Beranda » kisahku » Kisahku dengan Seorang Buronan (bag.2)

Kisahku dengan Seorang Buronan (bag.2)

Yang bisa aku simpulkan dari cerita Mario adalah bahwa kemungkinan tukang ojek yang mengantar Mario telah berkomplot dengan kawanan perampok tersebut. Hal ini bisa saja benar, tanpa berniat berburuk sangka terlebih dahulu, karena beberapa tukang ojek di daerah sana memang beringas dan sudah seperti preman. Mereka suka menaikkan tarif begitu saja di tengah perjalanan dan bila penumpang tidak bersedia, penumpang tersebut akan ditinggalkan begitu saja sebelum tiba di tempat tujuan. Beberapa peristiwa mengatakannya demikian.
Kesimpulan kedua adalah apa yang dilakukan oleh polisi belum sesuai dengan tugas mereka sebagai pengayom masyarakat. Seharusnya mereka tetap menahan Mario sebagai korban sekaligus saksi, bukannya menyuruhnya pulang. Seharusnya polisi bertindak berani dan mengejar penjahat siapapun mereka tanpa rasa takut, walaupun penjahat tersebut lebih kuat dan ”menyeramkan” dari mereka.
Kesimpulan terakhir adalah wartawan yang dikisahkan Mario telah melanggar kode etik, dan tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu. Entahlah, aku kurang begitu jelas mengenai bagian wartawan dalam kisah Mario, karena Mario menceritakannya tidak begitu bagus dan berantakan, aku bisa memakluminya dilihat dari tingkat pendidikan Mario. Sebenarnya, ada sebuah LSM yang berniat membantu Mario saat itu. LSM tersebut bahkan memberikan nama dan tempat yang bisa didatangi Mario bila membutuhkan bantuan. Tetapi Mario sudah kehabisan akal dan hanya memikirkan bagaimana caranya kembali ke kampung halaman dan pergi dari tempat itu sebelum polisi mengejarnya.
Baiklah, kita lanjutkan ceritanya. Sepanjang perjalanan Mario mengajakku bercakap-cakap, mungkin untuk mengisi waktu dan melupakan kesialannya hari itu. Tidak sulit bagi kami untuk cepat akrab karena kami berdua berasal dari daerah yang sama. Kami kemudian membicarakan mengenai kota kami, kehidupan di Sumatera, sepakbola, pengalamnnya dan hal-hal lain yang bisa dibicarakan termasuk mengenai keluarga. Dia mengatakan kalau kepulangannya ini adalah yang terakhir karena dia akan menetap di Kediri untuk seterusnya. Sebelumnya dia sempat berpindah-pindah kerja dari satu kota ke kota lain di Indonesia bahkan ke luar Malaysia sebagai buruh kasar. Dia tidak menyangka kalau kepulangannya akan berakhir seperti ini, dirampok dan kemungkinan saat ini sedang dikejar oleh polisi. Dia juga menceritakan mengenai keluarganya, dimana dia memiliki seorang anak yang masih kecil. Baiklah, baiklah… silakan bercerita apa saja, kupikir aku adalah pendengar yang baik.
Saat bus kami berhenti di sebuah rumah makan untuk beristirahat, kulihat dia tetap di kursinya tidak beranjak. Selama perjalanan tadi dia belum makan, kecuali permen dariku. Kukira dia tidak mau turun untuk makan karena keterbatasan dana, karena itulah aku mengajaknya turun untuk makan. Kupikir tidak ada salahnya mentraktir dia makan.
