Beranda » kisahku » Sandal, Maling, dan Masjid

Sandal, Maling, dan Masjid

sandal
Aku tak menyangka kalau maling sandal masih ada di zaman modern serba canggih seperti sekarang. Well, aku mengalaminya sendiri… dua kali pula, membuatku menjadi sangat kesal terlebih lagi maling sandalnya di masjid di kota yang bisa dibilang kota religius, membuatku semakin miris.
Kehilangan sandal di masjid adalah pengalaman pertamaku. Saat itu aku pergi ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah dengan memakai sandal terbaikku yang merupakan pemberian pamanku. Sandal itu bisa dibilang sandal yang bagus dan keren, jadi aku suka memakainya. Bukannya mau pamer, tapi memang hanya itu sandal yang kumiliki yang kubawa saat pindah dari Jakarta. Sama sekali tidak terpikirkan di benakku bahwa akan ada maling sandal di kota Bontang yang terbilang maju dan kaya (yang lucunya POM bensin selalu penuh dengan antrian), karena dari pengalaman-pengalamanku sebelumnya pun sandalku baik-baik saja bila kupakai ke masjid di kota-kota lain sekaliber Jakarta. Tapi semua berubah saat aku selesai mendengar ceramah dan sholat Isya, ketika aku beranjak untuk pulang… sandal kerenku sudah tidak berada di tempat semestinya dia berada saat kutinggalkan sebelumnya. Aku bahkan tidak bisa menemukannya dimanapun di halaman masjid! Aku pun pulang ke rumah dengan telanjang kaki dan itu menjadi pengalaman pertamaku kehilangan sandal di masjid.
Tak ingin kehilangan sandal yang bagus dan keren lagi, aku pun membeli sandal jepit standar yang biasa dipakai orang-orang, sandal jepit murahan warna putih polos dengan karet penjepit warna hijau. Aku pun memakainya dengan bangga pergi ke masjid, dengan begitu yakin bahwa sandalku tidak akan ada yang mencuri karena itu sandal murahan. Tapi masalah lain muncul saat aku selesai sholat berjamaah Tarawih yang kebetulan saat itu memang bulan Ramadhan. Saat aku hendak beranjak pulang, aku melihat ada banyak sandal yang serupa dengan sandalku di tempat terakhir aku meletakkan sandalku… sama-sama berwana putih dengan karet penjepit warna hijau! Aku lalu mencoba satu-persatu sandal yang ada, mencoba merasakan sandalnya untuk bisa menemukan sandalku, tapi percuma saja karena ternyata aku tak bisa menemukannya. Sepertinya seseorang salah mengira sandal milikku sebagai miliknya dan langsung membawanya pergi. Daripada pulang nyeker lagi, aku pun memakai salah satu sandal jepit yang kurasakan tepat di kakiku akan tetapi… warna karet penjepitnya biru, bukan hijau!
Tak mau kejadian sandal tertukar terulang kembali, aku lalu membeli sandal jepit yang agak kerenan sedikit, yang tidak polos putih namun memiliki corak tulisan merk “New Era” dengan warna dasar hitam dan penjepit warna biru. Kalau dilihat sandal jepitku kali ini lebih keren dari sandal standar sebelumnya dan akan sulit tertukar karena jarang yang memilikinya. Aku pun menggunakannya untuk pergi ke masjid, walaupun pamanku sudah memperingatkan untuk tidak mengenakan sandal itu setelah “tragedi” hilangnya sandal bagusku dulu. Meski begitu saat aku mengenakannya ke mushola dekat rumah, sandal itu tidak pernah raib, membuatku percaya diri dan memakainya kemanapun aku pergi.
Tapi Tuhan merencanakan sandalku untuk kembali hilang. Kira-kira seminggu yang lalu aku pergi ke masjid besar untuk sholat Jum’at, masjid yang sama dimana aku kemalingan sandal bagus pertamaku. Aku pergi bersama anak tetangga yang saat itu memakai sandal bagus. Saat memasuki masjid aku mengkhawatirkan sandal anak itu, takut kalau sandalnya dimaling. Alih-alih sandal anak itu yang hilang, justru akulah yang kembali kehilangan atau tepatnya kemalingan sandal di masjid. Sandal jepit keren merek “New Era” milikku kucari sudah tidak ada di samping sandal anak tetangga. Aku pun pulang dengan kaki telanjang untuk kali kedua. Betapa malunya aku saat jamaah lainnya yang berjalan bergerombol pulang melihat ke arahku. Seorang teman bertanya kemana sandalku dan saking kesalnya aku menjawab dengan cuek, “Tahu kemana…”. Aku benar-benar tak percaya aku kehilangan sandal dua kali di masjid yang sama… seolah aku adalah orang bodoh yang terperosok jatuh ke lubang yang sama… yang melakukan kesalahan yang sama!
Kesal dengan maling sandal, aku lalu pergi ke warung terdekat dan membeli dua pasang sandal jepit sekaligus: satu pasang sandal jepit standar polos putih dengan karet warna hijau dan satu pasang sandal jepit bagus merek “New Era” yang jadi korban waktu itu. Aku juga membeli korek api gas dan membakar sandal jepit standar yang aku beli hingga menimbulkan bekas terbakar pada warna putihnya, membuat sandal itu takkan tertukar lagi. Memang salah ya kalau punya sandal bagus?
Tapi harus selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, dan aku memikirkannya dari pengalamanku dua kali kehilangan sandal bagus di masjid. Mungkin Tuhan menegurku melalui cara yang halus, melalui hilangnya sandalku yang bagus di masjid. Kuakui memang saat kehilangan sandal yang pertama waktu itu aku tidak khusyu’ dalam sholatku, aku mengkhawatirkan sandalku, takut kalau sandalku akan hilang. Mungkin Tuhan tidak suka aku menduakannya terlebih dalam ibadahku sehingga dia menjadikan ketakutanku terwujud menjadi kenyataan. Sandal itu benar-benar hilang. Mungkin pula Tuhan menegurku untuk lebih meningkatkan ibadahku, untuk lebih ikhlas menjalaninya dan berhenti mengeluh. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu…
Dasar Nasib punya sandal bagus… sekalinya dibawa ke masjid buat sholat jamaah, langsung aja diembat sama maling… plis deh, hare gene masih ada maling sandal? Sudah gak jaman lagi tahu, sekarang itu jamannya maling uang rakyat (?). Dan pesanku untuk si maling sandal… kukutuk kamu biar gak bisa beli sandal yang harganya paling murah sekalipun… dasar maling tak tahu diuntung… Hahaha… 😀
*stress karena dua kali kemalingan sandal*
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s