Beranda » kisahku » Perjalanan ke Pantai (bag.3 – habis)

Perjalanan ke Pantai (bag.3 – habis)

Aku bingung, mana mungkin aku pulang hanya dengan memakai sebelah sandal? Kucari sandalku yang sebelah lagi pada deburan ombak namun aku tak menemukannya. Huda dan Andri lalu memintaku untuk merelakannya. Kata mereka mungkin sandalku telah terbawa ombak cukup jauh ke tengah laut. Aku berpikir sejenak. Masa’ aku harus pulang dengan tanpa alas kaki? Mana mungkin aku memakai sandal sebelah?

Akhirnya kuputuskan untuk kembali mencari sandal yang sebelah. Lama kami mencari, namun yang dicari tak jua ditemukan sementara langit telah berubah jingga. Ketika aku mulai putus asa, kulihat sandal jepitku berada terjepit di antara batu karang besar tak jauh dari tempatku bergaya tadi. Aku berniat untuk mengambilnya, tapi aku takut. Masalahnya, tempat sandalku berada itu telah cukup jauh dari pantai. Ditambah lagi ombak yang datang bergantian dengan derasnya bisa saja menyeretku ke laut. Aku sangsi antara mengambil sandalku atau justru meninggalkannya. Akhirnya aku beranikan diri untuk mengambilnya dengan segala resikonya. Tak mau mati konyol karena sandal jepit, kami pun menyusun rencana untuk mengambil sandal yang berada cukup jauh dari pantai tersebut. Huda lalu mengusulkan agar aku mengambilnya saat ombak belum datang sebab saat itu daerah karang tempat sandalku terjepit tidak terendam air. Masalahnya, selang waktu ombak dengan ombak berikutnya cukup dekat sehingga aku harus harus cepat mengambil sandal itu dan memanjat karang menuju pantai atau kalau tidak aku akan dihantam ombak hingga membentur karang. Kubulatkan tekadku, kuambil nafas panjang, dan kuberdoa dalam hati. Kami menunggu saat ombak surut. Ketika saatnya tepat, Huda memberi aba-aba dan aku pun segera menuju ke arah karang. Aku memanjat karang dengan cepat. Permukaan karang yang terjal dan licin membuatku harus berhati-hati agar tak jatuh terpeleset. Setelah beberap detik aku berhasil sampai di tempat sandalku terjepit. Gawatnya, sandalku terjepit cukup dalam sehingga sulit untuk ditarik dari karang. Ketika tengah berusaha mengeluarkan sandal, Huda berteriak keras. Ternyata ombak besar akan datang. Aku mulai panik. Kucoba terus menarik sandal dari karang. Setelah beberapa kali mencoba menarik, aku akhirnya berhasil mengambil sandalku. Dengan cepat kupanjat kembali karang dan segera berlari ke pantai. Terlambat, ombak telah datang dan menghantam tubuhku. Aku pun terjatuh dan terbenam dalam ombak untuk beberapa saat. Ketika ombak surut, aku terbaring telungkup di atas pasir. Huda dan Andri yang melihatku sepertinya kecewa karena tak melihat sandal yang tadi aku ambil. Aku lalu bangkit dan menemukan sandalku berada dalam genggamanku. Akhirnya aku berhasil! Akhirnya aku dapat pulang dengan memakai sandal lengkap. Benar-benar pengalaman yang menegangkan.

Setelah memeriksa semua barang, kami pun beranjak pulang. Sebelum kembali mendaki bukit untuk kembali pulang, aku berbalik menoleh pada pantai yang ada di depanku. Pasir putih yang indah, ombak yang deras, dan pemandangan yang indah di pantai ini ditambah lagi dengan petualangan yang mendebarkan bersamanya, aku yakin aku takkan melupakan pantai ini. Bagiku pantai ini adalah pantai terindah yang pernah kutemui. This is the greatest beach ever!!!

Kami pulang mengendarai sepeda motor seperti saat kami berangkat tadi. Aku tak sempat mengeringankan baju terlebih dahulu karena hari telah senja. Selama kurang lebih dua jam kami menyusuri jalan pulang. Sebelum berpisah, kami mampir dulu di sebuah warung bakso. Kami makan bakso dengan lahap sambil bercerita tentang perjalanan yang baru saja kami alami sambil sesekali tertawa riang. Setelah selesai, kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing.

Malamnya di rumah, aku mengirimkan pesan singkat melalui ponsel kepada Huda. Isinya ucapan terima kasih karena telah mengajakku berlibur ke pantai. Liburan ke pantai ini benar-benar menyenangkan. Badanku sampai terasa sakit semua sesampainya di rumah, seolah baru saja berkelahi.

Tak lama setelah aku mengirimkan pesan singkat itu, Huda mengirimkan pesan balasan. Aku tertegun ketika membaca pesan balasan darinya. Kata-katanya membuatku terkesan…..

Hari ini akan kita rindukan…

Semoga kita akan selalu menjadi sahabat sampai kita tua nanti….

Dan kita selalu dapat melakukan hal yang sama dan lebih baik di hari nanti…

Sahabat selalu di hati…….

( M. Huda – ASSE )

-SEKIAN-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s