Beranda » kisahku » Kisahku dengan Seorang Buronan (bag.1)

Kisahku dengan Seorang Buronan (bag.1)

April 2010

Aku baru saja duduk di bangku dengan nomor sesuai yang tertera dalam karcis bus ketika seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam legam menyerobotku dan langsung duduk di bangkuku. Lelaki itu tampak ketakutan tetapi wajahnya tetap terlihat sangar. Aku pun berusaha maklum dan kemudian mengambil tempat duduk di sampingnya.
Sebelum bus yang akan membawa kami ke Jakarta itu berangkat dari terminal Muara Dua OKUS Sumatera Selatan, lelaki itu berkali-kali menampakkan wajah cemasnya. Dia tampak khawatir dan kemudian mengeluarkan sebuah karcis seraya menunjukkannya padaku, menanyakan apa tempat duduknya sudah tepat. Aku melihat sekilas dan memang nomor pada karcisnya sesuai dengan salah satu nomor dalam tiga deret kursi tempat kami duduk. Tapi dia masih tidak yakin dan kembali menanyakan hal tersebut sekali lagi padaku.
Saat petugas bus memeriksa data-data penumpang, nama lelaki tersebut tidak ada di dalam daftar. Lelaki tersebut kemudian menjelaskan bahwa dia baru saja mendapatkan karcis bus. Petugas bus memakluminya dan beberapa saat kemudian bus mulai berjalan meninggalkan terminal.
Pada awal-awal perjalanan lelaki itu memperkenalkan dirinya kepadaku dengan nama Mario sambil menunjukkan KTP-nya. Kupikir lelaki itu berbohong mengenai namanya karena nama yang tertera pada KTP-nya adalah Mariyem. But, it’s oke… toh namanya tidak terlalu berbeda, mungkin dia ingin sedikit bergaya. Dari logat dan juga namanya, aku tahu kalau dia berasal dari Jawa. Dia memintaku untuk meminjamkan telepon genggamku. Dia ingin menghubungi istrinya dan katanya itu darurat. Baiklah, aku memang sangat sulit untuk mengatakan tidak pada orang yang meminta bantuan dan aku pun meminjamkan telepon genggamku, berharap dia hanya menggunakannya sebentar.
Kupikir dia benar-benar menelepon istrinya dan saat dia menelepon, seluruh perhatian penumpang tertuju padanya. Dia bersuara sangat keras dan berteriak-teriak sambil memaki-maki dengan panik. Aku yang duduk di sampingnya pun jadi merasa tidak enak. Dalam percakapan singkatnya dia menyuruh istrinya untuk mencabut kartu SIM dari telepon genggam milik istrinya. Istrinya mungkin tidak terlalu mengerti dengan maksud lelaki bernama Mario itu sehingga Mario lantas membentak untuk memaksa sang istri mengeluarkan kartu SIM.
Usai menelepon, Mario mengembalikan telepon genggamku sambil mengucapkan banyak terima kasih. Aku hanya mengiyakannya saja. Dia kemudian bercerita mengenai kejadian buruk yang baru saja dialaminya. Dia adalah seorang buruh tani di sebuah perkebunan yang ada di sebuah wilayah di OKU Selatan. Dia berencana pulang kampung ke Kediri setelah enam bulam berada disana dan, hey… Kediri adalah kampung halamanku. Wow, aku tak menyangka bisa bertemu sesama orang Kediri dalam perjalanan ini. Baiklah, kita teruskan ceritanya. Dalam perjalanan menuju ke terminal dengan menggunakan ojek motor, dia diikuti beberapa pengendara motor yang kemudian mengepungnya, berniat melakukan perampokan. Tukang ojek yang dinaikinya kemudian pergi begitu saja meninggalkannya bersama para perampok itu. Para perampok itu mengeluarkan senjata tajam seperti clurit hendak mencelakai Mario bila Mario melakukan perlawan. Mario pun dikeroyok, dihajar dan hasil jerih payahnya berupa uang, kamera serta telepon genggam berhasil direbut. Mario yang berusaha membela diri kemudian melawan dan berhasil mengambil clurit dari salah seorang perampok dan langsung digunakannya untuk membacok perampok tersebut. Clurit itu berhasil melukai bahu sang perampok dan mengeluarkan banyak darah. Kawanan perampok yang merasa telah mendapatkan apa harta Mario kemudian segera pergi meninggalkan Mario dan perampok yang terluka. Mario bingung saat menyadari dia baru saja dirampok dan melukai seseorang di antara mereka. Perampok yang terluka tampak tak berdaya dan Mario tidak tahu harus berbuat apa terhadap perampok tersebut. Takut sang perampok mati dan Mario akan dituduh sebagai