Beranda » kisahku » Perjalanan ke Pantai (bag. 1)

Perjalanan ke Pantai (bag. 1)

Ketika aku pulang kampung kemarin, dua orang temanku semasa SMA, Huda dan Andri mengajakku untuk berwisata sejenak ke pantai. Ya…itung-itung sebagai reuni kecil-kecilan mengingat kami sudah lama tak bertemu semenjak lulus SMA (kami adalah teman akrab saat SMA dulu, bahkan kami bertiga membentuk geng persahabatan yang kami sebut ASSE Gank). Ditambah lagi perjalanan ini menjadi sebuah perpisahan dengan Huda karena setelah ini ia akan pergi ke luar negeri.
Awalnya kami hanya merencanakan sebuah perjalanan, tanpa tahu kemana tempat yang menyenangkan untuk dituju. Huda lalu mengusulkan untuk pergi ke pantai Tambakrejo yang ada di pantai selatan Blitar. Aku sih setuju-setuju saja. Aku juga sudah lama sekali tak bermain ke pantai. Terakhir aku ke pantai saat aku masih kecil (kelas satu SD), yaitu ke pantai Prigi di Trenggalek.
Kami merencanakan pergi hari Sabtu tanggal 26 Juli 2008. Kebetulan di hari itu kami bertiga tidak sedang sibuk. Pagi di hari Sabtu itu, Andri datang ke rumahku untuk menjemputku. Ia lalu memboncengku dengan sepeda motor menuju ke rumah Huda. Ternyata Huda telah menunggu di rumahnya. Dengan dua sepeda motor kami mulai berangkat ke tempat tujuan. Tepat pukul sembilan pagi kami meluncur. Karena hanya Huda yang tahu dan pernah ke sana, maka ia pun mengendarai sepeda motornya terlebih dahulu di depan aku dan Andri sebagai pemandu jalan (guide). Perjalanan kami dimulai dari kabupaten Kediri menuju ke Blitar. Selama kurang lebih dua jam kami menyusuri jalanan untuk mencapai tempat tujuan. Setelah melewati kota Blitar, kami menghadapi medan yang cukup berat untuk dilewati. Jalanan yang terletak di daerah pegunungan membuat kami naik-turun di sepanjang jalan menanjak dan menurun tanpa pagar. Jalanannya sempit dan curam. Beberapa kali aku menahan nafas ketakutan mengingat Andri menyetir dengan cukup kencang (maklum suka sekali nonton motoGP).
Akhirnya setelah selama dua jam duduk di atas motor, melintasi berbagai pemandangan kota, desa, bukit, pegunungan dan jurang, kami pun tiba di daerah wisata yang dimaksud. Kami membayar retribusi wisata masing-masing seribu rupiah pada petugas yang berjaga di portal masuk. Perlahan kami menyusuri jalan dan kemudian pemandangan indah lautan biru dan pantai terlihat oleh kami. Begitu biru, begitu indah….kami lalu menghentikan motor di sebuah gazebo kecil di pinggir pantai. Kami lalu memutuskan berisitirahat sejenak sebelum berjalan-jelan di pantai. Namun seorang lelaki pendek datang menghampiri kami yang tengah duduk-duduk di gazebo. Lelaki itu mencoba mengajak kami berbicara. Sikapnya yang aneh membuat kami curiga. Sebelumnya aku telah memberikan dua lembar uang seribu rupiah kepadanya karena aku mengira kalau dia adalah tukang parkir. Dia berterima kasih kepadaku, namun dia masih saja berada di dekat kami, mencoba ikut berbincang bersama kami. Ia bertingkah aneh pada Huda dengan menggerak-gerakkan tangannya. Ia lalu meminta uang pada Huda. Huda tidak menggubrisnya, dan membuat lelaki itu memegang kedua tangan Huda. Huda yang kesal kemudian mengajak aku dan Andri pergi dari tempat itu meninggalkan lelaki aneh itu. Kami pun kembali pada motor yang kami parkir di dekat gazebo. Namun sial, pasir yang begitu banyak membuat ban racing pada sepeda motor Andri terbenam di dalamnya. Aku dan Huda pun bersusah payah mengeluarkan motor Andri yang terjebak itu. Setelah berhasil mengeluarkan motor Andri, kami kembali mengendarai motor untuk mencari tempat yang nyaman untuk parkir. Setelah berputar-putar cukup lama dan tak jua menemukan tempat parkir yang baik untuk motor kami, kami akhirnya memutuskan untuk menitipkan motor kami pada tempat penitipan motor yang ada di sana.
Setelah menitipkan motor, kami berjalan mencari tempat yang menyenangkan untuk beristirahat sebentar. Kami tiba di sebuah pohon dan memutuskan beristirahat di bawahnya. Lama kami berbincang sambil sesekali ngemil di bawah pohon itu. Aku yang tak sabar untuk melihat keindahan pantai lalu mengajak Huda dan Andri untuk pergi menyusuri pantai. Namun Andri malas dan mengatakan “nanti dulu”. Dia dan Huda masih tetap duduk di bawah pohon sambil berbincang dan menikmati pemandangan pantai. Akhirnya aku nekat pergi sendiri ke sebuah bukit yang menarik perhatianku. Sebelumnya, kami melihat banyak muda-mudi yang menaiki bukit itu. Aku merasa heran dan bertanya, “Ada apa dengan bukit itu?” Ya, sangat mengherankan. Kenapa muda-mudi yang datang lebih memilih pergi ke bukit itu dibandingkan pantai yang ada di samping bukit? Padahal pantai itu Tambakrejo terlihat sangat menyenangkan dengan ombaknya yang datang silih berganti. Ditambah lagi dengan aktivitas para nelayan di pantai itu. Bukankah menarik untuk bermain-main di pantai itu? Tapi kenapa mereka lebih memilih pergi ke atas bukit? Ada apa dengan bukit itu ya? Aku pun bertanya-tanya. Andri sendiri menduga kalau muda-mudi itu pergi ke atas bukit untuk “begituan”. Aku tak percaya dengan dugaan Andri. Aku yang penasaran pun berjalan meninggalkan kedua temanku itu menuju ke arah bukit setelah terlebih dulu bermain-main di sungai kecil tepat di bawah bukit.
Aku menaiki bukit. Saat sedang mendaki bukit itulah tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku pun mencari daun dan tempat yang tersembunyi untuk buang air. Ketika aku telah menemukan yang kucari, aku pun berniat untuk buang air. Namun, belum sempat memulai, tiba-tiba saja…………

(bersambung ke bag.2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s