Beranda » kisahku » Tidak Sengaja ke Prakla

Tidak Sengaja ke Prakla

Prakla, adalah nama sebuah tempat di kota Bontang, tepatnya di wilayah Berbas Pantai. Daerah ini terdiri dari rumah-rumah kayu yang berdiri di atas laut dengan terhubung oleh jembatan kayu seperti yang bisa dilihat di Bontang Kuala. Tempat ini dikenal sebagai tempat hiburan malam kota Bontang, dimana terdapat banyak rumah-rumah karaoke dan hiburan disini. Keberadaan Prakla sudah sangat populer di kalangan warga kota Bontang yang mengenalnya sebagai “lokalisasi”. Aku pertama kali mendengar nama ini dari sepupu yang menceritakannya ketika aku baru pertama kembali lagi ke Bontang. Aku terkejut saat pertama kali mendengarnya, karena kupikir Bontang adalah kota yang religius, manalah mungkin memiliki tempat yang dijadikan lokalisasi. Menurut sejarahnya, Prakla awalnya hanya dijadikan pusat karaoke hiburan malam, namun praktek prostitusi dan penjualan minuman keras ditengarai marak berlangsung disana. Pihak satpol PP pernah menggerebek dan melakukan pembongkaran di wilayah Prakla, namun diduga karena bocor, operasi satpol PP tersebut tidak berjalan efektif.
Mendengar catatan hitam tentang Prakla, tentunya aku tidak memiliki niat sekalipun untuk datang kesana walaupun saat pertama kali kudengar tempat tersebut juga seperti Bontang Kuala dengan rumah-rumah kayu berdiri di atas laut cuma lebih kecil, mungkin tidak ada sepertiganya. Meski begitu rupanya takdir membawaku juga “kembali” kesana. Secara tidak sengaja, aku pergi kesana dan menginjakkan kakiku di lantai kayunya. Hari itu hari Minggu, dimana aku dan Mas Catur, teman sekantor sekaligus teman latihanku pergi ke Berbas untuk membeli seragam. Berbas adalah suatu wilayah di kota Bontang yang dikenal sebagai pusat perdagangan kota Bontang. Lama kali menyusuri jalanan Berbas mencari toko yang kami cari di satu sisi jalan Berbas namun kami tak kunjung menemukan toko yang kami maksud. Sebelum berbalik arah untuk menyusuri sisi jalan lain di Berbas, Mas Catur mengajakku untuk mampir sebentar ke tempat yang disebutnya Berbas Pantai atau pantainya Berbas. Aku yang ingin tahu banyk tentang kota kelahiranku pun mengiyakan saja dan kemi pun meneruskan perjalanan ke bagian dalam Berbas. Setelah melewati jalanan yang cukup lengang, akhirnya kami mencapai perkampungan yang mirip Bontang Kuala dengan rumah-rumah kayu berdiri di atas laut dan jembatan kayu lebar panjang. Saat pertama kali melihat perkampungan ini, entah kenapa aku langsung teringat akan Prakla, yang kata sepupuku mirip dengan Bontang Kuala. Tapi saat itu kukira Prakla tidak berada di Berbas sehingga aku pun langsung menyingkirkan pikiranku itu. Akan tetapi saat kami menyusuri jalanan kayu perkampungan tersebut, entah kenapa pikiran itu kembali muncul. Kulihat di kanan dan kiri jalan terdapat banyak rumah-rumah dengan papan nama bertuliskan “karaoke”. Tentu saja bagiku aneh karena rumah-rumah karaoke itu berjajar di sepanjang perjalananku menyusuri perkampungan itu. Kulihat banyak wanita-wanita muda dengan pakaian yang seksi berjalan atau nongkrong di depan rumah-rumah itu. Dalam hati aku trerus bertanya apakah tempat yang kudatangi saat itu adalah Prakla. Berikutnya aku melihat laki-laki bertubuh besar di salah satu rumah karaoke. Dengan mengenakan pakaian singlet, terlihat jelas tatto-tatto sangat di tubuh lelaki itu. Wajahnya juga sangar dengan kulit cokelat kehitaman. Langsung aja aku menebak dalam hati, apakah lelaki itu adalah preman? Aku sendiri sempat merinding dan berkata pada Mas Catur kalau aku merasa takut. Pada akhirnya kami tiba di wilayah pantai, atau tepatnya tepian laut. Lautan biru luas langsung terlihat jelas dan tampak pula patung Merlion di seberang sana, di Tanjung Laut. Barulah aku teringat kalau Berbas dan Tanjung laut itu letaknya berdekatan. Beberapa kapal nelayan tertambat di dermaga Berbas Pantai yang kami datangi itu, sementara ada sebuah kapal kecil berisi banyak orang bergerak di perairan di samping dermaga. Aku dan