Beranda » catatan » Merintis Karir di Tanah Lahir

Merintis Karir di Tanah Lahir

rintis
Narsis dulu jeng…


Tahun 2011 telah berakhir dan kini memasuki tahun baru 2012… tak terasa sudah setengah tahun lebih aku pergi dari pulau Jawa dan kembali ke tanah kelahiranku, Kalimantan. Ada banyak kisah yang terjadi selama satu tahun ini, yang merupakan sebuah awal dari perjalananku selepas kuliah. Aku masih saja tak percaya kalau akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku di tanah Kalimantan, dimana dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan disini. Banyak hal yang telah berubah sejak enam belas tahun yang lalu kutinggalkan pulau ini. Tanah ini kini asing, walaupun aku merasa masih mengenalnya dekat. Potongan-potongan jigsaw memori itu sepertinya sulit untuk disatukan.

Ada temanku berkata, siapa yang sudah pernah mencicipi air Kalimantan, pastilah akan kembali lagi dan kupikir itu betul terjadi. Disinilah aku sekarang, di Bontang, Kalimantan Timur. Tak lama setelah aku menjejakkan kaki di tanah kelahiranku setengah tahun yang lalu, aku diterima bekerja di sebuah bank swasta di Samarinda. Tapi tempat kerjaku adalah di kota ini, di Bontang. Sebagai awal karirku, aku langsung bekerja di instansi lain, instansi vital pemerintah penyedia suplai energi kehidupan. Aku terpisah jauh dari rekan-rekanku sesama pegawai bank, yang terkadang membuatku sedih. Aku merasa seperti dibuang, merasa tidak diperhatikan, merasa kesepian di tengah keramaian.
Tapi memang itulah kerjaku, mewakili sebuah bank yang setiap bulan membayarku agar aku duduk setia menanti di sebuah meja yang khusus dibeli untukku. Pekerjaan ini… kadang begitu sibuk, kadang begitu santai, kadang begitu membosankan. Senanglah aku berteman dengan dunia maya, walau terkadang aku dibuat repot karenanya. Saat aku tidak bisa masuk ke dalamnya, prioritasku untuk selalu terhubung membuatku rela menembus derasnya hujan demi terlaksananya pekerjaan. Dan dalam diamku, terkadang aku menulis atau membaca sebuah kisah untuk menambah pembendaharaan kataku. Disini, di kotaku Bontang.
Ada beragam manusia di gedung yang aku tempati. Mereka semua punya keahlian tersendiri dan terkadang aku salut pada mereka. Tidak hanya terkadang, tetapi sering. Beberapa dari mereka memiliki karakter yang unik, maksudku setiap karakter mereka unik dan aku menghormati itu. Beragam profesi yang kutemui di gedung ini, mulai tingkat atas sampai tingkat bawah, dan aku terhubung dengan semua itu. Meski begitu tanggung jawabku hanya satu, sebagai duta dari sebuah bank yang setiap bulannya mengirimkan uang kepadaku. Maka dengan demikian nama baikku adalah nama baik perusahaanku juga, dan itulah aku harus menjaganya.
Uang, uang, uang… kalau bicara tentang uang memang tidak ada habisnya. Apapun yang kudapat akan aku berusaha untuk mensyukurinya. Tapi sebenarnya hampir setiap hari aku memegang uang dan jumlahnya tidaklah sedikit. Mungkin nantinya aku akan tertular rekanku yang tidak ingin menjadi orang kaya karena sudah bosan melihat uang. Memang itu sudah resiko petugas bank, kupikir. Dalam hal ini aku selalu berdoa kepada Tuhan agar hatiku tidak menjadi gelap dan agar aku bisa menyampaikan titipan itu kepada yang berhak. Kuberdoa pula agar dijauhkan dari mereka yang memiliki niat jahat, sembari aku berusaha berhati-hati sampai sehati-hatinya kalau perlu.
