Beranda » opini » Kematian Ketua DPRD Sumut, Kematian Demokrasi Indonesia

Kematian Ketua DPRD Sumut, Kematian Demokrasi Indonesia

Kematian Abdul Aziz Angkat, Kematian Demokrasi

aziz1

Kematian ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat benar-benar disayangkan semua pihak. Tak seharusnya proses demokrasi di Indonesia memakan korban jiwa. Bukankah demokrasi terjadi bukan dari kekerasan? Bukankah negara kita menjunjung tinggi musyawarah untuk mufakat?

Saya menghimbau kepada semua pihak untuk menurunkan emosi dalam menghadapi setiap permasalahan. Emosi apalagi kekerasan takkan pernah menyelesaikan masalah. Marilah segala hal kita bicarakan dengan kepala dingin dan dalam bingkai kebersamaan serta kekeluargaan yang sudah menjadi ciri dari bangsa Indonesia. Atau, apakah ciri itu telah lenyap?

Demo atau unjuk rasa boleh-boleh saja selama berada dalam koridor yang baik dan teratur. Dalam sebuah demo atau unjuk rasa, akan selalu terjadi kecenderungan perilaku kolektif yang melenyapkan perasaan individual. Dalam hal seperti ini, seseorang yang berada dalam kerumunan akan kehilangan ”dirinya” sehingga berprilaku sesuai dengan perilaku kerumunan. Hal inilah yang yang harus dihindari dalam setiap unjuk rasa. Bila perilaku kolektif telah tercipta dan merasuk ke dalam diri setiap anggota kerumunan, kekerasan dan perilaku barbar serta seperti binatang pun akan dengan cepat muncul dan mengambil alih situasi sehingga muncul keadaan yang tidak kondusif yang tentunya sangat meresahkan. Dan sayangnya, sekali lagi hal itu telah terjadi. Betapa mirisnya hati saya tatkala melihat liputan berita di televisi. Tampak gambar massa yang melakukan kerusuhan, pengrusakan, yang semuanya itu tentunya kasar dan berniat melukai orang lain. Massa masuk ke dalam gedung dan membanting segala bentuk meja, memecahkan segala bentuk kaca, melempari segala bentuk manusia yang mereka anggap tak mengaspirasikan kepentingan mereka. Beberapa dari mereka membawa keranda, entah apa maksud awalmya yang kemudian kita duga dan menjadi prasangka bahwa para pengunjuk rasa menginginkan kematian ketua DPRD Abdul Aziz Angkat yang pada akhirnya memang meninggal dunia.

Seharusnya kejadian ini tak perlu terjadi. Perilaku kolektif, bila menyebabkan kerusakan akan menghasilkan dosa kolektif pula. Maukah Anda menanggung dosa kolektif? Apalagi bisa dosa tersebut karena membunuh orang yang tergolong dosa besar? Beberapa liputan media menampilkan gambar ketua DPRD Abdul Aziz Angkat yang baru menjabat selama dua bulan itu dipukuli. Para pengunjuk rasa bahkan menghalang-halangi proses penyelamatan beliau. Beberapa di antara mereka menganggap bahwa ketua DPRD tersebut pura-pura sakit. Oh, betapa jahatnya bangsa ini sehingga orang sakit pun dianggap pura-pura sakit. Memang benar-benar tampak kalau para pengunjuk rasa berniat membunuh. Unjuk rasa memang boleh, tapi unjuk kekuatan dan keberingasan sangat dilarang di negeri ini. Jangan mengaku sebagai bangsa Indonesia bila tetap melakukannya. Benar-benar mencoreng nama bangsa.

Awal peristiwa ini cukup sederhana, yaitu keinginan paripurna penetapan provinsi baru yang sebenarnya bukan agenda hari itu. Entah siapa provokator dibalik tragedi maut tersebut, yang pasti tak menginginkan kedamaian di bumi nusantara. Semuanya harus dibicarakan dengan baik, jangan dengan kekerasan yang hanya bisa membuat masalah baru. Kita ini bangsa Indonesia. Kalau hasilnya seperti ini, lebih baik tak usah ada provinsi baru.