Kami turun dan memesan bakmie. Kulihat dia makan dengan lahapnya, sepertinya baru saja mengalami hari yang sangat melelahkan, dan kalau ceritanya benar, maka dia benar-benar mengalami hari tersebut. Setelah makan dia tampak senang dan mengucapkan terima kasih banyak kepadaku. Dia bilang dia tidak mau turun makan karena khawatir uangnya tidak cukup untuk ongkos perjalan ke Kediri berikutnya. Karena itulah saat aku mengajaknya makan, dia begitu senang. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih padaku, membuatku merasa tidak enak. Aku mengatakan kalau aku hanya menolong saja sebagai sesama perantau dan orang Kediri tentunya. Bukankah kita harus saling menolong satu sama lain?
Setelah beristirahat, bus kami kembali melanjutkan perjalanannya. Kini Mario terlihat lebih ceria dari sebelumnya dan itu bagus. Paling tidak aku lupa kalau dia baru saja membacok orang. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.
Menjelang pelabuhan Bakauheni, bus yang kami tumpangi berhenti. Sepertinya ada bagian bus yang mengalami kerusakan sehingga kru bus terpaksa memberhentikan bus untuk memperbaiki kerusakan. Bus pun berhenti sangat lama, membuat para penumpang mulai hilang kesabaran. Aku pun demikian, berharap suku cadang yang dipesan untuk memperbaiki bus itu segera datang karena aku benar-benar kepanasan di dalam bus. Mario yang kepanasan kemudian keluar dari bus. Suasana saat itu begitu gelap, kuharap dia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
Akhirnya bus kembali berjalan dan kami memasuki pelabuhan Bakauheni, menunggu begitu lama disana untuk kemudian bisa masuk ke dalam kapal ferry. Setelah masuk ke dalam ferry, kami semua turun ke kapal. Aku bersama Mario dan dua orang yang hendak pergi ke Jogja berjalan bersama menyusuri kapal. Kami berempat pun berbincang akrab selama di atas kapal hingga kapal merapat di pelabuhan Merak. Perjalanan kami pun kembali berlanjut di atas darat dengan bus yang sama.
Mario bertanya padaku bagaimana pergi ke Kediri dari Bekasi. Pemberhentian terakhir dari bus yang kami tumpangi memang di Bekasi, dan Mario mengatakan dia disuruh turun di Bekasi. Biasanya dia pergi ke Jakarta dari Kediri menggunakan kereta api yang turun di Tanah Abang. Saat itu dia bersama dengan kawan-kawannya sehingga dia tidak khawatir. Kini dia sendiri dan dia takut tersesat Bekasi bila telah turun dari bus. Dia menunjukkan tiket kereta api yang kukenal sebagai tiket KA Brantas yang masih dia simpan di dompetnya. Aku lalu menyarankan untuk naik kereta dari stasiun Bekasi dan membeli tiket KA Brantas yang memiliki tujuan akhir Kediri dari sana. Tiket KA Brantas harganya murah dan berhenti terakhir di Kediri. Sisa uang Mario yang lima puluh ribu benar-benar pas untuk membeli tiket tersebut dan juga naik Bus apabila dia berhenti di stasiun Kertosono, mengingat rumahnya lebih dekat dari Kertosono dibandingkan dari stasiun Kediri. It’s oke, terserah kamu mau lewat yang mana.
Tetapi saat aku melihat karcis bus milik Mario, ternyata tertulis disana kalau tujuan akhir Mario adalah terminal Kampung Rambutan, sama dengan tujuan akhirku dan bukannya terminal Bekasi. Jarak dari terminal Kampung Rambutan ke stasiun terdekat cukup jauh, dan kupikir Mario akan kesulitan nantinya dan ada kemungkinan dia tersesat di kota. Karena itulah aku kemudian berinisiatif untuk membantunya tiba di stasiun. Lagi-lagi Mario berterima kasih atas bantuanku.
Sebelum bus tiba di terminal Kampung Rambutan, aku minta kepada kernet bus untuk menurunkan kami di Rambo. Kami pun pergi ke rumah tanteku, tempat dimana aku tinggal di Jakarta. Kuputuskan untuk ke rumah tanteku dulu sebelum mengantarkan Mario ke stasiun Jatinegara karena waktu masih terlalu pagi dan juga aku sudah terlalu capek. Mario pun ikut denganku ke rumah tante.
