Beranda » kisahku » Kembang Api Tahun Baru

Kembang Api Tahun Baru


31 Desember, setahun yang lalu….

Aku ingat saat itu tanggal 31 Desember, dan itu artinya hari itu adalah hari terakhir di tahun itu karena besoknya tahun telah berganti….

Tak ada teman, tak ada sahabat, tak ada kekasih, aku menghabiskan akhir tahun di rumah saja tanpa ada rencana pergi keluar. Yang kulakukan hanya internetan gak jelas mencari koleksi video game di YouTube.

Internetan membuatku lupa waktu hingga tak terasa sudah jam tujuh malam. Mataku yang sudah lelah membuatku memutuskan untuk beralih ke dunia mimpi, tidur di kamarku yang bau.

Jam sembilan malam, dua jam setelah aku tertidur, pamanku membuka pintu kamar dan membangunkanku. Aku terbangun walaupun dengan kepala masih pusing. Pamanku mengajakku keluar rumah, ke taman mini untuk menyaksikan perayaan tahun baru disana.

Aku banyak berhutang pada kebaikan pamanku, tak bisa aku menolak ajakannya walaupun malam itu aku sangat malas dan ingin tidur saja. Aku pun membasuh wajahku dan berdandan seadanya.

Aku keluar rumah dan di luar sudah menunggu Paman, supir, dan dua orang pembantu yang juga diajak oleh Paman. Malam itu di rumah memang hanya ada Paman, aku, dan juga pembantu karena sepupu-sepupuku telah pergi untuk agenda tahun baru mereka sendiri-sendiri. Kami pun meninggalkan rumah meluncur ke Taman Mini.

Jalanan sudah sangat ramai mengingat beberapa saat lagi tahun akan berakhir. Mobil kami berhenti dan parkir cukup jauh dari Taman Mini agar kami tidak kesulitan saat pulang nanti akibat kemacetan yang pasti terjadi. Aku, Paman, dan dua pembantu lalu turun dari mobil, berjalan kaki memasuki Taman Mini yang sudah ramai oleh para pengunjung sementara supir menunggu di mobil.

Kami berkeliling Taman Mini sejenak hingga kemudian memutuskan berhenti di alun-alun Tugu Api Pancasila, tempat dimana para pengunjung berkumpul menantikan pergantian tahun baru. Kami duduk disana, menikmati malam terakhir di tahun itu.

Melihat begitu banyak pengunjung yang meniupkan terompet, aku lalu membeli dua buah terompet, satu untuk Paman dan satunya lagi untuk dua pembantu yang menemani kami. Paman tampak senang dengan terompet yang kubelikan dan beliau meniupnya berkali-kali malam itu. Aku juga membeli makanan serta cemilan yang kami makan bersama-sama, yang aku tahu kalau Paman sangat suka ngemil.

Sesekali aku mengajak Pamanku berbincang untuk menghangatkan suasana, menanyakan bagaimana perayaan tahun baru di negara asalnya. Paman mengatakan kalau di Jepang, mereka pergi ke kuil untuk merayakan tahun baru bersama-sama keluarga atau pergi ke sungai. Tak banyak yang bisa aku bincangkan dengan Paman karena aku tak akrab dengan beliau. Kami memang jarang bicara, sangat jarang walaupun kami tinggal di rumah yang sama.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12 malam dan kembang api-kembang api muncul menghias langit malam yang gelap mengiringi pergantian tahun. Kami berempat menyaksikan festival kembang api itu dengan perasaan riang, terlebih Pamanku. Aku kasihan melihat Paman yang sendirian di rumah di akhir tahun, dimana seharusnya menjadi saat-saat menyenangkan bersama keluarganya saat dia libur dari kerjanya yang sangat melelahkan. Aku merasa Paman seperti ditinggalkan oleh keluarga intinya yang memilih menghabiskan malam tahun baru sendiri-sendiri. Istri dan anak-anaknya pergi menghabiskan malam tahun baru dengan acara mereka sendiri-sendiri, membuatku merasa sedih. Tapi melihat Paman tersenyum sambil berkali-kali memuji kembang api yang indah membuatku senang, paling tidak kesepian Paman sedikit terobati oleh festival kembang api tahun baru itu.

Aku menelepon sahabat-sahabatku, mengucapkan selamat tahun baru pada mereka semua. Memang tidak ada yang menelepon untuk mengucapkan tahun baru padaku, tapi aku tidak peduli karena aku tidak mengharapkannya. Yang membuatku sedih adalah tidak ada dari keluarga inti Paman yang meneleponnya di pergantian tahun itu untuk mengucapkan selamat tahun baru. Apakah mereka terlarut dalam hingar-bingar perayaan mereka sendiri sehingga lupa dengan lelaki yang telah amat berjasa bagi kehidupan mereka semua itu? Tapi mungkin bagi Pamanku hal seperti itu bukanlah masalah, sama sepertiku.

Ratusan kembang api muncul saling bersahutan di langit, menimbulkan suara gaduh dengan aneka rupa cahaya api yang menawan. Semua pengunjung yang menyaksikannya berdecak kagum dan merasakan kegembiraan, termasuk dua pembantu Paman yang selama ini sibuk dengan urusan di rumah. Suara-suara nyaring terompet pun tak mau kalah, terdengar tanpa henti di setiap sudut alun-alun.

Aku sendiri ikut merasakan kegembiraan tersebut, walaupun juga merasakan sebuah kesedihan tak berujung dari tahun demi tahun yang telah terlewati. Malam itu adalah pertama kalinya aku merayakan tahun baru dengan menyaksikan festival kembang api, dimana tidak pernah aku alami di tahun-tahun sebelumnya.

Aku tak terlalu peduli dengan tahun baru, yang bagiku hanya pergantian tahun biasa, sama seperti ular yang berganti kulit. Tapi penting bagi kita untuk mengambil hal-hal positif dari setiap peristiwa yang terjadi, sekecil apapun itu, termasuk dari tahun baru.

Tahun baru adalah sebuah awal dari tahun yang baru. Banyak yang menjadikannya sebagai ajang perayaan, hinggar-bingar, pesta pora dan foya-foya yang tak bermakna. Bagiku, tahun baru adalah sebuah peristiwa untuk merayakan semua yang telah kita lakukan selama setahun, menjadi sebuah refleksi untuk perbaikan di tahun mendatang, menjadi sebuah sarana renungan dan introspeksi menjadi diri yang lebih baik, tidak melakukan kesalahan yang sama di tahun yang baru serta menjadikan tahun yang baru lebih baik dari tahun sebelumnya.

Jadikan pengalaman di tahun ini sebagai pelajaran untuk tahun baru yang lebih baik….

Selamat tahun baru 2011 untukmu…. Indonesia!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s