Mas Catur pun menikmati sejenak pemandangan lautan yang ada disana dan mengabadikannya dalam beberapa jepretan foto. Kami melihat aktivitas para nelayan yang ada disana, dengan beberapa anak kecil yang tampak asik bermain-main dengan riangnya. Aku bergerak melihat-lihat dermaga itu, berjalan tepat ke batas lautnya. Saat duduk di tepian laut dan memandang ke bawahnya itulah tiba-tiba sesuatu yang tidak asing bergerak cepat di memoriku. Oh tidak, aku pernah ke tempat ini sebelumnya! Tiang-tiang dermaga di bawah laut yang berkerak, kedalaman laut dan juga bagian paling tepi dermaga ini… aku pernah duduk di tempat ini sebelumnya! Potongan ingatanku yang buram pun perlahan menjadi jelas walaupun tidak bisa lebih jelas lagi. Dulu saat aku masih kecil, aku pernah bediri disini, pernah duduk disini. Aku ingat dulu ada lomba dayung dan ada banyak orang yang menyaksikannya. Aku ingat saat itu aku duduk di tepian dermaga dengan kaki terjulur ke laut, melihat takut air laut yang biru dan dalam. Aku ingat karang yang ada di dalamnya… aku ingat kerak pada tiang penyangga kayu-kayu itu. Aku dulu pernah ke tempat ini! Seketika aku terdiam sejenak, merenungi waktu yang telah berlalu begitu cepat. Dulu seorang anak laki-laki manja duduk dengan perasaan riang gembira dengan apa yang dilihatnya. Kini anak laki-laki itu telah kembali dan berdiri mengenang masa kecilnya yang terlupakan. Lomba dayung itu… keramaian itu… semuanya masih samar-samar. Hanya satu dari kenangan itu yang teringat jelas hingga saat ini… rasa takut itu… ketakutan itu masih sama.
Setelah beberapa saat menikmati hari libur kami di dermaga itu, kami teringat tujuan kepergian kami sebenarnya dan bergerak meninggalkan perkampungan itu untuk kembali ke pertokoan di Berbas. Dalam perjalanan meninggalkan perkampungan itu, kami berpapasan dengan sekelompok wanita yang sepertinya baru saja selesai mandi. Mereka mengenakan handuk dan berjalan bersamaan di sepanjang jalanan kayu perkampungan tersebut. Sekali lagi terbersit perkiraan di pikiranku… apakah tempat ini adalah Prakla? Tidak, ini bukan Prakla, ini Berbas Pantai, batinku berusaha menyingkirkan pikiran itu, tidak mau mengotori masa kecilku yang terkenang kembali.
Beberapa hari kemudian barulah kusadari bahwa perkampungan yang kudatangi itu adalah memang benar Prakla. Mas Catur sendiri sangat terkejut ketika menyadari kami tidak sengaja datang kesana. Berarti dugaanku memang benar, tempat itu adalah Prakla. Tempat-tempat karaoke, wanita-wanita berpakaian ketat nan seksi, dan lelaki-lelaki besar hitam penuh tato… tak salah lagi, itulah Prakla. Konon banyak wanita muda yang dijebak di tempat ini dan mereka tidak bisa kembali karena penjagaan preman-preman itu, sebuah kisah ironis di negeri Indonesia tercinta. Bagaimanapun praktek prostitusi tidak bisa dibenarkan, pemerintah harus bersikap tegas mengenai hal ini. Semoga mereka yang berkecimpung dalam kegiatan dosa seperti ini dapat segera tersadar dan mendapat hidayah dari Tuhan untuk kembali ke jalan yang benar. Amin.
Well, tempat yang tidak ingin kudatangi pada akhirnya kudatangi juga secara tidak sengaja. Dengan berbekal sepenggal ingatan, ingatan tentang seorang anak laki-laki yang takut saat melihat kedalaman laut, sedikit demi sedikit bagian diriku mulai kembali ke kota ini. Dulu almarhum ayahku membawaku ke tempat itu untuk menyaksikan lomba dayung saat ibuku arisan, cuma itu kalimat pengingat yang kudapati. Tak banyak memang karena saat itu aku terlalu kecil untuk bisa mengingatnya. Hanya hal-hal yang meninggalkan kesan mendalam yang bisa kuingat, seperti rasa takutku melihat lautan yang dalam atau ketika aku terjatuh di turunan dekat rumahku dulu. Terkadang aku senyum-senyum sendiri saat mengingat “kunjunganku” ke Prakla. Lucu aja gitu mengingat kedatanganku yang tidak sengaja ke Prakla. Semakin bertambah lucu saat kuceritakan pada ibuku dan beliau langsung berkata, “Jangan sekali-kali lagi datang kesitu!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s