Disini, di kotaku Bontang. Aku memulai karirku sebagai profesional. Setiap hari ada sebuah pelajaran bagiku. Banyak hal terjadi, dan kurasakan itu sebagai langkah baru dalam pengalamanku. Kemampuan terpendamku sedikit demi sedikit tampaklah sudah. Keberanianku pun mulai muncul, dengan kesabaranku yang terus-menerus diuji. Kadang aku mengeluh, kadang aku diam saja, kadang aku bersyukur. Aku mengeluh atas hal salah yang tidak aku lakukan. Aku diam saja atas hal salah yang memang kulakukan. Terakhir, aku bersyukur karena aku ada disini sekarang, di kotaku Bontang. Bila melihat ke bawah, memang banyak orang yang tidak seberuntung diriku. Rasul memang mengajarkan bawah bila bicara nikmat maka kita harus selalu melihat ke bawah agar bersyukur, namun bila bicara kebaikan barulah kita melihat ke atas untuk sebuah pencapaian positif.
Menghadapi begitu banyak karakter, menghadapi begitu banyak keluhan, serta masalah-masalah penting hajat hidup orang banyak, terkadang aku merasa tidak cukup untuk semua itu. Maksudku, hei! Aku seorang diri disini dan semuanya seolah memojokkanku? Aku hanya berusaha menjalankan tugasku sebaik-baiknya dan maafkan kelemahan lisanku. Sejak kecil aku memang begini, menjadi bahan olokan teman-temanku… tapi itulah aku. Bagiku kelemahan ini bukanlah penghalang untuk maju, bagiku kelemahan ini justru sebuah cambuk, maksudku aku harus menghadapinya. Seringkalilah aku bersyukur atas kelemahan ini, karena justru melalui kelemahan inilah aku mampu bersikap sabar. Kata-kataku yang terputus seolah mengingatkanku untuk menahan emosi, seolah pula mengingatkanku untuk berpikir kembali, sesuatu yang sebenarnya harus dilakukan oleh banyak orang. Tuhan Maha Adil.
Aku diam bukan berarti aku mati. Aku diam bukan berarti aku bisu. Tapi aku menunggu, dan sebenarnya kita memang harus bicara hal-hal yang perlu saja. Walaupun kupikir aku keterlaluan, tapi biarlah. Anggap saja ini sebagai mekanisme pembelaan diri yang tidak masuk akal. Ini sebenarnya telah melatihku bersikap tenang, cukup ekstrim sehingga bisa disebut juga tanpa inisiatif, kupikir akan berbahaya bagi diriku sendiri. Entahlah…
Disini, di kotaku Bontang, setiap pagi selalu kujelang dengan menyebut nama Tuhan. Aku dan tentunya kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya, sehingga kepasrahan diri dan melakukan hal terbaik harusnya selalu diingat. Biarpun aku kini tak pernah lagi ikut doa bersama, tapi tentu saja aku selalu berdoa. Dalam setiap nama Tuhan ada doa, dan mengingat Tuhan adalah sebuah syukur yang luar biasa. Bila kita menjadikan bagian pekerjaan kita sebuah sebuah ibadah dan wujud syukur itu sendiri, maka tak ada yang perlu dikeluhkan, semuanya akan indah pada waktunya.
Terkadang aku dilupakan. Terkadang aku dilewatkan begitu saja. Dan ketika aku diingat, itu tak seperti yang kuharapkan. Di mejaku, aku sibuk dengan duniaku sendiri. Sementara, di sampingku begitu banyak orang bicara. Seolah dalam ruangan itu hanya ada aku saja, atau bagi mereka seolah di ruangan itu tidak ada aku, seorang duta yang suka memuji dirinya untuk menguatkan hatinya sendiri. Memang seringnya orang memberikan kritik sehingga mereka melupakan pujian. Andai mereka tahu kalau pujian yang tulus adalah sebuah kebahagiaan, mereka pasti akan menyempatkan mengatakannya minimal sekali saja setiap hari. Tapi manusia memang lebih menyukai kritik, maksudku mereka lebih menyukai memberikan kritik daripada pujian.
