Beranda » kisahku » Hak Anda untuk Merokok, Hak Kami untuk Bernafas

Hak Anda untuk Merokok, Hak Kami untuk Bernafas

Aku bukan seorang perokok. Dan maaf saja kalau aku sangat membenci rokok. Bagiku rokok membawa banyak sekali keburukan. Jadi saranku, jangan merokok!

Aku punya pengalaman tidak menyenangkan mengenai rokok. Sewaktu SMA, aku tinggal di desa ibuku dimana suasana kekeluargaannya masih terasa hijau. Di desaku itu, warga desa yang kebanyakan bekerja sebagai petani sering mengadakan kenduri (selamatan) atau kenduren (bahasa jawanya). Mereka sering mengadakan kenduri untuk beberapa peristiwa atau hari-hari tertentu. Misal, peringatan kematian (7 hari, 40 hari, 100 hari, dst), tahlilan, perayaan panen, selamatan bertani, khitanan, kelahiran anak, dan lain-lain. Acaranya sih sederhana, hanya pembacaan doa oleh sesepuh desa, ramah-tamah, yang kemudian diakhiri dengan pembagian berkat (makanan, biasanya menunya nasi, daging ayam, tahu, tempe, sambal goreng, serondeng, dan berbagai pelengkap lainnya yang dibungkus/diletakkan di tempat makanan sekali pakai atau mungkin kulit batang pohon pisang). Ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah (berkat) yang diberikan.

Dalam kenduri tentu saja setiap warga diundang untuk menghadirinya. Biasanya kerabat atau bahkan sang empunya acara akan datang ke rumah-rumah warga dan mengundang mereka untuk datang. Yang mewakili adalah laki-laki yang sudah dewasa (baligh). Sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluargaku (ayahku sudah meninggal semenjak aku kecil), akulah yang pasti diundang untuk mewakili keluargaku. Aku sih tak masalah soal undangan acara kenduri tersebut, kalau aku bisa, tentu aku akan datang (menghargai undangan). Tapi ada satu masalah yang membuatku malas bahkan enggan datang ke undangan kenduri. Masalah itu adalah rokok!

Kebanyakan pemuda, bapak-bapak, dan orang tua (laki-laki) di desaku adalah penggemar rokok (perokok maksudnya), yang tidak bisa diam kalau ada rokok atau uang buat beli rokok. Bahkan sesepuh desa juga merokok (hanya ada seorang sesepuh yang tidak merokok). Nah, aku tidak termasuk dalam kelompok perokok seperti mereka, karena aku benci rokok. Banyak alasan yang membuat aku tidak seperti kebanyakan orang-orang di desaku (merokok). Sedari kecil aku memang diajarkan untuk tidak merokok. Terima kasih kepada didikan ibuku yang sangat melarangku untuk mendekati hal-hal yang tidak berguna. Bahkan ketika aku kelas 2 SD, aku berjanji kepada Pamanku (alm.) kalau aku tidak akan pernah merokok selamanya. Sebuah janji yang sangat aku banggakan.

Dalam kenduri, selain disajikan makanan dan minuman, juga disajikan rokok sebagai pelengkap acara ramah-tamah. Rokok-rokok diletakkan di dalam gelas atau dibiarkan saja dalam bungkusnya dan diletakkan di tengah-tengah ruangan. Dan tahu sendiri kan apa yang terjadi? Acara ramah-tamah penuh dengan asap rokok, dimana hampir semua yang hadir menghisap rokok yang disediakan empunya rumah. Mungkin hanya aku yang tidak merokok. Terus terang, aku memiliki semacam alergi pada rokok (mungkin banyak yang punya). Aku tak akan tahan bila menghisap asap rokok. Aku akan mulai terbatuk-batuk, mata memerah, kepala terasa berat, dada sesak, dan ujung-ujungnya muntah kalau menghisap asap rokok…. entah gejala apa ini.

Menghadiri kenduri seperti itu bagiku sama saja dengan ”berjuang di tengah hidup dan mati”, terasa sangat menyakitkan. Di satu sisi aku ingin menghormati undangan kenduri (kata nabi kita wajib datang bila diundang), tapi di sisi lain aku tengah ”meregang nyawa” keracunan menghadapi asap-asap rokok yang terbang di sekitarku, mengingat hampir semua di seluruh ruangan itu merokok, ditambah lagi kami duduk berdekatan satu sama lain. Di sebelah kiri orang merokok, di sebelah kanan juga orang merokok, mampus deh!!!

Karena alasan itulah aku jarang mau datang bila diundang kenduri (persetan dengan undangan, kalau malah bikin sakit, mendingan di rumah aja). Bukankah perokok pasif lebih potensial menderita penyakit paru-paru akibat asap rokok dibanding perokok itu sendiri? Aku tidak mau mengorbankan kesehatanku dan keracunan hanya demi menghormati undangan.

