Beranda » opini » DPR Bukan Wakil Rakyat?

DPR Bukan Wakil Rakyat?

Mungkin bertanya-tanya dengan tajuk di atas, tapi itulah kesimpulan yang dapat saya ambil setelah selama ini melihat bagaimana pergerakan (cie bahasanya….) para anggota dewan yang terhormat.

Mayoritas anggota dewan yang bertugas di gedung MPR/DPR Nusantara nyaris tidak melakukan tugas mereka sesuai dengan yang diamanatkan oleh rakyat. Sangat jarang sekali kita lihat suara-suara rakyat Indonesia yang diberikan kepada mereka pada pesta demokrasi terbesar Pemilu ternyata tak ada harganya.

Mereka yang duduk di Senayan hanya mewakili suara partainya, bukan suara rakyat yang semakin hari semakin terhimpit dan berada di ambang kematian. Mereka tidak mewakili suara rakyat, karena mereka disetir oleh partai pendukung. Tentu saja partai mereka meminta balasan karena atas jasa partailah para anggota dewan dapat melenggang dengan gaji yang besar.

Di tengah krisis ekonomi yang melanda negeri ini, dimana rakyat kesusahan mencari makan, mereka yang katanya wakil rakyat itu justru meminta kenaikan gaji. Pantaskah? Sementara kinerja mereka tidak pernah membaik? Sementara ada jutaan rakyat Indonesia yang berjuang melawan maut setiap harinya?

Dalam masa jabatan mereka yangt pendek, yaitu lima tahun, tentunya para wakil rakyat itu akan berusaha mengumpulkan harta sebanyak mungkin sebelum masa jabatan mereka berakhir. Bagi mereka kursi DPR adalah lumbung emas guna kehidupan anak keturunan mereka. Jadi janji-janji saat kampanye? Apakah hanya bualan belaka?

Kita lihat di televisi saat ini, banyak anggota DPR yang terjerat kasus suap dan korupsi. Kasus suap dan korupsi dalam berbagai bentuk kini ramai di Senayan, mungkin sama meriahnya dengan Piala Thomas dan Uber di istora Senayan yang telah usai. Kita lihat, hampir semuanya terlibat kasus suap! Apakah gedung nusantara itu adalah tempat untuk suap-menyuap? Tempat untuk mencari harta belaka? Ladang korupsi, tempatnya para koruptor?

Selain itu, kita lihat juga betapa kelakuan wakil-wakil rakyat yang sangat tidak pantas. Kelihatannya sih mereka berjas, berdasi, berpakaian safari, pokoknya pakaian rapi, dengan gelar sarjana hingga magister, tapi kita lihat kelakuan mereka. Kasus asusila kerap terjadi di gedung DPR. Ingat video porno Yahya Zaini dengan Maria Eva? Atau yang terbaru yang melibatkan anggota DPR Max Muin? Pantaskah itu semua diteladani oleh rakyat Indonesia? Bukankah sebagai wakil rakyat mereka harusnya menjadi teladan? Maka jangan salahkan kalau kelakuan rakyat Indonesia sudah mulai bejat. Lha wong pemimpinnya seperti itu….

Ada lagi yang tak lekang dalam ingatan, yaitu tatkala anggota DPR saling adu pukul. Mereka berkelahi layaknya anak SMA ketika membahas undang-undang. Pantaskah itu?
Jadi jangan heran kalau anak-anak SMA suka tawuran, bukankah mereka meniru paea wakil rakyat yang berada di parlemen.

Coba lihat pada berita di televisi ketika DPR sedang membahas undang-undang atau membahas nasib rakyat. Penuhkah kursi mereka?
Para wakil rakyat itu mentang-mentang sudah menjadi orang yang terhormat, mereka kini jadi malas memikirkan nasib rakyat. Mereka malas datang saat sidang. Mereka malas. Atau kalau mereka malu, mereka akhirnya datang, namun di parlemen kita lihat mereka bukannya membahas nasib rakyat, mereka malah tidur!
Apakah AC di Senayan begitu sejuk hingga mereka semua terlelap? Kalau wakil rakyatnya saja tidur, pantaslah bila negeri ini tak pernah terbangun, alias tidur panjang….tak pernah maju, selalu bangga sebagai negara berkembang (under developing country).

Beginikah mereka yang berada di DPR saat ini? Pantaskah mereka disebut wakil rakyat?
Namun di tengah krisis itu, masih ada wakil rakyat yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat. Mereka benar-benar berjuang demi kebangkitan bangsa. Mereka benar-benar berjuang demi tanah air tercinta. Sayang, jumlah mereka sedikit, dan semakin hari semakin sedikit…
Kita hanya bisa berdoa….semoga terus muncul wakil-wakil rakyat yang benar-benar pada tempatnya…demi kebangkitan bangsa. Indonesia bisa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s