Beranda » catatan » Catatan Wisuda

Catatan Wisuda

wisuda
Setelah melalui perjuangan tiga tahun yang sangat melelahkan dan penuh emosi, akhirnya perjalananku menempuh pendidikan sarjana selesai sudah. Hal ini dikukuhkan dengan acara wisuda tingkat nasional yang diadakan pihak universitas. Sebenarnya aku tidak terlalu mengharap ikut serta dalam upacara wisuda, namun sepertinya mau tak mau aku harus mengikutinya karena rasanya kurang lengkap segala perjuangan berat tanpa sebuah inaugurasi.Tidak semua mahasiswa bisa mengikuti wisuda karena adanya kuota mengingat banyaknya mahasiswa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, karena itulah aku merasa beruntung saat namaku masuk di dalam daftar yudisium. Meski begitu sebenarnya adalah pilihanku untuk mengikutinya atau tidak. Mengingat keluargaku mengharapkannya, akhirnya kuputuskan untuk mendaftar walaupun pihak universitas menanyakan kesanggupanku menghadirinya karena akan sia-sia belaka bila aku tidak bisa hadir mengingat ada banyak mahasiswa yang ingin mengikuti wisuda.

Setelah sehari sebelumnya diadakan gladi bersih, akhirnya upacara wisuda pun dihelat dan aku termasuk di dalamnya. Well, ada banyak hal yang terjadi dan berbagai perasaan bercampur aduk sepanjang pelaksanaan wisuda. Beberapa menjadi catatan tersendiri yang aku tuangkan dalam tulisan ini…

Berharap Undangan Yudisium

Setelah pengumumam kelulusan, praktis yang aku lakukan hanya menunggu datangnya surat undangan yudisium, yang sampai sekarang belum juga tiba di rumah padahal aku sudah memperbaiki alamatku. Lucunya, justru laporan nilai semester genap 2009 yang kemarin diantar satpam ke rumah. Inilah suka duka petualang yang acapkali bepergian sehingga tidak memiliki tempat tinggal yang jelas. Beruntung ibuku memarahiku dan memaksaku untuk datang ke kampus sehingga aku kemudian mendapat tawaran wisuda walaupun undangan itu belum sampai di rumah, mungkin baru satu tahun lagi undangan itu tiba…


Wisuda dan Berita Duka

Setelah memastikan wisuda, aku mendapat kabar buruk mengenai kematian kakekku. Kakekku memang jatuh sakit di awal 2011, memaksaku pulang kampung dan menungguinya selama tiga minggu sampai aku kembali lagi ke Jakarta untuk mengurus wisudaku. Saat aku meninggalkannya di akhir Januari, keadaan kakek berangsur-angsur membaik mungkin dikarenakan ada aku di sampingnya yang selalu menemani dan menungguinya. Karena itulah aku sangat sedih saat pagi itu adikku mengabarkan kematian kakekku, walaupun kesedihan itu tidak tampak di wajahku. Aku merasa hal ini dikarenakan aku tidak ada bersamanya sehingga kesehatan kakek kembali menurun. Aku sangat berharap bisa bersamanya di hari-hari terakhir beliau, tetapi takdir memang tidak bisa ditebak. Kematian kakek semakin menambah kesedihanku setelah ayahku pergi saat aku masih kecil dan paman yang merawatku meninggal tak lama setelah aku lulus SMA. Sayang sekali ketiganya tidak bisa melihatku diwisuda. Kini akulah satu-satunya lelaki yang tersisa dari garis keturunan ayahku, berharap aku tidak mati muda seperti beliau.

Ibuku Datang

Sebenarnya ada tawaran pekerjaan yang menunggu ibuku di Sumatera, namun demi menghadiri wisudaku, ibu menolak pekerjaan tersebut. Hal ini membuatku sangat terharu. Well, aku memang patut berbangga pada ibuku yang seorang diri membesarkanku hingga aku bisa menjadi sarjana seperti saat ini. Ibuku begitu senang saat mendengar aku akan mengikuti wisuda dan merasa berhasil membuktikan bahwa sebagai orangtua tunggal beliau mampu mengantarkan anaknya mencapai gelar sarjana.