pembunuh, dia lalu menyembunyikan tubuh perampok yang sekarat di dalam sebuah kebun dan menguburnya dengan dedaunan agar tidak diketahui orang. Setelah itu dia berlari mencari bantuan dan warga membantunya membawanya ke pos polisi terdekat. Di pos polisi Mario menceritakan semuanya, mengenai dirinya yang baru saja dirampok, kecuali bagian dimana dia melukai seorang perampok. Polisi terlihat tidak reaktif walaupun mereka mengatakan akan menyelidiki kasus tersebut. Anehnya mereka menyuruh Mario segera pergi dari kota itu. Mario menelepon bosnya mengabarkan mengenai dirinya. Sang bos datang dan memberinya sejumlah uang untuk ongkos pulang ke Kediri. Saat itu sedang ada seorang wartawan sebuah harian kota yang datang meliput. Wartawan itu meminta uang kepada Mario sebagai uang tutup mulut agar dia tidak memberitakan peristiwa tersebut. Awalnya Mario menolak tetapi wartawan itu terus memaksa hingga akhirnya Mario memberikan sebagian uang yang didapatnya dari sang bos. Seorang polisi bertubuh gemuk yang sempat kulihat di terminal kemudian mengantarkannya ke terminal, memberikannya jaket dan sandal. Polisi tersebut mengatakan kalau kemungkinan kawanan perampok tersebut adalah komplotan perampok yang sangat ditakuti di kota tersebut, bahkan katanya takut dan malas mengejar mereka. Meski begitu polisi itu menjanjikan pada Mario kalau mereka akan berusaha menangkap kawanan perampok tersebut. Mario yang kebingungan hanya menurut saja dan kemudian bertemu denganku di dalam bus. Sebenarnya bus ini bukanlah bus yang biasa dinaikinya, tetapi karena keuangannya tidak mencukupi akibat dirampok, dia terpaksa menumpang pada bus ini.
Mario mengatakan kalau dia takut andaikata polisi menemukan sang perampok yang telah dilukainya. Dia juga tidak tahu bagaimana keadaan perampok tersebut. Dia mencemaskan telepon genggamnya yang telah direbut oleh perampok. Di dalam telepon genggam tersebut terdapat nomor-nomor teman dan kerabatnya dan juga nomor istrinya. Dia takut apabila polisi melacak keberadaannya apabila mereka menemukan perampok yang diserangnya dan perampok tersebut telah meninggal. Karena itulah dia lalu meminjam telepon genggamku dan menelepon istrinya untuk memintanya mencabut kartu SIM dari telepon genggam milik sang istri.
Aku berkali-kali berusaha menenangkannya dengan mengatakan kalaupun polisi mengejarnya, apa yang telah dilakukannya terhadap sang perampok adalah sebuah pembelaan diri. Aku tidak terlalu tahu tentang hukum walaupun tanteku adalah seorang pengacara, karena itulah aku hanya menenangkannya sedapat yang bisa aku lakukan. Kulihat Mario tampak shock karena selain dia baru saja melukai seseorang, hasil jerih payahnya selama bekerja juga raib. Aku pun kembali berusaha menenangkannya dengan mengatakan kalau harta masih bisa dicari dan yang penting adalah keselamatan dirinya. Mario tampak sedikit tenang, walaupun berkali-kali dia mengeluh karena kesialannya di hari itu.
Terus terang saja aku kaget saat mendengar kisah dari Mario. Awalnya aku ketakutan karena duduk di samping seorang ”buronan” yang baru saja membacok orang, tetapi aku berusaha tetap tenang dan sebisa mungkin menghindari pembicaraan dengan dia, takut-takut kalau lagi-lagi ini penipuan sebagaimana yang sering aku temukan. Tetapi entah mengapa aku percaya-percaya saja pada Mario terlebih setelah dia menunjukkan memar dan bekas-bekas pukulan dari para perampok yang masih ada di tubuhnya serta dompetnya yang masih terselamatkan dimana hanya ada selembar lima puluh ribu Rupiah di dalamnya. Pakaiannya juga terlihat berantakan dan lusuh serta dia mengenakan sepasang sandal jepit. Mungkin benar cerita dari Mario dilihat dari keadaan dan bahasa tubuhnya. Aku pun tadi sebelum naik bus sempat melihatnya panik bersama polisi gendut yang dikatakannya. Kalaupun ini penipuan, aku akan berusaha keras menghindarinya dengan cara apapun yang bisa aku lakukan. Bagaimanapun sepanjang perjalanan dari Sumatera Selatan ke Jakarta, aku terjebak duduk di sampingnya.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s