Beranda » kisahku » Perjalanan ke Pantai (bag.2)

Perjalanan ke Pantai (bag.2)

Ketika aku akan buang air kecil, tiba-tiba dari atas bukit turun beberapa muda-mudi. Aku pun langsung mengurungkan niatku tersebut. Saat itulah aku melihat Huda dan Andri tengah berjalan menuju ke bukit. Aku pun menunggu mereka. Ketika mereka telah bersamaku, kami bersama-sama menaiki bukit yang terjal itu. Kami melihat seekor kambing yang tengah dikandangkan di tengah bukit. Kami akhrinya tiba di daerah bukit yang datar. Dari tempat kami berdiri tampak hamparan lautan biru dengan ombak yang terus menerus menghantam bagian bawah bukit. Ya, kami berada di tepi jurang di bukit itu dengan lautan sebagai dasarnya. Kami lalu bersitirahat sejenak di tempat itu sembari memandangi buih-buih yang tercipta dari deburan ombak yang kencang. Kami pun tak lupa berfoto.

Setelah lama berada di tempat itu, aku pun merasa bosan. Aku heran kenapa aku tidak menemukan muda-mudi yang tadi naik bukit di tempat kami beristirahat ini? Aku lalu memandang ke atas. Ternyata kami masih berada di tengah bukit. Masih ada bagian bukit yang lebih tinggi. Aku pun penasaran, ada apa dibalik puncak bukit ini.

Kembali aku mengajak Huda dan Andri untuk kembali menaiki bukit. Namun Huda dan Andri lagi-lagi menolak. Mereka malah menyuruhku untuk pergi terlebih dahulu dan akan menyusul bila pemandangan di sana bagus. Mereka memintaku untuk memberikan isyarat bila ada yang menarik di balik puncak bukit ini. Akhirnya kutinggalkan kedua temanku itu lagi. Aku kembali mendaki bukit. Bukit itu masih cukup tinggi untukku. Begitu susah untuk mencapainya dikarenakan jalannya yang semakin sulit. Namun perjuangankan membuahkan hasil. Kulihat sebuah pemandangan indah tatkala aku telah sampai di puncak bukit. Ternyata ada pantai lain di balik bukit ini! Kulihat pula muda-mudi yang tadi menaiki bukit tengah bersantai di sana. Aku lalu memberikan isyarat kepada kedua temanku perihal pantai yang kulihat itu. Tapi aku tak sabar menunggu mereka. Aku pun mulai menuruni bukit menuju ke pantai. Jalan menurunnya semakin susah dengan lubang-lubang dan bebatuan yang menghalangi. Aku berpapasan dengan seorang pemburu burung yang juga tengah menuruni bukit. Setelah sampai di bawah bukit, dibalik bukit, aku lalu memutuskan untuk menunggu kedua temanku yang tengah dalam perjalanan. Tak lama mereka datang. Mereka terkejut melihat pantai lain dibalik bukit itu. Mereka tak menyangka ada pantai lain yang lebih indah dibalik bukit. Huda sendiri yang sudah pernah pergi ke pantai Tambakrejo baru tahu kalau ada pantai lain dibalik bukit. Ia lalu berterima kasih kepadaku.

Pantai lain yang kutemui itu tampak lebih indah dari pantai sebelumnya. Pantai ini masih sepi, kulihat hanya ada beberapa muda-mudi tengah berwisata. Mungkin hal ini dikarenakan akses menuju pantai tersebut berupa bukit yang susah untuk dilewati. Pantai ini benar-benar sepi dari aktivitas nelayan, tidak seperti pantai sebelumnya. Di sini tidak ada seorang nelayan pun yang mencari ikan. Sepi dan tersembunyi, itu yang aku simpulkan dari pantai ini. Pasir di pantai ini putih bersih. Ombaknya begitu keras, cukup untuk membuatku merinding. Pemandangan yang indah di pantai ini membuatku merasa kagum dan tenang. Sungguh indah nian ciptaan Sang Maha Hidup. Maha Suci Dia yang telah menciptakan alam beserta isinya. Bersama Huda, aku kemudian bermain-main di pantai. Andri memilih untuk duduk saja dan melihat. Sayang sekali, padahal aku ingin kami bertiga dapat bermain bersama di pantai.

Aku dan Huda lalu berlomba lari menyusuri pantai yang diapit dua bukit itu. Ternyata berlari di pasir pantai itu susah ya? Aku sampai terjatuh saat berlari. Di sisi lain pantai itu kami menemukan banyak sekali kerang dan fosil kehidupan laut yang terbawa oleh ombak yang deras. Iseng-iseng kami lalu mengamatinya. Sungguh indahnya makhluk-makhluk laut itu.

Seharian kami bermain-main di pantai. Aku dan Huda benar-benar senang. Tak pernah aku sesenang ini. Sayang Andri tak ikut menikmati bermain-main bersama ombak di tepi pantai. Andri lebih memilih duduk dan menjaga barang-barang kami.

Menjelang senja kami memutuskan untuk kembali pulang. Pantai sudah terlihat sepi. Beberapa muda-mudi yang tadi datang ke pantai telah pergi. Kini tinggal kami bertiga yang ada di pantai yang tersembunyi itu. Namun sebelum pulang aku ingin berfoto di sebuah karang besar yang ada di bawah bukit. Aku pun segera beraksi sementara Huda yang mengambil gambarnya. Saat itulah tanpa aku duga tiba-tiba datang ombak yang sangat deras menghantam batu karang tempat kuberdiri. Aku pun jatuh terhempas ke pasir pantai sementara Huda telah berlari menyelamatkan dirinya sendiri. Untuk beberapa detik aku tenggelam dalam ombak. Air laut yang asin membasahi baju dan celanaku. Aku lalu teringat sesuatu, ponsel dan dompetku ada di saku celana! Saat itulah aku berlari menjauh dari ombak. Dengan tergesa-gesa segera kulempar dompet dan ponselku sejauh mungkin ke pantai. Ketika aku merasa sudah aman, Huda dan Andri berteriak memanggilku. Aku menoleh. Huda dan Andri tampak menunjuk sepasang sandal jepit yang kuletakkan di dekat batu karang tadi. Aku pun mencoba menyelamatkan sandal jepitku dari ombak. Terlambat, ombak deras terlebih dulu menyapu pantai. Sandal jepitku pun terbawa ombak. Aku tak tinggal diam melihatnya. Langsung aku berlari mengejar sandal jepitku yang terbawa ombak. Setelah berjibaku dengan derasnya ombak, akhirnya aku berhasil menyelamatkan sandal jepitku. Tapi saat itu aku merasa ada yang kurang. Yang kudapat adalah sandal jepit sebelah kanan. Lalu, yang sebelah kiri mana?

bersambung ke bagian 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s