Beranda » kisahku » Perjalanan ke Kelud (bag.1)

Perjalanan ke Kelud (bag.1)

Perjalanan ke Kelud

asse-gank-plus

Usai tahun baru, ASSE Gank yang terdiri dari aku, Huda dan Andri merencanakan untuk pergi berwisata ke gunung Kelud. Kami bertiga pun menentukan harinya. Akhirnya disepakati kalau kami bertiga akan berangkat tanggal 25 Januari tepat hari Minggu. Namun, sehari sebelum berangkat, Andri menyatakan ketidaksertaannya dalam wisata kali ini. Katanya dia sedang sibuk hari Minggu itu. Huda pun bertanya padaku apakah ASSE Gank akan terus melanjutkan rencana perjalanan ke Kelud mengingat Andri tak bisa ikut. Karena sangat ingin mengetahui bagaimana gunung Kelud itu sebenarnya, dan karena pikiran lagi sumpek dan butuh refreshing, akhirnya aku memutuskan untuk tetap meneruskan pergi ke Gunung Kelud walaupun tanpa Andri. Andri sendiri sudah sering pergi ke Kelud sementara aku belum pernah sama sekali. Tapi ada satu masalah lagi. Kurang lengkap kalau berwisata tanpa membawa kamera. Masalahnya, aku lagi gak ada kamera. Aku pun meminjam ponsel adikku, Nurul yang ada kameranya. Tapi dengan syarat, adikku boleh ikut ke Kelud. Dengan berat hati aku pun menuruti keinginannya asalkan boleh meminjam ponselnya. Padahal, awalnya aku merencanakan perjalanan ini hanya untuk ASSE Gank saja. Ketika kukatakan pada Huda bahwa Nurul akan ikut, Huda menyuruh Nurul untuk membawa serta seorang teman agar tak kesepian nantinya.

Hari minggu yang dinanti pun tiba. Setelah menonton Pokemon di Indosiar, aku segera berangkat ke rumah Huda dengan shogun biruku yang sebenarnya sudah waktunya diservis sedangkan adikku berangkat lebih dulu dengan motornya untuk menjemput temannya yang akan ikut. Setelah menjemput temannya yang bernama Ria, Aku dan Nurul meluncur ke rumah Huda setelah sebelumnya bertemu di suatu tempat karena Nurul tak tahu arah ke rumah Huda. Sesampainya di rumah Huda yang letaknya di pelosok desa, kami beristirahat sebentar. Tanpa membuang waktu, kami berempat berangkat ke gunung Kelud di perbatasan kabupaten Kediri dan Blitar. Huda mengambil alih kemudi motor karena dia yang tahu jalan ke gunung Kelud sementara Nurul yang membonceng Ria mengikuti dari belakang. Namun ternyata Huda tak terbiasa dengan motorku. Berkali-kali ia kesulitan memindah gear motor.

Setelah melalui perjalanan berkelok-kelok melewati pemandangan sejuk nan indah di mata, kami pun sampai di pintu gerbang kawasan wisata gunung Kelud dimana telah banyak berkumpul wisatawan yang juga akan pergi ke sana. Ketika akan masuk ke gerbang, aku terkejut bukan main. Ternyata biaya masuknya per-orang lima ribu rupiah dan bila membawa motor tambah dua ribu per-motor, sementara aku hanya membawa uang dua puluh ribu rupiah (maklum lagi bokek), itu pun telah terpotong uang bensin motorku dan motor adikku. Sisanya tinggal….

Aku pun bingung. Aku kira ke Kelud takkan memakan biaya yang mahal, sehingga aku dengan pedenya melenggang meski hanya membawa selembar uang kertas bergambar Otto Iskandar Dinata sementara Nurul dan temannya hanya ikut saja tanpa membawa uang sedikitpun. Bagaimana ini? Apakah perjalanan kami akan berhenti begitu saja tanpa sempat dimulai?

Bersambung ke bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s