Fotografer Tukang Todong

Setibanya di tempat wisuda, aku bergegas berlari memasuki barisan wisudawan yang sudah ditetapkan sehari sebelumnya. Saat itu ada seorang fotografer yang menawarkan memotretku, tapi aku menolak dengan alasan aku terburu-buru sudah terlambat masuk barisan. Tapi aku tak menyangka kalau fotografer itu sempat-sempatnya memotret ibuku yang berlari mengejarku. Berikutnya dia mendatangi ibuku untuk menyerahkan hasil jepretan ”boleh nyolong” sambil meminta bayaran. Kontan ibuku kaget karena merasa tidak meminta untuk dipotret, apalagi hasil potretnya sambil lalu dan jelek. Tapi karena ibuku orangnya baik hati dan (agak) tidak sombong serta malas beradu mulut, maka diberilah bayaran yang buatku sangatlah mahal untuk hasil yang diperoleh. Hal ini menambah rasa kesalku setelah hasil jepretan ”resmi” dari seorang fotografer yang memang aku bersedia dipotret olehnya begitu buruk (hingga aku sangat ingin membakarnya) dan mahal pula padahal uang yang dibawa sangat pas-pasan. It’s okay, toh aku tidak setiap hari mengalami hal seperti ini. Tapi buat fotografer yang seenaknya memotret orang dan meminta bayaran untuk itu, aku sumpahi kameranya hilang dan segera menyadari apa artinya etika.

Satu Kelompok dengan Kawan-Kawan

Saat gladi bersih aku bertemu dengan dua temanku saat menempuh tugas akhir dulu yaitu Mas Miko dan Mbak Lela. Kami kemudian mengikuti acara gladi bersih bersama dan bersama-sama mencari dimana kelompok barisan kami masing-masing. Mas Miko yang paling depan mencari di antara daftar-daftar yang ditempel di dinding kemudian berteriak padaku dan Mbak Lela kalau kami bertiga berada di kelompok yang sama. Aku merasa sangat senang karena berada di barisan yang sama dengan mereka berdua, namun sayangnya Mbak Lela datang terlambat saat wisuda dan tempat dudukku terpisah dari Mas Miko. Meski begitu aku berkenalan dengan Ibu Emi yang memberiku semangat untuk mencoba CPNS.

Pujian dari Bapak Komarudin Hidayat

Dalam seminar wisuda yang diadakan sebelum gladi bersih, rektor UIN Bapak Komarudin Hidayat yang menjadi panelis dalam diskusi tersebut memberikan pujian pada para wisudawan, termasuk padaku tentunya (narsis bo!). Bapak Komarudin menyatakan bahwa kami adalah contoh keberagaman yang patut untuk ditiru dan diperhitungkan. Pembahasan beliau tentang mengelola keberagaman sangatlah menarik begitu lugas bila dibandingkan dengan pembawa materi utama bapak Dekan Fakultas Ekonomi yang menurut mahasiswa komunikasi sepertiku (sekarang sarjana!) memiliki banyak kekurangan dalam public speaking, walaupun aku mungkin tidak bisa lebih baik darinya. Menurutku materi yang disampaikan mengenai masalah sosial tidaklah tepat bila dibawakan oleh seorang praktisi ekonomi, mengingat tema keberagaman masyarakat lebih tepat bila dibawakan oleh seorang praktisi ilmu sosial.


Berjabat Tangan dengan Ibu Rektor

Aku tidak pernah menyangka akan bisa bertemu, bertatap muka langsung bahkan berjabat tangan dengan ibu Rektor. Aku pertama kali melihat ibu rektor satu tahun yang lalu dalam siaran TVRI saat acara wisuda tahun itu, tak menyangka bisa bertemu langsung satu tahun berikutnya. Kepemimpinan ibu rektor termasuk baru, tapi pesona dan kharismanya sangatlah nampak. Aku kagum pada ibu rektor yang begitu bijaksana dan sangat mengayomi mahasiswa, membuatku terbayang pada karakter Tsunade sang hokage kelima dalam serial Naruto. Ucapan ibu rektor yang sangat kuingat sewaktu temu wicara sehari sebelum wisuda adalah saat beliau berkata, ”Saya tidak ingin menghukum mahasiswa yang cermat karena kesalahan mahasiswa yang tidak cermat.”

