Beranda » opini » Satu RT, Lima Caleg

Satu RT, Lima Caleg

PERHATIAN!!! Tulisan ini berisi opini pribadi…. berdasarkan kebebasan bersuara…. maaf bila terdapat kata-kata yang menyinggung…..

Satu RT, Lima Caleg

Pemilu sudah semakin dekat. Geliat kampanye pun sudah mulai terasa. Perlahan-lahan gambar-gambar dan iklan kampanye muncul di berbagai media. Mulai dari tepi jalan hingga televisi, tak luput dari kata-kata janji para calon wakil rakyat. Tak hanya di kota, pelosok desa pun menjadi sasaran tepat kampanye. Banyak orang mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Kini calon legislatif pun bukan lagi menjadi monopoli warga yang tinggal di perkotaan. Di desa pun sudah mulai bermunculan calon-calon wakil rakyat dengan kendaraan partai politik pilihan. Salah satu contohnya adalah desaku yang dulunya termasuk desa tertinggal. Dalam satu RT yang kebetulan adalah RT saya, bahkan ada lima caleg yang maju. Mereka semua mencalonkan diri menjadi caleg dengan bendera partai masing-masing. Saya sendiri tak asing dengan kelima caleg ini. Mereka yaitu tante saya, teman sepermainan saya, tetangga depan rumah saya, dan dua orang lagi yang saya kenal dan cukup akrab. Menarik untuk mencermati fenomena, yang mungkin pernah terjadi ini. Bisa dibayangkan bila sesama warga dalam lingkup yang terkecil struktur pemerintahan ini saling bersaing memperebutkan kursi wakil rakyat. Satu di antara mereka tak ikut bersaing di kancah lokal karena maju sebagai caleg untuk DPR RI sementara yang lainnya memperebutkan kursi DPRD kota. Sungguh akan menjadi persaingan yang seru mengingat rumah mereka saling berdekatan. Kira-kira siapa yang bakal menang? Menjadi caleg memang sebuah pilihan. Tidak mudah menjadi seorang calon legislatif. Tak hanya biaya kampanye yang dibutuhkan, melainkan juga pendidikan dan kemampuan yang memadai agar kelak dapat menjadi wakil rakyat yang benar-benar kompeten di bidangnya. Selain itu kepedulian seorang caleg pun harus tinggi, karena kalau tidak, bisa caleg-caleg yang terpilih akan menjadi koruptor seperti beberapa pendahulu. Caleg yang datang dari desa bisa saja menjadi alternatif di tengah maraknya caleg-caleg berpendidikan tinggi namun minim kepedulian. Caleg dari desa diharapkan bisa melenyapkan rasa haus masyarakat akan wakil rakyat yang berkualitas. Hal ini telah dibutktikan melalui pemilu sebelumnya. Seorang wakil rakyat yang datang dari desa begitu peduli terhadap nasib rakyatnya. Beliau bahkan tak segan-segan turun langsung demi mendengar keluhan dan permasalahan masyarakat dan membantu memberikan solusi. Tak lupa beliau membantu membangun desa yang telah membesarkannya. Inilah yang sangat diharapkan dari calon wakil rakyat yang berasal dari desa. Kemurnian desa yang belum tercemar oleh sifat-sifat imperialis modern bisa menjadi oase di tengah gersangnya pemimpin berjiwa rakyat. Namun apalah gunannya caleg dari desa bila tak ada yang memilih. Fenomena golongan putih menjadi hal yang menakutkan bagi caleg-caleg ini. Golput hadir sebagai bentuk ketidakpuasan atas kinerja pemerintahan yang dianggap tidak memihak rakyat. Sebuah alasan yang pas, namun tidak benar berdasarkan hukum. Golput bersifat pesimis dan memandang segalanya sama saja seperti yang terdahulu dan tidak akan terwujud sebuah perubahan, semacam hallo effect. Namun apakah kita akan terus pesimis dalam membangun negara ini? Meskipun pemimpin yang sudah-sudah tidak berpihak pada rakyat, bukan berarti kita bisa memvonis dengan mudah bahwa pemimpin selanjutnya pun sama saja. Kita harus optimis dan yakin bahwa pemerintahan yang tepat akan datang yang semua itu berasal dari partisipasi aktif kita sebagai warga negara. Berdasar undang-undang dasar negara, tiap-tiap warga negara berkewajiban membela kepentingan bangsa. Pemilu termasuk di dalamnya. Melalui pemilu akan terpilih wakil-wakil rakyat yang nantinya menjalankan pemerintahan dan meneruskan pekerjaan pendiri negara demi keberlangsungan negara. Dan melalui demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, rakyatlah yang menentukan wakil rakyatnya di parlemen. Nah, kalau rakyat tidak mau memilih, apakah pantas disebut warga negara? Kalau bukan rakyat yang memilih, lalu siapa? Apa mau negara ini diberikan saja hak pemerintahannya kepada negara lain? Bukankah tugas warga negara adalah membela negara? Dan bila rakyat memilih golput, takkan ada wakil rakyat yang terpilih untuk meneruskan pemerintahan. Lalu siapa yang bakal memerintah negara ini? Apakah semuanya berada di tangan rakyat dalam arti seluruh rakyat yang ada memegang langsung kemudi pemerintahan? Bukankah akan muncul negara dengan sistem hukum rimba? Dan bila hal itu terjadi, bukankah negara akan mengalami kekosongan keuasaan yang kemudian secara perlahan akan diakuisisi negara lain? Fatwa haram golput saya rasa cukup tepat. Bila kita merasa sebagai warga negara Indonesia, maka kita berkewajiban untuk membelanya. Salah satu pembelaannya melalui mengikuti pemilu. Bila seseorang memilih golput, berarti tidak ikut membela tanah air. Artinya, bukan warga negara Indonesia. Dan kalau bukan warga negara Indonesia, maka untuk apa hidup di Indonesia? Lebih baik segera angkat kaki dari negeri ini sebelum diekstradisi.Golput memang hak, tapi manakah yang harus didahulukan antara hak dan kewajiban? Kesalahan bukan hanya muncul dari para pemilih, namun juga dari panitia dalam hal ini KPU. Fatwa golput pun akan sia-sia tatkala panitia tidak menyelenggarakan pemilu dengan sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya yaitu mendata secara akurat jumlah pemilih sehingga nantinya tidak ada suara yang hilang, dan memberi sosialisasi pemilu yang tepat agar tidak terjadi suara yanglenyap dengan sia-sia. Dengan begitu pastilah pemilu benar-benar terasa seperti pesta rakyat daripada pesta kaum elit. Kesadaran kita akan bangsa sangat diperlukan yang tercermin dari kesadaran kita mengikuti pemilu dengan baik dan benar layaknya bahasa Indonesia. Persaingan boleh saja ada, namun tetap dalam bingkai kekeluargaan ciri khas bangsa Indonesia yang tercinta ini. Kalah menang adalah resiko yang terjadi dalam setiap kompetisi. Karena itu, siapapun dari lima caleg satu RT yang berhasil menduduki kursi wakil rakyat, wajib kita dukung dengan sepenuh hati. Bila terjadi pelanggaran, laporkan dengan cara yang baik, bukan dengan demo yang berujung anarkis. Mari kita sukseskan pemilu tahun ini dengan memilih yang terbaik di antara yang terbaik. Bukankah demokrasi itu indah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s