku. Perlakuannya padaku dulu sangat jahat, meledekku habis-habisan, mengerjaiku, intinya hampir selalu membuatku kesal. Tapi aku tidak menyimpan dendam atau memasukkannya ke dalam hati. Aku menyadari bahwa saat itu kami masih anak-anak yang suka bermain, jadi kusimpulkan bahwa namanya juga anak-anak, ada kalanya berbuat nakal atau bandel, itukan wajar. Dia sendiri telah meminta maaf padaku akan sikap-sikapnya dulu padaku, saat kami kembali bertemu melalui jejaring social Facebook, bertahun-tahun setelahnya. Dan dari situlah kemudian aku mengetahui perasaannya yang sebenarnya, bahwa dia menyimpan rasa suka padaku sejak masa itu, yang disembunyikannya dengan sangat rapat, yang ditutupinya dengan sikapnya yang judes dan menyebalkan padaku. Disini aku tidak percaya menemukan hal seperti itu, seseorang yang memendam perasaan sukanya sejak masa kecil hingga dia dewasa. Kupikir hal-hal seperti ini hanya ada pada kisah-kisah cinta fiksi yang ada di novel-novel atau majalah remaja. Tidak, hal itu benar-benar ada dan aku mengalaminya sendiri (baca bagian pertama untuk lengkapnya).
Pada akhirnya setahun yang lalu kami sempat menjalin hubungan… jarak jauh. Akan tetapi beberapa hari saja kami menjalin hubungan, sikapnya padaku begitu menyebalkan dengan berkali-kali menanyakan apakah aku benar-benar mencintainya. Dia bahkan meminta putus yang langsung saja kuiyakan. Akan tetapi setelah itu dia justru marah-marah yang ditumpahkannya dalam status Facebooknya. Kubalas status itu dengan menulis status yang menyatakan bahwa tak masalah bila aku dibenci, yang terpenting aku berusaha untuk tidak membenci. Saat itulah dia meminta maaf dan kami berbaikan seperti sedia kala, memutuskan hanya berteman saja tanpa ada hubungan lainnya. Hingga SMS yang dikirimkannya meminta balikan tadi…
Dalam lanjutan SMSnya dia mengatakan akan menungguku, membuatku bingung harus berbuat apa. Bayangkan saja, ada seseorang disana yang mengatakan akan menungguku? Sementara kami bahkan tidak pernah bertemu? Begitu hebatkah rasa cinta yang dimilikinya hingga dengan tegas mengatakan hal seperti itu? Padahal diakan seorang wanita! Ah, sial… hal ini membuatku semakin pusing saja… Well, setelah berpikir sejenak, akhirnya kubalas juga SMSnya, sekaligus menyatakan rasa heranku atas perasaannya yang… ekstrim.

Aku: Janganlah menunggu yang tidak pasti, tapi kalau kamu mau menunggu itu hak kamu. Btw, aku heran lho, kok segitunya kamu sama aku? Kita kan gak pernah ketemu, tapi kok bisa kamu suka sama aku ya?
D: Aku sukanya udah lama, susah ilang, kamu aja yang gak tahu, hehe.. 😛
Aku: Emang apa sih yang kamu suka dari aku? Aku kan orangnya tolol banget.
D: Gak tahu tu D, kok bisa bertahun-tahun nyimpen suka sama kamu.

Well, rangkaian SMS itu pun mengakhiri percakapan kami malam itu. Aku benar-benar heran padanya. Dia bilang dia suka aku dari dulu, padahal seingatku dulu, (dan kupikir sekarang juga masih) aku adalah anak yang tolol, ceroboh, cengeng, yang intinya sama sekali tidak dapat diandalkan dibandingkan anak-anak lainnya. Nah, kok bisa-bisanya ada cewek yang bilang suka padaku?
Mengingat kesendirianku hingga saat ini, terkadang terpikir untuk menerimanya sebagai pendampingku, sebagai kekasihku. Terlebih setelah semua yang dia utarakan padaku bahwa dia begitu mencintaiku dan rela menunggu untukku. Akan tetapi kemudian aku memikirkannya kembali. Dia adalah anak orang kaya, yang terbiasa dengan gaya hidup mewah ciri khas anak-anak orang kaya sementara aku hanya pemuda miskin dengan penghasilan pas-pasan yang akan sulit untuk memenuhi gaya hidupnya itu. Membaca status-statusnya di Facebook cukup bagiku untuk menyimpulkan hal tersebut. Tempat makannya, pendidikannya, hingga liburannya, semua membawaku pada kesimpulan bahwa gaya hidupnya berbeda denganku. Hal ini berbeda sekali dengan tipe wanita idamanku, yaitu wanita sederhana yang mau menerimaku apa adanya. Karena dalam mencari kekasih, aku memikirkan jangka panjang untuk menjadikannya istri, karena aku serius akan hal ini. Aku hanyalah lelaki dengan penghasilan pas-pasan, yang akan berpikir dua kali sebelum memutuskan makan di rumah makan mewah. Yang kucari adalah wanita dengan kesederhanaan, bukan yang menuntut kesempurnaan. Ditambah lagi kedua saudaraku, kakak dan adikku kelihatannya tidak setuju bila aku bersama dengan D. Kakakku tidak menyarankanku menjalin hubungan dengannya, sementara adikku terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Apalagi ibuku yang mengatakan kepadaku untuk sebisa mungkin tidak mencari kekasih dulu, menyarankanku untuk fokus membangun karirku. Dari situ cukuplah bagiku untuk mengambil kesimpulan, bahwa kami berdua tidaklah cocok. Tidak ada yang perlu dilanjutkan, tidak ada yang perlu dikembalikan dalam hubungan ini karena kutahu pemaksaan dalam hubungan ini hanya akan berakibat fatal. Memang berteman adalah jalan yang terbaik, walaupun mungkin ada perasaan yang tersakiti. Aku sendiri cukup menyesal untuk hal ini, dan dalam hati aku berdoa semoga dia menemukan lelaki yang lebih baik dariku… yang lebih mapan dan lebih memahami perasaannya… Cuma itu aja sih… Toh jodoh tidak akan lari kemana kok, kalau kami memang berjodoh pasti Tuhan kan menyatukan, tapi kalau tidak ya… jangan dipaksakan…
Ya, begitulah kisahku dengan pemuja rahasiaku. Ini bagian kedua kelanjutan dari kisah sebelumnya setahun yang lalu, semoga saja menjadi yang terakhir. Sebenarnya aku berharap bisa menuliskannya dengan lebih baik, mengingat menurutku kisah ini benar-benar tidak bisa dipercaya, khususnya olehku sendiri. Tapi entah kenapa semakin lama kemampuanku menulis blog menjadi semakin menurun saja… jadi inilah yang bisa kutuliskan dan aku minta maaf kepada D apabila membaca tulisanku ini, aku sama sekali tidak bermaksud membagikan kisah kita berdua ini… aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja. Maaf bila ini menyinggungmu dan terima kasih karena telah menyimpan namaku cukup lama di hatimu. Lupakan aku dan temukanlah pria yang lebih baik dariku. Terakhir, kutulis ulang perasaan hatimu yang kulihat di statusmu, yang kuterka berhubungan dengan penolakanku kemarin… Maafkan aku…

Langit gelap, hujan lebat, kilatan petir…
Sepertt suasana hati yang telah dipermainkan…
Suraaaaam…

Benar-benar tidak pernah membencimu,
bahkan sangat menyayangi dan merindukanmu… sahabatku…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s