Mahasiswa-Mahasiswa Terbaik

Ada dua mahasiswa yang mendapatkan predikat terbaik dan mendapat penghargaan dari komunitas senat yaitu seorang mahasiswa Pasca Sarjana dengan nilai IPK sempurna 4,00 dan untuk tingkat sarjana diraih seorang guru wanita dengan IPK 3,93. Selain dua mahasiswa tersebut, Bapak Pembantu Rektor juga menampilkan beberapa wisudawan terbaik yang memiliki prestasi dan juga perjuangan keras selama menempuh pendidikan, di antaranya yaitu; seorang ibu dari Papua yang empat tahun lagi akan pensiun yang menempuh perjalanan dua hari dua malam untuk mencapai tempat tutorial, benar-benar kisah yang memberikan inspirasi; seorang kakek berumur 67 tahun yang memiliki sepuluh orang anak dan kesembilan di antaranya sudah wisuda, kisah yang sempat membuat gerr seluruh ruangan; dan seorang lulusan universitas luar negeri yang memecahkan rekor MURI dengan gelar akademik terbanyak yang disandangnya.

Darsini – Darsono

Ada kejadian menarik saat penyerahan Ijazah dan pemberian ucapan selamat dari rektor yang berjalan sangat lama sehingga membuatku terkantuk-kantuk. Pembawa acara menyebutkan nama-nama wisudawan yang akan maju berjabat tangan dengan rektor dan secara kebetulan ada dua nama yang disebutkan secara berurutan yaitu Darsini dilanjutkan dengan nama Darsono. Kontan saja seisi ruangan langsung ramai tertawa dengan kebetulan yang sangat menarik itu, termasuk aku yang masih saja tertawa setiap kali mengingatnya.

Teringat Cinta Kedua

Salah seorang anggota paduan suara dalam acara wisuda memiliki wajah yang mirip dengan cinta keduaku saat masih SMA dulu. Beberapa kali aku memandangi wajahnya yang tersorot kamera dan muncul di layar besar saat paduan suara bernyanyi. Aku merasa pernah melihat wajah itu dan berusaha mengingat-ingat, hingga akhirnya kudapati bahwa wajah itu mirip dengan wajah seorang gadis hitam manis yang pernah membuatku jatuh hati, namun mencampakkanku dengan begitu sadis.


Kegagalan Panitia

Aku agak kecewa dengan panitia wisuda saat terjadi kesalahan dalam urutan foto wisudawan. Nomor foto wisudawan tidak sama dengan nomor foto yang dihasilkan, menyebabkan kericuhan dalam pembagian foto wisuda. Bagiku ini adalah kesalahan yang sangat fatal dan harus menjadi pembelajaran untuk sidang wisuda di kesempatan-kesempatan berikutnya. Kesalahan inilah yang membuatku merasa bersalah pada Mas Miko karena menghantam matanya dengan topi togaku, dan juga pada Mbak Lela karena tidak bisa menemukan foto miliknya setelah sebelumnya dia menemukan foto milikku. Kurasakan ini sebagai sebuah akhir yang buruk.


Tidak Ada yang Sempurna

Upacara wisuda ini sekali lagi mengingatkanku bahwa tiada manusia yang sempurna. Setelah nilai IPK-ku yang tidak sempurna (hanya butuh 0,1 saja untuk menggenapkannya), kini aku mendapatkan berkas yang tidak sempurna pula. Tuhan sepertinya ingin mengingatkanku bahwa kesempurnaan adalah milik-Nya mutlak. Ketidaksempurnaan ini mengingatkanku untuk tidak sombong, tidak angkuh, tidak takabur, bahwa masih ada yang lebih tinggi di atasku. Di atas langit masih ada langit, kesombongan hanya akan membawa petaka dan merupakan sikap yang tidak bijaksana.


Ingat Sahabat

Seminggu sebelum wisuda aku mendapat sebuah pesan singkat dari seorang sahabat yang sudah satu tahun lamanya tidak kuketahui kabar beritanya. Kukabarkan bahwa aku akan mengikuti wisuda, membuatnya ikut senang walaupun dia merasakan sesuatu yang berubah pada sikapku. Aku menyadari hal itu, memang ini salahku. Sudah lama aku tidak menghubungi kawan-kawan lamaku yang mana beberapa di antara mereka juga diwisuda di semester awal tahun ini. Mendengar berita kawan-kawan lamaku juga diwisuda membuatku senang, terlebih aku berhasil menyamai kelulusan mereka padahal mereka lebih awal menempuh pendidikan di perguruan tinggi terkenal. Terkadang aku masih tidak percaya sanggup menyelesaikan sarjana dalam waktu tiga tahun saja, merupakan prestasi yang luar biasa dan banyak kawan-kawanku yang mengatakan kalau aku begitu beruntung. Saat kembali ke kampungku nanti, aku berharap bisa bertemu sahabat-sahabatku dan kami berpetualang seperti yang pernah kami lakukan dulu.