Kami pun tiba di rumah tante dan tante sedang ada di rumah, tidak pergi seperti biasanya. Untuk menghindari kecurigaan, aku menyuruh Mario untuk mengenalkan diri sebagai teman SMP sewaktu di Kediri dulu yang kebetulan bertemu di bus. Tanteku dengan senang hati menerima Mario dan menyuruhnya makan dan mandi sebelum pergi ke Kediri. Setelah makan dan mandi, kami pun beristirahat sebentar. Saat beristirahat di halaman rumah, Mario kembali mengucapkan terima kasih kapadaku. Dia merasa sangat bersyukur karena bertemu denganku. Dia bahkan mengajakku untuk mampir ke rumahnya bila pergi ke Kediri.
Saat tanteku bertanya pada Mario, Mario secara tidak sengaja mengatakan kalau dia habis dirampok. Beruntung dia bisa berimprovisasi dengan mengatakan bertemu dan ditolong olehku. Tanteku lalu memberinya lima puluh ribu rupiah untuk tambahan ongkos pergi ke Kediri. Tanteku juga menawarkan pekerjaan kepada Mario. Mario tampak senang dan berjanji akan segera menghubungi tanteku. Beruntung tanteku tidak curiga pada Mario, karena terus terang saja umurku dan Mario terpaut sebelas tahun! Bagaimana mungkin kami bisa satu sekolah?
Mario sepertinya sudah ingin kembali ke Kediri. Dia mengajakku untuk segera pergi ke stasiun. Karena dia memaksa akhirnya kami pun pergi ke stasiun Jatinegara walaupun aku masih sangat lelah. Kami tiba di stasiun pukul dua belas siang dan langsung membeli tiket KA Brantas. Tetapi Brantas baru tiba di Jatinegara pukul empat sore dan itu berarti kami keduluan empat jam! Aku yang malas menunggu kemudian berpisah dengan Mario. Aku menyuruhnya untuk menunggu sampai kereta berangkat. Bila dia kesulitan, aku menyarankannya untuk bertanya pada petugas stasiun. Dan sebelum aku pergi aku berpesan padanya untuk jangan lupa membaca sholawat, sesuatu yang selalu dipesankan ibuku setiap kali aku akan bepergian jauh. Perjalananku dengan ”buronan” itu pun selesai sampai disini.
Sebenarnya aku khawatir meninggalkannya sendirian di stasiun, tapi kupikir Mario bisa melanjutkan perjalanannya seorang diri. Kuharap dia naik kereta yang benar dan tiba di Kediri dengan selamat. Sebelum berpisah aku memberikan nomor telepon genggamku kepadanya, menyuruhnya untuk menghubungi atau mengirimkan pesan singkat kepadaku bila sudah tiba di Kediri. Meski begitu keesokan harinya aku tidak menerima pesan singkat atau panggilan darinya. Mungkin dia lupa atau kehilangan nomorku, tidak masalah. Aku lalu mencoba menelepon nomor istrinya yang terekam di telepon genggamku. Nomornya tidak aktif, aku tidak heran karena Mario sudah menyuruh istrinya untuk mencabutnya. Sejak itu aku tak pernah tahu lagi bagaimana kabar Mario. Aku berharap dia tiba di rumahnya dengan selamat dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Aku tak khawatir bila ternyata dia menipuku, karena apa yang aku lakukan semata-mata hanya untuk berbuat baik. Aku percaya pada Mario, aku yakin Mario adalah orang yang baik. Bilapun kemudian dia tertangkap polisi, semoga dia bisa terlepas dari masalah tersebut. Dimanapun dia dan apapun yang dikerjakannya sekarang, aku hanya bisa berdoa semoga kebaikan selalu bersamanya. Amin.


Selesai….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s