Beranda » kisahku » Pelajaran Berharga dari Seorang Kakek

Pelajaran Berharga dari Seorang Kakek

Saat ujian kemarin, aku bertemu dengan seorang lelaki yang sudah berumur, atau bisa disebut kakek-kakek, kira-kira umurnya 80 tahun, tergambar jelas dari setiap kerutan dan keriput di wajahnya. Beliau menghentikanku yang saat itu sedang menuju ke ruang ujian. Beliau lalu bertanya mengenai letak sebuah ruang ujian sambil menunjukkan kartu ujian yang dipegangnya. Ternyata kakek itu salah satu peserta ujian, sama dengan aku.
Aku tak menyangka kalau orang setua beliau masih memiliki semangat untuk menuntut ilmu. Bukankah orang pada usia seperti kakek itu biasanya sudah tak memiliki harapan-harapan lagi mengenai dunia?

Aku salut, ternyata di dunia ini masih ada orang seperti beliau, yang masih giat menuntut ilmu walaupun usia sudah tak muda lagi. Mungkin beliau memegang prinsip pendidikan sepanjang hayat, dimana selama umur masih dipegang, selama itu kita tak berhenti belajar.

Aku malu pada diriku sendiri. Aku yang masih muda sudah begitu malas menuntut ilmu, sementara ada seorang lelaki yang sepantaran dengan kakekku yang masih giat menuntut ilmu mengejar gelar sarjana. Benar-benar sebuah pukulan yang bermakna bagiku.

Aku sadar, kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus banyak belajar dari orang tua. Kita tak boleh menganggap remeh orang tua, karena tanpa orang tua kita takkan pernah ada. Maka dari itu, jangan pernah menyia-nyiakan orang tua ataupun menghinanya. Orang tua harus dihormati. Tak selayaknya kita merasa lebih pintar dari mereka. Bukankah mereka lebih dulu ada di muka bumi daripada kita? Bukankah mereka lebih berpengalaman dari kita? Bukankah mereka dulunya juga sama dengan kita?

Aku teringat akan perkataan Sarqisthi Al-Arobi ketika menemukan beberapa anak muda sedang mencela seorang kakek dengan isyarat kedipan mata. Begini ujar beliau:

“Hai pencela orang tua, sungguh kalian lebih buruk darinya

karena kalian muda namun sombong belaka

kalau kalian mau, coba dapatkah kalian menutupi kemuliaan mereka

dengan kesungguhan kalian yang ada, anak muda, cobalah ingat siapa orang tuamu juga

ketahuilah, bahwa masa muda pasti akan berakhir juga

namun dosa di masa muda takkan akan sirna

Orang yang tidak menghormati orang tua

niscaya tidak akan mencapai usia tua yang dihinanya….

Memang sudah seharusnya kita menghormati dan memuliakan orang tua. Maka tak pantaslah bila kita kemudian menganggap remeh bahkan menghina orang tua. Bagaimanapun, tanpa orang tua kita takkan pernah ada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s