Beranda » kisahku » Waktu Terus Berjalan

Waktu Terus Berjalan

Saat kakakku pulang dan tidak membawa lauk untuk makan malam serta belum masak nasi di rumah, kakak menyuruhku untuk makan di luar. Aku pun keluar dari rumah walaupun cuaca di luar agak gerimis tapi itu bukan masalah berarti bagiku. Aku melangkah menyusuri jalan dan rencananya mau makan di warteg, tapi berhubung banyak orang nongkrong di depannya sambil merokok dan ngobrol gak jelas, aku pun mengurungkan niatku makan disana. Akhirnya langkahku membawa pada tukang ketoprak Cirebon yang biasa mangkal di atas got setiap malam. Setahun yang lalu aku pernah makan disitu dan aku tergoda untuk makan disitu lagi malam itu.
Aku pun mendekati warung ketoprak dan sang penjual yang masih muda mempersilakan aku duduk. Si penjual ketoprak tampaknya mencoba ramah padaku dengan mengajakku mengobrol sambil mempersiapkan ketoprak yang aku pesan. Aku sendiri duduk santai menunggu ketoprak dihidangkan sambil sesekali menggaruk kepalaku, menampilkan wajah seperti orang susah. Lalu terjadilah percakapan antara aku dan tukang ketoprak…
“Kok sendirian Pak, istrinya gak diajak?” tanya tukang ketoprak mencoba ramah.
“Belum punya istri kok. Memangnya kelihatan kayak sudah punya istri ya?” jawabku kaget dengan pertanyaan itu.
“Nggak, tapi kelihatannya dewasa banget… Tapi pasti sudah pacar kan? Pacarnya kok gak diajak?” tanya tukang ketoprak lagi, berharap kali ini tebakannya tepat.
“Belum punya pacar juga kok…” jawabku jujur.
“Kalau begitu dicari dong…”
Ketoprak dihidangkan dan si tukang ketoprak berhenti mengajakku ngobrol. Aku mulai menyantap ketoprak yang kuakui rasanya lebih enak dibandingkan ketoprak lainnya. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah pertanyaan dari tukang ketoprak yang mengganggu pikiranku. Tukang ketoprak mengira aku sudah punya istri? Setua itukah aku?
Setelah selesai makan ketoprak, aku pun langsung pulang ke rumah. Di rumah aku bertanya pada kakakku apakah aku kelihatan seperti lelaki yang sudah beristri dan kakakku mengiyakannya, “Ya, kamu sudah seperti Bapak-Bapak”. Aku lalu bercermin dan….Oh tidak! Aku sudah tua! (bahkan pamanku mengklaim lebih muda dariku)
Pertanyaan dari tukang ketoprak itu menyadarkanku bahwa waktu terus berjalan sementara aku terlena dalam tidur panjangku. Masa mudaku sudah habis dan aku tidak melakukan apa-apa? Oh….
Well, waktu memang terus berjalan, terkadang kita bisa begitu meremehkannya dan saat kita menyadarinya… semuanya sudah terlambat. Ya, aku memang sering tidak percaya kalau aku sudah berumur dan masih saja bersikap seperti anak kecil yang manja. Oh, Tuhan… apa yang telah aku lakukan? Aku telah melewatkan begitu banyak kesempatan…. Bagaimanapun aku tidak boleh terus seperti ini… aku harus berubah dan menemukan jati diriku yang sebenarnya! Tahun ini harus jadi tahun terakhirku di kampus, dan kemudian… aku akan pergi berkelana sejauh kaki melangkah! 

Marilah kita mulai menghargai waktu dengan jangan menunda hingga besok apa yang bisa kita lakukan hari ini….

“Kekayaan yang hilang bisa dikembalikan dengan ketekunan dan kerja keras. Kesehatan yang hilang bisa dikembalikan dengan obat-obatan. Akan tetapi waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan lagi”

2 thoughts on “Waktu Terus Berjalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s