Yang Pertama

Aku menjadi cucu nenek yang pertama berhasil meraih gelar sarjana dan mengikuti wisuda. Aku juga menjadi keponakan tanteku pertama yang sukses mengikuti jejaknya menjadi sarjana. Hal ini membuatku bangga dan sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat segala karunia-Nya aku bisa menjadi seperti sekarang. Aku berhasil membuktikan bahwa kegagalan adalah sebuah keberhasilan yang tertunda. Setelah tiga tahun yang lalu gagal meraih diploma pada salah satu perguruan tinggi negeri paling terkenal di negeri ini, tahun ini aku berhasil meraih sarjana pada sebuah perguruan tinggi negeri dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia. Aku tak peduli ucapan bernada miring ataupun penghinaan yang dilontarkan pada almamaterku, karena ucapan-ucapan itu adalah penanda betapa menyedihkannya mereka yang mengucapkan. Aku sangat bangga dengan almamaterku, karena akulah yang menjalaninya, karena akulah yang mengerti bagaimana susahnya menempuh pendidikan sarjana yang penuh emosi ini. Ada banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh almamaterku, bahkan jenderal Wiranto sekalipun berasal dari tempat yang sama dimana aku berdiri saat wisuda. Hak mereka ataupun hak kalian untuk berbicara menjelekkan sesuatu, tetapi ketahuilah kebaikan tidak pernah datang dari cercaan. Aku bangga pada almamaterku, dan aku memang patut berbangga untuk itu.

Pola Pikir Berubah

Banyak yang berubah setelah upacara wisuda. Kini aku bukan lagi seorang mahasiswa, tapi aku telah menjadi sarjana. Seiring dengan janji wisudawan yang kami ucapkan bersama-sama, aku melihat jauh ke depan dan merasakan betapa jalan di depanku terlihat sangat berat. Wisuda adalah akhir dari proses pendidikan di jenjang perguruan tinggi, tetapi juga sebuah awal dari proses pembelajaraan yang sesungguhnya, proses pembelajaran dari alam dan masyarakat sesuai bidang yang ditekuni. Semangatku untuk melakukan yang terbaik kembali muncul, saatnya menunjukkan kalau aku adalah seorang sarjana, sebagaimana yang dikatakan oleh ibu rektor bahwa kini tempatku bersama komunitas cerdik cendekia yang haruslah menerapkan ilmu demi kepentingan bangsa dan negara.

Hari-hari menjelang wisuda adalah hari-hari penuh ketegangan dan stress. Beruntung aku bisa melewati wisuda dengan cukup baik dan aku bersyukur karena semuanya berjalan dengan lancar. Dengan berakhirnya upacara wisuda tersebut, maka berakhir pula pendidikan sarjanaku. Meski begitu wisuda bukanlah akhir, melainkan sebuah awal. Banyak hal terjadi dalam perjalanan menuju wisuda, selama tiga tahun menjadi mahasiswa. Masih teringat jelas di benakku saat aku pertama kali mendaftar di universitas, saat itu aku tersesat di jalan. Masih teringat pula saat-saat belajar mandiri di dalam pondok di tengah hutan dengan penerangan seadanya yang redup temaram, saat belajar di puncak bukit ditemani embun pagi yang menyegarkan diiringi suara para tentara yang melakukan apel pagi, dan saat-saat berkesan lainnya. Pengalaman menempuh sarjana ini adalah sebuah pengalaman yang tidak ternilai, tidak akan pernah terlupakan. Wisuda telah melepas semua bebanku, melepas emosiku, membuatku menjadi semakin emosional saja. Aku berharap bisa kembali mengikuti sidang wisuda, untuk berikutnya menjadi wisudawan dalam program pasca sarjana…

Hidup mahasiswa… Hidup wisudawan…. Hidup Indonesia….

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, dimulai dari buaian bahkan sampai liang lahat sekalipun.

NEXT DESTINATION: KALIMANTAN!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s