Beranda » opini » Negeri Para Perokok

Negeri Para Perokok

Negeri para perokok

perokok

Sebutan itu mungkin sangat pantas bagi negara ini. Pabrik rokok terbesar di Asia Tenggara telah membuktikannya. Manusia yang merokok pun dengan sangat mudah ditemukan sejauh mata memandang layaknya iklan rokok terselubung yang dapat ditemukan dimana-mana di berbagai media. Rokok pun merasuk ke segala bidang kehidupan. Kegiatan olahraga, keuangan negara, hingga masalah tenaga kerja, dikuasai oleh rokok. Pastinya, tak ada hari tanpa asap rokok.

Rokok memiliki efek buruk bagi kesehatan. Efek-efek itu bahkan tertulis jelas dalam setiap kemasan rokok itu sendiri. Meski begitu, tetap saja rokok laris dihisap. Adalah hak setiap orang untuk merokok. Namun, hak setiap orang juga untuk tidak merokok atau menghisap asap rokok. Setiap perokok pasti telah sadar akan efek buruk rokok. Mereka tahu betapa bahayanya rokok bagi diri mereka. Tapi, tahukah mereka betapa bahayanya rokok bagi diri orang lain? Kebanyakan tidak. Perokok pasif adalah julukan bagi mereka bukan perokok namun terkena efek buruk rokok. Mereka banyak ditemukan di tempat-tempat umum, dimana perokok bisa merokok seenaknya. Betapa malangnya nasib para perokok pasif itu. Mereka (perokok pasif) sadar akan bahaya rokok sehingga memilih untuk tidak merokok. Namun, mereka tatap saja terkena dampak mematikan dari rokok. Mereka tetap berpotensi terkena kanker, padahal gaya hidup mereka terbilang sehat.

Melihat hal ini, wadah berkumpulnya ulama alias MUI ikut bicara. Mereka pun mengeluarkan fatwa haramnya di antaranya rokok dalam keadaan rokok haram bila merokok di tempat umum dan rokok haram bagi anak-anak dan perempuan. Dasar penetapan fatwa ini sangat masuk akal dan bersumber pada niat baik, namun fatwa ini dikecam oleh banyak pihak, terutama dari perokok. Tapi tahukah mereka betapa baiknya fatwa ini?

Pertama, rokok haram bila merokok di tempat umum. MUI ingin melindungi umat dari bahaya gangguan kesehatan parah akibat rokok. Biarlah para perokok mati akibat ulahnya sendiri, tapi MUI tak membiarkan orang lain ikut mati akibat ulah perokok tak tahu adat. MUI tak ingin umatnya memiliki dosa akibat kematian saudaranya. Salahkah? Apa jadinya bila seluruh umat memiliki tabungan kanker di hari tuanya?

Kedua, rokok haram bagi anak-anak dan perempuan. Pertimbangannya sih masalah kesehatan, yang sebenarnya tak ada bedanya bagi laki-laki dewasa. MUI melihat kecenderungan merokok bagi anak-anak dan perempuan yang cukup tinggi. Apa jadinya bila generasi muda kita sudah sejak dini terkena gangguan kesehatan di paru-paru akibat paru-parunya tak lagi penuh dengan oksigen? Apa jadinya bila para penerus bangsa kita banyak yang mati muda sehingga tak ada lagi yang memegang amanat bangsa dan negara? Apalagi survey dari sebuah organisasi mengatakan kalau rokok di kalangan anak-anak adalh jembatan emas menuju narkoba. Hayo! Apa jadinya penerus bangsa bila terburu mati muda karena narkoba?

Efek rokok sangat mematikan bagi bayi, bahkan yang masih dalam kandungan dan masih berupa sel telur. Rokok dapat menyebabkan lahirnya anak cacat bahkan keguguran. Sedangkan anak lahir lewat rahim seorang ibu yang notabene adalah seorang perempuan. Apa jadinya bila generasi penerus bangsa terlahir tidak sehat dengan cacat akibat ulah sang ibu? Bukankah kitab suci berkata jelas bahwa kita tidak boleh meninggalkan generasi penerus yang lemah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s