Kepolisian mendapat sorotan tajam karena dianggap tidak mampu menciptakan suasana yang kondusif. Kepolisian berkelit dan mengkambinghitamkan media. Ayolah, kalau memang salah akuilah salah. Jangan justru menyalahkan orang lain. Orang yang benar adalah orang yang berani mengakui kesalahan. Polisi harusnya dapat mengontrol perilaku kolektif tersebut, kalau perlu memakai kekerasan bila membahayakan karena polisi memiliki hak tersebut. Jangan pedulikan kata-kata media tentang HAM, lha wong yang dihadapi lagi kesurupan dan hilang akal kok. Polisi harus tegas, harus berani mengambil keputusan mendesak demi kepentingan umum walau namanya menjadi tercemar. Itu sudah menjadi bagian dari tugas kepolisian.

Bagaimanapun, tak seharusnya kekerasan menjadi pelampiasan. Kematian ketua DPRD Abdul Aziz Angkat bisa dianggap sebagai kematian demokrasi di Indonesia karena masyarakat lebih memilih menjadi setan perusak. Pantaslah bila kemudian almarhum Abdul Aziz Angkat diangkat sebagai pahlawan demokrasi, sebagai pelajaran bagi kita semua untuk tidak menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah. Jangan biarkan tragedi seperti ini terjadi lagi. Mari membangun Indonesia yang penuh dengan kedamaian dan toleransi. Bukankah damai itu indah?


Iklan

2 thoughts on “Kematian Ketua DPRD Sumut, Kematian Demokrasi Indonesia

  1. Opini anda bagus juga, Tapi ada yg Kurang…..
    Tuntutan pembentukan Protap itu sendiri Telah Berlangsung Lama, Mengingat Kondisi Infrastruktur yg tidak memadai, dan ada daerah yang terisolir,Bahkan APBD sumut Untuk Kabupaten/kota untuk daerah itu juga lebih minim dibanding daerah lainya di sumut, Padahal Jauh lebih Luas,…. Sebelumnya juga Sudah Ada Permintaan Agar Pusat Menurunkan tim Penilai Kelayakan Protap, Mengingat PAD asli daerah Lumayan Besar, Jadi Layak Di mekarkan, mengingat Anggaran Daerah Sumut Untuk Pembangunan Disana sangat Minim( Kalau Bisa Anda Jalan2 Deh Kesitu) Wajar Dong Mereka minta Pemekaran?? bukankah itu juga bagian dari demokrasi??? Tapi Anehnya Setelah 3 Tahun Berjalan Koq ga Di beri Juga Sich? Bukannya Mau membenarkan Perilaku anarkis dalam menuntut, apalagi sampe menghilangkan nyawa! ketika daerah lain minta pemekaran….. ga berlangsung lama… tanpa neko2 langsung jadi…. tapi khusus protap..!!!! entah kenapa beda! mereka ga minta merdeka koq…. koq segitu susah sich??….. yang lucunya!! juga berujung pada sentimen AGAMA segala……Dikutbahin Dimasjid2…. Memobilisasi Jamaah selesai jum’atan melakukan pawai penolakan…….ANEH KAN?????? Sebelum Kematian Pak Abdul Aziz Demokrasi juga Sudah Mati Di Sumatera Utara. Tiga Tahun Masyarakat Daerah itu Meminta Pemekaran……… Jauh Sebelum Riau daratan dan Kepri minta pemekaran…..Langsung Diberikan, Tapi Koq Protap Ngga ya? ga diberi??? Aneh memang aneh….. Atau Mungkin Memang Karena Sentimen SARA??? Jadi Jangan Bicara Masalah Demokrasi, toleransi di indonesia….itu ngga ada!!!hanya omong kosong doang…………

    • ya, Anda benar. Tidak seharusnya saya memberikan komentar tanpa terlebih dahulu melihat latar belakang masalah ini dengan lebih cermat. Mungkin lain waktu saya akan berjalan-jalan ke daerah tersebut seperti saran Anda agar saya bisa mendapat referensi yang sesuai sebelum saya membuat sebuah tulisan.
      Anda sepertinya memiliki pengetahuan yang cukup untuk masalah ini. Setiap pernyataan Anda sangat mungkin benar dan saya setuju dengan analisa Anda. Meskipun begitu, tak seharusnya hal ini memakan korban jiwa sia-sia atau menggunakan kekerasan, mungkin pihak tokoh masyarakat dapat melaporkan atau mempertanyakan ini kepada pemerintah yang lebih tinggi bahkan pemerintah pusat sekalipun agar jelas permasalahan yang tengah dihadapi. Terima kasih atas tambahan Anda, masukan Anda sangat berarti bagi perkembangan tulisan saya. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s