Beranda » opini » Pancasila yang Tak Terdengar

Pancasila yang Tak Terdengar

Sedih melihat negara kita tercinta, Indonesia berada dalam kondisi yang terpuruk. Politik penuh kecurangan, ekonomi negara kacau balau tak terkendali, sosial menurun dengan banyaknya kerawanan sosial, budaya semakin terkikis oleh penjajahan cara baru, pertahanan kebobolan, dan keamanan tidak bisa diandalkan hingga banyak investor bahkan warga negara yang memilih kabur dari negara kita yang kita cintai ini.

Aneh memang, negara sekaya Indonesia bisa mengalami keterpurukan dan juga krisis multidimensi yang semakin hari semakin tak bisa dikendalikan. Begitu banyak permasalahan yang terjadi di negeri yang kata band Koes Plus ”tongkat, kayu dan batu bisa jadi tanaman”. Sebenarnya ada apa sih dengan negara kita yang kaya sehingga dijuluki ”zamrud khatulistiwa” ini?

Segala sesuatu pastilah ada sebabnya. Sebab-akibat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan di dunia ini. Karena itu, kita bisa melihat sebab-sebab dari akibat yang telah terjadi. Contoh, kenapa sih tagihan listrik membengkak? Jawabannya mungkin karena lupa mematikan lampu dan juga televisi. Kenapa sih tagihan telepon naik? Jawabannya mungkin karena keseringan internetan. Nah, seperti itulah kita akan melihat sebab dan akibat krisis multidimensi di Indonesia.

Sebenarnya hanya ada satu alasan atau sebab yang pasti kenapa Indonesia gagal menjadi negara yang disegani, maju, dan terhormat. Ada satu kata yaitu Pancasila. Negara kita yang katanya menggunakan Pancasila sebagai dasar negara justru hanya menjadikannya nyanyian yang dulu ketika sekolah sering kita nyanyikan bersama teman-teman. Pancasila sebagai ideologi yang katanya terbaik dan diambil dari nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia toh pada kenyataannya tidak bisa membawa negara pada cita-cita yang diharapkan, yaitu kemakmuran negara. Yang terjadi justru ”kemakmuran” pejabat yang melakukan korupsi. Apa Pancasilanya yang salah? Apa penataran P4-nya kurang sempurna?

Pancasila hanya dasar, dan itu tak berarti tanpa adanya subjek yang dikenakan kepadanya, yaitu pelaku atau pelaksana dari Pancasila itu sendiri. Yang saya lihat, mayoritas masyarakat Indonesia seolah tak peduli dan bahkan acuh tak acuh terhadap dasar yang dilambangkan dengan burung Garuda ”gepeng” yang dipajang di depan kelas. Kenapa sebenarnya? Kenapa banyak warga negara tidak peduli pada dasar negara mereka? Apakah layak disebut warga negara?

Mari kita bahas saru persatu dengan mengambil masing-masing satu contoh.

Sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Kita mengakui sebagai bangsa yang bertuhan, bangsa yang berkeyakinan dan bukan komunis ataupun atheis, tapi apakah pengejewantahannya telah terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Kita lihat hampir di setiap kota di negeri ini ada yang namanya lokalisasi. Apa itu lokalisasi? Itu adalah tempat berkumpulnya para pelacur yang menjajakan dirinya kepada pria-pria hidung belang. Dalam semua agama yang dianut di negara kita ini, saya yakin pelacuran adalah dosa dan hukumnya haram. Tapi kenapa pelacuran justru diadakan oleh pemerintah melalui lokalisasi? Bukankah lokalisasi itu yang mengatur adalah pemerintah? Katanya bertuhan, tapi kenapa rumah ibadah bisa dekat dengan pelacuran?

Sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Benarkah kita semua warga negara Indonesia adalah manusia? Saya yakin jawabannya ya, karena hanya mereka yang berakal yang bisa menerima kesepakatan mengenai konstitusi dan kenegaraan. Tapi, pantaskah kita disebut manusia bila kita bersifat dan bersikap layaknya binatang? Bagaimana dengan kasus-kasus yang terjadi berkenaan dengan pelanggaran HAM di negara ini? Kasus GAM, Timor Timur, Tragedi Mei 1998, kerusuhan Monas, itu semua bisa disebut manusia yang beradab? Apakah pengeroyokan, pembunuhan, penyiksaan, dan main hakim sendiri bisa disebut kemanusiaan yang beradab? Apakah disebut manusia bila membiarkan warga negaranya mati kelaparan karena tidak mampu membeli sembako yang harganya melangit tatkala tiga huruf yang dijadikan lelucon di televisi (BBM) meroket bak pesawat ulang alik Chalengger. Dimana sisi kemanusiaan yang beradab ketika masih dan sering kita temui warga miskin yang terinjak-injak dalam pembagian sembako gratis atau keluarga yang memilih bunuh diri sebagai jalan keluar? Dimana sisi kemanusiaannya tatkala anggota dewan yang berjas dan berdasi meminta kenaikan gaji yang tinggi sementara banyak warganya yang masih makan Senin-Kamis layaknya puasa sunah? Adil dan beradabkah?