Kalau dipikir bisa saja aku mencari pekerjaan lain yang lebih menarik dari ini, di tambang mungkin. Tapi aku sudah bicara dengan pemimpinku. Aku bilang aku akan setia, walaupun sesungguhnya aku sendiri meragukannya. Begini, bagiku sebuah kepercayaan itu haruslah dijaga. Lalu pengalaman itu tidak hanya didapat dalam satu hari saja. Jadi biarlah orang berkata apa, aku hanya berusaha sebisa mungkin untuk berlaku profesional. Bagaimanapun ini karirku, maka akulah yang sepenuhnya menjalaninya, bukan mereka. Disini sebenarnya aku melatih diriku, yang telah lama tertidur dalam kemalasan tak berujung, terbuai dalam mimpi-mimpi semu yang mustahil terwujud tanpa sebuah gerakan. Aku memang orang yang malas.
Disini, di kotaku Bontang. Aku masih terus berusaha percaya bahwa karirku telah dimulai. Karirku telah dimulai tanpa sebuah kepastian. Tapi hidup memang penuh ketidakpastian, itulah kenapa banyak orang ikut asuransi, termasuk ibuku. Bekerja di bank ini sebenarnya memberikan sebuah pencapaian, pada orang-orang yang seringkali mengatakan ketidakpastian tersebut. Begitulah, aku sering tak percaya bahwa aku bekerja di sebuah bank, hampir setara dengan mereka yang duduk di meja belakang. Padahal dulu aku pergi begitu saja dan berlalu dari pendidikannya. Kupikir ini adalah jalan yang dipilihkan Tuhan agar aku bisa menunjukkan bawah aku pun bisa. Entahlah, bagaimanapun aku bukan Tuhan yang bisa mereka-reka apa yang dipikirkan-Nya.
Disini, di kotaku kota Taman. Aku memulai semuanya disini, maksudku Tuhan memulaikan hidupku disini. Tuhan pula yang menjadikanku memulai karirku disini, sesuatu yang harus kusyukuri tepat dua dekade lebih tiga tahun sejak aku dimulakan. Tepat sekali, karena setelah itu aku merayakannya dengan memandang rembulan. Tapi aku memang harus percaya, bahwa disinilah aku sekarang. Disinilah aku dengan karirku, disinilah aku harus berjuang, dan disinilah aku harus menjadi dewasa. Menjadi dewasa memang sulit, tapi itu adalah sebuah pilihan. Mereka yang memilih tetap menjadi kanak-kanak akan menemukan separuh dunia, tapi mereka yang memilih menjadi dewasa akan menemukan semuanya. Jadi sekali lagi, menjadi dewasa adalah pilihan.
Entah kenapa aku merasa semakin lama tulisan ini menjadi semakin abstrak tidak jelas, tapi tentu saja ini bukan sebuah abstraksi. Aku memang tidak pandai berkisah dengan bahasa sebenarnya, dalam beberapa hal aku tidak suka dengan keterusterangan. Ya hanya saja aku merasa itu bisa membuatku menjadi sombong, sementara kita manusia tidak boleh sombong, kupungkiri itu. Inilah sesungguhnya yang kurasakan selama setengah tahun ini, menjadi catatanku untuk tahun yang akan segera berakhir ini. Kesimpulannya mungkin adalah seperti pada tajuk, bahwa aku memulai karirku di tanah kelahiranku. Ini seperti seseorang yang kembali ke kampung halamannya setelah sekian lama pergi untuk memakmurkannya. Meski dalam hal ini aku tidak tahu apakah definisi kampung halaman itu tepat untukku. Kupikir aku hanya akan menyebutnya sebagai tanah kelahiran saja.
Inilah catatan asalku tentang setengah tahun yang berlalu, tentang sebuah rintisan karir di tanah lahir. Tentang ketidakpuasan, tentang sehari-hari, dan tentang rasa syukur. Tentang bahwa aku akan berusaha melakukan yang terbaik di tengah ketidakpastian, tentang sebuah kesetiaan, dan tentang sebuah hubungan. Itulah tentang apa yang aku tulis disini. Selebihnya kalian pastilah teramat pintar untuk mengartikannya sendiri. Jadi akhirnya kututup jua coretanku yang tidak bermakna ini. Mohon maaf kiranya tidak berkenan, sekian dan terima kasih…



L. Maulana
Saat angka satu berjejer di bulan penghujung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s