Beranda » kisahku » Semut Merah dan Kebakaran Rumah

Semut Merah dan Kebakaran Rumah

Bekas hangus terbakar di teras rumah…

30 September 2011… Untuk pertama kalinya aku berhadapan dengan kebakaran… dan itu semua terjadi hanya karena semut merah… Beruntung Tuhan masih menyayangi keluarga ini…
Aku sedang tidur saat kakak sepupuku membangunkan, mengatakan ada banyak semut merah di bawah kasurku. Aku bangun dan memang ada banyak semut merah yang sepanjang malam selalu menggigitiku. Banyaknya semut di kamarku ini dikarenakan pembangunan yang tidak sempurna, sehingga semut-semut ganas bisa menghancurkan celah-celah dinding dan masuk ke dalam kamar.
Setelah menyingkirkan semut-semut yang terlihat, kakak sepupuku lalu berniat membunuh semut-semut di dalam lubang yang terus bermunculan keluar dengan menggunakan bensin. Dia membeli satu botol penuh bensin ukuran satu liter dan menyiramkannya di batas dinding dan lantai, tempat semut-semut itu muncul dan bersarang. Setelahnya, dia yang kesal dengan kemunculan berulang semut-semut yang mengganggu itu berniat untuk membakarnya. Kebetulan dia membawa korek api gas dan langsung menyulutkannya pada tempat itu. Bodohnya, tangan kanannya masih membawa botol bensin yang terisi penuh, dan yang terjadi selanjutnya bisa ditebak… api menyala dan menyambar botol bensin yang dibawanya. Api pun dengan cepat menyebar, membakar sebagian kamarku. Aku dan kakak sepupuku terkejut dengan kebakaran yang tidak kami duga itu. Beruntung kakak sepupuku mampu berpikir cepat dengan membawa keluar botol bensin yang terbakar itu, yang kemudian membakar sebagian ruang tamu. Api pun menyebar cepat dan orang-orang mulai panik. Angin yang berhembus kencang membuat api menjalar pada dinding rumah pembatas dengan rumah tetangga, membuat tetangga ikut panik berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri. Di luar itu ancaman terbesar justru datang dari motor-motor yang terparkir di halaman rumah, apalagi saat itu pamanku sedang memperbaiki motornya. Api menjalar di halaman teras rumah dan beruntung motor-motor tidak terparkir di jalan yang dilalui api karena andai saja motor-motor terparkir disana saat itu, sebuah kebakaran sangat besar akan terjadi di desa kami. Kakak sepupuku pun langsung melemparkan botol bensin yang terbakar sebelum akhirnya meledak. Dia bahkan nyaris membakar paman hidup-hidup karena dia melemparkannya tepat di samping paman yang dengan cepat menyingkirkan motor-motor sejauh mungkin dari api. Alhamdulillah, tragedi malam itu berakhir sudah dengan hanya kakak sepupuku saja yang menjadi korban, tangan kanannya terbakar akibat mempertahankan botol bensin agar tidak meledak di dalam rumah. Dia yang memulai masalah, dia pula yang menyelesaikannya. Andai dia panik saat kebakaran pertama terjadi, mungkin rumah kami kini tinggal sejarah.
Api yang membakar rumah lenyap dengan sendirinya, sementara aku memadamkan sisa api yang masih membakar kamarku. Beruntung api yang membakar rumah tidak merembet pada benda-benda yang mudah terbakar atau kabel listrik, sehingga rumah kami terselamatkan dari bencana kebakaran… nyaris saja kami kehilangan tempat tinggal hanya karena kecerobohan yang tidak semestinya terjadi.

api2
Bekas hangus terbakar di sudut kamarku…

Setelah kejadian itu aku terduduk lesu. Dadaku terasa sakit sekali, aku mengalami shock ringan. Ini pertama kalinya aku mengalami kebakaran rumah secara langsung, ini kali pertama aku menghadapi api yang mengancam langsung di depan mataku. Masih teringat saat aku berdiri dengan api menyala di depanku, seolah hal yang lebih buruk bisa terjadi kapanpun. Orang-orang masih berkerumun di depan rumah setelah kebakaran itu, well tentu saja itu akan terjadi.
Aku mengerti sekarang kenapa kebakaran rumah bisa meninggalkan trauma pada korban. Aku mengalaminya sendiri dan itu benar-benar mengerikan. Aku jadi teringat pada sahabatku yang meninggal dalam sebuah kebakaran di kota yang sama saat aku masih kecil dulu. Bencana bisa terjadi kapan saja tanpa kita sadari, disinilah dibutuhkan kehati-hatian kita. Dari peristiwa itu aku menyadari bahwa manusia begitu lemah dan bersyukur karena Tuhan masih menyayangi kami. Ada banyak hal yang luput yang kuanggap itu sebagai pertolongan Tuhan. Kabel listrik yang biasanya terjuntai malam itu terangkat tegak, membuat api tidak menyambarnya karena bila tersambar saja, maka tidak ada yang terselamatkan. Kasur dan tikar yang ada di ruang tamu terletak tepat di samping kobaran api, andai api merembet kesana, mungkin lebih buruk lagi. Kemudian motor-motor yang terparkir di teras rumah, bila saja motor-motor itu terparkir di jalan yang dilalui api, maka ledakan hebat akan membunuh kami semua. Serta bila kakak sepupuku salah melemparkan botol bensin, seseorang bisa saja sekarat dengan luka bakar hebat. Alhamdulillah, bersyukur karena kami masih terselamatkan dari bencana yang mengerikan, sebuah pelajaran berharga tentang bermain api. Mungkin Tuhan tidak mengizinkan semut-semut merah itu dibakar, sehingga Dia membalikkan api itu kepada kami. Seingatku kita memang tidak boleh membakar makhluk Tuhan dengan api, karena Tuhan akan membalas dengan membakar kita lebih panas lagi. Ternyata hal itu memang benar, kita tidak boleh membakar makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan api, karena hanya Tuhan yang memiliki hak itu. Dan yang pasti, jangan pernah bermain-main dengan api… bila tidak ingin terbakar karenanya.
Kini, setiap kali aku melihat bekas hangus terbakar di dinding kamarku, aku akan tersenyum getir dan teringat pada peristiwa dimana semut merah nyaris saja membakar habis rumah kami…. hidup memang aneh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s