Sila ketiga Persatuan Indonesia. Inilah yang lucu dari para subjek negara di Indonesia. Persatuan seperti apa yang ditampilkan? Persatuan seperti apa yang telah terjadi dan terlihat nyata di negara ini? Apakah persatuan mengganyang aliran sesat dengan kekerasan? Apakah persatuan menolak harga BBM dengan menyerang dan melemparkan molotov? Apakah persatuan mogok makan sebagai bentuk protes? Atau mungkin persatuan paduan suara DPR yang mengatakan ”ya” sementara mata mereka tampak seperti senter yang mulai kehabisan baterai? Apa persatuan karena telah ada ”pelicin” yang membuat kita mau menyingsingkan lengan baju? Atau persatuan yang ditunjukkan dengan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan dan mengadakan acara peringatan tanpa bisa diambil dan diresapi maknanya? Yang mana nih?

Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Pertanyaan dari sila terpanjang ini adalah, sudahkah kita menggunakan jalan musyawarah sebagai penyelesaian? Atau kita lebih memilih jalan yang lebih muda yang disimbolkan dengan amplop? Atau mungkin melalui pentungan dan kapak yang siap memotong leher kita kapan saja? Dimana sisi musyawarahnya? Sudahkah rakyat dipimpin oleh para pemimpin yang memiliki kebijaksanaan layaknya Nabi Muhammad, Yesus, atau Budha? Sudah pulakah suara-suara masyarakat terwakilkan oleh orang-orang yang katanya cerdas yang kita pilih dengan menusukkan paku? Kalau telah terwakilkan, kenapa bisa terjadi banyak keputusan-keputusan kontroversial yang bertentangan dengan keinginan masyarakat? Jujur saja, musyawarah adalah ciri khas dari negara ini semenjak nenek moyang kita. Tapi sepertinya musyawarah sebagai penyelesaian masalah yang kita banggakan ini hanya milik nenek moyang kita yang katanya seorang pelaut. Dan terakhir…

Sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kita tahu pasti kalau sila inilah yang paling banyak disorot saat ini. Keadilan yang dilambangkan dengan rasi bintang Libra, ternyata hanyalah kumpulan buku-buku berbahasa Belanda yang menjadi monopoli orang-orang berdompet tebal alias orang kaya harta. KUHP yang dibanggakan seolah hanya digunakan sebagai formalitas, dan hanya akronimnya yang sering dipakai (KUHP – Kasih Uang Habis Perkara). Adilkah maling ayam yang tewas di tangan massa yang tak beradab dengan koruptor milyaran rupiah yang bisa melenggang wisata keluar negeri? Apakah adil ketika para pejabat dan konglomerat hitam yang telah merugikan negara milyaran rupiah itu bebas tak bersyarat? Adilkah sementara tetangga kita yang mencuri karena kemiskinan tewas terpanggang dengan mengenaskan?

Dari pembahasan kelima sila di atas, bisalah kita menyimpulkan kalau Pancasila yang terdiri dari lima sila dengan masing-masing simbol yaitu bintang, pohon beringin, kepala banteng, rantai dan padi dan kapas ternyata tidak diamalkan dengan baik. Begitu banyak contoh-contoh nyata tentang pelanggaran akan nilai-nilai dasar Pancasila. Bukankah pelanggar dasar negara patut dan pantas untuk dihukum? Lalu kenapa mereka tidak dihukum? Apakah hukum hanya milik para pejabat dan konglomerat?

Dari pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bila kita ingin bangkit dari segala keterpurukan bangsa dan krisis multidimensi, marilah kita kembali ke Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman kita. Mari kita pelajari dan hayati dengan dalam nilai-nilai luhur yang katanya bersumber dari kemajemukan bangsa ini. Namun bila ternyata kemakmuran dan cita-cita negara belum juga tercapai sementara kita telah menjalankan Pancasila dengan baik dan benar layaknya bahasa Indonesia, kita bisa menggugat burung garuda ”gepeng” atau mungkin memikirkan dasar negara yang baru yang lebih baik dari Pancasila.

Memperingati seabad kebangkitan nasional dan juga lahirnya Pancasila, marilah kita bercermin dan berusaha lebih baik demi negara kita tercinta, Indonesia. Tidak ada kata terlambat, karena kata terlambat hanya pantas untuk pecundang. Karena kita bukan pecundang, karena kita pemenang. Mari kita maju tak gentar membela yang benar, jangan justru maju tak gentar membela yang bayar. Indonesia bangkit, Indonesia bisa!

One thought on “Pancasila yang Tak Terdengar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s