Beranda » kisahku » Cerita Tentang Rasa Iri

Cerita Tentang Rasa Iri

iri
Ini cerita tentang iri…
Iri adalah perasaan yang mengganggu di hati dimana kita ingin bisa menjadi seperti yang telah dialami atau didapatkan oleh orang lain…
Bedakan dengan dengki, dengki bisa disebut sebagai perasaan tidak suka bila melihat orang lain mendapatkan atau mengalami hal-hal menyenangkan yang tidak kita dapatkan. Rasa dengki biasanya membawa pada kebencian, sementara iri terkadang membawa pada kesedihan dan penyesalan…Hari ini aku membuka akun facebook-ku, Komodo. Aku membuka profil kakakku dan melihat kumpulan fotonya disana. Kakakku tampak sedang rapat, sedang bekerja bersama kawan-kawannya di sebuah perusahaan media terkemuka di Indonesia. Kulihat foto kakakku begitu senang, bahagia, dengan seulas senyum yang ditampakkannya. Aku senang melihatnya bahagia dengan posisinya sekarang, bisa bekerja di bidang yang selama ini diidam-idamkannya.
Sejenak kemudian aku menjadi iri. Aku iri pada kakakku yang telah memiliki posisi mapan di sebuah perusahaan media tempatnya bekerja. Tak hanya kakakku, aku pun sangat mengidam-idamkan bisa bekerja di perusahaan media, menulis artikel, mempresentasikan ide-ide baru buat majalah… itu semua keinginanku sejak kecil. Karena itulah melihat keberhasilan kakakku menduduki posisi penting di media membuatku merasa iri. Aku ingin seperti kakakku, yang tak lama setelah diterima bekerja bisa naik jabatan. Tak heran, kakakku memang berbakat dalam hal public relations… dan itu didapatkannya dari sekolah PR terkemuka di kota ini, jadi wajar bila dia bisa menduduki jabatan prestigious seperti itu. Ah, bekerja di media… andai aku bisa seperti kakakku… Aku iri… benar-benar iri…
Kenyataannya, saat aku berbincang dengan kakakku, kakak bercerita kalau dia iri padaku. Dia bilang dia iri pada kehidupanku yang begitu bebas dan lepas, terlihat seperti tanpa beban masalah. Kakak juga iri pada sifatku yang begitu tenang dan hemat, tidak seperti dirinya yang memiliki banyak tanggungan dan masalah yang datang silih berganti. Memang dalam beberapa hal, aku merasa sedih bila melihat kehidupan kakakku yang begitu banyak problema kehidupan. Masalah seolah datang silih berganti, hingga membuatku jengah bila mendengar kakakku ditimpa masalah. Kakakku sering curhat padaku mengenai masalah-masalahnya, membuatku merasa lebih beruntung.
Disini aku kembali berpikir mengenai rasa iriku… dan kurasakan Tuhan itu Maha Adil. Tidak ada manusia yang sempurna, Tuhan telah menempatkan segalanya dengan sangat sesuai. Aku pun belajar untuk bersyukur, sekecil apapun nikmat yang diberikan memang harus disyukuri. Belum tentu orang-orang kaya yang setiap hari kelihatan riang gembira merasakan kebahagiaan di hatinya. Kita mungkin iri pada kehidupan mewah para selebritis yang tampaknya menyenangkan, tapi tahukah kita kalau mungkin ada di antara mereka yang iri pada kehidupan kita, manusia biasa yang tidak terkenal dan tidak populer yang bisa menikmati hari-hari biasa dengan leluasa tanpa pernah takut dikejar wartawan atau terkena gosip kejam? Saat kita iri pada presiden yang memiliki jabatan tertinggi di negara ini, pernahkah kita ketahui bahwa bahkan seorang presiden pun bisa memiliki rasa iri pada kita rakyat jelata, yang tak perlu repot soal urusan makanan, yang bisa makan jajanan apapun yang ditawarkan di pinggir jalan, sementara beliau harus terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter pribadinya untuk bisa menikmati jajanan itu? Mungkin juga presiden iri pada kita yang bisa leluasa pergi nongkrong malam mingguan di alun-alun, sementara beliau harus dikawal oleh pasukan pengaman yang jumlahnya banyak. Dalam hidup mungkin kita bisa egois dan memikirkan diri sendiri, tapi bagaimana dengan presiden yang setiap harinya harus memikirkan nasih rakyatnya. Coba dipikir, lebih enak mana?
Disini kita mesti berpikir… kita mesti bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan yang terbaik untuk kita. Rasa iri boleh-boleh saja karena itu manusiawi, tapi manusia yang baik adalah yang bisa mengendalikan rasa iri itu, sehingga rasa iri itu tidak kemudian berubah menjadi rasa dengki yang tidak hanya merugikan orang lain, tapi juga merugikan diri sendiri. Manusia yang baik mampu mengatur perasaan irinya tersebut, hingga kemudian berubah menjadi sebuah rasa syukur kepada Yang Maha Hidup. Iri haruslah dijadikan motivasi untuk bisa menjadi lebih baik lagi, bahwa kita memiliki banyak kekurangan dan selagi masih ada waktu dan kesempatan untuk melengkapinya, maka lengkapilah. Jadikanlah itu sebagai semangat bahwa kita harus bisa menjadi lebih baik, melebihi seseorang yang membuat kita iri tersebut. Bila kita mampu menjadi lebih baik karenanya, maka berterima kasihlah pada rasa iri. Iri tak selalu buruk, ada kalanya menjadi baik, bila kita tahu dimana selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa.
Aku adalah aku, kakakku adalah kakakku, kamu adalah kamu, masing-masing kita memiliki kehidupan sendiri, dan jalan kehidupan yang tak mungkin sama. Jadi nikmati hidupmu dan jangan biarkan tenggelam dalam rasa iri. Hanya iri tanpa ada tindakan berarti untuk menjadi lebih baik, itu sama saja kosong dan sia-sia…

Kesimpulannya: mungkin saja kita iri pada seseorang yang ternyata iri pada diri kita… jadinya lucu ya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s