Melihat aku jarang datang ke acara kenduri, tetanggaku yang masih kerabat menegurku. Di menganggapku sombong dan tak menghormati orang lain. Oke, mungkin aku tidak menghormati orang lain dengan tidak hadir atas undangannya, tapi apakah mereka itu menghormatiku yang sedang ”berjuang” di tengah ”asap-asap kematian” itu?

Pernah masalah ini aku konsultasikan kepada sesepuh desa (juga perokok), dan apa kata beliau?

”Kalau seperti itu, mendingan tutup hidung atau cari tempat yang jauh dari orang merokok…”

Weleh, jawaban yang…… Anyway, percuma aku nutup hidung, tetep aja mereka ngrokok. Masa datang untuk beramah-tamah akunya malah tutup hidung? Gak bebas dong? Gak nyaman dong? Trus, disuruh cari tempat yang jauh dari perokok, lha wong semuanya pada ngerokok….nyaris tak ada tempat untuk berlindung dari serangan asap rokok yang bergerak kemana-mana itu. Mau lari kemana? Apa izin pulang dengan alasan

”Maaf Pak, saya lupa memberi makan kucing saya…” (padahal kucing sudah dibuang ibu sebulan yang lalu karena buang air di ruang tamu)

Waduh…harus bagaimana? Mau nyuruh orang untuk tidak merokok, mana bisa…. semuanya kan perokok….dan perokok sejati takkan menyia-nyiakan rokok yang tersedia di depan mereka. Ditambah lagi, lebih asyik merokok bersama sehingga semua undangan merokok saat itu juga, tanpa membawa rokok itu pulang. Adapun yang masih belum puas merokok pasti akan mengambil satu dan membawanya pulang. Kalau aku ngomong kaya’ gini….

”Maaf Pak, bisa dimatikan nggak rokoknya, saya keracunan nih….”

Pasti dijawab….

”Hare gene gak ngrokok? Banci lu… ayo dong kita kompak…(ngrokok bareng gitu…)”

Trus kalau aku bilang….

”Maaf pak, ngerokok itu merugikan kesehatan, kok suka sih?”

Pasti dijawab….

”Saya dari dulu ngerokok tapi gak pernah sakit…malah semakin sehat…rokok itu bikin semangat kerja….” (gdubrak!!!)

Tidak!!! Yang salah saya atau mereka sih?

Memang, adalah hak setiap orang untuk merokok. Tapi hak mereka harus dibarengi dengan kewajiban menghormati orang lain, seperti merokok tidak di tempat umum (kalau di rumah tetangga, tempat umum bukan ya?). Kesadaran seperti inilah yang sepertinya masih sangat jarang terjadi di negara kita. Sering kita jumpai orang yang merokok di dalam angkutan umum, bus, atau di ruang tunggu. Padahal, di samping mereka terdapat banyak penumpang yang bukan perokok. Bagus kalau perokok tersebut mematikan rokoknya tatkala melihat penumpang / orang lain di dekatnya menegur dan mengatakan ”Maaf Pak, bisa matikan rokoknya….” atau mungkin memberi isyarat menutup hidung dan mengibas-ngibaskan asap rokok. Yang jadi madalah kalau para perokok justru acuh dan mengatakan ”Ini hak saya untuk merokok, jangan ganggu saya….” atau parahnya justru meniupkan asap rokok ke orang yang menegur. Waduh….yang bener aja!!! Memang hak kalian untuk merokok, tapi kami punya hak untuk bernafas! Kalau mau keracunan jangan bagi-bagi dong….keracunan-keracunan aja sendiri, jangan ajak-ajak dong!

Faktanya perokok pasif (tidak merokok tapi menghirup asap rokok secara tidak sengaja) lebih berpotensi menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh rokok dibanding perokok itu sendiri.

Peraturan tentang larangan merokok di tempat umum saja belum cukup kalau tidak diimbangi dengan kesadaran dari perokok itu sendiri. Jadi saran saya…. kalau mau ngerokok…ngerokok aja sendiri! Kalau mau mati…mati aja sendiri!!! Jangan gila dong….!

Iklan

2 thoughts on “Hak Anda untuk Merokok, Hak Kami untuk Bernafas

  1. “Aku bukan seorang perokok. Dan maaf saja kalau aku sangat membenci rokok. Bagiku rokok membawa banyak sekali keburukan. Jadi saranku, jangan merokok!”

    Setuju!!!

    Dan untuk yang merokok cobalah menghargai orang-orang di sekitar, jangan seenaknya merokok di ruang-ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s